-
Assalamualaikum Oman
Kisah Perjalananku ke Oman -
KISAH PERJALANANKU DI RUSIA
Aurora, Huskey, Suku Samii, St. Petersburg dan Moscow -
KISAH PERJALANANKU DI EROPA
Islandia, Belanda, Italia, Yunani -
KISAH PERJALANANKU DI HAWAI'I
Eksplor Pulau Oahu
9.12.2016
Solo, 12 September 2016 : I Still Remember
9.09.2016
Video Travel : My Backpacking Journey to India and Nepal
This is my video about my journey in India and Nepal (June 29, 2016 till July 11,2016). We start my journey from Kochi (South India), then went north to Mumbai, Jaipur, Agra, Gorakhpur. From Gorakhpur we took a local bus to Sunauli (India - Nepal border) to enter Lumbini and then Kathmandu.
This is the most unforgetable n happiest journey I've ever done. This journey began with a child's dream to see Himalayan Mountain, and God's hand make it true with his own way.
Dont ever tired to running for ur dream.
Video Travel : My Backpacking Journey in Karimunjawa Island
This video is about my journey backpacking in Karimunjawa (May 6, 2016 - May 8, 2016). This journey is very memorable because of struggle we've done to make it true. Without announcement, suddenly our supposelly ship (Siginjai Ferry) is off that day. Otherwise, the only other ship, Bahari Express, ticket already sold out 3 months earlier. What we should do?
Luckily, Bahari Express sell extra ticket only for 80 people. We're really struggle even just for 1 ticket. But luckily all of us got ticket. We made it!!
9.05.2016
[3] Karimunjawa : Berangkat atau tidak?
9.01.2016
[5] FILIPINA TRIP: Kamera oh Dompet! (Finished)
Bandara Ninoy Aquino di Manila ini cukup luas dan bersih. Segera saja ane menuju konter check in Cebu Pacific untuk segera mendapatkan tiket dan menunggu dengan tenang. Semuanya lancar sampai ane membayar pajak penerbangan dan menuju gerbang imigrasi.
Perjalanan ke Filipina ini akhirnya menjadi penutup dari rangkaian petualangan luar negeri yang aku lakukan selama masa kuliah. Saat pesawat membawaku pulang ke Indonesia, aku sama sekali tidak menyangka bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan internasional terakhirku untuk sementara waktu.
Tahun 2013 hingga 2014 menjadi periode yang berbeda. Fokusku perlahan bergeser kembali ke bangku kuliah. Skripsi, tugas akhir, dan berbagai urusan akademik mulai menyita sebagian besar waktu dan pikiranku. Jika sebelumnya setiap tabunganku selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau tiket kereta menuju negara baru, kali ini prioritasnya adalah menyelesaikan pendidikan dengan baik.
Bukan berarti hasrat menjelajahku menghilang. Aku tetap bepergian, hanya saja sebagian besar perjalanan kulakukan di dalam negeri. Indonesia yang begitu luas ternyata masih menyimpan banyak tempat yang belum sempat aku kenal. Tahun-tahun setelah perjalanan ke Filipina justru menjadi masa ketika aku lebih banyak mengenal negeri sendiri dibandingkan mengejar cap paspor baru.
Pada pertengahan tahun 2013, tepat setelah menyelesaikan semester enam kuliah, aku diwajibkan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat pembagian lokasi dilakukan, aku mendapatkan penempatan di Atambua, Nusa Tenggara Timur, sebuah kota perbatasan Indonesia–Timor Leste yang saat itu terasa sangat jauh dari dunia yang kukenal. Pengalaman tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di sana menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama masa kuliah. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.
Awal tahun 2014, rasa rindu untuk kembali menjelajah muncul lagi. Bersama dua teman kuliahku, Arin dan Fredo, aku melakukan perjalanan backpacking menyusuri Pulau Timor. Perjalanan sederhana dengan budget mahasiswa itu justru menghadirkan begitu banyak cerita, mulai dari perjalanan darat yang panjang hingga pengalaman mengunjungi berbagai sudut Nusa Tenggara Timur yang sebelumnya hanya kulihat di peta. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 2014, aku kembali berangkat bersama dua teman kuliahku. Kali ini tujuan kami adalah Sulawesi Selatan. Penyebabnya cukup sederhana: kami berhasil mendapatkan tiket promo AirAsia seharga Rp10.000 pulang-pergi dari Surabaya. Sebuah harga yang bahkan sampai sekarang masih terasa sulit dipercaya. Kesempatan seperti itu tentu tidak mungkin kami lewatkan begitu saja. Kisah lengkap perjalanan ke Sulawesi Selatan bisa dibaca di sini.
Setelah itu, kehidupanku mulai memasuki fase yang berbeda. Tahun 2015 menjadi tahun yang nyaris tanpa perjalanan. Aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada pada masa transisi dari kehidupan mahasiswa menuju dunia kerja. Fokusku perlahan bergeser. Jika sebelumnya sebagian besar tabungan selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau ongkos perjalanan, kali ini aku mulai memikirkan hal-hal yang lebih mendasar: mencari pengalaman kerja, membangun karier, dan menata kondisi keuangan agar lebih stabil.
Bisa dibilang, tahun 2015 adalah tahun ketika aku lebih banyak berinvestasi pada masa depan dibandingkan pada perjalanan. Keinginan untuk bepergian tentu masih ada, tetapi aku menyadari bahwa ada waktunya untuk menjelajah dan ada waktunya untuk membangun fondasi terlebih dahulu. Karena itulah sepanjang tahun tersebut aku memilih untuk lebih fokus bekerja, menambah pengalaman, dan mengumpulkan kembali tabungan sebelum kembali melangkah ke negara berikutnya.
Di periode itulah aku belajar bahwa tidak semua impian bisa dikejar secara bersamaan. Ada saatnya bepergian harus mengalah pada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Aku bekerja, menabung kembali, dan perlahan menyusun hidup dari awal.
Hingga akhirnya, setelah hampir tiga tahun berlalu, kesempatan itu datang lagi.
Pada tahun 2016, aku kembali menginjakkan kaki di luar negeri. Kali ini bukan lagi sebagai mahasiswa yang berburu tiket murah, melainkan sebagai seseorang yang telah melewati fase baru dalam hidupnya. Tujuannya pun berbeda: India dan Nepal, dua negara yang sejak lama masuk dalam daftar impianku.
Dan tanpa kusadari, perjalanan itulah yang kemudian membuka babak petualangan berikutnya yang jauh lebih panjang.
Perjalanan yang kuberi judul, MENGGAPAI HIMALAYA..
[4] FILIPINA TRIP: Hari terakhir
Chinatown ini terletak di Distrik Binondo, dan ternyata merupakan Chinatown tertua di dunia yang didirikan pada 1594 oleh Gubernur asal Spanyol Luis Pérez Dasmariñas. Waahh, nggak nyangka ya ternyata ada di Manila? Justru bukan di negara-negara yang mayoritas Chinese macam Thailand ataupun Myanmar.
Chinatown ini didirikan sebagai kediaman permanen imigran asal China (orang Spanyol menyebutnya Chinese Sangleys) yang berubah keyakinan menjadi Katholik semenjak kedatangannya ke Manila. Awalnya para imigran China itu akan ditempatkan di Parian yang lokasinya juga dekat Intramuros. Parian merupakan area kediaman imigran China pertama kali. Tetapi Pemerintah Spanyol memberikan lahan yang lebih besar di Binondo kepada sekelompok pedagang dan pengukir China dengan perjanjian akan diberikan permanen, bebas pajak dan mempunyai gubernur sendiri. Mana bisa ditolak kan? Tetapi lagi-lagi tentunya Pemerintah Kolonial Spanyol mempunyai tujuan khusus dari semua kemudahan itu. Lokasi Binondo yang berada di dekat Intramuros tetapi di sisi seberang Sungai Pasig memang disengaja supaya pemerintah kolonial Spanyol tetap bisa mengawasi mereka. Tetapi sebenarnya lokasi ini merupakan pusat perdagangan orang China/keturunnanya sebelum Periode Kolonial Spanyol.
Romo asal dari Spanyol-Dominika menjadikan Binondo jemaah gereja mereka dan sukses merubah agama beberapa residen menjadi Katholik. Secara cepat Binondo kemudian menjadi tempat dimana imigran China mengubah keyakinannya menjadi Katholik. Mereka kemudian menikah dengan wanita pribumi Filipina dan mempunyai anak, dinamakan komunitas China Mestizo. Bertahun-tahun kemudian, populasi China Mestizo di Binondo menjadi semakin banyak. Hal ini disebabkan karena sedikitnya jumlah imigran wanita China serta kebijaksanaan Pemerintah Spanyol yang tidak segan-segan mengusir bahkan membunuh (dalam kasus konflik) para imigran China yang tidak mau mengubah agamanya.
Pengaruh kebudayaan China di Manila ini juga menyebar sampai ke Quaipo, Santa Cruz dan San Nicolas. Distrik Binondo sendiri merupakan pusat perdagangan di Manila, dimana semua tipe bisnis secara pesat dijalankan oleh keturunan Filipina-China. Hal ini tentulah tidak lepas dari sejarah tempat ini sendiri gan, yang sebelum Periode Kolonialisme Spanyol merupakan pusat perdagangan.
Gereja Binondo ini didirikan oleh Romo asal Dominika pada 1596 untuk melayani para Jemaah China yang merubah agamanya menjadi Katholik. Gedung asli gereja ini dihancurkan Inggris dengan pengeboman pada 1762. Pada area yang sama, dibangun kembali gereja dari granit yang selesai pada 1852 tetapi lagi-lagi hancur oleh Perang Dunia II, dimana hanya sedikit bagian dari gereja yang tersisa.
Ada sedikit kisah sedih berawal dari gereja ini. Saint Lorenzo Ruiz (ayahnya berasal dari China sementara ibunya dari Filipina) dilatih di gereja ini dan kemudian melakukan perjalanan misionaris ke Jepang. Disana dia dan teman-temannya mati martir karena menolak meninggalkan Katholik. Ruiz merupakan santo pertama dari Filipina, dan diangkat oleh Pope John Paul II pada 1987. Untuk mengingatnya, patung besar Saint Lorenzo Ruiz dipasang pada bagian depan gereja.
Mall of Asia (MOA) ini merupakan mall perbelanjaan yang terletak di Bay City, Pasay, Manila. Lokasinya yang berdekatan dengan Teluk Manila membuat pemandangan Kota Manila dari lantai atas terlihat sangat indah. Mall dengan luas area empat puluh dua hektar ini sukses menjadi salah satu mall terbesar di dunia. Bukan main-main, ratusan ruko dengan berbagai tawaran jasa maupun dagangan memang berjajar memanjakan mata. Bagi seorang kaya, tentulah bisa dengan mudah menghabiskan pundi-pundi uangnya disini.
Ane berkeliling lebih jauh, entah kemana ane tidak tahu. Melewati bioskop dengan berbagai tawaran film terbaru yang tidak terlalu membuat ane tertarik. Kaki ini berjalan tanpa arah dan tujuan. Melewati ratusan orang-orang yang sedang berbelanja atau sekedar nongkrong. Es krim adalah salah satu stan yang paling banyak berjajar di sudut-sudut mall, ane sempat membeli satu toping untuk melegakan tenggorokan yang mulai kering.
Mungkin saking besarnya, ane tidak juga menemukan toko oleh-oleh murah yang ane incar. Kakiku mulai lelah, kepala sedikit pening. Mungkin ane butuh istirahat. Duduk sejenak, ane melangkahkan kaki untuk mencari jalan keluar dari mall. Setelahnya ane memutuskan pulang dan beristirahat di guest house. Solo backpacking maraton dari Singapura - Malaka - Filipina ini cukup membuat kakiku bengkak-bengkak. Capek sekali. Tapi ane puas! Ternyata ane bisa menaklukkan semua ketakutan dan keraguanku untuk berjalan sendiri. Terimakasih Filipina!!









