Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

7.27.2024

[PART 1] Journey to Ende - Maumere : Berangkat, Bukit Roja dan Teman Baru!

Surabaya, 1 Juni 2018

Perjalanan keempat ane menggunakan SJ Travel Pass berlanjut ke Pulau Flores, tepatnya akan landing di Kota Maumere. Tujuan ane sebenarnya mau ke  Kabupaten Ende, dengan tujuan utama ke Danau Kelimutu. Tapi karena Sriwijaya Air tidak ada rute langsung Surabaya - Denpasar - Ende, jadilah ane mengambil penerbangan Surabaya - Denpasar - Maumere. Dari Maumere ke Ende rencana ane akan naik minibus. Menurut google map sih jaraknya 115 km dan bisa ditempuh dalam waktu 3,5 jam dengan jalan yang 80% kelak-kelok khas Pulau Flores. Well, jalani saja demi impian melihat Danau Kelimutu! 

Tiket ane Surabaya - Denpasar - Maumere PP yang sudah terkonfirmasi. Dengan membership SJ Travel Pass total ane hanya membayar Rp 383.200.

Ane berangkat dari kos jam 6 pagi, dan sampai di Bandara Juanda 30 menit kemudian. Check in berjalan lancar dan ane mendapatkan 2 boarding pass, Surabaya - Denpasar dan Denpasar - Maumere. Penerbangan Surabaya - Denpasar berlangsung lancar kurang lebih 1 jam. Transit 1 jam di Denpasar, ane lanjut terbang Denpasar - Maumere dan landing sekitar jam 12 siang. Ini kedua kalinya ane menginjakkan kaki di Pulau Flores, dimana pertama kali itu adalah tahun 2014 saat ikut proyek ke Labuan Bajo. Seneng banget rasanya bisa kembali ke pulau ini, apalagi bayangin bisa mengunjungi salah saru destinasi wisata paling utama di Indonesia, Danau Kelimutu.

Excited setiap menginjakkan kaki di NTT. Ini difotoin traveler bule.

Keluar dari bandara ane mengiyakan salah satu taksi yang menawari mengantarkan ke pool minibus yang mau ke Ende. Seinget ane tarif taksinya 100ribu. Menurut ane cukup wajar lah karena naik mobil. Selain itu ane juga ga punya option lain dan belum sempet browsing jadi gas aja lah. Waktu tempuh dari Bandara Frans Seda Maumere ke pool minibus yang mau ke Ende cuma 15 menit, dan kesan pertama ane tentang Kota Maumere adalah kotanya cukup rapi, jalanan lebar, dan agak panas. Yah seperti kota-kota pada ummnya.

Jalanan di Kota Maumere. Ane ambil dari Google Street View.

Turun dari taksi ane langsung dapat minibus tujuan Ende. Namun sebelum naik ane sempatkan makan siang di warung dekat pool itu dulu. Perjalanan Maumere + Ende akhirnya dimulai. Penumpang nggak terlalu banyak dan ane duduk di kursi tengah dengan nyaman. Ane bersyukur penumpangnya nggak terlalu penuh karena ini bakal menjadi perjalanan cukup panjang serta berliku.

Rute gergaji Maumere - Ende. 

Minibus yang membawa ane dari Maumere ke Ende. 

Perjalanan berlangsung cukup lama melalui kelak-kelok yang seakan tanpa akhir di Jalan Trans Flores yang lebarnya hanya sekitar 4 meter. Minibus juga beberapa kali berhenti di rumah warga baik untuk menurunkan penumpang, menaikkan penumpang ataupun mengambil barang titipan. Ane menikmati setiap pemandangan yang tersaji di depan, sambil sesekali bersyukur dalam hati bisa kembali menginjakkan kaki di Pulau Flores. Berbeda dengan pulau lainnya di NTT yang pernah ane kunjungi, Pulau Flores ini cukup subur karena seperti kita semua pernah tau disini banyak gunung apinya. Jadilah disepanjang jalan tanaman hijau mendominasi memanjakan mata.

Pemandangan sepanjang jalan Kota Maumere ke Kota Ende. Ane ambil dari Google Street View. 

Pemandangan sepanjang jalan Kota Maumere ke Kota Ende. Ane ambil dari Google Street View. 

Pemandangan sepanjang jalan Kota Maumere ke Kota Ende. Ane ambil dari Google Street View. 

Sekitar jam 6 sore, akhirnya ane sampai di Terminal Kota Ende. Tadi di perjalanan ane udah nandai hotel yang rencana bakal ane inepin (ane belum booking). Jadilah ane segera pesan ojek dan diturunkan di depan hotel. Ane udah sempet masuk halaman hotel dan mencari resepsionis untuk nanya harga tapi tiba-tiba ane di-WA Imam, temen FB ane yang lagi keliling NTT, dan kebetulan posisinya sekarang juga lagi di Kota Ende.

Saat itu Imam nanya ane mau nginap dimana. Ane bilang bahwa ane rencana mau nginep hotel, ini udah sampe hotelnya dan mau check in. 

"Lah kesini aja tidur di rumah Fuad. Kita juga nginep bareng-bareng disini. Nanti biar Fuad yang ngantarin kamu juga ke Danau Kelimutu," kata Imam di WA.

Sebenarnya ane tipe orang yang nggak enak kalau ngrepotin tinggal dirumah orang. Tapi akhirnya ane iyakan aja supaya bisa nambah temen dan supaya Fuad ga repot-repot jemput ane kesana kemari. Ditambah lagi sesuai dengan prinsip awal ane ingin berhemat. 

Imam mengabari via WA kalau kita langsung ketemu di warung makan aja, nanti baru bareng-bareng ke rumah Fuad. Ane segera naik ojek kewarung tersebut dan bertemu Imam, Fuad serta banyak kawan lainnya. Disitu ane berkenalan dengan mereka dan emang mereka itu sebaik dan seramah itu. Bahkan malah makan ane dibayarin Imam, buset nggak enak banget deh ane. Ane berjanji nanti harus gantian ane traktir mereka kalau makan bareng lagi. Selesai makan ane diajak ke rumah Fuad dulu untuk meletakkan tas. Disitu ane sempet ngobrol sama keluarganya Fuad, mereka sungguh baik-baik banget.

Keluarga Fuad 

Sorenya menjelang magrib, Imam cs ngajak ane nongkrong di Cafe Pantai Ria yang berada di Pantai Kota Raja, pesisir timur Kota Ende. Disitu ane pesen pisang goreng coklat keju, es dan kita bercerita banyak. Memang Imam dan Fuad ini tipe-tipe orang yang easy going, sehingga membuat siapapun yang baru kenal jadi ga garing. Setiap ane diem diajak cerita ini itu, jadi ane ga merasa malu.

Nongkrong

Nongkrong selama 1.5 jaman disitu, tiba-tiba ada yang ngajakin ke Bukit Roja. Katanya dari Puncak Bukit itu bisa lihat Gunung Meja, Kota Ende dan Pelabuhan Ende. Ane setuju-setuju aja, dan saat udah mau berangkat tiba-tiba temen Imam berjalan ke kasir mau membayar jajan kita malam ini. Ane yang merasa nggak enak tadi udah ditraktir makan, langsung menahannya dan bilang kali ini ane yang bayar. Untungnya temen Imam setuju dan ane kemudian membayarnya. Huftt lega deh ane.

Perjalanan kita lanjutkan bareng-bareng naik motor ke titik pendakian Bukit Roja, berupa rumah-rumah warga sehingga nggak terlalu sepi. Dari situ kita membayar tiket masuk dan memulai pendakian selama 20 menit sampai puncak bukit. Pendakiannya cukup curam, namun nggak terlalu melelahkan.

Sampai di puncak, memang benar kita bisa melihat kerlap-kerlip Kota Ende dari ketinggian dan aktivitas kapal nelayan yang mencari ikan. Disini aktivitas kita foto-foto dan cerita-cerita sampai sekitar 1 jam.

Foto bareng Fuad cs di Bukit Roja. Thank u friend!

Sesaat kemudian kita turun dan meluncur kembali ke rumah Fuad. Sampai rumah ane disuruh segera istirahat sama Fuad karena kita berencana akan otw ke Danau Kelimutu jam 3 pagi ini. Wowww.... Melintasi Jalan Trans Flores jam 3 pagi. Semoga aman ya! See u tomorrow!

PART Selanjutnya : Disini

7.22.2024

[1] Sawadee Kamboja : Perjalanan Bangkok - Siem Reap dan Pasar Malam Angkor

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.


PART sebelumnya : DISINI

25 Januari 2012

Kelelahan akut karena terlalu semangat seharian menjelajah Kota Bangkok kemarin membuat tidur ane sangat nyenyak. Oiya kemarin sebelum pulang penginapan kita sudah membeli tiket travel dari Bangkok ke Siem Reap (Kamboja) juga. Well, kok secepat itu meninggalkan Kota Bangkok? Karena kita merasa kayaknya udah semua wisata utama di Bangkok dikunjungi seperti Wat Phra Kaeo, Wat Pho, Wat Arun, Wat Indrawihan, Khaosan Road, MBK. Udah ga ada tempat spesifik yang ingin kita kunjungi lagi, jadi kita memutuskan langsung geser ke tujuan selanjutnya untuk menghemat waktu dan uang, Kota Siem Reap, Kamboja. Tujuan utama kesana tak lain tak bukan adalah ke Angkor Wat.

Pagi itu setelah sarapan kami dijemput oleh mobil travel sekitar jam 07.30. Dari tempat penjemputan kita di-drop di kantor utama travel dan digabung dengan beberapa traveler lainnya dari berbagai macam negara. Ada traveler dari Jepang maupun Eropa. Setelah menunggu sejenak, perjalanan akhirnya dimulai. Rutenya adalah Bangkok - Aranyaphratet (kota perbatasan Thailand - Kamboja), disambung imigrasi keluar Thailand, imigrasi masuk Kamboja, kemudian Poipet (kota perbatasan Kamboja - Thailand) ke Siem Reap. Perjalanan yang bakalan cukup panjang dengan total jarak tempuh 400 kilometer dan waktu tempuh 7 jam. Sepertinya hari ini bakalan panjang, apalagi sambil melewati imigrasi kedua negara yang ane gatau bakalan berapa lama.

Perjalanan Bangkok - Aranyaphratet sejauh 250 km berlangsung selama 3 jam.  Begitu meluncur dari Bangkok, suasana jalanan lumayan lancar. Tapi, tidak lama kemudian, mulai banyak kendaraan yang keluar, terutama truk-truk besar. Selama perjalanan, ane bisa lihat pemandangan sawah hijau dan beberapa desa kecil. Sesekali, ane juga lewat pasar-pasar lokal yang ramai dengan aktivitas.

Mendekati Aranyaprathet, jalanan mulai sedikit lebih macet. Banyak kendaraan yang menuju perbatasan, jadi agak terasa padat. Di sinilah ane mulai merasakan nuansa menjelang perjalanan ke Kamboja. Akhirnya sampailah kami di titik akhir sebelum imigrasi keluar Thailand dan kita semua diminta turun. Ane dan Alfi nggak menjumpai masalah berarti di imigrasi keluar Thailand. Selanjutnya menggunakan mobil van yang sama kita dibawa ke suatu tempat dan diarahkan untuk mengisi kartu kedatangan negara Kamboja. Ane disini sekalian jajan karena udah lumayan laper.

Berhenti disini untuk mengisi kartu kedatangan Kamboja

Kartu kedatangan Kamboja. Kartu ini harus diisi lengkap dan bersama paspor diserahkan kepada petugas imigrasi.

Dari sini, kami dibawa ke imigrasi masuk Kamboja yang berjarak sekitar 500 meter dengan mobil bak terbuka. Saat itu mobil bak benar-benar penuh teman-teman dari berbagai kewarganegaraan (Jerman, Perancis, Jepang, Korea). Sampai imigrasi masuk Kamboja, perjuangan selanjutnya dimulai.

Gerbang 'Selamat Datang Kerajaan Kamboja'

Berjalan kaki menuju Imigrasi Kamboja

Saat itu kami melihat antrian imigrasi yang sangat panjang, bahkan sampai melebihi lorong antrian ke jalan raya. 

'Wah la ini.. wes... Bakal lama..' keluh ane dalam hati.

Ane mulai berdiri di belakang bule-bule yang berbadan besar. Dari mulai panggul tas backpack, sampai nggak kuat dan ane seret-seret dibawah saking lamanya. Beberapa traveler lain terlihat sangat kelelahan sampai duduk di lantai. Dengan kecepatan siput akhirnya 2 jam kemudian kami mendapatkan stempel masuk negara Kamboja hhh.....kami disambut dengan kota kecil yang berdebu. Meskipun memiliki aksara yang hampir mirip - Thai dan Khmer - ane sadar ane udah memasuki negara lain. Artinya bahasa lain, mata uang lain dan budaya lain. Mata uang resmi di Kamboja sendiri adalah USD dan Riel Kamboja. Jadilah di perbatasan itu ane menukar beberapa USD ke riel karena pengen punya uang pecah juga.

Suasana Kota Poipet

Setelah semua rombongan di mobil travel selesai urusan imigrasi, perjalanan kami berlanjut dari Poipet ke Siem Reap dengan bus yang lebih besar. Jarak yang masih harus kami tempuh adalah 150 km dengan jarak tempuh 2,5 jam. Begitu keluar dari perbatasan, suasana jalanan langsung terasa berbeda. Jalanan yang berdebu menyambut kami, dengan kondisi aspalnya tak sepenuhnya mulus. Selama perjalanan, ane melihat banyak rumah sederhana dari bambu berdiri di kiri dan kanan jalan. Anak-anak kecil berlarian di sekitaran rumah, mengenakan pakaian lusuh. Mereka tampak ceria meski hidup dalam kondisi yang jauh dari cukup. Beberapa dari mereka melambai ke arah mobil kami, menambah kehangatan suasana.

Supir kami menjelaskan bahwa Kamboja masih tergolong miskin. Banyak fasilitas yang ada di sini masih di bawah standar, mulai dari jalanan hingga pendidikan. Ane bisa merasakan betapa sulitnya kehidupan bagi sebagian besar masyarakat di daerah pedesaan. Semangat mereka, meskipun dalam keterbatasan, sangat menginspirasi. Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga membuka mata ane tentang kondisi kehidupan yang sangat berbeda. Ane merasa beruntung bisa menyaksikan langsung realitas ini, meski penuh dengan tantangan. Meskipun ada banyak hal yang perlu diperbaiki, keceriaan anak-anak dan ketahanan masyarakat membuat perjalanan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Kamboja, dengan segala keindahan dan tantangannya, meninggalkan kesan mendalam di hati ane. Titik air mata tanpa sadar menetes dari sudut mata ane. Ane emang nggak kaya, bahkan masih mahasiswa. Tapi paling nggak bisa kalau melihat sesuatu yang seperti ini. Padahal mungkin saja hidup mereka baik-baik aja dan bahagia kan....

Suasana Kota Poipet

Suasana Kota Poipet

2,5 jam kemudian kami telah sampai di pool travel di Kota Siem Reap. Disitu kami langsung dikerubungi oleh orang-orang yang menawarkan jasa taksi maupun tuk-tuk. Karena ane dan Alfi belum booking tempat untuk kita nginap malam itu, kami ditawari oleh supir taksi penginapan yang katanya seharga 1000 baht. Karena merasa tarifnya masih masuk kami OK-kan saja. Bapaknya menyuruh kami menunggu sebentar untuk dicarikan barengan. Dan akhirnya ane dan Alfi bareng sama 2 orang bule yang sepertinya mau ke penginapan yang sama. 

Beberapa saat setelahnya kita berangkat naik mobil dan sampai di penginapan tersebut. Sampai disana kami disuruh menunggu dibawah, sedangkan si bapak sibuk bolak balik nganterin si bule lihat kamar. Kami benar-benar dicuekin sampe akhirnya Alfi angkat bicara,

"And how about us?"

"Oke-oke you two follow him," katanya menunjuk pemuda lokal yang sepertinya pekerja di hotel ini.

Hhh.. akhirnya! Setelah daritadi yang diurusin si bule terus!

Kita dibawa ke kamar atas, dan menurut ane udah lumayan bagus lah. Kamarnya lumayan besar dengan twin bed dan TV tabung. Sudah sangat cukup bagi kami berdua. Toh hanya berencana 2 malam saja disini sebelum kembali ke Bangkok lagi. Kami melakukan pembayaran dan setelahnya langsung melemparkan diri ke kasur. Hhhh....benar-benar melelahkan hari ini.

Penginapan kami di Kota Siem Reap

Sesaat kemudian kita berdua menyadari kita laper banget. Setelah diskusi sesaat, akhirnya ane usul ke Alfi, gimana kalau kita coba cari ke bawah. Siapa tau ada warung gitu kan. Ternyata ada warung lokal yang jual, dan kita memesan nasi telur. Pemuda yang mengantarkan kita ke kamar bernama Chon, dia ikut kita ke warung sambil bawa kamus. Katanya mau belajar bahasa Inggris, hehehe.. Alfi dengan sigap mengajarinya beberapa kata.

Alfi dan Chon

Nasi telur, makanan pertama kami di Siem Reap

Selesai makan, akhirnya kita putuskan jalan-jalan melihat Pasar Malam Angkor yang berjarak 500 meter dari penginapan. Kami berjalan kaki dengan suasana malam yang hangat dengan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala, menciptakan suasana yang semarak.

Begitu tiba di pasar, kami langsung disambut oleh hiruk-pikuk suara pedagang dan pengunjung. Aroma makanan khas Kamboja yang menggugah selera menyambut kami. Di sepanjang jalan, ada deretan stan yang menjual berbagai pernak-pernik, mulai dari gelang dan kalung yang terbuat dari bahan lokal, hingga selendang yang indah, baju-baju bertuliskan Kamboja, dan sebagainya. 
 Saat berkeliling, tawaran massage dari beberapa stan semakin menggoda. 
Ane sebenarnya sangat ingin mencoba, apalagi kaki ane masih berasa banget capeknya habis menjelajah Kota Bangkok kemarin. Namun, saat itu, ane teringat bahwa baru kurang dari tiga minggu yang lalu, ane menjalani operasi mengeluarkan patahan jarum yang terinjak. Jadi, meskipun pengen banget, hati ini ngeri-ngeri sedap. Takut kaki ane kepijet atau malah jadi makin sakit.

Berfoto di Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Suasana Pasar Malam Angkor

Kami terus berjalan sambil mengamati berbagai macam oleh-oleh yang ditawarkan. Ane lihat banyak kerajinan tangan yang indah dan makanan ringan yang unik. Meski kaki ane terasa berat, suasana pasar membuat ane melupakan rasa capek itu sejenak. Setelah berkeliling, akhirnya kami memutuskan untuk membeli beberapa barang sebagai kenang-kenangan. Ane sendiri membeli baju bertuliskan Kamboja dan beberapa barang kerajinan lokal.

Sekitar jam 10 malam, akhirnya kita pun kembali ke penginapan dan tertidur dengan nyenyak. Besok kita akan ke Angkor Wat, siapkan fisik!


PART Selanjutnya : DISINI

7.21.2024

[Part 1] Journey to BELITUNG : Batu Granit di Pantai Tanjung Kelayang

Setelah sukses pecah telur menggunakan 'Sriwijaya Travel Pass' pertama kali ke Ternate dari 27 April 2018 - 2 Mei 2018 lalu, ane memantapkan hati membeli tiket ke tujuan kedua, Pulau Belitung. Ane resmi membeli tiket dari Surabaya - Jakarta - Tanjung Pandan PP hanya dengan membayar Rp 385.000 pada 11 Mei 2018 untuk keberangkatan 8 hari kedepan, dimana biaya yang ane bayar hanya IWJR, admin, dan pajak. Base fare tiket pesawatnya gratis. 

Tiket ane Surabaya - Jakarta - Tanjung Pandan

Karena keterbatasan waktu libur ane, agan bisa liat tanggal keberangkatan dan kepulangan. Hanya selisih sehari! 😁😁. Berasa jadi sultan aja. Beberapa hari sebelum pergi ane juga udah booking Hotel Surya Belitung seharga Rp 120.000/malam dan udah janjian sewa motor juga. Penginapannya ane pilih memang yang di tengah kota supaya gampang kemana-mana dan gampang cari makan.


Surabaya, 19 Mei 2018

Pagi itu ane berangkat jam 4.15 dari kosan ane di Surabaya Pusat naik motor. Sampai di Bandara Juanda setengah jam kemudian dan ane merasa lapeerr banget karena belum sempat sarapan. Ane berencana beli sarapan yang murce-murce aja nanti pas transit di Jakarta. Ane tidak menemui kendala berarti sewaktu check in, dan penerbangan Surabaya - Jakarta berlangsung dengan lancar selama 1 jam 10 menit. Ane landing di Jakarta sekitar jam 06.30 dan punya kesempatan transit sampai jam 08.00.

Segera saja ane keliling dan mencari tempat sarapan murah. Kenapa harus cari yang murah? Karena dengan SJ Travel Pass ini kan ane bakalan sering pergi-pergi random gini, jadi ane harus pandai berhemat supaya gak boncos. Pencarian ane akhirnya ketemu dengan Roti'o seharga Rp 12.000/roti dan sebotol air mineral seharga Rp 8.000. Sebenarnya sama sekali tidak mengenyangkan, namun yah ini satu-satunya pilihan ane untuk berhemat hehe. 

'Udahlah nanti aja makan beratnya pas udah sampai di Belitung,' hibur ane dalam hati.

Duduk-duduk sebentar, sekitar jam 08.00 akhirnya sudah ada panggilan untuk penerbangan Jakarta - Tanjungpandan (Pulau Belitung). Pesawat yang digunakan ternyata Boeing 737-500, kayak versi mini dari 737-800. Penerbangan berlangsung selama 1 jam 15 menit dan ane mendarat dengan aman di Bandara H.A.S Hanandjoeddin di Pulau Belitung. Salah satu yang membuat ane cukup prihatin sebelum landing adalah di Pulau Belitung ini terlihat begitu banyak lubang-lubang penambangan berwarna putih (yang setelah ane googling adalah penambangan bijih timah dan bahan galian seperti pasir kuarsa, pasir bangunan, kaolin, batugunung, tanah liat dan granit). Ane nggak tau itu masih beroperasi produksi atau nggak, tapi terlihat belum direklamasi sehingga menimbulkan lubang-lubang atau bahasa sananya disebut 'kolong'. Sedih banget lihatnya....

Bandaranya cukup kecil, dan karena belum sempet browsing ane sempet kebingungan harus naik apa ke pusat kota Tanjung Pandan yang jaraknya sekitar 15 km dari bandara. Saat itu kebanyakan penumpang lain sudah dijemput sama keluarganya naik mobil pribadi. Sebenarnya cukup banyak taksi yang menawari, namun karena ane ingin berhemat, ane lebih pengen naik DAMRI yang infonya tersedia. Ane segera nanya ke petugas keamanan bandara dan diarahkan ke tempat naik bis damri.

Sesaat kemudian ane menemukan bus DAMRI tersebut. Suasananya sepi, dan tidak terlihat adanya penumpang lain yang ikut mengantri. Ane masih mikir, oh mungkin masih nunggu penumpang lain kali ya. Namun beberapa saat kemudian ane melihat supir dan keneknya udah masuk, dan ane pun dipersilahkan masuk dimana itu penumpangnya bener-bener cuma ane sendirian wkwkwk.

Supir dan keneknya lumayan baik, mereka menjelaskan kalau emang biasa ga ada penumpang seperti itu sehingga mereka akan jalan ke kota menyesuaikan dengan ada/tidaknya penumpang. 

"Ohh.. emangnya nggak rugi ya pak DAMRI-nya kalau gitu?"

"Ya sebenarnya rugi mbak. Jaraknya kan lumayan 10 km. Tapi ya kita harus tetap melayani masyarakat," jawab pak supir.

"Hmm betul juga ya pak," Jawabku.

"Trus mbaknya sendirian ke Belitung sini? Dari mana?" 

"Surabaya pak. Iya pak sendiri. Cuma 2 hari aja, besok udah pulang. Ini karena tiket pesawatku kesini gratis pak," jawab ane karena ga mau dikira terlalu sombong kok 2 hari doank disini wkwk.

"Wah keren ya mbak, nanti kunjungin A, B, C aja mbak," katanya sambil menjelaskan spot-spot yang wajib ane kunjungin selama di Pulau Belitung.

"Baik siap pak."

"Mbaknya nginap dimana? Nanti kita akan turunkan didepannya."

"Saya di Hotel Surya pak. Di dekat bundaran. Oya untuk tarifnya ini berapa ya pak?"

"Terserah aja mbak, dari mbaknya?"

'Lo, terserah? Bukannya ada tarif resminya ya?' kata ane dalam hati. 'Oh mungkin karena ane satu-satunya penumpang dan diantarkan langsung ke tujuan kali ya. Kasi berapa ya enaknya?' kata ane dalam hati.

Pemandangan jalan dari Bandara ke Kota Tanjung Pandan yang ane ambil dari google street view.

Pemandangan jalan dari Bandara ke Kota Tanjung Pandan yang ane ambil dari google street view.

Pemandangan jalan dari Bandara ke Kota Tanjung Pandan yang ane ambil dari google street view.

Jalanan Pulau Belitung yang sepi membuat waktu tempuh untuk jarak 15 km itu lumayan cepat. Sebelum turun ane membayar Rp 100.000 dan mengucapkan terimakasih.

Meskipun masih jam 10 si empunya hotel mengizinkan ane check in lebih cepat. Hotel ane berupa hotel sederhana dengan 2 twin bed, sebuah meja kecil, dan kamar mandi luar. Sudah lebih dari cukup buat ane istirahat, karena bagi ane murah gpp asalkan bersih. Toh sesuai dengan visi misi ane setelah membeli Sriwijaya Travel Pass, mau backpackeran keliling nusantara dengan dana seminim mungkin yang penting dapat pengalaman sebanyak mungkin. 


Sesaat kemudian motor sewaan ane diantarkan, sebuah scoopy berwarna biru. Ane sempet istirahat di kamar dan browsing apa saja yang kira-kira harus ane lakukan setelah ini. Karena jujur datang ini ane masih buta banget dengan Pulau Belitung. Setelah browsing singkat akhirnya ane menemukan beberapa spot yaitu Mie Atep (untuk makan mie bangka), Danau Kaolin dan Pantai Tanjung Tinggi/Tanjung Kelayang. Oke, target dikunci.

Tujuan pertama ane adalah Mi Atep Belitung yang cuma berjarak 350 meter dari Hotel Surya. Berdasarkan browsing ane, makanan ini, di lokasi ini yang selalu direkomendasikan blogger-blogger buat nyoba mie khas belitung. Dan rasanya emang enyaaak manis-manis gurih, disempurnakan dengan guyuran es teh di kerongkongan yang kering.


Puas makan mie belitung, ane set google map + headset dan mengarahkan motor ke tujuan selanjutnya, Danau Kaolin. Melewati pusat Kota Tanjung Pandan, keadaan cukup padat sebelum akhirnya jalan menjadi sepi tapi muluss luar biasa. Pemandangan kanan dan kiri didominasi oleh perkebunan sawit. Sekitar 45 menit berkendara, sampailah aku di titik yang dimaksud google maps, eh tapi kok ane sama sekali ga menjumpai tanda-tanda bahwa itu tempat wisata. Gak ada plang tiket masuk, gak ada papan plang penunjuk, bahkan ga terlihat adanya orang sama sekali. Ane hanya melihat beberapa orang penambangan yang lagi duduk-duduk.

Danau itupun hanya terlihat seperti danau bekas penambangan dengan genangan air berwarna biru. Warna biru yang disebabkan oleh reaksi antara kaolin dengan air hujan. Karena ane bingung harus ngapain ditempat itu, ane hanya menfotonya sekilas lalu beranjak ke tujuan selanjutnya, Pantai Tanjung Kelayang.

Pantai Tanjung Kelayang berada di sisi barat laut Pulau Belitung, dan dari Danau Kaolin ane harus kembali lagi ke Kota Tanjung Pandan kemudian ke arah utara, menempuh jarak selama 2 jam. Sampai Pantai Tanjung Kelayang sebenarnya ane pengen langsung foto-foto, namun bingung karena pantainya lumayan sepi dan gak ada yang bisa terlihat dimintain tolong (ane belum kenal teknologi tripod kali ya). Akhirnya ane meluncur dulu ke sebuah warung di tepi pantai dan memesan rajungan saos padang 1/2 kg seharga Rp 75.000 dan sebutir kelapa. Hitung-hitung menyenangkan diri dulu lah ya, melepas dahaga di siang terik ini. Sewaktu makan ini ane kembali berpikir, 'gimana ya caranya ane mendapatkan foto-foto yang bagus kalau jarang ada orang gini. Apa ane bayar 50rb buat orang foto-fotoin ane sebentar gitu ya?' pikiran yang langsung ane tepis karena ane malu hehehe. 

Btw sembari bingung, ane benar-benar menikmati sajian rajungan saos padang ini. Daging rajungannya masih fresh jadinya benar-benar berasa gurih dan manis. Beberapa saat makan, ane tersadar sesuatu,

'eh ladelah ini kan bulan puasa ya. Kok bisa ane sesantai ini makan rajungan sama minum es kelapa didepan warung. Harusnya ane makan didalam warung aja yah.'

Pemikiran itu membuat ane mempercepat makan karena nggak enak. Untungnya kondisi pantai lagi agak sepi juga.

Selesai makan, ane bergeser ke spot batu granit didepan sana. Karena apalah artinya mengunjungi Pulau Belitung tanpa berfoto-foto di batu granitnya yang terkenal itu. Ane jalan kaki kesana dan lagi-lagi menjumpai tempat itu sepi banget. Ane sempet duduk sebentar, memainkan kaki di air laut yang berwarna hijau muda. Sesaat kemudian ada sekelompok pemuda (sepertinya traveler juga) yang datang dan ane langsung gercep minta mereka menfotonan ane. Jadilah foto-foto dibawah ini, terimakasih gan. Ane bersyukur setidaknya udah ada foto-foto kenangan dengan batu ini.

Selanjutnya ane jalan keatas, melalui celah-celah diantara bebatuan tersebut. Ane terus mengingatkan diri untuk super hati-hati, jangan sampai terpeleset karena ane gak mau cidera karena kekonyolan ane sendiri. Sampai di puncak batu ane banyak menfoto pemandangan sebelum akhirnya turun ke bawah.

Selanjutnya ane masih menghabiskan waktu beberapa saat di Pantai Tanjung Kelayang ini sebelum memutuskan buat pulang kembali ke kota Tanjung Pandan karena hari sudah mulai sore. Ane sempet berhenti bungkus makan malam sebelum sampai hotel. 

Thank you myself for be brave to solo explore today. Besok targetku adalah menjelajah Belitung Timur, ke sekolah Laskar Pelangi

7.19.2024

[4] Aloha Hawai'i : Minta Izin Kerja ke Atasan

Menuju : PART 3

 Konsulat Amerika: "oke selamat visamu disetujui bisa diambil dlm 5 hari kerja"

Galuh: "terimaksih bapak, eh.... mister. Bisakah sy ambil besok? Sy akan ambil disini visanya." (soalnya ndengerin orang yg diwawancara sblm aku, dy bs lgs ambil visanya besoknya)

Konsulat Amerika: bisa tp jam 14.00 ya. Sambil memberi kartu kuning dan catatan kecil.

*****

Aku membawa lembar konfirmasi persetujuan Visa Amerika-ku keluar dari Gedung Konsulat Amerika Serikat dengan hati-hati, kulewati setiap penjaga dengan sopan dan menebarkan senyum. Perasaanku saat itu adalah perasaan bahagia yang datar... Bagaimana ya? Aku bahagia. Aku senang visaku granted, berarti sudah tidak ada yang menghalangi lagi keberangkatanku ke Hawai'i, namun ada sesuatu sangat besar yang sangat mengganjal hatiku saat itu...

...........Bagaimana caraku mendapatkan Izin Kerja........

'Aku mendapatkan visa ini (11 September 2017).... keberangkatanku ke Hawai'i berarti tinggal 7 hari lagi (18 September 2017) dimana aku akan disana sampai 23 September 2017...Bagaimana aku mendapatkan izin tidak masuk kerja selama seminggu??!! 

Padahal pekerjaanku sekarang adalah sebagai pegawai dengan jadwal kerja Senin - Jumat jam 07.00-15.30. Hampir mustahil mendapatkan libur satu minggu kecuali setahun sekali saat Idul Fitri...Oh my.....

'Bagaimana aku mempunyai muka untuk menghadap atasanku untuk (lagi-lagi) minta izin tidak masuk kerja?? Setelah sebelumnya sudah pernah izin juga?'

'Oh....my...what should I do??'

'Apakah aku menunda saja perjalanan ini di liburan panjang (Idul Fitri) tahun depan?? Yang penting kan aku sudah pegang Visa Amerika. Tapi...... Awwwwggg.....  tinggal seminggu lagi mimpiku selama puluhan tahun akan menjadi nyata, aku harus menunggunya setahun lagi?? huhuhu'

Batinku sangat berkecamuk, aku seperti dihadapkan pada situasi yang sangat bimbang. Benar-benar tidak tau apa yang harus kuperbuat...Beberapa bulan yang lalu, aku sempat berpikiran untuk 'berbohong' kepada atasanku untuk bisa mendapatkan izin. Aku sempat punya ide, 'bagaimana kalau aku bilang aku sakit cacar, DB, atau apapun itu? Bukankah kalau sakit yang seperti itu biasanya lama, bisa seminggu atau dua minggu?' Tapi setelah kupikir-pikir, itu sangatlah salah dan tidak etis. Yang pertama, aku tidak ingin menyumpahi diriku sendiri untuk sakit. Yang kedua, kalau atasanku sampai tau aku berbohong, aku ragu dia akan memaafkanku, atau setidaknya memandangku dengan sama. Selamanya aku akan dicap sebagai pembohong. Aku langsung menepis jauh-jauh pikiran itu. Lagipula, di era medsos seperti ini, jejakku sangat mudah untuk dilacak. Nggak mungkin juga kan... selama seminggu penuh di Hawai'i, aku tahan untuk nggak buat status sama sekali karena takut ketahuan berbohong. Ahhhh, aku nggak mau mengambil jalan ini.'

Seperti generasi milenial pada umumnya yang ingin eksis, sembari menunggu taksi yang kupesan lewat telfon datang, aku mengupdate status Instagram tentang keberhasilan mendapatkan visa Amerika-ku. Beberapa teman memberiku selamat, dan bilang, 

"Selamat Luh."
"Keren Luh."
"Akhirnya mimpi lamamu jadi kenyataan, Luh."
" Wah...selamat datang di Hawai'i..."

Di komentar terakhir, aku menjawab dengan lemah, "Sepertinya belum akan berangkat tahun ini bu, nunggu tahun depan...." 

Dengan lamunan dan kegalauanku yang tiada henti, akhirnya taksi pesananku datang. Aku memang tidak membawa transport sendiri ke Konsulat, karena memang disana tidak disediakan tempat parkir. Cukup mahal biayanya, namun jujur saat itu aku nggak begitu peduli.....

2 hari kemudian....

Waktu keberangkatanku semakin dekat,
Aku memutuskan aku harus jujur kepada atasanku (Pak Y)!
Aku harus jujur mengatakan bahwa ini adalah mimpi lamaku, yang sudah kupendam belasan tahun, aku harus jujur aku mau mengajukan izin tidak masuk kerja selama 1 minggu.

Aku sudah sadar konsekuensinya. Atasanku pasti akan berkerut dahinya, pasti akan merasa berat hati...pasti akan merasa aku ini pekerja yang sungguh 'seenaknya sendiri', sering izin hanya untuk 'bersenang-senang'. Aku sadar konsekuensi lainnya juga, teman-temanku mungkin akan nyinyir denganku. Dengan kekeraskepalaanku dan ketidaktaumaluanku. Namun setidaknya, dengan jujur hatiku tenang. Aku tidak perlu menyembunyikan apapun..

Hati kecilku mengatakan, sebelum bertemu Pak Y, aku harus bertemu Pak A dahulu. Pak A adalah bawahan Pak Y, aku mau meminta sarannya gimana cara ngomongnya ke Pak Y. Kebetulan Pak A menurutku orangnya cukup easy going dan bisa berpikiran terbuka. Aku menunggu sore hari, saat pekerjaan sudah longgar untuk mengajak ngobrol Pak A.

Sore akhirnya datang, dan aku melihat Pak A lagi santai. 'Inilah kesempatanku,' kataku dalam hati. Kakiku terasa berat dan terkunci di lantai. Pernah gak kalian merasakan pengen banget melakukan sesuatu, tapi sekaligus sangat tidak pengen melakukannya wkwkw... 

Aku mengangkat tubuhku dengan berat dan mendekati Pak A. Aku bilang dengan lirih, 

"Pak boleh bicara sebentar?" Ujarku dengan jantung yang semakin dag dig dug.

"Boleh, ayo disana," kata Pak A sambil menunjuk bangku di pojokan yang tidak terlalu banyak orang.

Aku duduk, menelan ludah, memantapkan hati, dan mulai bicara. Ini mungkin bakal jadi pembicaraan yang agak absurd bagi Pak A😁.

"Pak mohon maaf sebelumnya ya. Bapak pernah nggak punya mimpi yang udah puluhan tahun mengendap? Dan itu berpotensi menjadi nyata di depan mata kita, namun masih ada 1 penghalang. Jadi gini ceritanya pak. Saya udah punya mimpi ke Hawai'i sejak SMA. Kemarin saya dapat tiket promo pembukaan rute dari Air Asia, dimana harganya cuma 2,7 juta PP. Visa amerika juga saya sudah dapat barusan pak. Cuma saya bingung gimana caranya saya bisa dapat izin kerja pak. Karena tiket promo saya itu berangkatnya senin (18 September 2017), pulangnya senin (23 September 2017)," cerocos ane tanpa henti.

Pak A terlihat diam sejenak, kemudian membalas,

"Ya kalau saya sih gpp Luh, cuma ini semua kan tergantung Pak Y sebagai atasan. Coba kamu temuin dan ngomong langsung ke Pak Y."

"Iya pak, tapi gimana kira-kira reaksinya ya Pak?"

"Saya ga tau Luh, coba kamu temuin dan ngobrol dulu aja," Pak A menjawab dengan sabar.

Izin kerja 'seminggu' ke atasan. Created by AI.

Ane mengucapkan terimakasih ke Pak A. Selanjutnya ane tidak ingat pasti apakah langsung sore itu menghadap Pak Y atau masih besoknya. Jujur ane agak kurang nyaman menceritakan detail peristiwa menghadap Pak Y karena ane nggak enak bangett😕😕. Ane sadar ane kok seenaknya banget izin kerja begitu, meskipun belum dapat cuti. Intinya Pak Y akhirnya menyetujui (mungkin dengan berat hati) dan memintaku ke administrasi untuk mengaturnya. Huaaa maafin aku Pak Y. Terimakasih yaa..🥲🥲🥲.

Jadilah semuanya sudah siap. Tiket, visa, itinerary, izin kerja. Aku siap berangkat!

[1] Journey to TERNATE : Pantai Jikomalamo dan Danau Tolire

Indahnya Pantai Jikomalamo.....

Setelah resmi membeli paket membership Swirijaya Air (Sriwijaya Travel Pass), hal pertama yang ane lakuin tentunya adalah hunting tiket. Kenapa hunting? Karena meskipun kita udah punya Sriwijaya Travel Pass, namun tidak semua tanggal itu harga base fare tiketnya gratis. Ada yang gratis, ada yang masih berbayar murah, bahkan berbayar normal. 

Ane sebenarnya masih belum menentukan, mau mengunjungi daerah mana karena ane belum memetakan tanggal liburan. Namun setelah berpikir sejenak, ane rasa ane pengen mengunjungi tempat yang sama sekali belum pernah kesana. Setelah berpikir sejenak, ane memutuskan : MALUKU UTARA yakni Pulau Ternate. Seru juga kayaknya kesana. Ane langsung saja booking tiket pesawatnya. Saat itu ane beli di tanggal 26 April 2018 jam 3 pagi untuk keberangkatan tanggal 27 April jam 6 pagi dengan rute Surabaya - Makassar - Ternate. Busett, berarti besok berangkatnya! Wkwk.. Ya tapi inilah keuntungannya beli Sriwijaya Travel Pass, kan? Kita bisa random aja tiba-tiba pergi, wong base fare tiket pesawatnya gratis. Cuma bayar pajak, IWJR, admin aja hihihi.

Saat itu total yang harus ane bayar untuk tiket pesawat Surabaya - Ternate adalah Rp 425.800 untuk perjalanan pulang pergi. Ane rencana berangkat tanggal 27 April 2018, dan pulang dari Ternate tanggal 29 April 2018. Iyaa cuma 2,5 hari karena keterbatasan waktu liburku karena saat itu ane masih kerja kantoran.. hikzz..

27 April 2018
Hari ini adalah keberangkatan ane ke Ternate. Jadwal pesawat ane adalah jam 6 pagi, artinya, ane harus berangkat super pagi dari kos. Saat itu ane masih kos di Surabaya Pusat, jadi ane berangkat ngojek sekitar jam 4.25.

Ane sampai T1 Bandara Juanda tepat waktu dan tidak menjumpai masalah berarti saat check in. Ane langsung mendapatkan 2 boarding pass yaitu Surabaya - Makassar, dan Makassar - Ternate. Ane dijadwalkan transit di Makassar selama 1 jam dan dijadwalkan mendarat di Ternate tepatnya di Bandara Sultan Babullah jam 12.15 WIT.

Suasana pagi itu di Bandara Juanda. Foto itu adalah pesawat Sriwijaya Air yang akan membawaku terbang ke Makassar.

Transit di Makassar. Ini adalah pesawat Wings yang ane foto pas turun dari Sriwijaya. Pesawat ane dari Makassar ke Ternate tetap menggunakan Sriwijaya Air 

Penerbangan berlangsung dengan mulus selama total 3 jam. Oya sebelum pesan tiket pesawat, ane sempet nanya-nanya di grup Backpacker tentang Ternate dan ada satu kakak ini - Kak Ai - yang menawari menemani ane berkeliling pulau. Jadi rencana Kak Ai akan jemput ane pas landing, dan langsung diajak berkeliling. Ane langsung setuju karena setelah mencari informasi di grup, Kak Ai ini udah sering nganterin traveler keliling Ternate. Ane sendiri ga punya klue mau diajak kemana karena ane sendiri ga bikin rencana perjalanan. Kak Ai sendiri sebenarnya bukan agen tour resmi yang sudah ada tarif pastinya, tapi dia lebih ke pemuda lokal yang siap mengantarkan traveler-traveler untuk keliling Maluku Utara. Jadi masalah berapa tarifnya? Saat itu lebih ke kesadaran dan keikhlasan dari para traveler aja.

"Selamat datang di Bandara Sultan Babullah di Ternate. Waktu menunjukkan pukul 12.30 WIT. Syukur doku-doku ngoni sudah terbang dengan Sriwijaya Air," seru pramugari saat ane sudah mendarat. Lokasi bandaranya ternyata berada di tepi laut persis. Dan sejak mendarat ane udah disambut dengan gagahnya Gunung Gamalama yang menjulang tinggi. 'Kayaknya bakal cantik banget ini pulau,' kata ane dalam hati dengan excited.

Sambutan Gunung Gamalama dari Bandara Sultan Babullah Ternate

Langit yang sangat cantik❣️

Keluar dari area kedatangan bandara, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mendekati ane,

"Mau naik ojek mbak ke pusat kota?"

Ane langsung aja jawab dengan agak cuek, "Oh nggak kak, uda dijemput temen."

Tanpa ane sadar bahwa itu adalah Kak Ai yang ngerjain ane wkwk..

"Woalah.. Kak Ai! Hahaha. Maaf-maaf kak.Salam kenal ya, aku Galuh."

Kak Ai hanya ketawa aja setelah ngerjain ane, dan selanjutnya kita segera motoran ke pusat kota untuk check in penginapan dulu. Ane sendiri gatau penginapannya dimana karena semua diatur Kak Ai. Katanya penginapan ini murah, bersih, dan lokasinya di pusat kota (depan Pantai Nukila persis). 

Sepanjang perjalanan ane banyak bertanya-tanya tentang Pulau Ternate ini ke Kak Ai. Orangnya ramah dan selalu menjawab semua pertanyaan ane dengan jelas. Kesan pertama ane tentang Pulau Ternate ini adalah tenang, jalanan tidak terlalu ramai dan sedikit adem. Sepertinya ane bakalan suka disini. Karena belum makan siang, akhirnya kita mampir dulu di Kedai Ayam Bakar Jawa Timur yang menurut Kak Ai sih salah satu yang paling enak dan laris di Pulau Ternate. Selain rasa ayam bakarnya pas, nasinya juga bisa nambah sepuasnya, jadilah paket combo! Dan setelah ane berhenti dan makan emang enak banget, rasanya pengen nambah nasi terus hehehe..

Setelah makan akhirnya Kak Ai drop ane juga di Penginapan Santoso yang berada di seberang Pantai Nukila persis. Saat itu (2018) tarifnya adalah Rp 100.000/malam dan sesuai penuturan Kak Ai, tempatnya emang simpel, minimalis dan bersih banget. Sebenarnya lebih seperti kos sih, tapi karena terlalu bersih jadilah nyaman banget. Ibunya juga memelihara beberapa kucing yang lucu-lucu banget! Hehe.

Setelah check in, ane pikir kita bakalan santai-santai dulu. Tapi ternyata Kak Ai langsung minta ane ganti baju yang kotor karena kita bakalan langsung snorkeling di Pantai Jikomalamo. Ane seneng-seneng aja sih, wong semua sudah diatur hehe.. karena ane belum ada baju yang kotor, Kak Ai pinjemi bajunya dan kita berangkat ke Pantai Jikomalamo motoran. Sepanjang perjalanan pemandangan yang mendominasi adalah Gunung Gamalama, laut biru yang bersih, dan kehidupan yang cukup sederhana. Ane suka banget sih situasi kayak begini. 

Pemandangan sepanjang jalan ke Pantai Jikomalamo. Pemandangan inilah yang umum kita lihat saat berkeliling Pulau Ternate.

Sekitar setengah jam mengemudi, akhirnya kita sampai di Pantai Jikomalamo. Dan sampai parkirannya aja ane udah dibuat melongo dengan keindahannya.. Oh My Lorddd..... Airnya benar-benar biru bersih dan sejernih itu, ane bahkan bisa melihat dasar lautan dengan jelas. Disempurnakan dengan cantiknya sulur-sulur dari pepohonan dan Pulau Hiri yang berdiri gagah menjulang di depan..
Pemandangan Pantai Jikomalamo dari parkiran motor

Pemandangan Pulau Hiri dari Pantai Jikomalamo

Meskipun pemandangannya udah sebagus itu, dan airnya sejernih itu, Kak Ai bilang spot snorkelingnya bukan disini. Kemudian dia membawaku jalan lagi sekitar 100 meter melewati jalan setapak menuju ke bagian ujung pantai. Katanya disitulah spot snorkeling yang bagus karena banyak karangnya. Aku sih manut-manut aja.

Mengambil memori dulu sebelum snorkeling. Di belakangku itu adalah Pulau Hiri.

Sesaat kemudian kita telah sampai, dan tanpa menunggu lama Kak Ai yang udah bawa fin dan mask langsung ajak ane nyebur. Karena ane gak bisa renang, Kak Ai benar-benar pegangin dan dorong ane selama snorkeling wkwk.. berasa punya jet dalam air karena ane tinggal diam aja udah jalan. Saat itu kondisi laut sedikit kurang bersahabat. Ombak agak kencang sehingga membuat kondisi perairan agak keruh. Namun ane masih bisa melihat berbagai macam terumbu karang seperti karang lunak dengan warna-warna cerah, seperti kuning, merah, dan ungu; terumbu karang otak, terumbu karang meja dan sebagainya. Namun arus laut yang cukup kencang agak mengaburkan pemandangannya, ditambah mata ane minus wkwkwk..

Kami snorkeling sekitar 1 jam sebelum Kak Ai bilang arus semakin kencang jadi sebaiknya kita segera naik. Ane pun berbilas, membeli air tawar seharga Rp 20.000/galon karena kamar mandinya ga ada air tawar yang diangkut sampai sini.

Dari sini ane memantapkan diri sisa tahun 2018 akan ane gunain untuk keliling Indonesia.

Dari Pantai Jikomalamo, Kak Ai membawa ane melanjutkan petualangan ke sisi bagian barat Pulau Ternate, tepatnya ke Danau Tolire Besar. Perjalanan ditempuh dalam 15 menit dan begitu sampai, ane udah disambut danau dengan air kehijauan yang sangat cantik dengan background Gunung Gamalama yang untungnya sore itu tidak ditutupi awan. Ada legenda mistis yang berkembang di masyarakat Ternate terkait danau ini. Menurut cerita yang beredar, meskipun seseorang melemparkan batu sekuat dan sejauh apapun, batu tersebut tidak akan pernah mencapai tengah danau. Batu tersebut akan tetap terhenti di dekat tepi atau bahkan terperangkap di sekitar bibir danau, seolah-olah ada kekuatan yang menghalanginya untuk melintasi danau menuju bagian tengah. Ane sendiri mencoba melemparnya dan bisa ditebak, memang batunya tidak pernah mencapai tengah danau. Batunya seakan-akan menghilang saat sudah ditengah jalan.

Kepercayaan ini sering kali dihubungkan dengan kekuatan gaib atau alam yang diyakini melindungi bagian tengah danau. Beberapa orang meyakini bahwa kekuatan gaib tersebut berasal dari buaya putih yang dianggap sebagai penjaga danau, yang berperan untuk menjaga keseimbangan alam dan mencegah gangguan. Bagi sebagian orang, legenda ini juga mengandung pesan tentang keharmonisan dengan alam dan batasan-batasan yang harus dihormati. Oleh karena itu, danau ini sering dianggap sebagai tempat yang sakral dan harus diperlakukan dengan rasa hormat.

Danau Tolire Besar menghadap puncak Gunung Gamalama

"Bukan disini tempat fotonya, kita jalan sedikit keatas ya. Pemandangannya lebih cantik," kata Kak Ai sembari mengajakku berjalan ke sisi timur danau.

Kami selanjutnya berjalan menyusuri bagian timur danau. Ane juga melihat ada pegangan tangga dari bambu yang dibuat untuk akses ke bawah, ke arah danau namun terlihat sudah tidak terawat. Akses turun juga terlihat sudah dipenuhi sulur-sulur tanaman. 'Siapa pula yang mau turun kesitu, pasti rimbun banget,' kataku dalam hati.

Tidak lama kita telah sampai di sudut yang Kak Ai maksud dan memang dari sini pemandangan yang tersajikan jauh lebih cantik. Kami disambut pemandangan danau dengan air menghijau yang memantulkan sebagian bayangan tebing, laut biru di kejauhan, Pulau Hiri yang terlihat di horizon, dan udara segar yang terasa begitu menenangkan. Permukaan air danau yang tenang, dikelilingi oleh tebing dan pepohonan hijau yang rimbun, ane baru tersadar, Danau ini sebenarnya sangat luas!

Danau Tolire Besar dari sisi timur. Sangat Indah..

Bentuk danau yang juga terpisah dari lautan di sebelah baratnya (di foto bagian masuk foto) dapat ane simpulkan bahwa danau ini secara geologis merupakan danau vulkanik jenis kaldera, yaitu terbentuk setelah letusan besar dari gunung berapi yang menyebabkan bagian dari gunung tersebut runtuh atau meledak, membentuk cekungan yang dalam. Cekungan tersebut selanjutnya akan terisi air hujan atau air dari sumber lain, membentuk danau yang luas. Inilah yang terjadi pada Danau Tolire, yang memiliki bentuk cekungan yang luas dan dalam, hasil dari proses vulkanik tersebut. Aktivitas vulkanisme pada Danau Tolire Besar ini tentu saja tidak terpisahkan dengan aktivitas vulkanisme pada Gunung Gamalama sendiri.


Seperti gambar diatas, ibaratnya Gunung Gamalama adalah nomor 1, dan Gunung Tolire Besar (sebelum meledak dan menjadi kaldera) adalah nomor 2. Kemudian terjadilah ledakan dahsyat yang membuat Gunung Tolire runtuh dan membentuk cekungan, sebelum terisi air dan jadilah Danau Tolire seperti yang kita lihat sekarang.

Danau Tolire Besar dari sisi timur danau.

Namun bukan Indonesia rasanya kalau tidak berpisah dengan legenda dan mitos. Menurut cerita rakyat Ternate, Danau Tolire Besar terbentuk dari sebuah peristiwa yang melibatkan seorang putri cantik yang tinggal di sebuah kerajaan di Ternate. Putri ini sangat terkenal karena kecantikannya, dan banyak pangeran yang datang untuk melamarnya. Namun, putri tersebut menolak semua lamaran karena dia sudah jatuh cinta pada seorang pria biasa yang berasal dari desa lain.

Suatu ketika, sang putri dilarang untuk bertemu dengan kekasihnya oleh ayahnya yang sangat menginginkannya menikah dengan pangeran dari kerajaan lain. Karena merasa sangat cinta, sang putri merasa sangat kecewa dan marah. Dalam kesedihannya, dia memutuskan untuk melarikan diri bersama kekasihnya. Namun, perjalanan mereka tidak berjalan mulus karena mereka dihadang oleh peraturan kerajaan dan terpisah.

Dalam perasaan putus asa, sang putri akhirnya menangis tanpa henti. Tangisan putri itu mengalir deras, membentuk sebuah danau yang sangat besar di mana air mata kesedihannya menjadi danau yang dalam. Air mata ini menjadi Tolire Besar yang kita kenal sekarang. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa ketika putri tersebut melarikan diri, dia terjatuh ke dalam jurang yang kemudian terisi air, menjadi danau yang sangat luas.

Beberapa orang juga mempercayai kehadiran 'buaya putih' di Danau Tolire Besar. Beberapa orang dilaporkan sudah pernah melihatnya terapung di permukaan danau. Ada juga cerita bahwa setiap kali buaya putih muncul di permukaan danau, itu merupakan pertanda penting atau suatu peristiwa besar yang akan terjadi di Ternate. Beberapa orang bahkan menganggap bahwa buaya putih tersebut adalah roh penjaga yang menjaga keberlangsungan kehidupan di sekitar danau.Bagi sebagian orang, kehadiran buaya putih di Danau Tolire adalah tanda bahwa danau tersebut memiliki kekuatan magis dan harus dihormati. Masyarakat lokal sangat berhati-hati dalam berinteraksi dengan danau ini, karena mereka percaya bahwa buaya putih bisa membawa berkah atau malapetaka, tergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam sekitar.

Danau Tolire Besar yang banyak menyimpan cerita...

Dari Danau Tolire Besar, Kak Ai kembali memboncengku menuju Danau Tolire Kecil yang hanya berjarak sekitar lima menit berkendara. Danau Tolire Kecil, sesuai namanya, berukuran jauh lebih kecil dan letaknya berbatasan langsung dengan pantai. Ada semacam aliran air tersembunyi yang menghubungkan keduanya, menciptakan campuran rasa asin dan tawar dalam satu kawasan.

Setelah memarkir motor, kami berjalan menuju sebuah warung sederhana di tepi pantai. Meja-meja kayu menghadap langsung ke arah barat, di mana langit mulai menampakkan semburat oranye keemasan. Di sanalah kami duduk, bersandar santai sambil menikmati semilir angin laut yang membawa aroma garam dan suara debur ombak yang pelan-pelan mulai terdengar lebih jelas.

"Aku pesenin pisang mulut bebek ya? Itu khas sini. Sama kamu mau minum apa?" tanya Kak Ai sambil bersiap berjalan ke arah warung.

"Siap kak, aku teh panas aja kak," kataku.

Tidak lama ibu pemilik warung mengantarkan pesanan kami. Aku mencicipi kuliner pisang mulut bebek untuk pertama kalinya—pisang lokal yang bentuknya memang agak unik, yaitu kurus memanjang, tidak seperti pisang lainnya yang agak lebar. Pisang ini digoreng garing dengan balutan tepung tipis, dimana makannya ditemani dengan sambal dan kacang goreng. Rasanya jangan ditanya.... wahhh mantapnya. Pisangnya itu semacam Krenyes di luar tapi masih lembut didalam (tapi bukan benyek ya). Dan sewaktu dicolek sambel... Hmmmm... Ga ada lawan! Kami menyempurnakan sajian kuliner itu dengan menyeruput teh panas. Mantap! Benar-benar tempat yang sempurna untuk mengakhiri hari yang cukup melelahkan.

Selesai dari sini, karena langit sudah menggelap, Kak Ai akhirnya ngajak pulang. Di perjalanan menuju Penginapan Santoso, Kak Ai ngajak makan malam di ayam bakar yang sama dengan tadi siang. Ane sih ngikut aja karena memang seenak itu.. hehe.. jam 9 malam akhirnya petualangan ane selesai saat Kak Ai turunkan ane di Penginapan Santoso. 

"Besok aku jemput lagi ya!" Kata Kak Ai sambil pamitan.

"Siap, terimakasih kak..!" 


PART Selanjutnya : Disini