1. Menggunakan istilah lampu untuk menyebut nomor bemo (angkot)
Misal: Bemo lampu 10, lampu 6, lampu 1
Ane masih ingat, sering-seringnya naik angkot itu pas SMP. Kalau sekarang udah jarang karena lebih sering naik motor. Dan ane masih inget dengan jelas, biasanya kita akan menggunakan istilah 'angkot nomor 1, nomor 7, nomor 10' untuk merujuk ke jurusan angkot tertentu.
Tapi di Kupang ini lain gan. Istilah 'bemo' lebih banyak digunakan untuk menggantikan istilah angkot. Yang lebih unik lagi, orang di Kupang menyebut nomor bemo dengan istilah 'lampu'. Jadi bukannya bilang 'bemo nomor 1', tapi 'bemo lampu 1'.
Di dalam bemo biasanya juga ada konjak. Konjak ini berbeda dengan sopir. Kalau sopir ya tugasnya mengemudikan bemo, sedangkan konjak membantu operasional selama perjalanan, terutama menarik uang ongkos dari penumpang. Posisi konjak biasanya di dekat pintu bemo dan kadang terlihat berdiri atau bergelantungan di pintu sambil memanggil calon penumpang. Jadi kalau naik bemo di Kupang, jangan heran kalau yang menerima uang ongkos bukan sopirnya, melainkan konjak.
Kenapa disebut lampu? Kemungkinan karena nomor trayek yang dipasang di bemo memang dibuat mencolok dengan lampu warna-warni, sehingga nomor bemo akhirnya lebih dikenal sebagai 'lampu'. Jadi kalau suatu saat agan mendengar orang bilang 'naik lampu 1', jangan bingung nyari lampu merah nomor 1 ya gan wkwkwk. Maksudnya naik bemo dengan nomor trayek 1.
UPDATE 2026: Bemo masih menjadi salah satu angkutan umum yang bisa dijumpai di Kupang dan nomor trayek dengan tampilan lampu warna-warni juga masih menjadi salah satu ciri khasnya. Penggunaan istilah lampu juga masih digunakan sampai sekarang.
2. Bemo/Angkot = Diskotik berjalan, kadang susah ngomong stop karena terlalu berisik
Kalau agan-agan semua pernah berkunjung ke Indonesia Timur, pasti nggak asing dengan istilah “diskotik berjalan” yang diberikan kepada bemo/angkot. Julukan ini muncul karena banyak bemo di Kupang yang menyetel musik dengan volume keras banget selama di jalan. Bahkan saking kerasnya, kadang duduk aja sampai ikut geter karena bass-nya ada di bawah tempat duduk wkwkwk.
Lagu-lagu yang diputar biasanya lagu Ambon, lagu Kupang, lagu-lagu Indonesia Timur, ataupun musik disko yang memang enak diputar kenceng-kenceng. Jadi naik bemo di Kupang itu kadang bukan cuma pindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi sekalian dapat hiburan gratis sepanjang perjalanan.
Masalahnya muncul kalau kita udah mau turun. Kadang mau ngomong "Kiri, Kak!" aja susah banget karena suara kita kalah sama musik. Kalau udah begini, biasanya harus ngomong lebih keras, ketok-ketok pakai koin, atau tepuk tangan supaya sopir tahu kalau ada penumpang yang mau turun.
Tapi kalau mau tepuk tangan, usahakan momennya tepat ya gan. Jangan sampai pas kita mau tepuk tangan, tiba-tiba lagunya berhenti.
PROK PROK!
Terus semua orang di bemo nengok ke kita.
Awkward banget gan wkwkwk.
UPDATE 2026: Ternyata setelah lebih dari satu dekade sejak ane pertama kali menulis artikel ini, bemo dengan musik keras masih bisa dijumpai di Kupang. Jadi sebutan “diskotik berjalan” rupanya belum sepenuhnya menjadi cerita masa lalu. Bentuk bemo dan suasananya tentu bisa berubah mengikuti zaman, tetapi musik masih menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman naik bemo di Kupang terasa berbeda dibandingkan naik angkot di banyak kota lain di Indonesia.
3. Menggunakan istilah kakak nona/kakak nyong untuk menyebut kakak yang lebih tua. Istilah mbak/mas jarang digunakan disini
Kalau agan-agan datang ke Kupang dan mulai bersosialisasi dengan orang lokal, jangan heran kalau cukup sering dipanggil “kakak”. Kadang ditambahkan juga istilah “kakak nyong” untuk laki-laki atau “kakak nona” untuk perempuan.
Istilah mas/mbak memang tidak seumum di Jawa. Selama ane tinggal di Kupang dulu, panggilan mas/mbak lebih sering ane dengar dari para pendatang asal Jawa. Eitss, pendatang dari Jawa Tengah maupun Jawa Timur lumayan banyak lho di sini, dan banyak juga yang datang untuk berdagang.
Tapi bukan berarti haram mengatakan mas/mbak di Kupang ya gan wkwkwk. Boleh-boleh aja dan orang juga tetap ngerti. Cuma kalau pengen sedikit menyesuaikan diri dengan kebiasaan lokal, panggilan kakak, kakak nona, atau kakak nyong bakal lebih terasa Kupang.
Jadi kalau baru turun dari bemo terus ada yang manggil, “Kakak nona...”, nggak usah nengok ke belakang nyari siapa yang dipanggil. Bisa jadi memang agan sendiri wkwkwk.
UPDATE 2026: Panggilan seperti kakak, nona, dan nyong masih menjadi bagian dari kosakata dan cara berkomunikasi masyarakat di Kupang dan NTT sampai sekarang. Tentunya penggunaannya bisa berbeda-beda tergantung usia, lingkungan pergaulan, dan siapa yang sedang diajak bicara. Jadi bagian ini masih cukup relevan dengan kondisi sekarang. Sementara panggilan mas/mbak juga tetap bisa dijumpai, terutama karena Kupang sekarang semakin heterogen dan banyak dihuni masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.
4. Menggunakan istilah mama untuk ibu, bapa untuk bapak, mamatua untuk nenek, dan bapatua untuk kakek (meskipun bukan kandung)
Istilah Buk, Pak, apalagi Mbah jarang ane dengar digunakan oleh orang lokal selama tinggal di Kupang dulu gan wkwkwk. Indeed, mereka lebih sering menggunakan istilah mama untuk menyebut perempuan yang lebih tua dan bapa untuk laki-laki yang lebih tua.
Mama di sini nggak harus mama kandung mereka ya gan. Perempuan yang lebih tua atau dihormati juga bisa dipanggil mama meskipun nggak ada hubungan darah. Demikian juga dengan bapa. Sementara untuk generasi yang lebih tua lagi, ane juga sering mendengar istilah mamatua dan bapatua.
Jadi kalau agan terbiasa dengan panggilan Mbah di Jawa, jangan heran kalau panggilan itu jarang terdengar di Kupang wkwkwk. Panggilan mama dan bapa sendiri juga cukup familiar di berbagai wilayah Indonesia Timur, meskipun tentunya masing-masing daerah punya kebiasaan dan penggunaan istilah yang berbeda.
Kalau di Jawa mau nyoba manggil perempuan yang bukan ibu kita dengan sebutan “Mama”, paling ntar disorakin temen agan:
“Emang kapan dia nikah sama babe lu?”
Wkwkwk.
UPDATE 2026: Penggunaan panggilan mama dan bapa masih sangat mudah dijumpai di Kupang dan berbagai wilayah NTT sampai sekarang, baik sebagai panggilan dalam keluarga maupun panggilan penghormatan kepada orang yang lebih tua. Istilah mamatua dan bapatua juga masih digunakan, meskipun maknanya nggak selalu sesederhana “nenek” dan “kakek” karena penggunaannya dapat berbeda tergantung hubungan keluarga dan kebiasaan masyarakat setempat. Jadi secara umum, poin yang ane tulis tahun 2014 ini masih relevan sampai sekarang.
5. Kosakata sehari-hari orang Kupang yang mungkin terdengar asing di telinga pendatang
Selain cara memanggil orang dengan kakak, nona, nyong, mama, atau bapa, hal lain yang langsung ane perhatikan ketika pertama kali tinggal di Kupang adalah cara ngomongnya. Meskipun sama-sama menggunakan Bahasa Indonesia, dalam percakapan sehari-hari masyarakat Kupang banyak menggunakan Bahasa Melayu Kupang yang punya kosakata dan gaya pengucapan tersendiri.
Awalnya ane kadang harus mikir dulu beberapa detik buat ngerti mereka ngomong apa wkwkwk. Tapi setelah beberapa lama tinggal di sana, lama-lama terbiasa juga. Bahkan beberapa kata akhirnya ikut masuk ke kepala dan ane jadi ngerti otomatis kalau mendengarnya.
Beberapa kata yang cukup sering ane dengar antara lain:
Beta = aku/saya
Lu = kamu
Katong = kita/kami
Basong/besong = kalian
Sonde = tidak/nggak
Harbabiruk = berantakan
Su = sudah
Blom = belum
Pi/pigi = pergi
Mai = datang/mari
Sa = saja
Ada = ada
Kas = kasih
Bikin = membuat/melakukan
Pung = punya/kepunyaan
Dorang = mereka
Dia = dia
Maitua = pasangan/pacar perempuan/istri
Paitua = pasangan/pacar laki-laki/suami
Nah, salah satu yang menurut ane paling khas adalah penggunaan kata pung. Kata ini kurang lebih berfungsi seperti “punya” atau penanda kepemilikan.
Misalnya:
“Ini beta pung motor.”
Artinya:
“Ini motor saya.”
Atau:
“Itu lu pung tas?”
Artinya:
“Itu tas kamu?”
Ada juga kata sonde yang bakal sering banget agan dengar.
“Beta sonde tau.”
Artinya:
“Saya nggak tahu.”
Kemudian ada su yang merupakan bentuk pendek dari “sudah”.
“Lu su makan?”
Artinya:
“Kamu sudah makan?”
Kalau mau menjawab belum:
“Beta blom makan.”
Gampang kan gan wkwkwk.
Kata-katanya juga sering digabung sehingga kalau diucapkan cepat oleh orang lokal, bagi telinga yang belum terbiasa mungkin awalnya terdengar seperti bahasa yang sama sekali berbeda.
Misalnya:
“Lu mau pi mana?”
= Kamu mau pergi ke mana?
“Katong pi makan sa.”
= Kita pergi makan saja.
“Beta sonde mau.”
= Saya nggak mau.
“Dorang su pulang.”
= Mereka sudah pulang.
“Ini siapa pung?”
= Ini punya siapa?
Ada juga kebiasaan memendekkan kata ketika ngobrol. Sudah menjadi su, pergi menjadi pi/pigi, saja menjadi sa, dan sebagainya. Kalau baru pertama kali dengar mungkin harus menerjemahkan dulu di kepala, tapi setelah beberapa minggu tinggal di Kupang biasanya mulai ngerti sendiri.
Menurut ane justru ini salah satu hal yang bikin Kupang berkesan. Bahasa yang digunakan sehari-hari punya karakter sendiri dan langsung mengingatkan ane sama suasana Indonesia Timur.
Jadi kalau suatu hari agan lagi di Kupang terus ada yang ngomong:
“Kakak nona, lu su makan?”
Nggak perlu buka Google Translate gan wkwkwk.
Dia cuma nanya:
“Mbak, kamu sudah makan?”
UPDATE 2026: Bahasa Melayu Kupang tentu masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kupang sampai sekarang. Kosakatanya juga nggak cuma yang ane tuliskan di atas karena Bahasa Melayu Kupang punya struktur, kosakata, dan variasinya sendiri. Penggunaannya pun bisa berbeda tergantung usia, lingkungan pergaulan, situasi formal atau informal, serta asal penuturnya. Daftar di atas ane tulis terutama berdasarkan kata-kata yang paling sering ane dengar selama tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat Kupang.
7. Musik dan pesta terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari di Kupang
Satu hal lagi yang sangat ane ingat dari kehidupan di Kota Kupang tahun 2013–2015 adalah musik di sini rasanya ada di mana-mana. Orang Kupang sepertinya memang dekat banget dengan musik. Kalau ada acara kumpul-kumpul, pesta keluarga, pernikahan atau acara lainnya, musik hampir selalu menjadi bagian penting di dalamnya. Dan kalau musik sudah dimainkan, suasananya biasanya nggak cuma duduk manis sambil ngobrol. Lama-lama ada yang nyanyi, ada yang joget, ada yang dansa, lalu yang lain ikut. Pokoknya kalau sudah pesta, rame banget. 😂 Yang menarik, waktu itu ane juga sering banget mendengar lagu-lagu Ambon atau Maluku diputar di Kupang. Padahal Kupang berada di Nusa Tenggara Timur dan secara geografis jelas bukan Ambon. Awalnya ane sampai heran sendiri,
"Kok lagu Ambon banyak banget diputar di sini?"
Lagu-lagu dengan nuansa Melayu Ambon/Maluku, lagu pop daerah Indonesia Timur, sampai lagu-lagu yang enak dipakai berjoget terasa sangat familiar di telinga ane selama berada di Kupang. Setelah beberapa lama tinggal di sana, lagu-lagu seperti ini akhirnya malah ikut menempel di kepala. Tentu saja ini bukan berarti semua orang Kupang suka pesta. Ini lebih ke kesan yang ane dapat selama berada di sana pada periode 2013–2015. Tapi dibandingkan banyak tempat lain yang pernah ane datangi, musik memang terasa sangat dekat dengan kehidupan sosial masyarakat yang ane temui di Kupang.
UPDATE 2026: Lebih dari sepuluh tahun kemudian, bagian ini menurut ane masih menarik untuk dipertahankan. Musik dari NTT sendiri malah semakin dikenal secara nasional, dan perkembangan musik Indonesia Timur juga jauh lebih kelihatan dibanding ketika ane pertama kali menulis artikel ini tahun 2015.
Kalau dulu yang paling menempel di ingatan ane justru lagu-lagu Ambon yang sering terdengar di Kupang, sekarang musik dari NTT sendiri juga semakin mudah ditemukan dan dikenal di luar daerah. Musisi, lagu daerah yang dikemas ulang, sampai musik dengan nuansa Indonesia Timur sekarang jauh lebih gampang menyebar lewat YouTube, TikTok, Spotify dan media sosial.
Jadi kalau dulu ane datang ke Kupang lalu bertanya, "Kenapa di sini sering banget dengar lagu Ambon?"
sekarang ane malah melihatnya sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar. Musik memang punya tempat yang kuat dalam kehidupan sosial di kawasan Indonesia Timur, tetapi masing-masing daerah tetap punya identitas musiknya sendiri. Dan kalau ada satu kenangan dari Kupang yang masih gampang muncul di kepala ane sampai sekarang, salah satunya memang suasananya ini. Musik keras, orang nyanyi, orang joget, orang dansa, dan pesta yang rasanya jauh lebih hidup daripada sekadar datang–makan–pulang. Yah, pokoknya kalau sudah ada musik dan pesta di Kupang, suasananya memang beda. Sepi kayaknya bukan konsep yang terlalu laku di sini. Wkwkwk.
8. Kupang adalah tempat bertemunya orang dari berbagai daerah di NTT
Satu hal yang baru ane sadari setelah cukup lama berada di Kupang adalah orang yang tinggal di Kupang ternyata nggak semuanya berasal dari Kupang. Kedengarannya ya biasa saja sih. Namanya juga kota. Tapi di Kupang hal ini menurut ane cukup terasa karena kota ini merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, sementara NTT sendiri terdiri dari banyak pulau dengan masyarakat, bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda.
Jadilah Kupang semacam titik pertemuan orang dari berbagai penjuru NTT. Ada orang Timor, Rote, Sabu, Flores, Sumba, Alor, Lembata dan masih banyak lagi. Ada yang memang lahir dan besar di Kupang, ada yang orangtuanya berasal dari pulau lain, ada pula yang datang ke Kupang untuk kuliah, bekerja, berdagang, lalu akhirnya menetap.
NTT sendiri kadang disebut dengan istilah Flobamora, singkatan yang berasal dari nama beberapa gugusan pulau besar: Flores, Sumba, Timor dan Alor. Dalam penggunaannya sekarang, nama Flobamora juga sering dipakai sebagai semacam identitas bersama masyarakat NTT, meskipun tentu saja NTT jauh lebih luas daripada empat nama tersebut—masih ada Rote, Sabu, Lembata dan banyak pulau lainnya. Nah, keragaman ini menurut ane benar-benar kelihatan kalau kita tinggal cukup lama di Kupang.
Salah satu yang paling gampang diperhatikan bahkan dari wajah orang-orangnya. Wajah masyarakat yang ane temui di Kupang beragam banget. Ada yang secara penampilan terlihat sangat berbeda satu sama lain, meskipun sama-sama lahir dan besar di NTT. Dan setelah mulai punya banyak teman dari berbagai daerah, ane baru ngeh bahwa keragaman NTT memang sebesar itu. Dulu sebagai orang luar ane mungkin melihat semuanya secara sederhana sebagai, "Oh, orang Kupang."
Padahal setelah ngobrol:
"Saya orang Rote."
"Saya dari Sabu."
"Orangtua saya dari Flores."
"Saya orang Sumba."
Lah, ternyata beda-beda semua. Wkwkwk.
Bahkan dalam satu lingkaran pertemanan saja kita bisa menemukan orang dengan asal keluarga, bahasa daerah, adat, sampai penampilan fisik yang berbeda-beda. Ada pula keluarga yang sudah beberapa generasi tinggal di Kupang atau merupakan perpaduan latar belakang dari beberapa daerah, sehingga batas identitasnya tentu nggak selalu sesederhana "wajah begini pasti dari pulau ini."
Keragaman tersebut juga membantu menjelaskan kenapa budaya yang kita temui di Kupang terasa campur-campur. Bahasa dan logat yang terdengar bisa berbeda, makanan mendapat pengaruh dari berbagai daerah, musik yang didengar beragam, dan acara keluarga atau adat yang dijalankan seseorang bisa berbeda tergantung latar belakang keluarganya.
Istilah "orang NTT" sendiri akhirnya ane sadari menaungi keragaman yang luar biasa besar. NTT bukan satu pulau dengan satu suku, satu bahasa dan satu budaya. Provinsi ini merupakan gugusan pulau dengan identitas masing-masing. Dan Kupang menjadi salah satu tempat di mana semuanya bertemu.
Makanya menurut ane Kupang bisa dibilang seperti miniatur kecil Flobamora. Timor ketemu Rote. Rote ketemu Sabu. Sabu ketemu Flores. Flores ketemu Sumba. Sumba ketemu Alor. Lalu generasi berikutnya lahir dan besar di Kupang. Akhirnya yang kita lihat di kota ini adalah perpaduan yang menarik yaitu bermacam-macam wajah, logat, bahasa, makanan, kebiasaan dan latar belakang budaya hidup berdampingan di satu kota.
9. Tenun ikat ada dimana-mana, tapi tiap daerah punya ciri sendiri
Kalau di poin sebelumnya ane bilang Kupang seperti miniatur kecil Flobamora, salah satu bentuk keragamannya yang paling gampang dilihat adalah kain tenun. Tenun di Kupang itu gampang banget ditemukan, mulai dari pasar, toko oleh-oleh sampai tempat-tempat yang khusus menjual kerajinan khas NTT. Bentuknya juga macam-macam, nggak cuma berupa kain panjang atau sarung, tetapi sudah dibuat menjadi selendang, baju, tas, dompet dan berbagai macam suvenir.
Tapi ada satu hal yang dulu baru ane pahami setelah lebih mengenal NTT. "Tenun NTT" sebenarnya bukan satu jenis kain dengan satu motif tertentu. NTT luas banget dan masing-masing daerah punya tradisi tenunnya sendiri. Tenun dari Timor bisa berbeda dengan Rote, Sabu, Sumba, Flores atau Alor. Bahkan dalam satu pulau pun belum tentu kainnya sama. Flores misalnya, pulaunya panjang dan dihuni banyak kelompok masyarakat, sehingga tenun dari satu daerah bisa berbeda banget dengan tenun dari daerah lain meskipun sama-sama berasal dari Flores.
Perbedaannya bisa terlihat dari warna, motif, susunan pola, teknik pembuatan sampai makna simbol yang digunakan. Ada motif yang mengambil bentuk hewan, tumbuhan atau pola geometris, dan ada pula motif-motif yang punya makna tertentu bagi masyarakat pembuatnya. Warna dominan dan cara pewarnaannya pun bisa berbeda. Jadi dulu sebagai orang luar ane mungkin gampang saja melihat semuanya lalu bilang, "Oh, ini kain tenun NTT." Ya nggak salah juga sih, tetapi lama-lama ane sadar bahwa sebutan itu sebenarnya cuma payung besarnya saja.
Kurang lebih seperti kita melihat berbagai macam batik dari Jawa lalu menganggap semuanya sama hanya karena sama-sama disebut batik. Padahal begitu diperhatikan lebih dekat, asal daerah, motif, warna, teknik sampai cerita di balik kainnya bisa berbeda jauh. Begitu juga dengan tenun di NTT.
Makanya kalau sedang melihat atau membeli kain tenun di Kupang, menurut ane justru lebih menarik kalau sekalian tanya kepada penjualnya, "Ini tenun dari daerah mana?" Jawabannya bisa Timor, Rote, Sabu, Sumba, Flores, Alor atau daerah lain yang mungkin sebelumnya bahkan belum pernah kita dengar.
Dan di sinilah posisi Kupang sebagai melting pot NTT kembali terasa. Karena orang dari berbagai daerah datang dan tinggal di kota ini, kain dari berbagai penjuru NTT pun ikut bertemu di Kupang. Kita bisa masuk ke satu tempat yang menjual tenun lalu melihat kain dengan motif dan warna yang beda-beda banget, padahal semuanya masih berasal dari satu provinsi yang sama.
Setelah dipikir-pikir, justru itulah yang menarik. Tenun NTT bukan satu motif. Ia seperti NTT itu sendiri, berada di bawah satu nama yang sama, tetapi di dalamnya ada banyak pulau, masyarakat, bahasa, adat dan identitas. Setelah memahami itu, melihat kain tenun di Kupang rasanya nggak lagi sekadar melihat oleh-oleh warna-warni yang cantik, tetapi juga seperti melihat potongan-potongan kecil Flobamora yang dikumpulkan dalam satu kota.
10. Air adalah barang berharga di Kota Kupang, terutama saat musim kemarau
Kalau di bagian awal artikel ini ane sempat menulis "Cari air susah?", nah ini sebenarnya bukan sekadar kalimat iseng. Salah satu hal yang cukup bikin ane kaget ketika tinggal di Kupang tahun 2013–2015 adalah kenyataan bahwa air bersih di sini benar-benar terasa sebagai barang berharga, terutama ketika musim kemarau. Sebagai orang yang sebelumnya tinggal di Jawa, ane terbiasa dengan konsep yang sangat sederhana yaitu butuh air ya tinggal buka keran. Selama nggak ada gangguan PDAM atau pompa air rusak, air ya ada. Di Kupang ane baru ngeh kalau urusan air ternyata bisa menjadi sesuatu yang harus dipikirkan. Musim kemarau di wilayah ini panjang dan kering, debit sumber air bisa berkurang, sementara suplai air perpipaan di beberapa kawasan juga nggak selalu mengalir setiap hari.
Makanya salah satu benda penting di banyak rumah adalah bak penampungan atau tandon air. Ketika air sedang mengalir, ya ditampung sebanyak mungkin karena belum tentu besok mengalir lagi. Kalau persediaan habis sementara air belum datang, salah satu solusinya adalah beli air. Konteksnya disini adalah beli satu mobil tangki air. Mobil tangki datang ke rumah, selang panjang ditarik, lalu ribuan liter air dipindahkan ke bak penampungan. Air inilah yang kemudian dipakai untuk kebutuhan rumah tangga seperti mandi, mencuci, membersihkan rumah dan kebutuhan lainnya. Jadi melihat mobil tangki mengantar air ke rumah-rumah bukan sesuatu yang aneh di Kupang.
Harganya tentu berubah tergantung zaman, lokasi rumah, jarak pengantaran dan kondisi pasokan. Sebagai gambaran, beberapa sumber mencatat harga sekitar Rp60.000–Rp70.000 untuk satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter, sementara standar biaya Pemerintah Provinsi NTT tahun 2024 mencantumkan sekitar Rp80.000 untuk 5.000 liter di wilayah Kota Kupang. Jadi jangan dibayangkan harga ini selalu sama untuk semua tempat dan sepanjang tahun.
Yang paling terasa tentu ketika musim kemarau. Permintaan meningkat karena sumur dan sumber air mengalami penurunan debit, sementara kebutuhan masyarakat tetap sama. Akhirnya mobil tangki air menjadi bagian penting dari sistem kehidupan sehari-hari. Bahkan pada Juli 2026, RRI masih melaporkan warga di beberapa wilayah Kota Kupang membeli air tangki karena distribusi air perpipaan tidak berjalan normal. Salah seorang warga Manutapen misalnya mengatakan keluarganya membeli air tangki sekitar dua minggu sekali untuk kebutuhan mandi dan mencuci.
Pengalaman tinggal di Kupang akhirnya membuat ane melihat air dengan cara yang agak berbeda. Sesuatu yang sebelumnya ane anggap tinggal buka keran ternyata di tempat lain bisa menjadi sesuatu yang harus ditunggu, ditampung, dihemat, bahkan dibeli satu tangki sekaligus. Dan mungkin inilah salah satu hal sehari-hari dari Kupang yang paling gampang luput kalau kita cuma datang sebagai wisatawan beberapa hari. Kita bisa melihat laut di mana-mana, tetapi ironisnya air tawar untuk kebutuhan sehari-hari justru bisa menjadi persoalan.
UPDATE 2026: Nah, bagian ini sayangnya bukan sekadar time capsule tahun 2013–2015. Persoalan air di Kupang masih ada sampai sekarang. Pada musim kemarau 2026, permintaan air tangki kembali meningkat. Ketika sumur mulai mengering atau debitnya menurun dan distribusi perpipaan nggak lancar, warga kembali mengandalkan mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Jadi dari sekian banyak hal yang berubah di Kupang selama lebih dari satu dekade, persoalan air adalah salah satu bagian dari tulisan lama ane yang ternyata masih relevan sampai 2026. Dan setelah pernah tinggal di tempat di mana air harus ditunggu dan ditampung seperti ini, ane jadi paham kenapa satu bak penuh air bisa terasa jauh lebih berharga daripada kelihatannya.
11. Banyak nama tempat di Kupang diawali "Oe"
Setelah ngomongin susahnya air di Kupang, ada satu hal menarik yang baru terasa nyambung kalau kita memperhatikan nama-nama tempat di Pulau Timor. Banyak banget yang namanya diawali "Oe". Di Kota Kupang sendiri kita akan menemukan nama seperti Oebobo, Oepura, Oesapa, Oeba, Oesapa Barat, Oesapa Selatan, Oebufu sampai Oetete. Begitu keluar dari Kota Kupang, nama berawalan Oe malah semakin sering muncul. Ada Oelamasi, Oesao, Oelmasi, Oenlasi, Oekabiti, Oehala, Oelolok, Oelamasi, Oemofa dan masih banyak lagi.
Dulu mungkin ane cuma menganggapnya kebetulan. Kok nama tempat di sini Oe semua sih? 😂
Ternyata ada alasannya. Kata "oe" berasal dari Uab Meto atau bahasa Dawan, bahasa masyarakat Atoni yang digunakan luas di Timor bagian barat. Secara sederhana, oe berarti air. Karena itu, unsur oe sangat sering muncul dalam toponimi atau penamaan tempat di wilayah Timor. Di pulau dengan musim kemarau panjang seperti Timor, keberadaan sumber air sejak dulu sangat menentukan tempat orang bisa hidup dan membangun permukiman. Mata air, aliran sungai, atau lokasi yang mempunyai akses terhadap air otomatis menjadi titik penting. Tempat-tempat seperti itu kemudian diberi nama yang berkaitan dengan air, dan sebagian nama tersebut bertahan sampai sekarang.
Jadi awalan Oe- kurang lebih berfungsi sebagai petunjuk bahwa sejarah nama tempat tersebut mempunyai hubungan dengan air, meskipun arti lengkap setiap nama nggak bisa diterjemahkan hanya dengan memisahkan oe dari bagian belakangnya. Masing-masing nama punya asal-usul dan bahasa lokalnya sendiri.
Yang menarik, pola ini nggak berhenti di Kota Kupang. Kalau melakukan perjalanan darat melintasi Timor dari Kupang menuju Soe, Kefamenanu sampai Atambua, kita akan berkali-kali menemukan nama desa, kelurahan, kecamatan, sungai atau kawasan yang mengandung unsur Oe.
Buat ane ini justru menarik kalau disambungkan dengan poin sebelumnya. Di satu sisi, air menjadi sesuatu yang sangat berharga di Timor karena kondisi wilayahnya yang relatif kering dan musim kemaraunya panjang. Di sisi lain, pentingnya air sudah seperti terekam dalam peta wilayahnya sendiri. Nama-nama tempatnya seolah meninggalkan petunjuk tentang bagaimana masyarakat sejak dulu melihat bentang alam di sekitarnya.
Ada air → orang datang → muncul permukiman → namanya bertahan sampai sekarang.
Makanya kalau suatu hari keliling Timor lalu melihat papan bertuliskan Oebobo, Oesapa, Oepura, Oesao, Oelamasi, Oenlasi dan entah berapa banyak Oe lainnya, sekarang kita sudah tahu kenapa.
Oe = air.
12. Kupang saat musim hujan dan kemarau bisa kelihatan sangat berbeda
Salah satu hal yang menurut ane menarik dari Kupang adalah penampilannya bisa berubah cukup drastis tergantung kita datang pada musim apa. Kalau cuma pernah datang sekali, kita bahkan bisa mendapatkan kesan yang berbeda banget tentang kota ini dibanding orang yang datang beberapa bulan kemudian. Saat musim hujan, Kupang dan daerah sekitarnya bisa terlihat cukup hijau. Rumput tumbuh, pepohonan terlihat lebih segar, semak-semak bermunculan dan bukit-bukit yang sebelumnya kering mulai tertutup warna hijau. Kalau kebetulan datang pada periode seperti ini, orang yang baru pertama kali ke Kupang mungkin bakal mikir, "Lho, katanya NTT kering? Ini hijau kok."
Tunggu beberapa bulan. Wkwkwk.
Begitu masuk musim kemarau yang panjang, pemandangannya bisa berubah. Rumput mulai mengering, warna perbukitan perlahan berubah dari hijau menjadi kuning kecokelatan, tanah terlihat lebih kering dan debu juga lebih gampang beterbangan. Di beberapa tempat pohon-pohon dan semak masih memberikan warna hijau, tetapi secara keseluruhan lanskapnya terasa jauh lebih kering dibanding saat musim hujan.
Perubahan ini menurut ane cukup menarik karena bukan cuma soal suhu atau ada-tidaknya hujan. Warna lanskapnya benar-benar ikut berubah. Tempat yang beberapa bulan sebelumnya terlihat hijau bisa berubah menjadi hamparan rumput kering berwarna cokelat keemasan. Kalau punya foto dari lokasi yang sama pada musim hujan dan musim kemarau, kadang rasanya seperti melihat dua tempat yang berbeda. Hal ini berkaitan dengan karakter iklim Kupang dan wilayah Timor bagian barat yang memang punya periode kemarau panjang. Curah hujan jauh lebih terkonsentrasi pada musim hujan, sementara selama kemarau kondisi bisa sangat kering. Ini juga nyambung dengan poin sebelumnya tentang kenapa air menjadi barang yang begitu berharga di Kupang.
Tapi jangan pula membayangkan musim hujan di Kupang selalu berarti hujan biasa dan semuanya mendadak hijau. Cuaca ekstrem juga bisa terjadi, dan contoh paling dramatisnya adalah Siklon Tropis Seroja pada April 2021. Seroja ini bukan kejadian yang berlangsung setiap tahun, melainkan peristiwa cuaca ekstrem yang sangat luar biasa. Cikal bakalnya terbentuk di sekitar Laut Sawu dan pada malam 4 April 2021 posisinya tercatat hanya sekitar 24 kilometer di sebelah barat daya Kupang. Sistem tersebut kemudian menguat menjadi Siklon Tropis Seroja pada 5 April 2021. Dampaknya membawa hujan sangat lebat, angin kencang dan gelombang tinggi ke NTT.
Hujannya benar-benar ekstrem. BMKG mencatat curah hujan di Oekabiti, Kupang mencapai 497 mm dalam sehari pada 5 April 2021, tertinggi dalam pemantauan curah hujan ekstrem harian Indonesia pada bulan tersebut. Dampak Seroja kemudian meluas ke berbagai wilayah NTT, termasuk Kota Kupang, dengan banjir, longsor, angin kencang, gelombang pasang serta kerusakan yang sangat besar. Pemerintah NTT sampai menetapkan status tanggap darurat bencana. Jadi jangan salah juga. Kupang yang terkenal kering ternyata pernah dihantam siklon tropis dengan dampak sebesar itu.
Untungnya kejadian seperti Seroja bukan sesuatu yang rutin terjadi setiap musim hujan. Indonesia sendiri bukan wilayah lintasan utama siklon tropis, tetapi siklon yang terbentuk di sekitar wilayah Indonesia dapat memengaruhi cuaca, dan kasus Seroja menjadi salah satu kejadian paling besar yang pernah dialami NTT.
Kalau kembali ke kondisi normalnya, ane justru merasa Kupang punya kecantikan yang berbeda pada kedua musim tersebut. Saat musim hujan semuanya terlihat lebih hijau dan segar. Saat kemarau muncul pemandangan khas wilayah kering: bukit-bukit kecokelatan, rerumputan kering dan langit biru yang kontras banget dengan warna tanahnya. Bukan hijau tropis seperti yang biasa ane lihat di Jawa, tapi justru itu yang membuat lanskap Timor terasa berbeda.
Jadi kalau ada dua orang datang ke Kupang pada waktu yang berbeda lalu yang satu bilang, "Kupang ternyata hijau banget," sementara satunya lagi bilang, "Kupang kering dan cokelat banget," bisa jadi dua-duanya benar.
Mereka cuma datang pada musim yang berbeda. 😂
13. Minyak tanah masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari
Hal lain yang cukup bikin ane heran ketika pertama kali tinggal di Kupang tahun 2013–2015 adalah minyak tanah masih gampang banget ditemukan dan masih banyak dipakai untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Kompor minyak tanah yang waktu itu sudah semakin jarang ane lihat di Jawa ternyata masih menjadi pemandangan biasa di Kupang.
Minyak tanah juga dijual di banyak tempat. Waktu ane tinggal di sana, harganya yang ane ingat sekitar Rp5.500 per liter. Tinggal datang membawa jeriken atau wadah, beli beberapa liter, lalu dibawa pulang untuk bahan bakar kompor. Jadi kalau di Jawa waktu itu ane sudah lebih terbiasa melihat dapur menggunakan LPG, di Kupang kompor minyak tanah masih terasa sangat normal.
Awalnya hal ini termasuk salah satu perbedaan kehidupan sehari-hari yang cukup menarik perhatian ane. Bukan sesuatu yang spektakuler memang, tetapi justru hal-hal receh seperti beginilah yang biasanya baru kita sadari setelah tinggal agak lama di suatu tempat. Cara orang memasak saja ternyata bisa berbeda karena ketersediaan dan kebiasaan energi rumah tangganya juga berbeda.
UPDATE 2026: Minyak tanah sampai sekarang masih menjadi kebutuhan penting bagi sebagian masyarakat Kota Kupang. Bahkan pada 2026, pembahasan soal minyak tanah masih sering muncul karena masalah pasokan, distribusi, antrean dan harga di tingkat pengecer. Pemerintah Kota Kupang menyebut kebutuhan minyak tanah pada 2025 mencapai sekitar 22.000 kiloliter, sementara kuota pada 2026 diperkirakan sekitar 21.000 kiloliter. Pada Agustus 2026, Pemkot sampai mengajukan tambahan kuota 500 kiloliter untuk menjaga ketersediaannya.
Jadi minyak tanah di sini bukan sekadar bahan bakar 'jadul' yang masih dipakai segelintir orang. Sampai sekarang masih ada masyarakat yang mengandalkannya untuk memasak. Pada 2026 bahkan masih diberitakan warga datang ke pangkalan membawa jeriken untuk mendapatkan minyak tanah, dan ketika pasokannya sulit didapat, aktivitas memasak rumah tangga maupun usaha makanan kecil ikut terganggu.
14. Motor bisa ikut diangkut di belakang bus jarak jauh
Ini salah satu hal yang waktu pertama kali ane lihat di Kupang bikin ane mikir, "Hah? Motor bisa ikut naik bus?" 😂
Kalau kita bepergian dari Kupang menuju kota-kota lain di Pulau Timor seperti Soe, Kefamenanu atau Atambua, salah satu transportasi yang umum digunakan adalah bus antarkota. Nah, waktu ane melakukan perjalanan Kupang–Atambua sekitar tahun 2014, ane melihat sesuatu yang sebelumnya nggak pernah ane temui di Jawa yaitu sepeda motor bisa ikut dibawa bersama bus. Caranya motornya diikat di bagian belakang bus.
Di belakang bus ada semacam tempat/rangka untuk membawa barang, dan motor bisa dinaikkan ke sana lalu diikat kuat-kuat supaya nggak jatuh selama perjalanan. Jadilah bus melaju dari Kupang melintasi Pulau Timor sambil membawa penumpang di dalam, barang bawaan di sana-sini, dan sepeda motor nongkrong di belakang. Wkwkwk.
Buat masyarakat lokal sebenarnya ini masuk akal banget. Jarak antarkota di Pulau Timor cukup jauh. Dari Kupang menuju Soe saja perjalanan daratnya sudah beberapa jam, kemudian lanjut lagi ke Kefamenanu dan kalau diteruskan sampai Atambua perjalanan menjadi semakin panjang. Kalau seseorang pindah sementara, kuliah, bekerja, atau memang membutuhkan motornya di kota tujuan, tentu akan sangat berguna kalau kendaraan itu bisa sekalian ikut dibawa. Daripada naik motor sendiri ratusan kilometer, ya motornya sekalian "naik bus".
Ane masih ingat betapa uniknya pemandangan ini waktu pertama kali melihatnya. Buat orang yang sudah terbiasa bepergian di Pulau Timor mungkin biasa saja, tetapi buat ane yang datang dari Jawa, melihat bus antarkota melaju dengan satu atau beberapa motor terikat di belakang jelas sesuatu yang menarik.
UPDATE 2026: Karena penasaran apakah kebiasaan yang ane lihat lebih dari sepuluh tahun lalu ini masih ada, ane sampai menanyakan langsung ke teman yang sekarang masih tinggal di sana. Jawabannya ternyata masih.
Sampai 2026, menurut teman ane di sana, motor masih bisa ikut diangkut menggunakan bus untuk perjalanan dari Kupang menuju kota-kota di Pulau Timor seperti Soe, Kefamenanu dan Atambua. Jadi pemandangan motor yang diikat di bagian belakang bus yang ane lihat tahun 2014 ternyata bukan sekadar kenangan transportasi Kupang zaman dulu. Lebih dari satu dekade kemudian, praktiknya masih relevan. Dan entah kenapa dari sekian banyak hal yang ane lihat selama tinggal di NTT, ini termasuk yang paling ane ingat sampai sekarang. Mungkin karena konsepnya sederhana tetapi efektif yaitu manusianya naik bus, barangnya ikut, motornya juga sekalian ikut.
Sampai tujuan tinggal diturunkan, lalu bisa dipakai lagi. Praktis juga kalau dipikir-pikir. 😂
15. Se'i, daging asap khas yang wajib dicoba
Kalau ngomongin makanan khas Kupang, rasanya nggak mungkin melewatkan yang satu ini yaitu se'i. Ini termasuk makanan yang paling ane ingat selama tinggal di Kupang, dan menurut ane kalau kalian datang ke sini, minimal sekali harus nyobain. Se'i pada dasarnya merupakan olahan daging yang dipotong memanjang, dibumbui, kemudian dimasak dengan proses pengasapan. Dagingnya nggak ditaruh begitu saja tepat di atas api seperti orang bakar sate, tetapi diasapi sehingga aroma asapnya masuk ke dalam daging dan menghasilkan rasa yang khas. Secara tradisional, salah satu kayu yang digunakan untuk proses pengasapan adalah kayu kusambi, yang ikut memberikan karakter aroma pada se'i.
Dulu ane sempat mengira kata "se'i" berarti daging asap. Ternyata penjelasan itu kurang tepat. Dalam literatur tentang makanan ini, se'i disebut berasal dari bahasa Rote dan merujuk pada daging yang disayat atau diiris memanjang, kemudian diasapi sampai matang. Bahkan bentuk potongan panjang seperti tali ini dikenal sebagai lalolak. Jadi unsur "potong memanjang"-nya justru merupakan bagian penting dari se'i, bukan sekadar karena dagingnya diasapi.
Se'i sendiri berasal dari tradisi masyarakat Rote, tetapi di Kupang makanan ini sudah sangat gampang ditemukan dan rasanya sudah menjadi salah satu makanan yang paling identik dengan kota ini. Jenis dagingnya juga bisa bermacam-macam. Yang paling umum ane temui adalah se'i sapi dan se'i babi, jadi kalau punya pantangan makanan tertentu jangan lupa tanya dulu sebelum pesan.
Biasanya se'i disajikan dalam irisan-irisan daging bersama nasi dan berbagai pelengkap. Salah satu pasangan yang menurut ane paling cocok adalah sambal lu'at, sambal khas NTT yang rasanya segar, pedas dan punya aroma khas. Daging se'i yang gurih dan smoky ketemu sambal yang pedas-segar itu memang kombinasi yang susah ditolak.
Yang paling khas tentu saja aroma asapnya. Begitu dimakan, rasa dagingnya bukan seperti daging goreng atau daging bakar biasa. Ada rasa dan aroma smoky yang cukup kuat tetapi justru itu yang bikin nagih. Teksturnya juga khas karena daging dipotong memanjang sebelum melalui proses pengasapan.
Waktu tinggal di Kupang tahun 2013–2015, se'i belum sepopuler sekarang di luar NTT. Jadi buat ane waktu itu makanan ini benar-benar terasa sebagai salah satu makanan yang identik dengan perjalanan ke Kupang. Bahkan penelitian yang terbit pada masa itu sudah mencatat bahwa se'i tidak hanya dikonsumsi masyarakat Kupang, tetapi juga mulai dijadikan oleh-oleh khas Kupang.
UPDATE 2026: Nah, kalau yang ini justru perkembangannya menarik banget. Se'i sekarang sudah nggak eksklusif ditemukan di Kupang atau NTT. Popularitasnya menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan muncul banyak rumah makan yang menjual se'i dengan berbagai versi. Literatur juga mencatat perkembangannya di luar NTT, bahkan bahan yang digunakan sekarang nggak berhenti pada sapi dan babi saja, tetapi sudah muncul berbagai adaptasi seperti ayam, kambing sampai ikan.
Jadi buat orang yang pertama kali mengenal se'i dari restoran di Jawa atau kota-kota besar lainnya, mungkin makanan ini sekarang nggak terasa terlalu asing. Tapi kalau kebetulan datang langsung ke Kupang, menurut ane tetap beda ceritanya. Makan se'i di tempat asal tradisinya sendiri rasanya tetap wajib dicoba. Apalagi setelah tahu bahwa makanan yang sekarang bisa kita temukan di berbagai kota itu punya akar tradisi dari Rote dan sudah lama menjadi bagian dari kuliner yang sangat lekat dengan Kupang.
16. Seafood segar dan Pasar Malam Kampung Solor
Kupang itu kota pesisir, jadi kalau suka ikan dan seafood, ane rasa kalian nggak akan kekurangan pilihan di sini. Ikan laut segar gampang banget ditemukan, begitu juga cumi, udang, kerang dan berbagai hasil laut lainnya. Salah satu tempat yang paling ane ingat untuk urusan beginian tentu saja Pasar Malam Kampung Solor.
Waktu ane tinggal di Kupang tahun 2013–2015, Kampung Solor termasuk tempat yang enak didatangi kalau malam dan pengen makan seafood. Konsepnya sederhana, bukan restoran mewah ber-AC, melainkan deretan warung dan lapak makan yang mulai hidup menjelang malam. Ikan-ikan segar dipajang di depan, kita tinggal jalan melihat-lihat, pilih ikan yang kita mau, tanya harga, lalu minta dimasak. Mau dibakar, digoreng atau dibuat kuah asam, tinggal pilih. Selain ikan biasanya ada juga udang, cumi, kerang dan seafood lainnya.
Justru bagian memilih ikan ini yang menurut ane seru. Kita bisa lihat sendiri ikan yang bakal masuk ke piring kita, pilih jenis dan ukurannya, baru kemudian duduk menunggu sambil mencium bau ikan bakar dari mana-mana. Begitu malam semakin ramai, suasananya juga semakin ramai. Orang makan, pedagang menawarkan ikan, asap dari pembakaran naik dari warung-warung, dan aroma seafood bakar memenuhi jalan.
Kalau makan ikan bakar, tentu nggak lengkap kalau cuma ikan dan nasi. Biasanya ada sambal dan sayuran sebagai pelengkap. Salah satu yang khas di Kupang adalah bunga pepaya, yang sering ditumis bersama sayuran lain. Rasanya agak pahit, tapi justru cocok banget dimakan bareng ikan bakar dan sambal. Kalau belum pernah makan bunga pepaya sebelumnya, ya sekalian saja cobain. Mumpung di NTT. 😂
Pasar Malam Kampung Solor sendiri sebenarnya sudah terkenal sebagai salah satu pusat kuliner malam di Kota Kupang sejak dulu. Tulisan perjalanan dari 2013 pun sudah menggambarkan kawasan ini berubah pada malam hari menjadi deretan warung tenda yang dipenuhi ikan bakar dan aneka seafood, persis seperti yang ane ingat ketika berada di Kupang pada periode yang sama.
Buat ane, makan seafood di Kampung Solor bukan cuma soal makanannya. Suasananya juga bagian dari pengalaman. Datang malam-malam, jalan pelan sambil lihat ikan yang dipajang, bingung mau pilih warung yang mana karena semuanya menawarkan ikan, akhirnya tunjuk satu ekor, duduk, lalu menunggu ikan dibakar. Sederhana banget, tapi justru pengalaman seperti ini yang paling ane ingat dari Kupang.
UPDATE 2026: Lebih dari sepuluh tahun setelah ane pertama kali menulis artikel ini, Pasar Malam Kampung Solor ternyata masih ada dan masih menjadi tempat berburu seafood di Kupang. Data tempat terbaru juga masih mencatat kawasan ini beroperasi setiap malam, umumnya mulai sekitar sore hingga tengah malam. Pasar malam kampung solor
Konsepnya pun ternyata nggak banyak berubah. Laporan tahun 2025 masih menggambarkan puluhan pedagang menjajakan ikan, udang, cumi dan kerang segar, lalu pembeli memilih sendiri seafood yang diinginkan untuk langsung dimasak. Ikan bakar dan kuah asam masih menjadi pilihan, lengkap dengan sayuran seperti cah kangkung dan bunga pepaya.
Jadi kalau ada yang bertanya kepada ane salah satu pengalaman kuliner malam yang khas ketika berada di Kupang, Kampung Solor masih gampang masuk daftar. Apalagi buat ane yang suka konsep makan sederhana begini yaitu datang, lihat ikan segar berjajar, pilih sendiri, bakar, sambal, nasi hangat, selesai.
Nggak perlu dibuat ribet. 😂
17. Warung Jawa dan Padang gampang ditemukan
Buat traveler Muslim yang baru pertama kali mau datang ke Kupang dan mungkin kepikiran, "Nanti gampang nggak ya cari makanan yang aman?", menurut pengalaman ane nggak perlu terlalu khawatir. Walaupun kita sedang berada jauh di timur Indonesia, warung makan yang familiar buat orang Jawa juga gampang banget ditemukan.
Sepengamatan ane sampai terakhir kali mengunjungi Kota Kupang, warung Jawa dan rumah makan Padang sudah banyak. Ada warung pecel lele, ayam goreng, ayam penyet, bakso, soto, nasi goreng dan berbagai makanan yang rasanya sangat familiar. Rumah makan Padang juga gampang dicari. Jadi kalau sudah beberapa hari makan makanan lokal lalu tiba-tiba kangen pecel lele atau nasi Padang, tenang... tinggal google maps aja.
Menurut ane ini juga cukup membantu buat traveler Muslim. Kupang memang punya banyak kuliner lokal berbahan babi, dan se'i misalnya bisa dibuat dari daging sapi maupun babi. Tapi bukan berarti traveler Muslim bakal kesulitan mencari makanan. Tinggal cari rumah makan Padang, warung Jawa atau tempat makan yang jelas mencantumkan menu dan bahan yang digunakan.
Meski begitu, ane tetap menyarankan jangan otomatis menganggap semua tempat makan halal hanya karena menunya terlihat familiar. Kalau memang nggak ada keterangan halal dan kita ragu, tanya saja kepada penjualnya apakah menggunakan babi, minyak babi atau bahan lain yang ingin kita hindari. Apalagi di Kupang makanan berbahan babi bukan sesuatu yang aneh, jadi bertanya langsung menurut ane justru paling gampang.
Rumah makan Padang biasanya menjadi salah satu pilihan paling praktis karena gampang dikenali dan menunya sudah familiar. Selain itu, di sekitar kawasan yang ramai, kampus, pasar maupun pusat kota juga relatif gampang menemukan warung makan dengan menu seperti ayam, ikan dan berbagai masakan Indonesia lainnya.
Jadi buat traveler Muslim, nggak perlu membayangkan datang ke Kupang lalu bakal susah banget cari makanan. Pilihannya cukup banyak. Tinggal sedikit lebih teliti kalau sebuah tempat nggak mencantumkan informasi halal dengan jelas.
Dan sebenarnya ini juga salah satu hal yang ane suka dari Kupang. Makanan khas NTT ada, se'i ada, seafood melimpah, tapi kalau suatu hari lidah tiba-tiba cuma pengen pecel lele + sambal + nasi hangat, ya tinggal cari warung Jawa.
Biasanya ketemu. 😂
18. Buaya memang ada di beberapa perairan Timor, jadi jangan asal berenang
Nah, ini salah satu informasi yang menurut ane penting banget diketahui kalau traveling di Pulau Timor yaitu buaya muara memang ada di beberapa perairan di sini.Tapi jangan langsung membayangkan bahwa semua pantai di Kota Kupang penuh buaya dan nggak boleh dipakai berenang. Nggak begitu juga. 😂 Yang perlu dibedakan adalah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Pulau Timor secara keseluruhan. Kupang yang kita kenal sebagai ibu kota NTT adalah Kota Kupang, sementara Kabupaten Kupang merupakan wilayah administratif yang berbeda dan jauh lebih luas. Keduanya sama-sama berada di Pulau Timor, sedangkan Pulau Timor sendiri masih berlanjut ke wilayah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu hingga Timor Leste.
Buaya muara (Crocodylus porosus) memang hidup dan berkeliaran di sejumlah perairan di kawasan ini. BBKSDA NTT bahkan menyebut konflik manusia dengan buaya di NTT paling banyak tercatat di Pulau Timor. Habitat dan daerah jelajahnya bisa berkaitan dengan muara sungai, kawasan mangrove, pesisir, rawa maupun perairan laut di sekitarnya. Dan namanya buaya muara bukan berarti mereka cuma bisa berada persis di mulut sungai. Buaya jenis ini toleran terhadap air asin dan bisa bergerak melalui laut. Makanya keberadaannya kadang terdeteksi di lokasi yang mungkin nggak langsung kita bayangkan sebagai "tempat buaya".
Di Kabupaten Kupang, misalnya, buaya pernah ditemukan di perairan sekitar Bolok, Kupang Barat. BBKSDA NTT menyebut penemuan anak buaya di sekitar Dermaga Polair Bolok sebagai indikasi bahwa daerah jelajah buaya sudah memasuki kawasan aktivitas manusia dan saat itu masyarakat diminta berhati-hati ketika melaut maupun beraktivitas di pesisir.
Tapi yang menurut ane cukup mengejutkan, kemunculan buaya juga pernah dilaporkan di pesisir Kota Kupang sendiri. Pada 2022, warga bahkan sempat diimbau mengurangi aktivitas di pinggir pantai setelah ada kemunculan buaya di perairan Pasir Panjang, Tode Kisar, dan Kampung Solor. Jadi keberadaan buaya di sekitar Kupang memang bukan sekadar cerita orang atau urban legend. Artinya bukan kita harus paranoid setiap kali melihat laut di Kupang. Tapi juga jangan asal lihat air tenang lalu langsung nyebur, terutama kalau berada di lokasi yang sepi, dekat muara sungai atau mangrove, atau ada informasi warga bahwa buaya pernah terlihat di sana.
Kalau ane traveling ke tempat seperti ini, saran ane adalah tanya orang lokal dulu sebelum berenang. Kalau warga setempat bilang jangan berenang, ya jangan sok berani. Mereka yang tinggal di sana jauh lebih tahu kondisi perairannya dibanding kita yang baru datang beberapa jam. Apalagi kalau sudah ada papan peringatan, laporan kemunculan buaya atau imbauan dari BBKSDA. Jangan mendekati buaya untuk foto, jangan mencoba memberi makan, dan jangan mencoba menangkapnya sendiri. BBKSDA NTT juga mengimbau masyarakat melaporkan kemunculan buaya dan tidak mengambil tindakan sendiri ketika bertemu satwa tersebut.
Jadi kesimpulannya bukan "jangan berenang di Kupang karena ada buaya." Itu terlalu general. Yang lebih tepat adalah buaya memang hidup di sejumlah perairan Pulau Timor dan sesekali juga terdeteksi di sekitar pesisir Kota Kupang. Jadi sebelum berenang di tempat yang belum kita kenal, cari informasi lokal terlebih dahulu.
Lautnya memang kelihatan menggoda. Tapi kalau orang lokal sudah bilang, "Jangan berenang, ada buaya," ya percaya saja. Nggak perlu dibuktikan sendiri. Wkwkwk.
19. Kupang punya sejarah panjang dengan Portugis dan Belanda
Kalau ngomongin sejarah Kupang, ternyata kota ini punya hubungan yang cukup panjang dengan dua kekuatan Eropa yang pernah berebut pengaruh di kawasan Timor yaitu Portugis dan Belanda.
Portugis termasuk bangsa Eropa pertama yang masuk ke kawasan NTT dan Timor sejak abad ke-16, salah satu alasan utamanya karena cendana. Kayu cendana Timor waktu itu merupakan komoditas yang sangat berharga dan diperdagangkan sampai ke berbagai wilayah Asia. Portugis membangun pusat kekuatannya di Pulau Solor, kemudian memperluas pengaruhnya ke Pulau Timor.
Portugis bahkan sempat hadir di wilayah Kupang. Pada 1645, seorang padri Portugis bernama António de São Jacinto datang dan mendirikan benteng kecil setelah mendapat izin dari penguasa Helong. Tetapi kekuasaan Portugis di Kupang nggak bertahan lama. Beberapa tahun kemudian muncul pemain Eropa lainnya yang akhirnya jauh lebih identik dengan sejarah kolonial Kupang: VOC Belanda.
VOC mengambil alih posisi strategis di Teluk Kupang pada 1653 dan menguasai bekas benteng Portugis yang kemudian dikembangkan menjadi Fort Concordia. Dari sinilah Kupang perlahan berkembang menjadi salah satu basis utama kekuasaan Belanda di Timor bagian barat.
Nah, bagian ini menurut ane menarik banget. Dalam satu pulau, Belanda dan Portugis kemudian sama-sama punya wilayah pengaruh. Kupang dan sebagian besar Timor bagian barat semakin berada di bawah pengaruh Belanda, sementara Portugis mempertahankan kekuasaannya terutama di bagian timur Pulau Timor.
Kontak dengan bangsa Eropa yang berlangsung selama berabad-abad tentunya bukan cuma meninggalkan benteng, nama tempat atau catatan sejarah. Perkawinan dan keluarga dengan latar belakang campuran Eropa dan masyarakat lokal juga memang menjadi bagian dari sejarah Timor. Karena itu, sampai sekarang kita bisa menemukan keluarga-keluarga di Timor yang mempunyai leluhur Portugis, Belanda maupun latar belakang campuran lainnya.
Secara kasat mata, kita juga kadang bertemu orang dengan penampilan yang mungkin oleh orang Indonesia sehari-hari disebut "kayak bule" atau "blasteran"—misalnya kulit yang lebih terang, rambut kecokelatan atau fitur wajah yang sekilas terlihat seperti orang Eropa. Tapi tentu penampilan seperti itu nggak otomatis berarti seseorang keturunan Portugis atau Belanda. NTT sendiri sangat beragam, dan asal-usul seseorang ya hanya bisa diketahui dari sejarah keluarganya, bukan ditebak dari wajahnya.
Persaingan Belanda dan Portugis sendiri berlangsung lama dan batas wilayahnya juga nggak langsung berbentuk seperti perbatasan negara modern sekarang. Berbagai perjanjian antara Belanda dan Portugis kemudian dibuat untuk menentukan wilayah kekuasaan masing-masing.
Kalau dipikir-pikir, jejak sejarah itu masih bisa kita lihat dengan sangat jelas di peta hari ini. Pulau Timor sekarang terbagi menjadi dua negara. Bagian baratnya merupakan wilayah Indonesia dan mencakup Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu dan Malaka. Sementara bagian timurnya menjadi negara Timor-Leste, yang sejarah kolonialnya jauh lebih kuat dipengaruhi Portugis.
Jadi kalau kita melakukan perjalanan darat dari Kupang → Soe → Kefamenanu → Atambua → Timor-Leste, sebenarnya kita sedang melintasi satu pulau yang selama berabad-abad pernah menjadi arena persaingan dua kekuatan kolonial Eropa.
Sejarah ini juga ikut berhubungan dengan perkembangan Kupang sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah. Pada masa VOC, orang-orang dari beberapa pulau di sekitar Timor seperti Rote, Sabu dan Solor juga datang atau ditempatkan di sekitar Kupang. Bahkan nama Kampung Solor, yang sekarang mungkin lebih dikenal traveler karena pasar malam seafood-nya, punya hubungan dengan sejarah keberadaan masyarakat Solor di kawasan tersebut. Jadi Kampung Solor ternyata bukan sekadar nama kampung. Ada sejarah panjang di belakangnya.
Dan menurut ane ini salah satu hal menarik tentang Kupang yang gampang terlewat kalau kita cuma melihatnya sebagai kota transit sebelum keliling NTT. Posisi Kupang di ujung barat Pulau Timor membuat kota ini sejak dulu menjadi tempat bertemunya perdagangan, perpindahan manusia, kerajaan-kerajaan lokal, Portugis, Belanda dan berbagai masyarakat dari pulau-pulau di sekitarnya. Jadi kalau sekarang Kupang terasa seperti melting pot kecil NTT, ternyata ceritanya memang sudah dimulai sejak lama.
20. Kupang juga menjadi salah satu pusat pendidikan tinggi di NTT
Selain menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi NTT, Kupang juga bisa dibilang sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di provinsi ini. Universitas dan perguruan tingginya cukup banyak, sehingga nggak heran kalau banyak anak muda dari berbagai daerah di NTT datang ke Kupang untuk kuliah. Yang paling terkenal tentu saja Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Kampus negeri ini sudah berdiri sejak 1962 dan punya sejarah panjang sebagai perguruan tinggi negeri di NTT. Sekarang UNDANA juga sudah memperoleh akreditasi institusi Unggul. Jadi kalau menyebut kampus besar di NTT, nama UNDANA hampir pasti muncul.
Tapi UNDANA jelas bukan satu-satunya. Di Kupang juga ada Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), salah satu universitas swasta besar di kota ini. UNDANA sendiri pada 2026 menyebut UNDANA dan UNWIRA sebagai kampus negeri dan swasta terbesar di Kota Kupang ketika keduanya memperkuat kerja sama pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.
Selain itu ada Universitas Muhammadiyah Kupang (UMK) dan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) yang juga sudah lama menjadi bagian dari dunia pendidikan tinggi di Kupang. Ada pula Universitas San Pedro, Universitas Citra Bangsa, serta berbagai sekolah tinggi dan perguruan tinggi lainnya. Data BPS juga mencatat keberadaan Politeknik Negeri Kupang dan Politeknik Pertanian Negeri Kupang, jadi pilihannya bukan cuma universitas akademik tetapi juga pendidikan vokasi.
Kalau memakai pemeringkatan hanya sebagai gambaran kasar—karena tiap sistem ranking punya metodologi berbeda—UNDANA memang masih menjadi nama yang paling menonjol. Dalam Webometrics edisi Juli 2026, UNDANA berada di posisi tertinggi di NTT, sementara UNWIRA dan Universitas Muhammadiyah Kupang juga masuk kelompok perguruan tinggi NTT dengan posisi relatif tinggi dalam pemeringkatan tersebut.
Keberadaan banyak kampus ini menurut ane ikut menjelaskan kenapa Kupang terasa seperti melting pot NTT yang ane ceritakan sebelumnya. Mahasiswanya nggak cuma berasal dari Kota Kupang. Banyak yang datang dari berbagai daerah dan pulau di NTT untuk kuliah, kemudian tinggal di kos, kontrakan atau bersama keluarga selama beberapa tahun.
Jadi di lingkungan kampus dan kos-kosan kita bisa bertemu orang dari Timor, Rote, Sabu, Sumba, Flores, Alor, Lembata dan berbagai daerah lainnya. Logatnya beda-beda, bahasa daerahnya beda, latar belakangnya beda, tapi semuanya ketemu di Kupang.
Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa suasana Kota Kupang terasa cukup muda dan hidup. Ada banyak mahasiswa yang datang, kuliah beberapa tahun, lulus, kemudian ada yang pulang ke daerah asal dan ada juga yang akhirnya bekerja serta menetap di Kupang.
21. Kupang punya beberapa mall dan bioskop modern
Kalau membayangkan Kupang sebagai kota di ujung Pulau Timor, mungkin ada yang berpikir fasilitas modernnya masih terbatas. Padahal sekarang Kupang sudah punya beberapa pusat perbelanjaan modern, lengkap dengan bioskop, supermarket, department store, tempat makan sampai arena permainan keluarga.
Kalau diurutkan dari yang menurut ane paling layak disebut mall besar dan lengkap, yang pertama adalah Lippo Plaza Kupang di kawasan Fatululi. Lippo Plaza Kupang saat ini merupakan mall terbesar di Kupang dan bahkan disebut sebagai pusat perbelanjaan terbesar di NTT. Mall ini mulai beroperasi pada 2015 dan terdiri dari beberapa lantai dengan berbagai tenant, mulai dari supermarket, department store, perlengkapan rumah, fashion, restoran sampai tempat nongkrong.
Di sinilah juga terdapat salah satu bioskop utama di Kupang, yaitu Cinepolis Lippo Plaza Kupang. Bioskop ini awalnya bernama Cinemaxx dan dibuka pada 2016. Jadi kalau sedang di Kupang dan pengen nonton film terbaru, salah satu pilihannya ya datang ke Lippo Plaza.
Mall besar berikutnya adalah Transmart Kupang di Jalan W.J. Lalamentik, Oebufu. Kompleks ini dibuka pada 2018 dan konsepnya bukan sekadar supermarket. Di dalamnya ada area belanja, berbagai tenant makanan, Trans Studio Mini, serta bioskop di lantai atas.
Bioskopnya adalah Transmart Kupang XXI. Berdasarkan informasi fasilitas gedungnya, XXI di Transmart mempunyai empat studio. Jadi sekarang warga Kupang punya setidaknya dua lokasi utama untuk menonton film bioskop modern: Cinépolis di Lippo Plaza dan Cinema XXI di Transmart.
Lalu ada Flobamora Mall di Oebufu. Nah, yang ini justru punya nilai sejarah tersendiri karena merupakan salah satu pusat perbelanjaan modern generasi awal di Kupang. Flobamora Mall sudah berdiri sejak 2003, jauh sebelum Lippo Plaza dan Transmart muncul. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan salah satu tenant utamanya adalah RAMAYANA Kupang. Makanya tempat ini juga sering diasosiasikan dengan Ramayana Kupang.
Kalau dibandingkan Lippo Plaza atau Transmart, Flobamora Mall memang terasa lebih seperti pusat perbelanjaan generasi lama. Tapi justru tempat ini penting kalau ngomongin perkembangan gaya hidup modern di Kupang, karena sudah menjadi tempat belanja masyarakat jauh sebelum mall-mall baru bermunculan.
Selain tiga nama besar tadi, ada pula pusat belanja yang skalanya lebih kecil seperti SUBASUKA Department Store dan beberapa pusat pertokoan lainnya. Jadi sebenarnya agak sulit kalau ditanya "Kupang punya berapa mall?" secara mutlak, karena tergantung apakah department store, shopping center kecil dan kompleks pertokoan ikut dihitung sebagai mall atau nggak.
Kalau yang dimaksud mall/pusat perbelanjaan besar yang paling dikenal, gampangnya ingat tiga ini:
Lippo Plaza Kupang → Transmart Kupang → Flobamora Mall/Ramayana.
Jadi jangan membayangkan Kupang sebagai kota yang kalau malam cuma bisa duduk melihat laut sambil makan jagung bose. 😂 Mau masuk mall ber-AC, ngopi, belanja, main, makan fast food sampai nonton film terbaru juga sudah ada.
Tinggal kalau ane disuruh memilih antara nonton bioskop atau duduk di pinggir laut Kupang sambil lihat sunset...Nah, itu baru pilihan yang agak berat. Wkwkwk.
22. Coffee Shop sekarang sudah menjamur di Kota Kupang
Kalau mall dan bioskop sudah ada, perkembangan berikutnya yang mungkin paling gampang kelihatan dari gaya hidup Kota Kupang sekarang adalah coffee shop yang semakin banyak. Kalau mencari di Google Maps sekarang, coffee shop di Kupang sudah tersebar di banyak sudut kota. Pilihannya juga bukan cuma warung kopi sederhana, tetapi sudah banyak tempat dengan konsep modern yaitu ruangan ber-AC, interior estetik, Wi-Fi, colokan buat laptop, kopi espresso-based, manual brew, sampai minuman non-kopi yang menunya mirip coffee shop di kota-kota besar lainnya.
Jadi buat yang membayangkan datang ke Kupang lalu bakal susah mencari tempat buat duduk sambil buka laptop dan ngopi beberapa jam, sekarang rasanya sudah nggak berlaku lagi. Mau cari kopi pagi, tempat nongkrong sore, kerja pakai laptop atau ngobrol sampai malam, pilihannya sudah lumayan banyak.
Bahkan jaringan coffee shop nasional TOMORO COFFEE sudah masuk Kota Kupang. Menurut ane ini jadi salah satu indikator paling gampang bahwa pasar coffee shop modern di Kupang memang sudah berkembang, jadi kalau lidah tiba-tiba pengen minuman yang sama seperti yang biasa dibeli di Jawa, sudah ada pilihannya.
Tapi...Satu hal.. Kopi Kenangan Mantan belum ada. Wkwkwk. (2026)
Selain itu, Coffee shop lokal Kupang juga sudah banyak dan masing-masing punya karakter sendiri. Ada yang serius dengan kopinya, ada yang lebih mengandalkan tempat nongkrong dan suasana, ada yang buka sampai malam, dan ada pula yang memanfaatkan halaman atau area outdoor—sesuatu yang cocok banget dengan kebiasaan nongkrong di kota ini.
Dan sebenarnya NTT sendiri punya hubungan yang dekat dengan kopi. Flores terkenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi Indonesia, terutama dari kawasan seperti Bajawa dan Manggarai. Jadi kalau sedang nongkrong di coffee shop Kupang, sekalian saja cari apakah mereka menyediakan kopi lokal NTT. Rasanya lebih menarik daripada sudah jauh-jauh ke Timor tapi pesannya tetap kopi yang sama persis dengan yang biasa diminum di Jawa.
Buat ane perkembangan coffee shop ini juga menunjukkan perubahan Kupang yang cukup menarik. Kota yang dulu ane kenal sekarang sudah punya semakin banyak pilihan tempat nongkrong modern, tetapi di luar sana kehidupan khas Kupangnya tetap jalan seperti biasa.
Pagi bisa ngopi di coffee shop ber-AC sambil buka laptop. Sore lihat sunset di pinggir laut. Malam makan ikan bakar di Kampung Solor. Lumayan lengkap juga sekarang Kupang. 😂
23. Sekarang sudah ada tempat nongkrong tepi laut ala beach club
Nah, ini yang menurut ane paling cocok dengan karakter Kupang. Daripada coffee shop indoor, kota yang garis pantainya panjang begini memang rasanya sayang kalau nggak punya tempat nongkrong langsung menghadap laut. Dan sekarang ternyata sudah ada beberapa tempat nongkrong tepi laut di Kupang yang suasananya bisa dibilang ala-ala beach club. Memang jangan membayangkan beach club Bali yang ukurannya gede banget, lengkap dengan infinity pool, daybed berjajar, DJ dan ratusan orang party sampai malam. Konsep di Kupang masih lebih sederhana dan santai yaitu restoran, café atau bar dengan area outdoor, langsung menghadap laut, bisa makan dan minum sambil menikmati angin pantai dan sunset.
Kalau pengen mencoba, salah satu yang paling mendekati konsep beach club adalah Beer & Barrel Kitchen n' Lounge di kawasan Pasir Panjang. Tempat ini memang mengusung konsep Beach Club, dengan restoran dan bar, area outdoor serta hiburan musik. Lokasinya di tepi laut membuat tempat ini cocok banget didatangi menjelang sore supaya sekalian menunggu sunset.
Pilihan lain yang menarik adalah La Cove Beach Resto & Bar di Pantai Lasiana. Kalau yang dicari benar-benar suasana makan di pinggir pantai, ini mungkin salah satu yang paling pas. Tempatnya berada langsung di kawasan Pantai Lasiana, tersedia tempat duduk outdoor, restoran dan bar, serta pertunjukan musik. Jadi datang sore, pilih meja menghadap laut, pesan makanan, lalu duduk sampai matahari turun rasanya sudah cukup mendapatkan beach club vibes tanpa harus terbang ke Bali.
Ada juga Subasuka Paradise di kawasan Kelapa Lima. Konsepnya lebih ke restoran tepi laut daripada beach club, tetapi lokasinya langsung menghadap laut dengan ruang terbuka. Tempat ini terkenal untuk seafood dan nongkrong sambil menikmati sunset. Bahkan situs resmi pariwisata Indonesia menggambarkannya sebagai tempat dengan pemandangan laut, ruang terbuka dan suasana santai yang banyak didatangi untuk menikmati matahari terbenam.
Kalau pengen suasana yang sedikit berbeda, bisa mencoba Tebing Cafe di Alak. Sesuai namanya, tempat ini bukan berada persis di pasir pantai, melainkan memanfaatkan posisi tebing yang menghadap ke laut. Jadi daya tarik utamanya justru pemandangan laut dari ketinggian. Datang sore sepertinya paling masuk akal karena sekalian menunggu sunset.
Jadi kalau ane disuruh memilih beberapa tempat untuk dicoba, kira-kira begini:
Beer & Barrel kalau pengen yang paling terasa seperti beach club.
La Cove kalau pengen benar-benar nongkrong di kawasan pantai.
Subasuka Paradise kalau pengen makan seafood sambil menikmati laut.
Tebing Cafe kalau pengen menikmati laut dan sunset dari atas tebing.
Dan menurut ane justru konsep seperti ini cocok banget dikembangkan lebih banyak di Kupang. Kotanya menghadap laut, cuacanya cenderung panas, sunset-nya bagus, dan orang-orangnya memang suka nongkrong. Modal alamnya sebenarnya sudah ada semua. Kadang cukup meja, kursi, musik, makanan, angin laut dan matahari tenggelam di depan mata.
Sudah enak banget. 😂
24. Kupang yang ane kenal tahun 2014 sudah banyak berubah
Ketika ane membuka kembali tulisan ini pada tahun 2026, ane baru sadar ternyata sudah lebih dari satu dekade sejak masa-masa ane sering berada di Kupang. Tulisan awal artikel ini dibuat tahun 2015 berdasarkan apa yang ane lihat dan alami selama beberapa tahun sebelumnya. Waktu itu banyak hal yang ane tulis spontan saja, berdasarkan hal-hal kecil yang menurut ane unik karena berbeda dengan kehidupan yang biasa ane temui di Jawa.Sekarang ketika dibaca lagi, beberapa bagian rasanya seperti membuka kapsul waktu.
Kupang tentu sudah berubah. Kotanya semakin berkembang, pilihan tempat makan semakin banyak, mall dan bioskop modern sudah ada, transportasi online sudah menjadi pilihan, barbershop dan gaya anak mudanya berubah, internet dan media sosial mengubah banyak kebiasaan, dan fasilitas kota juga terus berkembang. Beberapa hal yang dulu ane anggap unik mungkin sekarang sudah terasa biasa.
Tapi setelah ane mengecek kembali satu per satu isi tulisan lama ini, ternyata banyak juga yang masih bertahan. Sirih pinang masih ada. Se'i masih menjadi makanan yang identik dengan NTT. Tenun masih menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas masyarakat. Musik masih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kupang masih menjadi tempat bertemunya orang dari berbagai daerah di NTT. Musim kemarau masih bisa mengubah perbukitan menjadi cokelat dan kering, sementara musim hujan membuatnya kembali hijau. Bahkan motor yang diikat di belakang bus menuju Soe, Kefamenanu atau Atambua yang dulu menurut ane absurd, ternyata sampai sekarang masih bisa ditemukan. Wkwkwk.
Tapi dari semua hal yang ane ingat tentang Kupang, ada satu yang menurut ane nggak berubah sama sekali yaitu kebaikan orang-orangnya. Ini mungkin justru kenangan ane yang paling kuat tentang kota ini.
Selama berada di Kupang, ane berkali-kali bertemu orang yang gampang menyapa, gampang ngobrol, gampang membantu dan memperlakukan ane dengan baik meskipun sebelumnya sama sekali nggak kenal. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan kalau cuma ditulis sebagai daftar tempat wisata atau rekomendasi kuliner.
Kadang bentuknya juga bukan sesuatu yang besar. Ditunjukkan jalan ketika bingung. Diajak ngobrol padahal baru kenal. Dibantu ketika ada keperluan. Ditawari makanan. Dikasih informasi. Atau sekadar percakapan random yang awalnya cuma tanya sesuatu, lalu tahu-tahu sudah ngobrol panjang seperti kenal lama. Dan mungkin justru hal-hal kecil seperti itulah yang paling lama tinggal di ingatan.
Bangunan bisa berubah. Jalan bisa semakin ramai. Mall baru bisa muncul. Tempat yang dulu ane kenal mungkin sekarang sudah berbeda bentuk. Bahkan kebiasaan masyarakat pun pelan-pelan berubah mengikuti zaman.
Tapi ketika ane bertanya kepada teman-teman yang masih tinggal di sana dan membaca kembali cerita-cerita tentang Kupang sekarang, kesan tentang keramahan dan kebaikan masyarakatnya ternyata masih menjadi sesuatu yang sangat familiar.
Ane tentu nggak bisa bilang semua orang Kupang pasti baik—nggak ada kota di dunia yang seluruh penduduknya punya sifat sama. Tapi kalau ditanya apa kesan pribadi ane setelah pernah menghabiskan cukup banyak waktu di sana, jawabannya gampang:
ane punya terlalu banyak pengalaman baik dengan orang Kupang untuk nggak mengingat mereka sebagai orang-orang yang baik.
Mungkin itu juga alasan kenapa setelah lebih dari sepuluh tahun, ane masih bisa mengingat banyak detail kecil tentang kota ini.
Bukan cuma pantainya. Bukan cuma panasnya. Bukan cuma se'i, jagung bose, sirih pinang, tenun, angkot, musik atau matahari terbenamnya. Tapi juga orang-orang yang ane temui di sana.
Jadi kalau artikel ini awalnya ane tulis sebagai kumpulan hal-hal unik yang ane temukan di Kupang, setelah membacanya kembali sebelas tahun kemudian ane sadar bahwa tulisan ini sebenarnya juga menjadi semacam kapsul waktu tentang Kupang yang pernah ane kenal.
Sebagian sudah berubah. Sebagian masih sama. Dan dari semuanya, ada satu hal yang sampai sekarang tetap menjadi kesan terbaik ane tentang kota di ujung barat Pulau Timor ini:
Kupang boleh berubah sebanyak apa pun, tapi semoga kebaikan orang-orangnya nggak pernah berubah.
Karena buat ane, justru itulah salah satu hal terbaik dari Kupang.





mantap :-)
BalasHapuskupang, tunggu b pulang doo .. su talalu rinduuu :-)
Pulang su kk, Kupang menunggumu.
Hapusbro Galuh terima kasih sudah mengulas tentang kota kupang.
BalasHapustapi ada sedikit masukan untuk ulasan yg ke 10 ;Motor banyak yang nggak ada platnya, dan itu nggak masalah
sebenarnya bukan gak masalah bro, mungkin karena waktu bro ke fatumnasi, tidak ketemu razia polantas aja.
memang kebanyakan motor disini belum pada pakai plat nomer karena dengan alasan polantas belum kelaurkan plat nomernya. disini juga banyak yg bisa buat plat nomer kw tapi harga nya juga lumayang bro.
terima kasih bro,..
salam kenal.
Makasih bro tambahannya, sudah beta edit diatas
HapusKeren keren... makasih brader su review beta pung kota. Makasih kakaaaaaaak
BalasHapusSama-sama kakak nyong
HapusNo.7 gan, kalo Nasi ayam sama Nasi Campur mahalan nasi Ayam tapi kalo Harga daging ayam sama Daging sapi mahalan daging sapi gan.
BalasHapusIndomaret/Alfamart belum ada di Kupang gan
Iya gan, ane salah disitu, makasih udah koreksi gan, sudah ane edit diatas
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusWaktu tahun 1992 sih ada 2 bioskop presiden theater sama timor place
BalasHapusMakasih gan tambahannya!
HapusDulu di Kupang, sekitar tahun 1960an hingga awal 1970an, hanya ada satu gedung bioskop di Kelurahan Solor yg skrg. Namanya Bioskop Raya. Kemudian dibangun 1 gedung bioskop lagi di Kelurahan Merdeka yg skrg yaitu Kupang Theatre, sering disingkat oleh org Kupang sebagai K.T. Lalu dibangun 1 lagi gedung bioskop di Kelurahan Kuanino yg skrg, yaitu President Theatre. Jdi Kota Kupang pernah memiliki 3 gedung bioskop. Ketiga gedung bioskop ini perlahan lahan tapi pasti,mulai "malas" mempertunjukan film, dan akirnya tutup. Ini mungkin disebabkan oleh mulai masuknya TVRI, kemudian disusul oleh RCTI, dll, juga mulai ada toko2 yg menyewakan kaset video sehingga orh Kupang cenderung "membuat gedung bioskop pribadi dirmh sendiri". Puluhan tahun kota Kupang tak punya gedung bioskop hingga tahun 2015 lalu, Lippo Plaza atau Lippo apapun namanya (saya tdk ambil pusing ttg nama tepatnya; pokoknya Lippo)mmbuat gedung biskopnya.
HapusHahaha talalu deee.. B ju su kangen kupang !
BalasHapusPulang su to kk
HapusThx Gan...untuk potongan rambut nyong2 Kupang sekarang mayoritas klimis mengkilap mandi pomade gan. Udah gitu gantengnya nambah kalo bercambang n berkumis.
BalasHapusBahasa yg pendek2 ini bukan terpengaruh budaya Ambon.. budaya melanesia berpusat di pulau Timor gan, jadi dialeknya n gaya bahasa dr Timor baru diadaptasi Ambon dan Papua. Gitu gan.
makasih agan udh review kota kami.
Makasih gan tambahan infonya
HapusOya beberapa kata lokal yang sering digunakan: sonde (tidak), tapisah (terpisah), lu (kamu), katong (kita), besong (kalian), unk (kepunyaan), maitua (pacar perempuan), paitua (pacar laki-laki)
BalasHapusUntuk kata unk (kepunyaan) sebenarnya berasal dari kata pung (punya). Karena pengaruh kata2 gaul, diubah menjadi punk, kemudian disingkat menjadi unk. Kata unk ini hanya dipahami oleh anak2 muda dan dalam bentuk teks saja.
Jadi jangan pernah bertanya kepada orang kupang: lu unk nama sapa? :-D
Wuaa itu ma maksudnya bisa ganda gan, unk yg itu atau unk yg itu hahahaha
HapusBeta orang ende, tapi beta lahir besar di papua, waktu di ajak liburan sma paitua pi kupang, beta malas, dgn alasan tanah tandus, kupang biasa sja, bagusan di papua. Tapi pas desember 2015 beta pi kupang untk pertma kali, beta langsung jatuh cinta dengan kota ini, kota kasih. Beta sellu rindu mo pi libur di kupang lagi.
BalasHapusMemang nuansa kota kasih ini yg selalu membuat ktong ingn kembali kak. Masyarakatnya ramah, pantainya asik, tempat2 nongkrong juga asoy.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusKupang itu kota ikhlas.
BalasHapuskupang itu kota indah.
kupang itu kota hati tulus.
kupang itu ibarat lukisan mahal.
Setubuh...eh setujuh agan!
HapusKota kasih ku,,,panas cuacanya,tapi selalu merindukan kupangku
BalasHapusSama gan! Makasih dah mampir.
HapusKl jarang pake sepeda kayuh mungkin karna bnyak area yg nanjak. Bayangin z bro kalau dari kmp. Solor trus sekolahnya di SMA 3 Oebufu, smp di sekolah na mandi keringat.hhhhhh
BalasHapusbenar juga bro, karena disana mayoritas batu karang to, makanya banyak bukit2 tanjakan hahaha
HapusMantapp ulasannya....hehe kota kupang mmg unik, kebersamaan dan persaudaraan harga mati dan semoga Galuh sll ingat kota kupang
BalasHapusKupang selalu di hati broo
HapusMantapp ulasannya....hehe kota kupang mmg unik, kebersamaan dan persaudaraan harga mati dan semoga Galuh sll ingat kota kupang
BalasHapusjangan lupa tempat makan se'i BAMBU KUNING di jln perintis kemerdekaan
BalasHapusBelum pernah nyoba kak, tapi ane masukkan catatan, nanti kalau pulang kupang bisa kesana :D
HapusTambah lagi kaka...hari minggu hari bebas pelanggaran, jalan kemana saja bebas tidak pake helm, budaya yang sangat berbahaya namun sepertinya susah hilang
BalasHapusIya kak, ane banyak lihat kasus kecelakaan di Kupang yang berakibat fatal karena pada nggak pake helm. Semoga kesadaran berkendara ditingkatkan ya kak.
HapusSu rindu mo plang kupang nii ��
BalasHapusPulang su to kk
HapusSetelah lebih dari 10 tahun merantau, akhirnya balik Kupang juga untuk menetap. I'll share you things I experience there.
BalasHapus1. Di Kupang sinyal terbaik hanya Telkomsel. Belom 4G. XL dan Indosat busuk sinyalnya. XL malah hanya EDGE.
2. Car Free Day adanya hari Sabtu bukan Minggu seperti di kota lain. Mungkin karena hari Minggu adalah hari beribadah sebagian besar penduduk kota. Dan juga ada gereja besar di ruas jalan CFD diselenggarakan.
2,5. Isi CFD kebanyakan polisi. ��
3. Di sebagian besar kantong permukiman, air PAM mengalir hanya seminggu sekali. Tak heran kalau bertamu ke rumah orang Kupang pasti terlihat bak/tandon penampung persediaan air. Herannya dengan pemerintah setempat, kondisi ini sudah berpuluh tahun berlangsung tapi tidak ada solusi konkrit.
4. Menurutku, Ketapang 1 adalah tempat terbaik melihat matahari tenggelam. (Dulu masuk gratis, sekarang bayar ��)
5. Ada dua spot makan jagung bakar faved. Yang pertama di jalan El Tari, rombong nomor 10. Favorit sekeluarga. Karena nomornya sama dengan nomor rumah. ��. Yang kedua di Jalan Sam Ratulangi. Yg jual ibuibu berbadan besar dibantu anak kecil2.
6. Oya di Kupang banyak orang jual air kelapa. Tapi jangan kecele pas minta degan, gak ada es gak ada air gulanya kayak di Jawa. Sepertinya orang Kupang senang air kelapa asli.
Makasih kak tambahannya, jadi tambahan pengetahuan buat ane juga.
HapusKupang talalu babatu na.. ��
BalasHapusSu pernah tes sopi ko belom gan ?
Ow sudah donk, 3 gelas saya mabuk hahahaha
HapusKapan tempo beta liat lai, kupang tanah asalku.. klo su sampe di tanah orang jang lupa kupang' e..Bae sonde bae kota kupang lebe bae☺����...!!! gan ju harus tes "laruh" orang kupang..
BalasHapusPasti e kk. Saya seorang pendatang saja sangat menyukai Kupang city kok. Bahkan berencana menghabiskan masa tua disini suatu saat haha.
Hapuswaahhh b jd bangga lahir n bsar di kupang,, apalagi di kupang solidaritasx ckup tinggi...
BalasHapusthx gan sdh critain tntang kota kupang....
biar makin dikenal di seluruh indonesia....
Iya sama2 kak, kupang emang paling keren sudah :D
Hapusorang kupang suka rubah nama. nama asli di rubah dgn nama samaran.. ada yg nama markus di rubah jd potas.. ada yg nama petrus jd gordon
BalasHapusitu di jawa juga gitu kak hahaha
HapusKupang na, talalu babatu mangan
BalasHapusTEBES!!!
Hapusselain Sopi Rote, Moke Flores jg banyak di Kupang,,, bakar manyala...
BalasHapusane juga udah pernah ngrasain moke, temen bawa dari ende, memang bakar manyala di leher hahahah
HapusBoleh gan, kasi kontak aja gan, nanti kalau ane balik kupang katong bisa kopdar (kopi darat) hahaha
BalasHapusTambahan kk..
BalasHapusBulan oktober-desember ada bunga2 pohon sepe (flamboyan) yg bikin merah kota kupang.
Dan keramaian malam 31 desember :)
Jang lupa tambah kaka, setiap sore selalu ada sunset bagus, bemo ugal, trus cepat tenar tapi cepat bosan juga dgn sstu yg baru
BalasHapusKebetulan sejak 2015 s.d sekarang (29 april 2017), ane sering main (baca : dinas) ke Kupang gan. Dan sejak 2016, Lippo Plaza sudah ada di Kupang (termasuk di dalamnya ada XXI).
BalasHapusKalau masalah jarang ada sepeda onthel (sepeda kayuh), mungkin dikarenakan konstruksi tanah di Kupang yang berbukit-bukit gan, jadi membuat orang malas untuk bersepeda (menurut penilaian ane lho gan).
Tambahan utk ulasan nomor 14 ttg pengaruh budaya Ambon kaka ... Kata-kata dalam Bahasa Melayu Kupang sendiri tidak diserap dari bahasa Melayu Ambon karena memang kedua bahasa ini memang mirip, sama halnya seperti bahasa Melayu Ambon, Melayu Manado,Melayu Kupang dan Melayu Papua juga yang mirip2 tetapi bhs2 ini tidak saling menyerap kata2 satu sama lain. Kemiripan tersebut karena memang mereka berada di rumpun bahasa yang sama dan kosakata bahasa Melayu Ambon dan bahasa Melayu Kupang sama-sama dipengaruhi oleh bahasa Belanda, bhs Portugis dan bhs daerah setempat .... Jdi bukan kata2 serapan yg diambil dari bhs Ambon.
BalasHapusTambahan utk ulasan nomor 14 ttg pengaruh budaya Ambon kaka ... Kata-kata dalam Bahasa Melayu Kupang sendiri tidak diserap dari bahasa Melayu Ambon karena memang kedua bahasa ini memang mirip, sama halnya seperti bahasa Melayu Ambon, Melayu Manado,Melayu Kupang dan Melayu Papua juga yang mirip2 tetapi bhs2 ini tidak saling menyerap kata2 satu sama lain. Kemiripan tersebut karena memang mereka berada di rumpun bahasa yang sama dan kosakata bahasa Melayu Ambon dan bahasa Melayu Kupang sama-sama dipengaruhi oleh bahasa Belanda, bhs Portugis dan bhs daerah setempat .... Jdi bukan kata2 serapan yg diambil dari bhs Ambon.
BalasHapus