Selama lebih dari dua ratus tahun, Gedung Putih (The White House) telah berdiri sebagai simbol Kepresidenan Amerika Serikat, pemerintah federal, sekaligus salah satu simbol Amerika Serikat yang paling dikenal di seluruh dunia. Bangunan yang beralamat di 1600 Pennsylvania Avenue NW, Washington, D.C. ini memiliki fungsi yang cukup unik karena bukan hanya menjadi tempat Presiden Amerika Serikat menjalankan tugas-tugas resminya, tetapi juga menjadi rumah pribadi presiden dan keluarganya selama menjabat.
Gedung Putih dilihat dari sisi utara. Bangunan ini beralamat di 1600 Pennsylvania Avenue NW, Washington, D.C. (Sumber Gambar : Disini)Gedung Putih juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan penting kepresidenan, mulai dari rapat pemerintahan, penerimaan kepala negara asing, jamuan kenegaraan, konferensi pers, penandatanganan undang-undang, hingga berbagai acara seremonial. Namun di balik tampilannya yang sekarang terlihat megah dan tenang, bangunan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang sangat panjang. Gedung Putih pernah dibakar oleh pasukan Inggris, dibangun kembali, mengalami kebakaran lagi, diperluas berkali-kali, bahkan pernah mengalami kerusakan struktur yang begitu serius sehingga hampir seluruh bagian dalamnya harus dibongkar dan dibangun kembali.
Lalu bagaimana awalnya sebuah rumah presiden bisa berdiri di tempat ini?
a. Awal Mula Pembangunan Gedung Putih
Sejarah Gedung Putih tidak dapat dipisahkan dari sejarah pembentukan Washington, D.C. sebagai ibu kota Amerika Serikat. Pada 16 Juli 1790, Kongres Amerika Serikat mengesahkan Residence Act, yang menjadi dasar pembentukan sebuah distrik federal permanen sebagai pusat pemerintahan Amerika Serikat. Presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, kemudian memiliki peran sangat besar dalam menentukan lokasi ibu kota baru tersebut di kawasan Sungai Potomac. "Luasnya tidak melebihi sepuluh mil persegi ... di sungai Potomac."
George Washington bersama perencana kota kelahiran Prancis, Pierre Charles L'Enfant, kemudian menentukan lokasi bangunan-bangunan utama pemerintahan. L'Enfant merancang Washington sebagai kota monumental dengan jalan-jalan lebar dan bangunan pemerintahan yang ditempatkan pada titik-titik penting. Dua bangunan terpenting dalam rencana tersebut adalah Capitol sebagai pusat legislatif dan kediaman presiden sebagai pusat eksekutif. Menariknya, L'Enfant awalnya membayangkan kediaman presiden dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih megah daripada Gedung Putih yang akhirnya dibangun.
Setelah lokasi ditentukan, pemerintah kemudian mengadakan kompetisi desain untuk President's House. Sejumlah rancangan diajukan dalam kompetisi tersebut. Dari berbagai proposal itu, rancangan seorang arsitek kelahiran Irlandia bernama James Hoban akhirnya dipilih pada 1792.
James Hoban lahir di Irlandia sekitar pertengahan abad ke-18 dan memperoleh pendidikan arsitektur di Dublin sebelum kemudian pindah ke Amerika Serikat. Desainnya untuk kediaman presiden sangat dipengaruhi gaya Georgian dan neoklasik, gaya arsitektur yang saat itu banyak berkembang di Eropa. Salah satu bangunan yang sering dikaitkan dengan inspirasi rancangan Hoban adalah Leinster House di Dublin, Irlandia, yang sekarang menjadi tempat parlemen Irlandia.
Rancangan Hoban dianggap cukup monumental untuk merepresentasikan kepala negara, tetapi pada saat yang sama tidak terlalu menyerupai istana kerajaan Eropa. Inilah salah satu alasan desain tersebut cocok dengan identitas republik Amerika yang ketika itu masih sangat muda.
b. Siapa yang Membangun Gedung Putih?
Pembangunan kemudian dimulai ketika batu pertama (cornerstone) diletakkan pada 13 Oktober 1792. Pembangunan Gedung Putih berlangsung selama kurang lebih delapan tahun. Material bangunannya didatangkan dari berbagai tempat. Batu pasir (sandstone) untuk dinding luarnya, misalnya, berasal dari kawasan Aquia Creek di Virginia. Tenaga kerjanya juga sangat beragam. Para pekerja terdiri dari pengrajin dan buruh keturunan Eropa, imigran, dan orang Afrika-Amerika.
Lukisan Peter Waddell yang merekonstruksi kira-kira bagaimana pembangunan terlihat pada 1796 berdasarkan dokumen dan catatan konstruksi (Sumber Gambar: Disini)
c. Thomas Jefferson dan Tradisi Membuka Gedung Putih kepada Masyarakat
Setelah John Adams, Gedung Putih ditempati oleh Presiden ketiga Amerika Serikat, Thomas Jefferson. Jefferson sendiri mempunyai minat yang sangat besar terhadap arsitektur. Selama pemerintahannya, ia melakukan berbagai perubahan dan pengembangan terhadap kawasan President's House, termasuk bekerja bersama arsitek Benjamin Henry Latrobe.
Pada pelantikan keduanya pada 1805, Jefferson berjalan dari Capitol menuju President's House setelah pengambilan sumpah jabatan. Banyak orang kemudian mengikuti perjalanan tersebut dan bergabung dalam resepsi di kediaman presiden. Jefferson juga melanjutkan tradisi penerimaan publik dan membuka President's House kepada masyarakat dalam berbagai kesempatan.
Tradisi semacam ini berkembang pada abad ke-19. Gedung Putih bahkan pernah menjadi tempat penyelenggaraan resepsi terbuka pada Hari Tahun Baru dan Fourth of July atau Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Bayangkan perbedaannya dengan sekarang. Pada masa tertentu di abad ke-19, masyarakat bisa mempunyai akses yang jauh lebih langsung terhadap kediaman presiden daripada standar keamanan modern memungkinkan. Meskipun demikian, gagasan bahwa Gedung Putih adalah "people's house" tetap bertahan hingga sekarang.
d. White House dibakar Pasukan Inggris
Baru sekitar 14 tahun digunakan sebagai kediaman presiden, Gedung Putih mengalami salah satu peristiwa paling dramatis sepanjang sejarahnya. Amerika Serikat dan Inggris sedang terlibat dalam War of 1812. Pada Agustus 1814, pasukan Inggris bergerak menuju Washington.
Pada 24 Agustus 1814, pasukan Inggris berhasil memasuki ibu kota dan membakar sejumlah bangunan pemerintahan, termasuk Capitol dan President's House. Presiden saat itu, James Madison, sedang tidak berada di Gedung Putih. First Lady Dolley Madison meninggalkan bangunan tersebut tidak lama sebelum pasukan Inggris tiba. Salah satu kisah paling terkenal dari peristiwa tersebut adalah penyelamatan potret George Washington karya Gilbert Stuart. Sebelum meninggalkan Gedung Putih, Dolley Madison memerintahkan agar potret tersebut diselamatkan sehingga tidak jatuh ke tangan pasukan Inggris.
Ilustrasi pembakaran Washington oleh pasukan Inggris pada 1814. President's House menjadi salah satu bangunan pemerintahan yang dibakar (Sumber Gambar : Disini)
Api menghancurkan hampir seluruh bagian interior Gedung Putih. Dinding batu eksterior memang masih berdiri, tetapi bangunan mengalami kerusakan sangat berat. James Hoban kemudian kembali dipercaya untuk menangani rekonstruksinya. Pekerjaan pembangunan kembali dimulai pada 1815 dan pada 1817, Presiden James Monroe dapat kembali menempati President's House. Pada tahun-tahun berikutnya bangunan terus dikembangkan. South Portico diselesaikan pada 1824 pada masa James Monroe, sedangkan North Portico dibangun pada 1829–1830 pada masa Presiden Andrew Jackson. Dua portico inilah yang ikut menghasilkan bentuk Gedung Putih yang begitu mudah kita kenali sekarang.
Sumber dan Bacaan Lebih Lanjut:
The White House — The White House Building
White House Historical Association — White House History
White House Historical Association — Building the President's House
White House Historical Association — Slavery and the White House
White House Historical Association — The Burning of Washington
White House Historical Association — The Truman Renovation
White House Historical Association — Sports & Recreation
National Park Service — The White House and President's Park
Library of Congress — koleksi foto dan dokumen sejarah Washington, D.C.









0 comments:
Posting Komentar