Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

5.04.2025

[4] Balada Eropa : Eksplor Istanbul dan Tragedi Salah Tanggal !

Cerita ini merupakan pengalamanku menjelajah Islandia dan Eropa Barat dari 21 Juni 2017 - 3 Juli 2017. Ini adalah perjalanan solo backpacking ketigaku, ke tempat terjauhku. Part selanjutnya dari setiap cerita aku beri linknya dibawah.

Part Sebelumnya : DISINI

Blue Mosque, Istanbul, Turki

Istanbul, 21 atau 22 Juni 2017?

Ini adalah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Turki. Meski semalaman tidak tidur sama sekali di pesawat, rasa excited yang meluap berhasil mengalahkan rasa lelah. Adrenalin seolah mengambil alih kendali tubuhku. Di otakku yang mulai sering error karena kurang istirahat ini, pemahamanku ini adalah tanggal 21 Juni 2017. Rencanaku hari ini sudah sangat rapi dan terorganisir. Aku mempunyai waktu sampai sekitar jam 14.00 untuk eksplor Kota Istanbul, setelahnya kembali ke bandara, dan jam 16.30 akan terbang ke Paris. Malam ini, aku akan menginap di Jacob Inn Hostel yang terletak di pusat kota Paris. Rencananya sederhana tapi sangat menyenangkan: check-in, meletakkan backpack, lalu langsung bergegas mengunjungi Menara Eiffel di malam hari. Keseruan tidak berhenti di situ. Besok paginya, tanggal 22 Juni 2017, aku berencana mengunjungi Museum Louvre dan area sekitarnya, sebelum akhirnya melanjutkan penerbangan malam dari Paris menuju Reykjavik, Islandia. Hanya dengan memikirkannya saja, aku sampai tersenyum sendiri sambil berjalan mantap menuju area imigrasi. Rencana ini terasa sangat sempurna bagi seorang pelancong solo sepertiku.

Sebagai penumpang transit connecting flight Turkish Airlines, sebenarnya ada dua fasilitas gratis yang bisa kupilih pagi ini. Ikut tur kota terorganisir atau klaim kamar hotel untuk istirahat. Namun, aku punya rencana lain. Di saat orang lain mungkin memilih tidur nyaman di hotel, aku lebih memilih untuk menjelajah sendirian karena ada beberapa titik yang sangat ingin kukunjungi tapi tidak masuk dalam rute tur gratis mereka. Lagipula, sebagai first-timer di Turki, rasanya sayang sekali kalau waktu hanya habis untuk menumpang tidur.

Begitu keluar dari area kedatangan, aku langsung menuju kamar kecil buat cuci muka dan sikat gigi. Setelah itu, aku mencari money changer dan menukarkan 50 Euro ke mata uang lokal, Lira. Rasanya udah kayak backpacker sejati—nggak tidur, tapi semangat menjelajah kota asing hanya bermodalkan daypack dan rasa penasaran. Wkwkwk... Pasti ada yang pernah ngalamin, kan? Saat andrenalin mengalahkan rasa lelah. Tensi tinggi, apa itu? Wkwkwk..

Sejak masih di Indonesia, aku udah sempat mempelajari gimana cara keluar dari Bandara Internasional Istanbul menuju pusat kota. Jadi, begitu kutukar 50 Euro ke Lira, aku langsung naik metro—karena ya jelas, ini cara paling hemat dan efisien buat menjelajah kota. Aku naik Metro Line M11 dari bandara menuju Stasiun Gayrettepe, lalu lanjut pindah ke Line M2 dan turun di Stasiun Vezneciler. Dari sana aku jalan kaki sekitar 15–20 menit menuju kawasan yang sudah lama banget pengin aku kunjungi yaitu Sultanahmet.

Begitu keluar dari stasiun, langkah kakiku langsung disambut oleh semilir angin pagi Istanbul yang segar. Kawasan Sultanahmet pagi itu masih nampak tenang. Di sepanjang jalan, deretan bendera merah-putih khas Turki berkibar cantik, digantung menyilang di antara pepohonan hijau yang rimbun. Rasanya sangat kontras dengan hiruk-pikuk Surabaya (klakson, polusi, panas) yang kutinggalkan kemarin.

Tenangnya suasana kawasan Sultanahmed di pagi hari...

Aku berjalan perlahan, menikmati setiap sudut jalanan batu yang rapi. 'Begini ya rasanya negara modern..', pujiku dalam hati. Di beberapa titik, terlihat deretan meja dan kursi kayu panjang yang tertata di area terbuka, mungkin dipersiapkan untuk warga lokal berbuka puasa nanti, mengingat saat itu masih suasana bulan Ramadan. Matahari yang mulai naik menyinari pucuk-pucuk minaret yang menjulang tinggi ke langit biru, seolah menjadi kompas alami bagiku.

Tenangnya suasana kawasan Sultanahmed di pagi hari...

Langkahku terhenti sejenak di depan sebuah papan pengumuman besar bertuliskan "Sultanahmet Camii". Di sana tertera aturan bagi pengunjung, termasuk tata cara berpakaian yang sopan untuk menghormati tempat ibadah. Tulisan "Entrance is Free" di papan tersebut seolah menjadi ucapan selamat datang yang hangat bagi turis berkantong backpacker sepertiku.

Dari situ, aku mengikuti arah petunjuk jalan yang menuntunku semakin dekat ke bangunan megah tersebut. Hingga akhirnya, berdirilah aku tepat di depan gerbang batu raksasa dengan ukiran kaligrafi yang sangat detail dan indah. Inilah dia, Blue Mosque—ikon Istanbul yang selama ini hanya bisa kulihat lewat layar ponsel, kini berdiri nyata di depan mataku.

Sinar matahari pagi menembus gerbang masuk menuju Blue Mosque

Langkahku membawa melewati gerbang batu yang kokoh, dan begitu menjejakkan kaki di pelataran dalamnya, aku langsung dibuat terperangah. Megah. Hanya itu kata yang mampu menggambarkan pemandangan di depanku. Pagi itu, suasana di pelataran dalam masih cukup tenang. Sinar matahari pagi menerpa kubah-kubah kecil yang tersusun rapi, menciptakan bayangan yang indah di atas lantai marmernya. Aku menyempatkan diri berdiri di tengah, mengeset kameraku untuk mengambil foto otomatis, merentangkan tangan, dan menghirup udara Istanbul dalam-dalam. Rasanya masih tidak percaya, dari layar HP di Indonesia, kini aku benar-benar menyentuh sejarah di tanah Turki.

Senangnya berpose di salah satu tempat impianku, Blue Mosque...

Sejak pertama kali melihat fotonya di internet, aku sudah jatuh hati pada bangunan ini. Nama aslinya adalah Masjid Sultan Ahmed, namun dunia mengenalnya sebagai Blue Mosque. Julukan itu bukan tanpa alasan; interior masjid ini dihiasi oleh lebih dari 20.000 ubin keramik biru buatan tangan dari daerah İznik yang legendaris. Warnanya memberikan kesan adem, sakral, sekaligus megah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Berdiri di tengah pelatarannya yang luas, aku browsing sedikit tentang sejarahnya. Masjid ini dibangun antara tahun 1609 sampai 1616 di bawah pemerintahan Sultan Ahmed I. Arsiteknya, Sedefkar Mehmed AÄŸa, yang merupakan murid dari arsitek legendaris Mimar Sinan, seolah ingin menunjukkan puncak kejayaan desain Ottoman melalui bangunan ini. Berdiri di tengah kemegahannya, aku menyadari bahwa bagi masyarakat Turki, Blue Mosque bukan sekadar tempat ibadah atau magnet bagi para turis. Masjid ini adalah detak jantung sejarah yang masih hidup.

Ia berdiri sebagai Simbol Kejayaan, sebuah pernyataan visual tentang kemegahan arsitektur Kekaisaran Ottoman saat berada di puncak keemasannya. Setiap lengkungan dan kubahnya bercerita tentang masa lalu yang perkasa. Namun, ia tidak berhenti menjadi monumen masa lalu; hingga detik ini, masjid tersebut tetap menjadi Pusat Spiritualitas yang utama, tempat ribuan umat masih bersujud dan menjalankan aktivitas keagamaan di tengah riuhnya kota Istanbul.

Letaknya pun sangat puitis. Berada tepat di Jantung Sejarah, ia berdiri tegak menantang Hagia Sophia yang berada tepat di seberangnya. Posisi strategis ini seolah mengukuhkan kawasan Sultanahmet sebagai pusat memori dunia, di mana dua peradaban besar saling beradu pandang dalam harmoni yang luar biasa.

Melihat semua itu secara langsung, rasa lelah akibat tidak tidur semalaman rasanya terbayar lunas. Aku terdiam sejenak, meresapi suasana sakral yang menyelimuti pelataran ini sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama untuk melihat langsung keajaiban di bagian dalam. Sebagai tempat ibadah yang aktif dan sakral, ada aturan berpakaian yang harus dipatuhi. Di pintu masuk, terdapat papan informasi besar yang menjelaskan tata tertib bagi pengunjung. Salah satunya adalah kewajiban bagi perempuan untuk mengenakan penutup kepala dan pakaian yang menutup aurat. Karena aku tidak membawa kain sendiri, petugas di sana dengan ramah meminjamkan sebuah kain penutup kepala (kerudung) berwarna biru muda secara gratis. Setelah memastikan penampilanku rapi dan melepas alas kaki, aku melangkah masuk melewati pembatas kayu yang memisahkan area turis dengan area salat. Begitu menapakkan kaki di dalam, aku seolah ditarik ke dimensi lain. Pandanganku langsung tertuju pada langit-langit masjid yang dipenuhi oleh kubah-kubah bertingkat yang sangat megah. Di sinilah letak rahasia nama "Blue Mosque", yaitu lebih dari 20.000 ubin keramik İznik dengan berbagai motif bunga, pohon saru, dan buah-buahan menghiasi setiap sudut dinding. Dulu, waktu merencanakan perjalanan ini, aku nggak pernah secara khusus bermimpi untuk mengunjungi Turki. Tapi ternyata semesta punya rencana lebih cepat untuk mempertemukanku dengan tanah ini—dan wow, aku merasa begitu bangga dan bersyukur bisa berdiri di sini.

Bagian dalam Blue Mosque..cukup gelap jadi ini foto terbaik yang bisa kuambil pakai kameraku (Sony @5000)..

Suasana di dalam terasa temaram namun sangat syahdu. Cahaya matahari masuk melalui ratusan jendela kaca patri yang indah, menciptakan permainan warna yang lembut saat menyentuh ubin-ubin biru tersebut. Ditambah lagi dengan deretan lampu gantung raksasa yang melingkar rendah, memberikan pendaran cahaya kuning hangat yang membuat atmosfer masjid terasa begitu sakral.

Bagian dalam Blue Mosque..

Meskipun di sekelilingku banyak turis lain, suasana tetap terasa tenang. Aku berdiri terpaku cukup lama, menatap detail kaligrafi ayat suci Al-Qur'an yang terukir indah di dinding dan kubah-kubahnya. Arsitekturnya benar-benar sebuah simfoni antara kecerdasan teknik manusia dan pengabdian spiritual yang mendalam.

Pertama kali pakai hijab.. kebesaran..hehe..

Setelah puas di Blue Mosque, aku melangkah keluar menuju destinasi yang sudah menungguku tepat di seberang taman yaitu Hagia Sophia (Ayasofya). Begitu keluar ruangan, aku disambut suasana cerah yang memanjakan mata. Di kejauhan, kubah besar dan dua minaret menjulang perlahan muncul di balik pepohonan. Itulah pertama kalinya aku melihat Hagia Sophia dari dekat. Belum masuk ke areanya, tapi aura bangunannya sudah terasa kuat. Pagi itu belum terlalu ramai, hanya beberapa orang lalu-lalang, pedagang kecil yang baru mulai membuka lapak, dan sinar matahari yang jatuh lembut di dinding bangunan tua berwarna kecokelatan. Aku sengaja berjalan pelan di jalur taman ini. Bukan cuma buat menikmati pemandangan, tapi juga buat menenangkan kepala yang semalaman nggak tidur. Anehnya, capeknya kayak tertelan. Adrenalin dan rasa excited menang telak hari ini. Wkwk.

Hagia Sophia dari Sultanahmed Square.. Masih cukup sepi karena masih pagi..

Blue Mosque dari Sultanahmed Square.. Masih cukup sepi karena masih pagi..

Berbeda dengan Blue Mosque, untuk masuk ke sini aku harus membayar tiket sebesar 50 Lira. Harga yang sangat layak untuk bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 537 M. Hagia Sophia adalah keajaiban arsitektur yang telah berganti wajah berkali-kali—dari Gereja Ortodoks selama hampir seribu tahun, menjadi Masjid di bawah Kesultanan Ottoman pada 1453, hingga akhirnya menjadi museum pada masa Mustafa Kemal Atatürk di tahun 1935.

Hagia Sophia..

Hagia Sophia (dalam bahasa Turki: Ayasofya) awalnya dibangun sebagai gereja katedral Bizantium pada tahun 537 Masehi atas perintah Kaisar Justinianus I. Selama hampir seribu tahun, ini adalah gereja Kristen terbesar di dunia. Lalu, setelah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Mehmed II pada 1453, bangunan ini diubah menjadi masjid. Pada 1935, Hagia Sophia dijadikan museum oleh pemerintah Turki.

Begitu melangkah masuk, suasana langsung berubah drastis. Cahaya terang pagi Istanbul seketika tergantikan oleh lorong batu yang gelap dan sejuk. Kubah utama menjulang tinggi. Interiornya didominasi oleh pendaran cahaya kuning hangat yang berasal dari lampu-lampu gantung rendah berbentuk lingkaran besar. Cahaya ini memantul di atas lantai marmer yang sudah dipijak oleh jutaan orang selama berabad-abad. Kaligrafi besar bertuliskan nama-nama Allah, Nabi Muhammad, dan para sahabat tergantung di sisi-sisi kubah. Di beberapa bagian, mozaik peninggalan era Bizantium masih bisa terlihat—Yesus, Maria, dan para malaikat—tertahan waktu dan sejarah, namun tetap menawan.

Aku melanjutkan eksplorasi di lantai 2. Menaiki tangga spiral, aku disambut oleh langit-langit tinggi, melengkung, dan terasa sangat tua. Dinding bata ekspos di kiri-kanan seolah menyerap suara langkah kakiku sendiri. Setiap pijakan menimbulkan suara gema pelan. Di ujung lorong, cahaya kuning keemasan menyala lembut, menerangi sebuah ruang kecil dengan benda-benda pameran. 

Lantai 2 Hagia Sophia..

Aku berhenti di depan sebuah kolam marmer besar yang berdiri sendiri di tengah ruangan. Di depannya tertulis 'Snake Patterned Pool'. Kolam ini berasal dari masa Romawi, jauh sebelum Hagia Sophia menjadi gereja maupun masjid. Dulu, kolam seperti ini digunakan sebagai tempat penampungan air dan pembasuhan, bagian dari ritual pemurnian yang sangat penting dalam budaya Romawi. Motif ular di sekelilingnya pun bukan sekadar hiasan, melainkan simbol penyembuhan dan kehidupan.

Snake Patterned Pool sudah ada sejak masa Romawi

Aku berdiri cukup lama di sini, mengambil foto juga untuk suatu saat kutulis disini. Membayangkan berapa banyak tangan dan generasi yang pernah berinteraksi dengan benda ini. Dari masa pagan Romawi, gereja Bizantium, masjid Ottoman, hingga museum modern—semuanya pernah lewat.

Langkahku berlanjut ke ruang yang jauh lebih luas. Di sinilah skala Hagia Sophia benar-benar terasa. Pilar-pilar raksasa berdiri menopang langit-langit tinggi yang gelap, dengan lampu gantung besar menggantung rendah, memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Lantainya luas, kosong, dan dingin. Suara langkah kaki dan suara pengunjung terdengar pelan dan menggema, seolah semua orang otomatis menurunkan volume suara mereka. Tidak ada yang berbicara keras. 

Lorong-lorong..

Aku berjalan pelan, menengadah, menatap lengkungan demi lengkungan di atas kepala. Lukisan-lukisan tua di langit-langitnya sudah memudar. Di salah satu sudut aula, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi berbentuk lengkung. Di foto, mungkin terlihat gelap dan menakutkan. Tapi yang kualami di dalam sana, gelapnya bukan gelap yang menakutkan. Ia lebih seperti ruang hening untuk berpikir. 

Dipenuhi lorong-lorong. Eksplor sendirian tapi tidak menakutkan..

Dipenuhi lorong-lorong. Eksplor sendirian tapi tidak menakutkan..

Indahnya...

Akhirnya, aku naik ke galeri atas. Dari sini, keseluruhan ruang utama Hagia Sophia terlihat jelas. Kubah raksasa di tengah, lampu-lampu gantung, jendela kaca patri, dan kaligrafi Islam berukuran besar yang menggantung di dinding. Dari atas, kontras antara simbol Kristen dan Islam terlihat nyata—namun anehnya, tidak terasa bertabrakan. Semuanya ada di tempatnya masing-masing. Seperti dialog panjang yang akhirnya memilih untuk berdamai.

Aku menatap ke bawah. Dari sini aku bisa melihat interior masjid dari sudut yang lebih tinggi. Pemandangan kubah utama, lampu gantung, dan jemaah di bawah terlihat kecil-kecil. Di lantai dua ini juga, aku bisa melihat mozaik terkenal seperti mosaik Deësis (Yesus di tengah, dikelilingi Bunda Maria-kiri dan Yohanes Pembaptis-kanan), yang meskipun sudah agak pudar dimakan waktu. 

Pemandangan Hagia Sophia dari lantai dua..

Mosaik Deësis (Yesus di tengah, dikelilingi Bunda Maria-kiri dan Yohanes Pembaptis-kanan)

Aku sempatkan berfoto untuk mengambil memori. Berdiri di antara kolom marmer raksasa dan lukisan dinding yang berabad-abad umurnya. Saat itu aku benar-benar merasa kecil di hadapan waktu dan sejarah. Tapi juga ada perasaan bangga. Bahwa meskipun dulu aku bahkan nggak pernah punya rencana khusus ke Turki, aku justru diizinkan oleh semesta lebih cepat untuk menyentuh tempat sebersejarah ini. Benar-benar awal untuk perjalanan ke Eropa yang sempurna.


Sebelum keluar, aku sempatkan eksplor bagian lantai dasar. Dari bawah, skala Hagia Sophia terasa jauh lebih menggetarkan. Kubah raksasa menjulang tinggi di atas kepala, dengan deretan jendela melingkar yang membiarkan cahaya masuk lembut dari segala arah. Lampu-lampu gantung besar menggantung rendah, membuat ruang ini terasa hangat sekaligus sakral. Orang-orang berjalan pelan, menengadah, mengambil foto, atau sekadar berdiri diam—seolah semua sepakat untuk tidak terburu-buru di tempat ini.

Aku ikut berjalan pelan, menatap ke atas sekali lagi, lalu menghela napas panjang. Rasanya cukup. Tidak perlu lama-lama, karena kadang momen seperti ini justru paling kuat saat ditinggalkan dengan tenang.

Interior Hagia Sophia dilihat dari lantai dasar..

Aku pun melangkah keluar dari bangunan tua itu, kembali disambut cahaya terang dan udara pagi Sultanahmet. Suasana di luar terasa kontras—lebih hidup, lebih ramai, tapi entah kenapa membuat damai dan sangat menenangkan. Aku sempatkan duduk sebentar menikmati air mancur, bangunan bersejarah, burung -burung yang terbang rendah sambil berkaok-kaok....

Sultanahmed Square dengan background air mancur dan Blue Mosque.. sangat indah dan menenangkan..

Duduk sejenak disini menikmati suasana..

Puas merekam itu semua dengan mataku, aku melanjutkan jalan ke stasiun tram untuk menuju tujuan selanjutnya, Taksim Square. Nama ini udah sering aku dengar sejak dulu—ikon modernnya Istanbul, tempat orang-orang berkumpul, berunjuk rasa, atau sekadar nongkrong sore. Untuk menuju ke sana, aku naik metro, dan yang paling kutunggu, aku dapat kesempatan menyebrangi Jembatan Bosphorus. Jembatan Bosphorus spesial karena memisahkan dua benua yaitu Asia dan Eropa. Jadi, secara teknis, hari itu aku benar-benar menyeberangi dua benua dalam satu kota. Keren banget, kan?

Masih foto dengan santainya di Stasiun Tram EMINONU, Istanbul. Apa yang terjadi setelah ini?? wkwkwk..

Setelah beberapa saat, akhirnya aku sampai juga di area Taksim. Begitu keluar tram, aku langsung merasa berada di ruang yang benar-benar berbeda dari area bersejarah Istanbul yang tadi kutinggalkan. Taksim terasa luas dan terbuka, seperti alun-alun besar di jantung kota. Langit siang itu cerah, biru, dan di atas kepala berjajar bendera Turki merah yang digantung melintang, berkibar pelan ditiup angin. Dari kejauhan terlihat panggung besar dan deretan kursi, tanda sedang ada acara Ramadan di kawasan BeyoÄŸlu.

Taksim Square..

Taksim Square..

Suasananya cukup ramai. Taksi-taksi kuning khas Istanbul mondar-mandir tanpa henti, klakson terdengar sesekali, bercampur suara orang berbincang dalam berbagai bahasa. Orang-orang berjalan ke segala arah—ada yang sekadar melintas, ada yang berhenti buat foto, ada juga yang duduk santai di pinggir taman kecil yang dipenuhi bunga warna-warni. Merah, putih, dan pink bunganya kontras dengan paving abu-abu di sekeliling alun-alun.

Roti Istanbul yang khas. Aku sempat membelinya. Harganya cukup murah dan rasanya enak.

Di tengah kawasan ini berdiri Monumen Republik. Menurutku selain Sultahamed, Taksim juga terasa sangat hidup. Ini tempat orang berkumpul, bertemu, nongkrong, dan melanjutkan hari mereka. Gedung-gedung modern, restoran, toko, dan jalan besar yang mengelilinginya membuat Taksim terasa sebagai wajah Istanbul yang lebih kontemporer. Aku berfoto-foto di situ selama beberapa saat, berusaha meresap semua pemandangan ini. Tidak terasa, perut mulai protes. Melihat-lihat keadaan sekitar, aku memutuskan membeli kebab, ditambah jus jeruk segar—yang rasanya luar biasa menyegarkan setelah seharian berjalan kaki. Aku makan siang sambil duduk santai di sudut lapangan, memandangi lalu lintas manusia yang terus bergerak.

Membuat memori di Taksim Square

Waktu terus berjalan, dan sebenarnya rasanya belum puas eksplor Kota Istanbul. Tapi waktu sudah mendekati tengah hari, aku tahu aku harus kembali ke bandara supaya tidak terburu-buru. Akhirnya aku naik tram kembali, membawa kenangan singkat tapi padat dari transit setengah hari di kota yang memesona ini. Dalam waktu cuma beberapa jam, aku berhasil menginjak dua benua, menjelajah satu masjid megah, satu museum spektakuler yang sangat bersejarah, dan menyesap rasa kota yang sangat hidup.

'Tapi nanti aku mau turun sebentar di stasiun tram terdekat dengan Selat Bhosporus deh, mau liat pemandangan lautnya,' kataku dalam hati sembari menunggu metro datang.

'10 menit aja gpp, yang penting aku liat Selat Bhosporus dengan mataku sendiri.'

Waktu sudah menunjukkan jam 12 siang saat metro akhirnya datang. Aku duduk dengan begitu santainya. Aku seneng banget karena hari ini rencanaku eksplor sendiri sangat lancar, aku berhasil mengunjungi semua tempat yang kuinginkan secara mandiri, rasanya benar-benar nggak nyangka bisa menginjakkan kaki disini. Seorang Galuh mengunjungi Turki... Ya ampun..benar-benar sebuah mimpi yang jadi kenyataan. 

Aku terus-terusan memandangi pemandangan Kota Istanbul dari dalam tram. Benar-benar tidak kulewatkan sedikitpun hal yang tersaji di depanku, karena waktuku sangat terbatas disini. Aku hanya mempunyai waktu transit 10 jam sebelum terbang ke Paris sore ini. Jadi aku benar-benar memanfaatkan setiap menit dengan maksimal. 

Sudah terbayang, hari ini tanggal 21 Juni 2017, malam ini aku akan mendarat di Paris, kemudian akan mencari penginapanku dan setelahnya mengunjungi Menara Eifel di malam hari. Kemudian esoknya tanggal 22 Juni 2017, aku akan mengunjungi Musium Louvre di Paris yang terkenal, trus malamnya terbang ke Reykjavik, Islandia. Ya ampun..itinerary yang menyenangkan. Aku membayangkan sembari tersenyum. Oh..terimakasih Tuhan sehingga aku bisa mengunjungi tempat-tempat ini.

Saat sedang memperhatikan beberapa orang Turki di dalam tram, tidak sengaja mataku menangkap layar digital yang menampilkan tanggal dan jam hari itu, 

22 Juni 2017!!

Jantungku seakan mau melompat

'What the....!!! Hari ini adalah tanggal 22 Juni 2017??

Aku gemetaran sambil mengeluarkan HP, dan... ya... benar, ini tanggal 22 Juni 2017!

Bagaimana aku bisa begitu ceroboh? !! Bodoh! Berarti seharusnya sekarang aku sudah di Paris. Bagaimana dengan penerbanganku ke Reykjavik ??! Itu berarti hari ini juga. Duh! Sekarang posisiku masih di Istanbul, penerbanganku dari Istanbul ke Paris baru saja mendarat pukul 18.00! Duh..jam berapa lagi penerbanganku dari Paris ke Reykjavik? Kenapa semuanya kacau begini setelah hari yang menyenangkan.. Huhuhu,' tangisku dalam hati sembari tanganku gemetaran mencari Etiket Paris-Reykjavik.

'Pokoknya kalau jamnya gak memungkinkan buatku untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik, aku akan beli tiket lagi. Karena Reykjavik di Islandia adalah tempat yang benar-benar ingin kukunjungi di perjalanan ini.'

Aku membaca E-tiketku dengan gusar dan ingin menangis lega rasanya setelah mengetahui jam keberangkatan pesawatku Transavia dari Paris ke Reykjavik adalah jam 22.15 malam ini!

Mencari-cari tiket Paris - Reyjavik ditasku sambil gemetaran, hampir menangis lega saat melihat jam penerbangannya pukul 22.15.... Huhuhu

'Berarti aku masih mempunyai waktu sekitar 3 jam. Eh tapi ini terbangnya bukan dari CDG (Charles de Gaulle) Airport - tempatku mendarat nanti, tapi dari Paris Orly Aiport. Duh jauh nggak ya? Ya Tuhan.. semoga cukup waktunya. Sama-sama masih di Paris, semoga nggak terlalu jauh.'

Pikiranku langsung kacau begitu mengetahui hari itu tanggal 22 Juni 2017. Rasanya hanya ingin secepatnya sampai ke Bandara Istanbul Ataturk. Aku yang awalnya ingin mengunjungi Selat Bhosporus, langsung mengurungkan niatku. Lagipula itu sudah jam 14.00, sementara penerbanganku ke Paris jam 16.00. Aku segera naik tram untuk menuju bandara. Oh,... benar-benar merusak mood di hari yang sudah diawali dengan indah.

Aku segera teringat, aku mempunyai Etiket Musium Louvre dan tertunduk lesu setelah mengetahui aku baru saja membuang 15 Euro sia-sia, dan kesempatan untuk melihat salah satu museum terbaik di dunia. Kepalaku tambah tertunduk saat aku mengetahui harus membayar tagihan kartu kredit 19 Euro untuk penginapanku di Paris, Hostel Jacob, Karena aku tidak muncul.

Tapi ada rasa syukur yang teramat sangat dalam hatiku! Jika aku tidak melihat layar digital di tram secara tidak sengaja, aku akan mengira itu adalah tanggal 21 Juni 2017, dan setelah mendarat di Paris, aku langsung menuju ke pusat kota Paris untuk mencari Hostel Jacob. Dan tebak apa yang terjadi selanjutnya, Chaotic !! Bahkan, aku mungkin bisa batal mengunjungi Reykjavik dan aku yakin itu akan membuatku SANGAT KECEWA (dan mungkin menangis sesenggukan, karena Islandia adalah tempat yang benar-benar ingin kukunjungi di perjalanan ini).

Di ruang boarding Bandara Istanbul Ataturk, aku duduk di samping seorang pria Prancis. Sembari menunggu boarding, kita mulai mengobrol topik ringan. Yah kebetulan, pikirku. Dia kan orang Paris, pasti dia tahu jarak dan metode transportasi dari Bandara CDG ke Bandara Orly. Dan apakah waktu 2,5 jam yang kupunya cukup untuk mengejar penerbanganku ke Reykjavik. Supaya memperjelas maksudku, aku berniat memberikannya E-tiketku Paris-Reykjavik supaya dia bisa membacanya.

Karena aku meletakkan kamera di bagian atas daypack, sebelum mengambil E-tiket aku harus mengeluarkan kamera. Aku ingat dengan jelas,aku mengeluarkan kamera dan meletakkannya di sisi kiriku (tepatnya di samping pinggulku). Sewaktu meletakkannya disitu, aku sudah memberikan warning ke otakku, JANGAN SAMPAI LUPA!

Sepertinya keinginanku untuk mendapatkan informasi dari pria Prancis itu sia-sia karena bahkan setelah kutunjukkan E-tiket, dia masih belum juga paham maksudku. Bahasa Inggrisnya memang agak kacau, dia malah bilang begini:

"Tidak, tidak. Ini penerbangan ke Paris, kita akan mendarat di Bandara CDG."

"Bukan Mister, maksudku apakah jarak antara Bandara CDG dan Bandara Orly Sud jauh? Cukupkah waktu 2,5 jam untuk sampai kesana?"

Sekali lagi dia tidak mengerti maksudku dan malah terus menerus berkata kita akan mendarat di Bandara CDG. 

Ah yah, gak ngerti ni orang. Yasudah aku pasrah dan berniat mencari informasi sesampainya di Bandara CDG Paris saja. 

Akhirnya waktu boarding tiba. Dan kalian bisa menebaknya, aku lupa mengambil dan memasukkan barang di samping pinggangku!! Ya, kameraku! Aku mulai mengantri dengan santainya dan kemudian naik bus khusus untuk sampai ke kaki pesawat!

Aku bersiul dengan senang hati. Ah well, aku tidak terlalu peduli dengan masalah kelupaan tanggal ini lagi. Entahlah, rasanya bahagia. Islandia! Aku benar-benar akan mengunjunginya! Bahkan di pikiranku tidak ada rasa menyesal sedikitpun karena tidak sempat mengeksplor Paris. Ah sudahlah Paris suatu saat saja.

Sesaat kemudian, bus telah sampai di kaki pesawat. Aku menemukan tempat dudukku sesuai tiket dan mulai mengatur semuanya untuk persiapan lepas landas ke Paris. Sementara menunggu, aku mulai mencari kamera untuk melihat foto-fotoku selama di Istanbul seharian dan kemudian tercengang.....

Ya ampun, kameraku ??! Dimana Kameraku ???! OMG.....

Aku berusaha keras untuk sekali lagi tenang dan mengingat kapan dan dimana aku terakhir memegangnya atau mengeluarkannya.

Sialan, pikiranku berteriak dan berkecamuk. Aku tidak bisa pergi ke Islandia tanpa kamera. Karena selain kamera Sony Alpha 5000 yang sekarang tidak jelas ada dimana ini, aku hanya membawa kamera Action dan handphoneku yang kualitas gambarnya kurang bagus. Membayangkan menangkap semua keindahan Islandia dengan kamera yang kurang bagus membuatku putus asa. 

Perlu beberapa saat bagiku untuk menyadari, aku telah meninggalkan kamera di ruang boarding. Bisa kuingat dengan jelas, aku memang belum memasukkan kamera itu!

Sh*t!! Ngapain aku harus aneh-aneh nunjukin E-tiket sih? Ya ampun.. kenapa cobaan tak henti-hentinya datang di perjalanan pertamaku ke Eropa. Setelah semuanya berjalan dengan begitu lancar di Istanbul. Mental dan fisikku benar-benar lelah diserang oleh semua kebodohanku ini. Duh...bisa turun lagi nggak ya.. Mana pesawat udah mau berangkat lagi.

Aku segera berlari ke arah bagian belakang pesawat untuk mengabari Pramugari Turkish Airline, dan bertanya apakah aku bisa kembali ke ruang Boarding untuk mencari kameraku. Wajahku sangat gusar, hatiku tak karuan rasanya. Ya ampun..gimana kalau hilang..

Pramugari muda tersebut segera bertanya kepada pramugari seniornya di bagian depan, dan seperti yang sudah kuduga, jawabannya:

"Tidak, Kamu tidak boleh kembali ke ruang boarding. Begini, tenang saja. Kamu tunggu disini, kami akan mengabari staf kami di ground sana untuk mencari kameramu."

"Please Madam Help me.... Thank you." kataku dengan lesu sembari menunggu di dekat pintu masuk pesawat.

Karena semakin lama penumpang mulai berdatangan, aku berjalan dengan lunglai kembali ke kursiku di belakang. Rasanya benar-benar ingin menangis. Kenapa aku begitu bodoh dan ceroboh? Dari kemarin masalah, masalah dan masalah terus. Bahkan aku belum sampai ke destinasi pertama! Rasanya hanya ingin menyerah, pulang ke Indonesia dan melupakan semua mimpiku huhuhu....

Sesaat kemudian salah satu pramugari mendekatiku (karena melihat wajahku yang sangat gusar) dan menghiburku..

"Kamu tenang saja. Staf kami sedang berusaha mencari kameramu. Kalaupun misalnya tidak ketemu, kamu lapor saja di bagian lost and found di Bandara CDG (Paris), okey? Ketika kameramu ketemu, kami akan memberikannya kepadamu."

Aku hanya mengangguk lesu.

'Tidak mungkin sempat. Sampai Bandara CDG saja aku harus cepat-cepat menuju Bandar Orly, aku nggak akan sempat mengurus di Lost and Found.' 

Aku memejamkan mataku.. berusaha menahan air mata yang seakan ingin merangsek keluar dari sudut-sudut mataku. Semua bayangan tentang keindahan Islandia seakan menguap.. Aku tidak akan bisa mengabadikannya dengan kamera yang bagus.. Oh ya ampun...tolonglah aku..'

Selanjutnya pandanganku hanya terfokus pada pintu masuk pesawat. Kalau sampai pintunya tertutup dan tidak ada pramugari yang mendekatiku dengan membawa kamera, berarti aku memang harus menerima kenyataan. Kameranya memang hilang.

Tepat 10 menit sebelum jadwal keberangkatan, tiba-tiba pramugari yang tadi menghiburku terlihat membawa kamera berwarna hitam dengan senyum yang sumringah. Sepertinya dia tahu aku bakal sangat bahagia ketika melihatnya menghampiriku dan menyerahkan kameraku! 

"Oh yaaaa ampunnn...terimakasih-terimakasih.." kataku dengan perasaan lega yang langsung menjalar ke semua bagian tubuhku.

Oh Ya Tuhan, Galuh, You're really stupid lucky people!! 


PART Selanjutnya : DISINI

0 comments:

Posting Komentar