Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.20.2016

Hal-Hal yang bisa anda lakukan untuk mengurangi ketegangan ketika pesawat mengalami turbulensi

Jika anda pernah naik pesawat, kemungkinan besar pernah merasakan yang namanya turbulensi yang ditandai oleh pesawat tiba-tiba bergoyang, bergetar, atau sesekali terasa seperti turun sedikit. Buat yang sudah terbiasa naik pesawat mungkin rasanya biasa saja. Tapi buat yang takut terbang, turbulensi ringan sekalipun kadang sudah cukup membuat jantung berdegup kencang dan pikiran langsung ke mana-mana. Sebenarnya apa itu turbulensi?

Penyebab turbulensi bermacam-macam, mulai dari jet stream, pertemuan massa udara, aliran udara di sekitar pegunungan, aktivitas badai dan konveksi, hingga clear-air turbulence yang bahkan dapat terjadi ketika tidak ada awan yang terlihat. Ibaratnya, perjalanan memang nggak selalu melewati permukaan yang mulus. Kalau naik kendaraan di darat kita bisa berguncang ketika melewati jalan berlubang atau polisi tidur, sedangkan naik kapal kita akan bergoyang ketika melewati gelombang. Di udara pun kurang lebih demikian. Pesawat bisa bergoyang ketika melewati aliran udara yang tidak stabil. Bedanya, jalan bergelombang di udara ini tentu tidak terlihat oleh mata kita.

Salah satu hal yang sering membuat kita takut berlebihan saat mengalami turbulensi sebenarnya adalah karena kita nggak tahu apa yang sedang terjadi. Pesawat tiba-tiba bergoyang atau terasa turun sedikit, sementara kita hanya bisa duduk dan menebak-nebak penyebabnya. Ketidaktahuan inilah yang akhirnya membuat pikiran gampang lari ke skenario yang macam-macam. Karena itu, sebelum membahas cara mengurangi ketegangan saat turbulensi, yuk kita kenali dulu secara sederhana apa saja yang sebenarnya bisa menyebabkan turbulensi:

1. Badai dan Awan Konvektif (Thunderstorm)

Pemanasan kuat dari permukaan bumi dapat membuat udara di dekat permukaan menjadi lebih hangat dan naik dengan cepat. Udara yang naik membawa uap air ke atmosfer dan, jika kondisinya mendukung, dapat berkembang menjadi awan konvektif yang sangat besar seperti cumulonimbus (Cb) atau awan badai.

Di dalam awan cumulonimbus terdapat pergerakan udara vertikal yang sangat kuat. Ada updraft, yaitu udara yang bergerak cepat ke atas, dan downdraft, yaitu udara yang bergerak turun. Ditambah perubahan arah dan kecepatan angin di sekitar badai, aliran udara menjadi sangat tidak stabil. Ketika pesawat berada di area yang terpengaruh aliran udara tersebut, pesawat dapat mengalami turbulensi. Pesawat tidak harus masuk ke dalam awan cumulonimbus terlebih dahulu untuk mengalami turbulensi. Aliran udara tidak stabil dapat terjadi di sekitar badai, sehingga pilot pada umumnya menghindari thunderstorm dengan memberikan jarak aman, bukan sekadar berusaha tidak masuk ke dalam awannya.

Penyebab turbulensi bermacam-macam, mulai dari jet stream, pertemuan massa udara, aliran udara di sekitar pegunungan, aktivitas badai dan konveksi, hingga clear-air turbulence yang bahkan dapat terjadi ketika tidak ada awan yang terlihat.

FAA membagi intensitas turbulensi menjadi light, moderate, severe, dan extreme. Pada turbulensi ringan, kita mungkin hanya merasakan sedikit tekanan pada sabuk pengaman. Pada turbulensi sedang, tekanan pada sabuk semakin terasa dan berjalan di kabin bisa menjadi sulit. Pada turbulensi berat, penumpang dapat terdorong kuat terhadap sabuk pengaman dan benda-benda yang tidak diamankan dapat terlempar.

Jadi sebenarnya hal yang paling perlu kita khawatirkan ketika turbulensi bukanlah sekadar pesawat yang bergoyang, tetapi kemungkinan tubuh kita terlempar atau terbentur karena tidak menggunakan sabuk pengaman. Karena itulah FAA menyarankan penumpang tetap menggunakan sabuk pengaman selama duduk, bahkan ketika lampu fasten seat belt sedang mati.

Nah, setelah memastikan diri aman, baru kita bisa melakukan beberapa hal berikut untuk membantu mengurangi ketegangan.

1. Pasang sabuk pengaman dan biarkan tetap terpasang selama Anda duduk. Ini yang paling penting.

Begitu turbulensi terasa, hal pertama yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana ayitu tetap duduk dan pastikan sabuk pengaman terpasang dengan benar. Bahkan ketika lampu fasten seat belt sedang mati, FAA menyarankan penumpang tetap mengenakan sabuk pengaman selama berada di tempat duduk karena turbulensi dapat muncul tanpa peringatan. Sabuk sebaiknya berada rendah dan cukup kencang pada pinggul, bukan pada bagian perut. (Sumber: Federal Aviation Administration)

Ini bukan sekadar tindakan untuk membuat kita merasa lebih aman. Data NTSB menunjukkan bahwa cedera serius akibat turbulensi sangat berkaitan dengan kondisi penumpang atau awak yang tidak sedang terikat sabuk. Dalam kajian kecelakaan turbulensi penerbangan komersial AS periode 2009–2018, dari 26 penumpang yang mengalami cedera serius, 17 diketahui tidak memakai sabuk pengaman, delapan tidak diketahui statusnya, dan hanya satu yang tercatat sedang memakai sabuk. (Sumber: NTSB). Karena itu, daripada terus menerus memperhatikan apakah pesawat sedang naik-turun, lakukan satu tindakan konkret yaitu kencangkan sabuk, duduk nyaman, lalu ingatkan diri bahwa tubuh Anda sekarang sudah diamankan.


2. Jangan berdiri atau pergi ke toilet ketika turbulensi sedang berlangsung.

Kalau turbulensi mulai terasa dan lampu sabuk pengaman menyala, jangan berpikir, "Ah, aku ke toilet dulu deh sebentar aja." Tetaplah duduk sampai awak kabin menyatakan kondisi aman.

NTSB menemukan bahwa aktivitas yang cukup sering berkaitan dengan cedera serius penumpang ketika turbulensi adalah menggunakan toilet, menunggu toilet, atau berjalan menuju/dari toilet. Pada turbulensi sedang, FAA sendiri menjelaskan bahwa berjalan di kabin sudah dapat menjadi sulit, sementara pada turbulensi berat berjalan menjadi tidak memungkinkan. (Sumber: NTSB)

Kalau kebetulan sedang berdiri ketika lampu sabuk menyala, ikuti instruksi awak kabin dan kembali ke kursi secepat kondisi memungkinkan.

TIPS: Terutama untuk penerbangan jarak jauh, kalau sudah mulai ingin ke toilet dan kondisi pesawat sedang tenang, sebaiknya segera ke toilet dan jangan ditunda-tunda. Kita nggak pernah tahu kapan turbulensi datang dan lampu fasten seat belt menyala. Kalau sudah begitu, tetaplah duduk dan tunggu sampai kondisi kembali aman.


3. Dengarkan instruksi pilot dan awak kabin—jangan menilai tingkat bahayanya hanya dari kuatnya guncangan.

Saat takut, otak kita mudah menerjemahkan setiap gerakan pesawat sebagai sesuatu yang salah. Pesawat miring sedikit terasa seperti miring ekstrem. Ada suara mesin berubah sedikit langsung terpikir ada kerusakan. Karena itu, jadikan instruksi awak pesawat sebagai sumber informasi utama, bukan interpretasi tubuh kita sendiri.

FAA secara khusus meminta penumpang mengikuti instruksi pilot dan awak kabin ketika terjadi turbulensi. Pilot juga menerima dan memberikan laporan turbulensi kepada pengatur lalu lintas udara sehingga informasi mengenai lokasi, intensitas, ketinggian, dan durasi turbulensi dapat diteruskan kepada penerbangan lainnya. Sumber : Federal Aviation Administration)

Jadi ketika pilot mengatakan akan melewati area turbulensi dan meminta penumpang tetap duduk, yang perlu kita lakukan adalah mengikuti instruksinya—bukan mencoba menebak-nebak sendiri kondisi pesawat.


4. Atur napas dengan lambat, bukan mengambil napas besar berulang-ulang.

Kalau sudah aman dengan sabuk terpasang, barulah fokus pada respons tubuh terhadap kecemasan. Ketika takut, seseorang cenderung bernapas semakin cepat. Sensasi tubuh yang muncul kemudian—jantung berdebar, napas terasa pendek, pusing atau kepala terasa ringan—justru dapat membuat kita semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Cobalah memperlambat napas secara sengaja. Tidak perlu memaksakan tarikan napas sangat dalam. Tarik napas perlahan, keluarkan perlahan, kemudian perhatikan ritmenya. Menghitung napas juga dapat membantu karena perhatian kita berpindah dari sumber kecemasan ke aktivitas yang sederhana dan dapat dikendalikan. Panduan NHS mengenai kecemasan secara khusus menyebut bahwa kesalahan yang umum terjadi adalah bernapas terlalu cepat dan menyarankan memperlambat serta menghitung napas.


5. Gunakan teknik grounding untuk menghentikan pikiran yang mulai ke mana-mana.

Masalah ketika turbulensi kadang bukan hanya guncangannya, tetapi cerita yang dibuat oleh pikiran, seperti:

"Kok makin keras?"

"Jangan-jangan ada masalah."

"Bagaimana kalau pesawat jatuh?"

Ketika pikiran mulai berlari seperti ini, alihkan perhatian kepada sesuatu yang benar-benar ada di sini dan sekarang.

Salah satu teknik yang digunakan dalam panduan NHS adalah 5–4–3–2–1 grounding. Perhatikan lima hal yang dapat dilihat, empat hal yang dapat dirasakan tubuh, tiga suara yang dapat didengar, dua aroma yang dapat dikenali, dan satu rasa yang dapat diperhatikan. (Sumber: Forth Valley NHS)

Di pesawat tidak harus dilakukan secara kaku. Anda bisa membuat versi sederhana. Rasakan punggung menyentuh kursi, kaki menyentuh lantai, tangan memegang armrest, dengarkan suara mesin, lalu perhatikan beberapa benda di sekitar. Tujuannya adalah mengembalikan perhatian dari skenario buruk di kepala kepada lingkungan nyata.


6. Alihkan perhatian dari setiap guncangan.

Kalau turbulensinya ringan atau sedang dan Anda sudah duduk dengan sabuk terpasang, tidak ada manfaatnya mengawasi setiap gerakan pesawat. Dengarkan musik, tonton film, baca sesuatu, main game sederhana, atau berbicara dengan teman perjalanan. Teknik pengalihan perhatian dan memusatkan diri pada aktivitas saat ini merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk membantu mengelola kecemasan. (Sumber: Manchester NHS Trust)

Bagi sebagian orang, musik menggunakan noise-cancelling headphones juga membantu karena suara mesin dan perubahan suara kabin tidak terlalu menarik perhatian. Namun tetap pastikan Anda masih dapat mengetahui pengumuman atau instruksi penting dari awak kabin.


7. Jangan terus-menerus melihat sayap atau memantau setiap perubahan pesawat kalau justru membuat semakin takut.

Melihat sayap bergerak, awan melintas cepat, atau perubahan sudut pesawat dapat memperbesar kecemasan pada sebagian orang. Kalau Anda menyadari hal tersebut menjadi pemicu, tutup window shade bila diperbolehkan pada fase penerbangan tersebut dan alihkan perhatian ke kabin.

Sebaliknya, kalau melihat horizon justru membuat Anda merasa lebih stabil, tidak perlu memaksakan diri menutup jendela. Ini bukan aturan keselamatan, melainkan strategi mengurangi kecemasan—gunakan yang paling membantu Anda.


8. Jangan "melawan" setiap gerakan pesawat dengan menegangkan seluruh tubuh.

Respons spontan ketika pesawat terguncang biasanya adalah mencengkeram armrest, mengangkat bahu, mengatupkan rahang dan membuat seluruh tubuh kaku. Begitu Anda sadar sedang melakukan ini, coba lepaskan ketegangan secara bertahap. Turunkan bahu, longgarkan rahang, lepaskan genggaman tangan, lalu rasakan tubuh ditopang kursi dan sabuk pengaman. Teknik grounding dan pelepasan ketegangan otot digunakan dalam penanganan kecemasan untuk membantu tubuh kembali lebih tenang. (Sumber: Royal Berkshire NHS Foundation Trust).

Tidak perlu memaksa diri menjadi sangat rileks ketika pesawat sedang terguncang. Tujuannya hanya mencegah tubuh mempertahankan ketegangan berlebihan selama beberapa menit.


9. Ingat perbedaan antara tidak nyaman dan tidak aman

Ini mungkin salah satu kalimat yang paling berguna untuk diingat ketika turbulensi terjadi:

“Yang sedang saya rasakan sangat tidak nyaman, tetapi rasa tidak nyaman tidak otomatis berarti pesawat sedang dalam bahaya.”

FAA membedakan tingkat turbulensi berdasarkan respons pesawat dan kondisi di dalam kabin. Pada light turbulence, penumpang mungkin hanya merasakan sedikit tekanan pada sabuk. Pada moderate turbulence, tekanan pada sabuk terasa jelas dan berjalan dapat menjadi sulit. Pada severe turbulence, penumpang dapat terdorong keras terhadap sabuk dan benda yang tidak diamankan dapat terlempar. (Sumber: Federal Aviation Administration). Jadi sensasi yang terasa dramatis bagi penumpang belum tentu berarti situasi darurat.


10. Kalau ketakutan mulai menjadi panik, kembali ke tiga hal sederhana.

Tidak perlu mencoba mengingat sepuluh teknik sekaligus. Saat benar-benar takut, sederhanakan semuanya menjadi sabuk --> nafas --> fokus. Pastikan sabuk terpasang rendah dan cukup kencang pada pinggul. Perlambat napas. Kemudian fokuskan perhatian pada sesuatu yang ada di depan Anda—film, musik, benda di kabin, percakapan, atau latihan grounding. Dan setelah itu, biarkan pilot dan awak kabin melakukan pekerjaan mereka.

 

0 comments:

Posting Komentar