Istanbul, 21 atau 22 Juni 2017?
Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Turki. Meski semalaman tidak tidur sama sekali di pesawat, rasa excited yang meluap berhasil mengalahkan rasa lelah. Adrenalin seolah mengambil alih kendali tubuhku. Di otakku yang mulai sering error karena kurang istirahat ini, pemahamanku ini adalah tanggal 21 Juni 2017. Rencanaku hari ini sudah sangat rapi dan terorganisir. Aku mempunyai waktu sampai sekitar jam 14.00 untuk eksplor Kota Istanbul, setelahnya kembali ke bandara, dan jam 16.30 akan terbang ke Paris. Malam ini, aku akan menginap di Jacob Inn Hostel yang terletak di pusat kota Paris. Rencananya sederhana tapi sangat menyenangkan: check-in, meletakkan backpack, lalu langsung bergegas mengunjungi Menara Eiffel di malam hari. Keseruan tidak berhenti di situ. Besok paginya, tanggal 22 Juni 2017, aku berencana mengunjungi Museum Louvre dan area sekitarnya, sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan malam dari Paris menuju Reykjavik, Islandia. Hanya dengan memikirkannya saja, aku sampai tersenyum sendiri sambil berjalan mantap menuju area imigrasi. Rencana ini terasa sangat sempurna bagi seorang pelancong solo sepertiku.
Sebagai penumpang transit connecting flight Turkish Airlines, sebenarnya ada dua fasilitas gratis yang bisa kupilih pagi ini. Ikut tur kota terorganisir atau klaim kamar hotel untuk istirahat. Namun, aku punya rencana lain. Di saat orang lain mungkin memilih tidur nyaman di hotel, aku lebih memilih untuk menjelajah sendirian karena ada beberapa titik yang sangat ingin kukunjungi tapi tidak masuk dalam rute tur gratis mereka. Lagipula, sebagai first-timer di Turki, rasanya sayang sekali kalau waktu hanya habis untuk menumpang tidur.
Begitu keluar dari area kedatangan, aku langsung menuju kamar kecil buat cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu, aku mencari money changer dan menukarkan 50 Euro ke mata uang lokal, Lira. Rasanya udah kayak backpacker sejati—nggak tidur, tapi semangat menjelajah kota asing hanya bermodalkan daypack dan rasa penasaran. Wkwkwk... Pasti ada yang pernah ngalamin, kan? Saat andrenalin mengalahkan rasa lelah. Tensi tinggi, apa itu? Wkwkwk..
Sejak masih di Indonesia, aku udah sempat mempelajari gimana cara keluar dari Bandara Internasional Istanbul menuju pusat kota. Jadi, begitu kutukar 50 Euro ke Lira, aku langsung naik metro—karena ya jelas, ini cara paling hemat dan efisien buat menjelajah kota. Aku naik Metro Line M11 dari bandara menuju Stasiun Gayrettepe, lalu lanjut pindah ke Line M2 dan turun di Stasiun Vezneciler. Dari sana aku jalan kaki sekitar 15–20 menit menuju kawasan yang sudah lama banget pengin aku kunjungi yaitu Sultanahmet.
Begitu keluar dari stasiun, langkah kakiku langsung disambut oleh semilir angin pagi Istanbul yang segar. Kawasan Sultanahmet pagi itu masih nampak tenang. Di sepanjang jalan, deretan bendera merah-putih khas Turki berkibar cantik, digantung menyilang di antara pepohonan hijau yang rimbun. Rasanya sangat kontras dengan hiruk-pikuk Surabaya (klakson, polusi, panas) yang kutinggalkan kemarin.
Aku berjalan perlahan, menikmati setiap sudut jalanan batu yang rapi. 'Begini ya rasanya negara modern..', pujiku dalam hati. Di beberapa titik, terlihat deretan meja dan kursi kayu panjang yang tertata di area terbuka, mungkin dipersiapkan untuk warga lokal berbuka puasa nanti, mengingat saat itu masih suasana bulan Ramadan. Matahari yang mulai naik menyinari pucuk-pucuk minaret yang menjulang tinggi ke langit biru, seolah menjadi kompas alami bagiku.
Dari situ, aku mengikuti arah petunjuk jalan yang menuntunku semakin dekat ke bangunan megah tersebut. Hingga akhirnya, berdirilah aku tepat di depan gerbang batu raksasa dengan ukiran kaligrafi yang sangat detail dan indah. Inilah dia, Blue Mosque—ikon Istanbul yang selama ini hanya bisa kulihat lewat layar ponsel, kini berdiri nyata di depan mataku.
Langkahku membawa melewati gerbang batu yang kokoh, dan begitu menjejakkan kaki di pelataran dalamnya, aku langsung dibuat terperangah. Megah. Hanya itu kata yang mampu menggambarkan pemandangan di depanku. Pagi itu, suasana di pelataran dalam masih cukup tenang. Sinar matahari pagi menerpa kubah-kubah kecil yang tersusun rapi, menciptakan bayangan yang indah di atas lantai marmernya. Aku menyempatkan diri berdiri di tengah, mengeset kameraku untuk mengambil foto otomatis, merentangkan tangan, dan menghirup udara Istanbul dalam-dalam. Rasanya masih tidak percaya, dari layar HP di Indonesia, kini aku benar-benar menyentuh sejarah di tanah Turki.
Sejak pertama kali melihat fotonya di internet, aku sudah jatuh hati pada bangunan ini. Nama aslinya adalah Masjid Sultan Ahmed, namun dunia mengenalnya sebagai Blue Mosque. Julukan itu bukan tanpa alasan; interior masjid ini dihiasi oleh lebih dari 20.000 ubin keramik biru buatan tangan dari daerah İznik yang legendaris. Warnanya memberikan kesan adem, sakral, sekaligus megah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Berdiri di tengah pelatarannya yang luas, aku browsing sedikit tentang sejarahnya. Masjid ini dibangun antara tahun 1609 sampai 1616 di bawah pemerintahan Sultan Ahmed I. Arsiteknya, Sedefkar Mehmed AÄŸa, yang merupakan murid dari arsitek legendaris Mimar Sinan, seolah ingin menunjukkan puncak kejayaan desain Ottoman melalui bangunan ini. Berdiri di tengah kemegahannya, aku menyadari bahwa bagi masyarakat Turki, Blue Mosque bukan sekadar tempat ibadah atau magnet bagi para turis. Masjid ini adalah detak jantung sejarah yang masih hidup.
Ia berdiri sebagai Simbol Kejayaan, sebuah pernyataan visual tentang kemegahan arsitektur Kekaisaran Ottoman saat berada di puncak keemasannya. Setiap lengkungan dan kubahnya bercerita tentang masa lalu yang perkasa. Namun, ia tidak berhenti menjadi monumen masa lalu; hingga detik ini, masjid tersebut tetap menjadi Pusat Spiritualitas yang utama, tempat ribuan umat masih bersujud dan menjalankan aktivitas keagamaan di tengah riuhnya kota Istanbul.
Letaknya pun sangat puitis. Berada tepat di Jantung Sejarah, ia berdiri tegak menantang Hagia Sophia yang berada tepat di seberangnya. Posisi strategis ini seolah mengukuhkan kawasan Sultanahmet sebagai pusat memori dunia, di mana dua peradaban besar saling beradu pandang dalam harmoni yang luar biasa.
Melihat semua itu secara langsung, rasa lelah akibat tidak tidur semalaman rasanya terbayar lunas. Aku terdiam sejenak, meresapi suasana sakral yang menyelimuti pelataran ini sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama untuk melihat langsung keajaiban di bagian dalam. Sebagai tempat ibadah yang aktif dan sakral, ada aturan berpakaian yang harus dipatuhi. Di pintu masuk, terdapat papan informasi besar yang menjelaskan tata tertib bagi pengunjung. Salah satunya adalah kewajiban bagi perempuan untuk mengenakan penutup kepala dan pakaian yang menutup aurat. Karena aku tidak membawa kain sendiri, petugas di sana dengan ramah meminjamkan sebuah kain penutup kepala (kerudung) berwarna biru muda secara gratis. Setelah memastikan penampilanku rapi dan melepas alas kaki, aku melangkah masuk melewati pembatas kayu yang memisahkan area turis dengan area salat. Begitu menapakkan kaki di dalam, aku seolah ditarik ke dimensi lain. Pandanganku langsung tertuju pada langit-langit masjid yang dipenuhi oleh kubah-kubah bertingkat yang sangat megah. Di sinilah letak rahasia nama "Blue Mosque", yaitu lebih dari 20.000 ubin keramik İznik dengan berbagai motif bunga, pohon saru, dan buah-buahan menghiasi setiap sudut dinding. Dulu, waktu merencanakan perjalanan ini, aku nggak pernah secara khusus bermimpi untuk mengunjungi Turki. Tapi ternyata semesta punya rencana lebih cepat untuk mempertemukanku dengan tanah ini—dan wow, aku merasa begitu bangga dan bersyukur bisa berdiri di sini.
Suasana di dalam terasa temaram namun sangat syahdu. Cahaya matahari masuk melalui ratusan jendela kaca patri yang indah, menciptakan permainan warna yang lembut saat menyentuh ubin-ubin biru tersebut. Ditambah lagi dengan deretan lampu gantung raksasa yang melingkar rendah, memberikan pendaran cahaya kuning hangat yang membuat atmosfer masjid terasa begitu sakral.
Meskipun di sekelilingku banyak turis lain, suasana tetap terasa tenang. Aku berdiri terpaku cukup lama, menatap detail kaligrafi ayat suci Al-Qur'an yang terukir indah di dinding dan kubah-kubahnya. Arsitekturnya benar-benar sebuah simfoni antara kecerdasan teknik manusia dan pengabdian spiritual yang mendalam.
Setelah puas di Blue Mosque, aku melangkah keluar menuju destinasi yang sudah menungguku tepat di seberang taman yaitu Hagia Sophia (Ayasofya). Begitu keluar ruangan, aku disambut suasana cerah yang memanjakan mata. Di kejauhan, kubah besar dan dua minaret menjulang perlahan muncul di balik pepohonan. Itulah pertama kalinya aku melihat Hagia Sophia dari dekat. Belum masuk ke areanya, tapi aura bangunannya sudah terasa kuat. Pagi itu belum terlalu ramai, hanya beberapa orang lalu-lalang, pedagang kecil yang baru mulai membuka lapak, dan sinar matahari yang jatuh lembut di dinding bangunan tua berwarna kecokelatan. Aku sengaja berjalan pelan di jalur taman ini. Bukan cuma buat menikmati pemandangan, tapi juga buat menenangkan kepala yang semalaman nggak tidur. Anehnya, capeknya kayak tertelan. Adrenalin dan rasa excited menang telak hari ini. Wkwk.
Berbeda dengan Blue Mosque, untuk masuk ke sini aku harus membayar tiket sebesar 50 Lira. Harga yang sangat layak untuk bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 537 M. Hagia Sophia adalah keajaiban arsitektur yang telah berganti wajah berkali-kali—dari Gereja Ortodoks selama hampir seribu tahun, menjadi Masjid di bawah Kesultanan Ottoman pada 1453, hingga akhirnya menjadi museum pada masa Mustafa Kemal Atatürk di tahun 1935.
Hagia Sophia (dalam bahasa Turki: Ayasofya) awalnya dibangun sebagai gereja katedral Bizantium pada tahun 537 Masehi atas perintah Kaisar Justinianus I. Selama hampir seribu tahun, ini adalah gereja Kristen terbesar di dunia. Lalu, setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II pada 1453, bangunan ini diubah menjadi masjid. Pada 1935, Hagia Sophia dijadikan museum oleh pemerintah Turki.
Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah drastis. Cahaya terang pagi Istanbul seketika tergantikan oleh lorong batu yang gelap dan sejuk. Kubah utama menjulang tinggi. Interiornya didominasi oleh pendaran cahaya kuning hangat yang berasal dari lampu-lampu gantung rendah berbentuk lingkaran besar. Cahaya ini memantul di atas lantai marmer yang sudah dipijak oleh jutaan orang selama berabad-abad. Kaligrafi besar bertuliskan nama-nama Allah, Nabi Muhammad, dan para sahabat tergantung di sisi-sisi kubah. Di beberapa bagian, mozaik peninggalan era Bizantium masih bisa terlihat—Yesus, Maria, dan para malaikat—tertahan waktu dan sejarah, namun tetap menawan.
Aku melanjutkan eksplorasi di lantai 2. Menaiki tangga spiral, aku disambut oleh langit-langit tinggi, melengkung, dan terasa sangat tua. Dinding bata ekspos di kiri-kanan seolah menyerap suara langkah kakiku sendiri. Setiap pijakan menimbulkan suara gema pelan. Di ujung lorong, cahaya kuning keemasan menyala lembut, menerangi sebuah ruang kecil dengan benda-benda pameran.
Aku berhenti di depan sebuah kolam marmer besar yang berdiri sendiri di tengah ruangan. Di depannya tertulis 'Snake Patterned Pool'. Kolam ini berasal dari masa Romawi, jauh sebelum Hagia Sophia menjadi gereja maupun masjid. Dulu, kolam seperti ini digunakan sebagai tempat penampungan air dan pembasuhan, bagian dari ritual pemurnian yang sangat penting dalam budaya Romawi. Motif ular di sekelilingnya pun bukan sekadar hiasan, melainkan simbol penyembuhan dan kehidupan.
Aku berdiri cukup lama di sini, mengambil foto juga untuk suatu saat kutulis disini. Membayangkan berapa banyak tangan dan generasi yang pernah berinteraksi dengan benda ini. Dari masa pagan Romawi, gereja Bizantium, masjid Ottoman, hingga museum modern—semuanya pernah lewat.
Langkahku berlanjut ke ruang yang jauh lebih luas. Di sinilah skala Hagia Sophia benar-benar terasa. Pilar-pilar raksasa berdiri menopang langit-langit tinggi yang gelap, dengan lampu gantung besar menggantung rendah, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Lantainya luas, kosong, dan dingin. Suara langkah kaki dan suara pengunjung terdengar pelan dan menggema, seolah semua orang otomatis menurunkan volume suara mereka. Tidak ada yang berbicara keras.
Aku berjalan pelan, menengadah, menatap lengkungan demi lengkungan di atas kepala. Lukisan-lukisan tua di langit-langitnya sudah memudar. Di salah satu sudut aula, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi berbentuk lengkung. Di foto, mungkin terlihat gelap dan menakutkan. Tapi yang kualami di dalam sana, gelapnya bukan gelap yang menakutkan. Ia lebih seperti ruang hening untuk berpikir.
Akhirnya, aku naik ke galeri atas. Dari sini, keseluruhan ruang utama Hagia Sophia terlihat jelas. Kubah raksasa di tengah, lampu-lampu gantung, jendela kaca patri, dan kaligrafi Islam berukuran besar yang menggantung di dinding. Dari atas, kontras antara simbol Kristen dan Islam terlihat nyata—namun anehnya, tidak terasa bertabrakan. Semuanya ada di tempatnya masing-masing. Seperti dialog panjang yang akhirnya memilih untuk berdamai.
Aku menatap ke bawah. Dari sini aku bisa melihat interior masjid dari sudut yang lebih tinggi. Pemandangan kubah utama, lampu gantung, dan jemaah di bawah terlihat kecil-kecil. Di lantai dua ini juga, aku bisa melihat mozaik terkenal seperti mosaik Deësis (Yesus di tengah, dikelilingi Bunda Maria-kiri dan Yohanes Pembaptis-kanan), yang meskipun sudah agak pudar dimakan waktu.
Pemandangan Hagia Sophia dari lantai dua..
Mosaik Deësis (Yesus di tengah, dikelilingi Bunda Maria-kiri dan Yohanes Pembaptis-kanan)
Aku sempatkan berfoto untuk mengambil memori. Berdiri di antara kolom marmer raksasa dan lukisan dinding yang berabad-abad umurnya. Saat itu aku benar-benar merasa kecil di hadapan waktu dan sejarah. Tapi juga ada perasaan bangga. Bahwa meskipun dulu aku bahkan nggak pernah punya rencana khusus ke Turki, aku justru diizinkan oleh semesta lebih cepat untuk menyentuh tempat sebersejarah ini. Benar-benar awal untuk perjalanan ke Eropa yang sempurna.
Sebelum keluar, aku sempatkan eksplor bagian lantai dasar. Dari bawah, skala Hagia Sophia terasa jauh lebih menggetarkan. Kubah raksasa menjulang tinggi di atas kepala, dengan deretan jendela melingkar yang membiarkan cahaya masuk lembut dari segala arah. Lampu-lampu gantung besar menggantung rendah, membuat ruang ini terasa hangat sekaligus sakral. Orang-orang berjalan pelan, menengadah, mengambil foto, atau sekadar berdiri diam—seolah semua sepakat untuk tidak terburu-buru di tempat ini.
Aku ikut berjalan pelan, menatap ke atas sekali lagi, lalu menghela napas panjang. Rasanya cukup. Tidak perlu lama-lama, karena kadang momen seperti ini justru paling kuat saat ditinggalkan dengan tenang.
Interior Hagia Sophia dilihat dari lantai dasar..
Aku pun melangkah keluar dari bangunan tua itu, kembali disambut cahaya terang dan udara pagi Sultanahmet. Suasana di luar terasa kontras—lebih hidup, lebih ramai, tapi entah kenapa membuat damai dan sangat menenangkan. Aku sempatkan duduk sebentar menikmati air mancur, bangunan bersejarah, burung -burung yang terbang rendah sambil berkaok-kaok....
Sultanahmed Square dengan background air mancur dan Blue Mosque.. sangat indah dan menenangkan..
Puas merekam itu semua dengan mataku, aku melanjutkan jalan ke stasiun tram untuk menuju tujuan selanjutnya, Taksim Square. Nama ini udah sering aku dengar sejak dulu—ikon modernnya Istanbul, tempat orang-orang berkumpul, berunjuk rasa, atau sekadar nongkrong sore. Untuk menuju ke sana, aku naik metro, dan yang paling kutunggu, aku dapat kesempatan menyebrangi Jembatan Bosphorus. Jembatan Bosphorus spesial karena memisahkan dua benua yaitu Asia dan Eropa. Jadi, secara teknis, hari itu aku benar-benar menyeberangi dua benua dalam satu kota. Keren banget, kan?
Setelah beberapa saat, akhirnya aku sampai juga di area Taksim. Begitu keluar tram, aku langsung merasa berada di ruang yang benar-benar berbeda dari area bersejarah Istanbul yang tadi kutinggalkan. Taksim terasa luas dan terbuka, seperti alun-alun besar di jantung kota. Langit siang itu cerah, biru, dan di atas kepala berjajar bendera Turki merah yang digantung melintang, berkibar pelan ditiup angin. Dari kejauhan terlihat panggung besar dan deretan kursi, tanda sedang ada acara Ramadan di kawasan BeyoÄŸlu.
Taksim Square..
Taksim Square..
Suasananya cukup ramai. Taksi-taksi kuning khas Istanbul mondar-mandir tanpa henti, klakson terdengar sesekali, bercampur suara orang berbincang dalam berbagai bahasa. Orang-orang berjalan ke segala arah—ada yang sekadar melintas, ada yang berhenti buat foto, ada juga yang duduk santai di pinggir taman kecil yang dipenuhi bunga warna-warni. Merah, putih, dan pink bunganya kontras dengan paving abu-abu di sekeliling alun-alun.
Di tengah kawasan ini berdiri Monumen Republik. Menurutku selain Sultahamed, Taksim juga terasa sangat hidup. Ini tempat orang berkumpul, bertemu, nongkrong, dan melanjutkan hari mereka. Gedung-gedung modern, restoran, toko, dan jalan besar yang mengelilinginya membuat Taksim terasa sebagai wajah Istanbul yang lebih kontemporer. Aku berfoto-foto di situ selama beberapa saat, berusaha meresap semua pemandangan ini. Tidak terasa, perut mulai protes. Melihat-lihat keadaan sekitar, aku memutuskan membeli kebab, ditambah jus jeruk segar—yang rasanya luar biasa menyegarkan setelah seharian berjalan kaki. Aku makan siang sambil duduk santai di sudut lapangan, memandangi lalu lintas manusia yang terus bergerak.
Waktu terus berjalan, dan sebenarnya rasanya belum puas eksplor Kota Istanbul. Tapi waktu sudah mendekati tengah hari, aku tahu aku harus kembali ke bandara supaya tidak terburu-buru. Akhirnya aku naik tram kembali, membawa kenangan singkat tapi padat dari transit setengah hari di kota yang memesona ini. Dalam waktu cuma beberapa jam, aku berhasil menginjak dua benua, menjelajah satu masjid megah, satu museum spektakuler yang sangat bersejarah, dan menyesap rasa kota yang sangat hidup.
'Tapi nanti aku mau turun sebentar di stasiun tram terdekat dengan Selat Bhosporus deh, mau liat pemandangan lautnya,' kataku dalam hati sembari menunggu metro datang.
'10 menit aja gpp, yang penting aku liat Selat Bhosporus dengan mataku sendiri.'
Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang saat metro akhirnya datang. Aku duduk dengan begitu santainya. Aku seneng banget karena hari ini rencanaku eksplor sendiri sangat lancar, aku berhasil mengunjungi semua tempat yang kuinginkan secara mandiri, rasanya benar-benar nggak nyangka bisa menginjakkan kaki disini. Seorang Galuh mengunjungi Turki... Ya ampun..benar-benar sebuah mimpi yang jadi kenyataan.






0 comments:
Posting Komentar