Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

5.04.2025

[3] Balada Eropa : Keberangkatan, banyak ERROR!

Cerita ini merupakan pengalamanku menjelajah Islandia dan Eropa Barat dari 21 Juni 2017 - 3 Juli 2017. Ini adalah perjalanan solo backpacking ketigaku, ke tempat terjauhku. Part selanjutnya dari setiap cerita aku beri linknya dibawah.

Part Sebelumnya : DISINI

Surabaya, 21 Juni 2017

Akhirnya... hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Hari ini aku memulai perjalanan solo backpacking ketigaku, sekaligus perjalanan terjauh yang akan pernah kutempuh. Perasaanku campur aduk. Ada rasa senang yang luar biasa karena mimpi lama akhirnya menjadi nyata, tapi di sisi lain, ada rasa sungkan yang mengganjal. Bagaimana tidak? Hari ini masih hari Rabu—tiga hari sebelum libur resmi Lebaran dimulai. Sebagai pegawai pemerintahan, aku terpaksa pamit lebih awal untuk mengejar penerbangan ke Kuala Lumpur sore ini.

Dua minggu sebelumnya, sebenarnya aku sudah memberanikan diri menemui atasan. Aku meminta izin kerja selama tiga hari karena jatah libur Lebaran saja tidak akan cukup untuk menjelajahi Eropa. Mengingat jarak yang jauh dan biaya yang tidak sedikit, rasanya sayang jika hanya pergi sebentar. Jujur, ada perasaan egois karena saat itu aku belum punya jatah cuti resmi, hanya mengandalkan izin atasan. Sempat ragu saat harus menghadap, tapi aku meyakinkan diri 'kalau bukan sekarang, kapan lagi?' Akhirnya, dengan modal nekat dan rasa tidak enak hati kepada rekan kantor, aku tetap berangkat demi mimpi menjejakkan kaki di Benua Biru. Untungnya atasanku sangat pengertian dan memberiku izin.. Hikz.. terimakasih pak...

Siang itu, setelah istirahat makan siang, pikiranku sudah lari kesana kemari. Masih ada beberapa urusan kantor yang harus diselesaikan, dan seperti biasa, semuanya serba terburu-buru. Entah kenapa, setiap kali mau ke luar negeri, aku selalu terlibat aksi kejar-kejaran dengan waktu. Sepertinya sudah jadi tradisi pribadi, makin dekat jam keberangkatan, makin panik pula suasananya. Haha!

Di sela waktu yang makin mepet, setelah menyelesaikan urusan kantor, aku menyempatkan mampir ke mal untuk mencari satu barang krusial: daypack kecil. Rencananya, aku akan membawa tas besar untuk barang utama, tapi untuk eksplorasi harian, aku butuh tas ringkas yang bisa memuat kamera, botol minum, dan dokumen penting. Beruntung, aku menemukan satu yang pas di kantong.

Setelah itu, perburuan berlanjut. Aku memacu motor di tengah teriknya Surabaya menuju ATM, lalu meluncur ke money changer langganan di dekat Stasiun Gubeng. 

"Wah mbak.. untung stoknya masih ada. Nanti next time kalau mau tukar lagi telfon dulu yaa.. memastikan ketersediaan stok Euro sama USDnya," kata cece pemilik money changet.

Huffttt.. lega rasanya. Memang persiapan kayak gini seharusnya kulakukan dari kemarin-kemarin sih.. Huhuhu.

Meski pikiran sudah melayang ke Eropa, aku memacu kembali motorku ke kantor untuk menyelesaikan "kewajiban duniawi". Aku menuntaskan pekerjaan tersisa dan melakukan absen terakhir sebelum cuti panjang dimulai. Saat jam pulang tiba, aku berpamitan kepada rekan kerja. Sambil bercanda setengah serius, aku berujar, “Kalau sampai terjadi apa-apa di sana, tolong kabari keluargaku ya kalau aku punya asuransi kok.” Kalimat itu sempat membuat beberapa temanku tertawa, entah tertawa kesal atau gimana hahaha.. Kedengarannya memang dramatis, tapi mengingat asuransi adalah syarat wajib visa Schengen, aku hanya ingin memastikan orang-orang di kantor tahu kalau aku sudah bersiap untuk segala risiko.

Dari kantor, aku langsung meluncur ke kos. Mandi kilat, ganti baju, dan melakukan final check pada paspor, dompet, itinerary, serta uang tunai. Semuanya sudah aman di dalam tas. Rasa deg-degan mulai memuncak antara takut ada yang tertinggal (karena saking buru-burunya) dan rasa tidak sabar yang meluap. Begitu semua siap, aku segera memesan Grab Car. Di atas mobil menuju Bandara Juanda, ditemani deru mesin mobil, aku tersadar bahwa perjalanan panjang ini akan dimulai. 

Eropa, aku datang!

***

Dalam perjalanan naik GrabCar menuju Bandara Juanda, saat aku sudah memasuki jalan tol... aku baru sadar satu hal krusial, charger HP-ku ketinggalan! Seketika aku panik luar biasa. Soalnya tadi di kos memang bener-bener buru-buru banget; mandi kilat, cek barang sambil ngepak, otak udah nge-rundown jadwal di bandara. Yang bikin makin khawatir, HP yang kubawa itu Infinix Hot Note, yang saat itu chargernya nggak bisa sembarangan. Harus pakai fast charger khusus, kalau nggak, ngecas-nya lamaaa banget. Ini merepotkan banget, soalnya HP adalah segalanya buatku. Tiket, itinerary, koneksi kerjaan, bahkan peta.

Dalam kondisi panik, aku langsung bertanya di grup backpacker internasional. Untungnya, respons mereka sangat menenangkan.

"Tenang, di KLIA nanti pasti banyak yang jual fast charger," tulis salah satu anggota.

"Santai, banyak traveler mengalami hal yang sama, kamu nggak sendirian kok," timpal yang lain.

Aku mencoba menarik napas panjang. Oke, hidup harus tetap berjalan. Yang penting HP-nya tidak ketinggalan. Tapi tetap saja, rasa tidak tenang itu masih ada.

Begitu sampai di Bandara Juanda, bukannya segera ke konter check in, aku malah keliling terminal mencari konter aksesori HP. Setelah memutar ke sana-kemari, aku menemukan toko kecil yang menjual pengisi daya yang diklaim sebagai fast charging. Harganya? Rp250.000!

Dua ratus lima puluh ribu rupiah melayang di hari pertama bahkan sebelum aku menginjakkan kaki di luar negeri. Aku tertawa miris dalam hati; inilah harga sebuah keteledoran. Namun, cobaan belum selesai. Setelah aku meninggalkan toko dan kucoba lagi, ternyata charger mahal itu tetap tidak bisa masuk ke mode fast charging. Sepertinya HP-ku ini tipe yang setia—dia hanya mau menerima arus dari charger aslinya. Aku akhirnya pasrah (dengan menangis dalam hati). Ya sudahlah, yang penting HP tetap bisa menyala meski harus sabar menunggu berjam-jam sampai penuh. 

Setelah urusan charger selesai, aku akhirnya melakukan check-in untuk penerbangan Surabaya–Kuala Lumpur. Naik AirAsia, maskapai sejuta umat para backpacker Asia Tenggara. Penerbangan berlangsung sekitar 2,5 jam. Cukup lancar, nyaris tanpa turbulensi berarti. Aku duduk tenang sambil melihat awan-awan senja dari balik jendela, sambil mikir, “Ini beneran terjadi. Aku beneran menuju Eropa.”

***

Sekitar pukul delapan malam waktu Malaysia, pesawat mendarat di KLIA2. Dari situ, aku langsung naik shuttle bus untuk menuju ke KLIA, terminal utama, karena penerbangan berikutnya—yang akan membawaku ke Paris—akan menggunakan Turkish Airlines. Sambil menunggu jadwal check-in, aku sempatkan untuk mandi dan makan malam dulu supaya badan ringan dan memuluskan jika ingin tidur di pesawat. Saat waktu check-in tiba, aku melenggang santai melewati area imigrasi dan pemeriksaan barang, melakukan prosedur sebagaimana mestinya.

Selanjutnya aku sudah begitu santainya naik airport shuttle train dari imigrasi KLIA ke gate keberangkatan, gate 34. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 5 menit, sebelum aku tersadar ada sesuatu yang salah. 

KENAPA HP-KU TIDAK ADA DI SAKUKU?! 

Dengan perasaan berdebar-debar dan pikiran kalut, aku segera membongkar tasku. Nihil! Ya ampunnn... HP-ku di mana? huhuhu.. Aku berusaha fokus dan mengingat-ingat kapan terakhir kali aku mengeluarkan HP.

Astagaa.. HP-ku mana??!

'Seingatku sejak masuk airport shuttle train tadi aku sama sekali nggak ngeluarin HP... Eh, bener nggak ya? Apa aku mengeluarkan dan lupa? Duh... jangan-jangan jatuh lagi... Mati aku. Gimana ceritanya kalau HP-ku hilang? Nomor sebagian besar terkait pekerjaan aku simpan di situ.. Lalu gimana bisa update cerita juga selama di Eropa nanti? Ya ampun... kenapa aku ceroboh banget sih!'

'Eh... sebentar... kalau HP-nya nggak jatuh, berarti terakhir kali aku keluarkan adalah pas pemeriksaan X-Ray barang bawaan. Ya, tidak salah lagi! Oh ya ampun... semoga masih di sana HP-ku...' 

Pikiranku terus bertarung dengan ketelodoran kedua kalinya ini, dan kebodohanku huhuhu...Aku mengutuki diriku sendiri sembari menunggu laju kereta yang seakan melambat. Pikiranku cuma satu, aku harus kembali ke area pemeriksaan barang. Saat kereta sampai di gate 34, aku segera melompat keluar dan menaiki kereta berikutnya yang kembali ke area pemeriksaan barang. "Cepat please... cepat berangkat!"

Perjalanan dengan kereta selama 10 menit seakan berlangsung selamanya. Saat kereta tiba di area pemeriksaan barang, aku segera meloncat keluar dan bertanya pada petugas yang sedang berjaga. 

"Bapak... apakah ada HP ketinggalan?" tanyaku tergesa-gesa. 

"Apa itu HP?" tanya mereka setengah tergelak. 

"Handphone. Sepertinya saya meninggalkan Handphone saya di sini." 

Aku berkata dengan kalut. Kalau sampai tidak kutemukan di sini, aku tidak tahu lagi harus mencarinya di mana...

"Kamu pakai simcard apa?" tanya bapak itu lagi. 

"INDOSAT pak..." kataku dengan tidak yakin. Apa mereka tahu Indosat? 

"Ini. Lain kali hati-hati," katanya sambil menyerahkan HP Infinix Hot Note kesayanganku. 

"Huaahhh... ya ampun... Trimakasih bapak... trimakasih..." Kataku dengan wajah yang sangat lega.

Huaaaa... lega setengah mati. HP-ku yang nyaris hilang itu ketemu juga. Rasanya kayak baru lolos dari kesialan bertubi-tubi, keteledoran kedua yang nyaris bikin perjalanan ini rusak sebelum dimulai. Aku meninggalkan area pemeriksaan dan segera naik kereta lagi. Tapi kali ini perasaanku sudah ringan, aku siap menuju Turki!

***

Setelah semua drama dan kekacauan yang menguras emosi, aku akhirnya berhasil duduk manis di dalam pesawat Turkish Airlines. Pesawatnya besar, lega, dan sangat nyaman. Aku beruntung mendapatkan kursi di dekat jendela. Namun, di balik pemandangan indah yang menanti, aku membawa satu masalah serius. Rasa haus yang luar biasa.

Efek aksi lari-larian mengejar HP di bandara tadi benar-benar membuat tenggorokanku kering keronta. Sebenarnya ini bukan kali pertama aku naik maskapai full-service, tapi pengalaman sebelumnya dengan Malaysia Airlines ke India sudah lewat lima tahun yang lalu. Ingatanku sudah agak pudar, jadi aku sempat dilanda kebingungan dan ragu. Dalam pikiranku, air baru akan dibagikan secara resmi saat jam makan tiba. Aku benar-benar lupa kalau di maskapai seperti ini kita bisa meminta minum kapan saja. Alhasil, aku hanya bisa duduk diam menahan dahaga selama berjam-jam, menunggu momen makanan disajikan sambil sesekali melirik penumpang di sekeliling.

Rasa malu juga sempat lebih besar daripada rasa hausku. Suasana kabin yang elegan membuatku merasa seperti murid baru yang belum paham tata krama. Namun, setelah berjam-jam tenggorokan terasa seperti padang pasir, keberanianku akhirnya terkumpul. Dengan suara setengah gugup, aku memanggil pramugari yang lewat.

"Can I have mineral water?" tanyaku pelan.

Di luar dugaan, dia langsung memberikan senyum ramah dan membawakanku segelas air. Saat air itu menyentuh tenggorokan, rasanya... ah, lega luar biasa! Oh ya ampun... wkwk..

Akhirnya bisa minum..... wkwkwk.. Padahal minta air mineral sejak awal gpp ya... Yah begitulah karena belum tau tata krama naik full service airline wkwk

Tak lama setelah drama haus itu berakhir, makanan pertama pun disajikan. Menunya lengkap dan cukup mengenyangkan, meski aku tidak terlalu suka karena khas Turki. Setelah perut kenyang, aku mencoba untuk memejamkan mata.

Tapi ya... begitulah. Aku memang tipe orang yang sulit sekali tidur di transportasi yang sedang bergerak. Apalagi malam itu aku tidak membawa bantal leher—kesalahan kecil lain yang tidak kupikirkan sejak awal. Alhasil, sepanjang malam aku sibuk mencari posisi: kepala miring ke kiri salah, ke kanan tidak nyaman, bersandar ke jendela pun terasa keras. Sementara penumpang di sekitarku sudah mulai tenggelam dalam tidur lelap, aku sukses terjaga semalaman. Mataku terus melek, badan terasa kaku, dan pikiran melayang-layang antara bayangan petualangan di Eropa dan rasa pegal yang mulai menjalar.

Tepat pukul 05.15 pagi waktu setempat, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Istanbul dengan mulus.

Finnaly... negara kedelapanku.. Solo traveling ketigaku akan dimulai..

Seperti biasa, muncul pertanyaan dalam hati,

“Apakah aku akan melakukan keteledoran lagi setelah ini?”

Let’s see...


Part Selanjutnya: DISINI

0 comments:

Posting Komentar