Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.23.2014

Darimana sih dapat duit buat traveling terus, Luh??



“Darimana si Luh kamu dapat duit dari traveling?”
“Support dana traveling dari orangtua ya Luh?”
“Galuh itu anaknya orang kaya ya, kok kayaknya bisa ke luar negeri terus?”

Adalah pertanyaan yang sering banget ane terima dari temen-temen gan, terutama yang nomor satu. Dan selama ini, ane selalu jawab dengan jawaban yang sama, “Dari beasiswa bulanan kok, ane sisihkan sebagian buat traveling.” Dan mereka setengah nggak percaya gitu, yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, “Emang beasiswa kamu sebulan dapet berapa?”

Nggak tau kenapa, ane merasa paling sedih itu kalau ditanyai pertanyaan nomor dua gan. Kesannya jadi ane seperti anak yang cuma bisa minta duit orangtua terus buat seneng-seneng sendiri,jalan-jalan ke luar negeri, meskipun itu cuma pikiran ane sendiri. Ane yakin temen-temen nggak berpikiran seperti itu.

Oke gan ane jelaskan sebelumnya, ane bukan anak orang kaya. Keluarga ane biasa banget dan pas-pasan. Keluarga ane sampai sekarang belum punya rumah dan masih ngontrak dari saudara ane. Bapak ane bekerja di sebuah perusahaan swasta bidang produksi mesin, sementara ibu ane ibu rumah tangga yang nyambi menjahit maupun membantu ‘momong’ bayi tetangga. Bapak Ibu ane bekerja keras banting tulang gan, buat memenuhi kebutuhan hidup. Bapak apalagi, kalau lembur bisa semaleman dan sampai lupa waktu maupun tenaganya. Terutama sejak kakak ane merencanakan pesta pernikahan yang selalu diidamkannya. Sebenarnya gue kasihan ma bapak ane gan, tapi ane nggak punya suara masalah pernikahan kakak ane.

Dengan semua kekurangan itu ane beruntung banget gan bisa kuliah di salah satu universitas negeri terkenal dengan beasiswa. Mendaftar dengan pesimis karena ane satu-satunya anak IPS yang berusaha masuk jurusan IPA bergengsi lewat jalur prestasi dengan saingan yang bukan main, ane berhasil masuk, luar biasa bukan gan jalan Tuhan buat ane? Ane juga nggak habis pikir gan sampai sekarang.

Sebenarnya pas masuk pertama kali, ane belum dapat beasiswa gan. Kebetulan saat itu ane punya sisa tabungan 8 juta dari hadiah lomba yang sengaja ane simpen buat kuliah, dan akhirnya harus ludes seketika saat buat bayar SPMA. Sedih? Nggak terlalu gan, karena saat itu ane belum bermimpi untuk bisa traveling ke luar negeri. Lagipula, orangtua ane saat itu juga nggak punya simpenan gan buat bayar SPMA yang seabrek ini.

Selang beberapa bulan kuliah, tiba-tiba ane ditawari beasiswa gan dari sebuah bank swasta yang bekerja sama dengan kemendiknas. Ikut tes coba-coba, sekali lagi ane beruntung gan bisa masuk dan akhirnya mendapatkan beasiswa itu. Ane benar-benar bersyukur atas semua jalan Tuhan ini buat ane. Beasiswa itu sendiri mencakup 2 kategori gan, yaitu biaya hidup bulanan yang ditanggung oleh bank dan biaya kuliah persemester yang ditanggung oleh kemendiknas. Jadi intinya, ane kuliah udah nggak ngeluarin biaya sama sekali gan. Benar-benar jalan yang begitu indah dari Tuhan buat ane.

Setelah mengurus berkas sana-sini, akhirnya beasiswa itu keluar juga gan hampir bebarengan. Ane tercengang saat melihat nominal yang diberikan oleh kemendiknas karena jumlahnya hampir 20 juta untuk setahun, padahal biaya kuliah ane aja cuma menghabiskan sekitar 5 juta setahun. Ternyata setelah ane telaah dan bandingkan dengan temen ane, biaya SPMA, SPP dan jas almamater sebesar 8 juta yang gue bayarkan di awal itu dikembalikan lagi gan. Bener-bener suatu berkat dan anugerah yang nggak terkira buat ane. Sebelumnya, uang bulanan dari bank juga keluar sebesar 4,5 juta.

Ane bingung gan! Sumpah bingung banget dengan semua uang itu. Seumur-umur, uang terbanyak yang pernah ane pegang adalah 10 juta sewaktu dapat hadiah lomba. Ane jadi bingung gan harus ngapain dengan uang itu.

Berpikir kesana-kemari, memori otak ane mulai menyelami mimpi-mimpi ane yang dulu pernah ane buat gan yaitu jalan-jalan ke luar negeri. Saat masa SMA, mimpi itu begitu menekan-nekan ane untuk diwujudkan, walau saat itu belum bisa karena uang saku ane yang hanya 4000 rupiah sehari hehehe. Akhirnya kesampaian juga ane ke Thailand, Kamboja dan Malaysia gan di tahun 2012 dengan sebagian uang tersebut (sekitar 4 juta).

Dengan uang itu juga ane memutuskan membeli sebuah kamera gan, yaitu Nikon Coolpix L120. Kamera merupakan barang yang dari dulu selalu ane idam-idamkan juga gan, akhirnya kesampaian juga. Setahun kemudian, ane sudah bisa membeli tiket ke India PP, membantu pembelian TV LCD, membeli sepatu lapangan, membantu pembelian sepeda ontel dan kasur buat ibu ane gan dengan uang yang sama. Ane bersyukur banget atas semua ini.

Ke India Agustus 2012, sama gan. Ane juga mengandalkan uang beasiswa bulanan ini. Ane akui memang kadang masi minta bapak ane buat biaya hidup,biasanya dikasi 150rb/minggu, sementara uang beasiswa bulanan itu ane tabung. Ke Singapura,Malaka, KL dan Manila tahun 2013 sama saja dengan tabungan uang beasiswa ane. Tapi bukan berarti semua uang beasiswa ane buat jalan-jalan gan, masih sering ane ambil sedikit-sedikit jika bapak belum bisa kirim uang.

Selain dari beasiswa, dari mana lagi gan?

Nah, selain uang beasiswa bulanan, sumber uang ane yang lain untuk traveling adalah gaji asisten gan. Kebetulan ane terdaftar jadi salah satu asisten olimpiade internasional bidang kebumian gan, dan gajinya lumayan. Kerjanya nggak terlalu berat gan, meliputi mengoreksi kerjaan olimpiade tingkat provinsi se-Indonesia; mengurus pelaksanaan olimpiade tingkat nasional (OSN) yang meliputi pengurusan soal, pengecekan lapangan untuk membuat soal praktek dengan dosen pembimbing, mengoreksi jawaban, rapat-rapat; selain itu juga menjaga pelatnas anak-anak yang mau olimpiade internasional gan. Selain gaji lumayan besar, ane juga sering dapat fasilitas wow gan, karena nginap di hotel-hotel mewah. Benar-benar suatu berkah lagi buat ane gan.

Dari gaji ngasisteni ini, bisa mengantarkan ane ke Singapura, Malaka, Filipina, sama NTT dua kali gan.
Sumber terakhir, dari keluarga gan. Bapa ane selalu nggak tega kalau ane mau berangkat traveling, karena dikira di luar negeri apa-apa mahal, sehingga biasanya ngasi tambahan ane beberapa ratus ribu pas waktu berangkat. Ane sebenarnya malu gan, karena ini buat kesenangan ane sendiri, tapi ane tetap terima aja dengan senyum-senyum hehehe.

Yah, begitulah gan cerita ane tentang ‘darimana ane dapat duit buat traveling’. Sebenarnya traveling itu nggak mahal gan, asal tahu cara-caranya. See you....

3.31.2014

[7] Cerita KKN Atambua 2013: Anak Timor menari Indang asal Sumatera Barat? Mengapa Tidak?


Tak terasa, berminggu-minggu kami lalui dengan lancar dan menyenangkan di Rinbesi Hat. Hati ini yang awalnya berat mulai betah tinggal di Timor, dan seakan sangat berat jika mengingat bahwa 3 minggu lagi kami akan pulang. Saat itu setelah libur lebaran, tibalah saatnya persiapan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68.  Apakah kami sebagai mahasiswa KKN akan diam saja menyambut hari besar itu? Tentu saja tidak. Kami mulai mencanangkan berbagai program khusus untuk menyambut hari lahir Indonesia ini. 

Adalah Mandira, salah seorang teman saya yang paling kreatif, memutuskan untuk mengajari  siswa/i SMP Rinbesi Hat Tari Indang untuk ditampilkan pada acara puncak peringatan 17 Agustus di Kecamatan Tasifeto Barat. Tapi karena jumlah penari yang ingin ikut terlalu banyak, maka Mandira terpaksa melakukan seleksi khusus untuk memilih penari. Seleksi ini dilakukan setelah dia mengamati semangat serta kelenturan siswa/i tersebut saat latihan. Dengan pertimbangan matang, akhirnya dipilihlah 12 siswa/i (6 laki-laki, 6 perempuan) untuk dilatih lebih lanjut Tari Indang.

 Suasana latihan sebelum dilaksanakan seleksi oleh Mandira

Indonesia itu kaya, kaya seni dan budaya, jangan hanya belajar budaya dari daerahmu saja. Perkayalah wawasanmu karena Indonesia itu membentang dari barat ke timur!

Mungkin itulah sekelumit kata-kata yang mereka dapatkan saat belajar Tari Indang ini. Sedikit cerita, Tari Indang  atau juga disebut Tari Badindin merupakan salah satu tari tradisional asal Minangkabau (tepatnya Pariaman), Provinsi Sumatera Barat yang sudah berkembang sejak abad ke 13. Udah tua banget ya? Bahkan lebih tua dari kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia. 

Tari ini sebenarnya merupakan suatu bentuk sastra lisan sebagai bentuk media dakwah saat masuknya agama Islam daerah Sumatera Barat. Karena fungsinya merupakan media dakwah, maka sastra yang dibawakan berasal dari salawat Nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Tari ini biasa dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang diulang-ulang, dimana gerakannya memiliki kekhasan serta keunikan gerak.

Oke itulah sedikit sejarah tentang Tari Indang. Bagaimanapun, setiap sore ane bisa melihat bahwa siswa/i SMP Rinbesi Hat ini sangat semangat dan antusias saat berlatih. Latihan memang biasa dilaksanakan sore hari di Kantor Desa, dengan frekuensi yang semakin sering saat mendekati 17 Agustus. Aku sangat salut dengan Mandira yang tidak pernah lelah saat harus mengulang-ulang terus gerakan, dia juga selalu sabar membimbing siswa/i ini karena ini merupakan hal baru bagi mereka.

Akhirnya setelah kurang lebih seminggu berlatih, tibalah saat perdana penampilan mereka yakni pada acara Malam 17 Agustusan, bahasa kerennya tirakatan. Penari perempuan menggunakan kaos putih dengan topi kertas berwarna emas, sementara penari laki-laki menggunakan kaos merah dengan topi kertas berwarna perak.





Kekompakan kerja sama siswa/i SMP Rinbesi Hat saat membawakan Tari Indang

Akhirnya mereka benar-benar tampil, dan ane bisa melihat bahwa Mandira telah mengajari mereka dengan sangat baik. Gerakannya benar-benar kompak, seperti yang sering ane lihat di TV. Ane merasa begitu bangga dengan Mandira dan siswa/i SMP Rinbesi Hat saat itu. Tepuk tangan riuh pun langsung menghujani mereka begitu tari selesai dilaksanakan. 

 Keesokan harinya, setelah upacara 17 Agustus selesai dilaksanakan, para siswa/i Rinbesihat kembali membawakan Tari Indang di depan tamu-tamu penting. Lagi-lagi, kekompakan mereka menyihir para tamu sehingga tepuk tangan riuh kembali membahana seusai tarian selesai dilakukan. Bravo guys!!

[6] Cerita KKN Atambua 2013: Timor Leste, I'M COMING!

Tim KKN PPM UGM berpose di Tugu Timor Leste
 
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh tim KKN PPM Atambua 2013 karena kami akan ke luar negeri! Ya! Mungkin kamilah satu-satunya tim KKN yang pelesir keluar negeri di minggu pertama KKN, kemana lagi kalau nggak ke Timor Leste. Hehehe.

Saat itu kami berangkat agak siang, sekitar jam 11, karena sub unit Desa Rinbesi Hat harus melaksanakan sosialisasi dan pemantapan program dengan perangkat desa. Karena ada acara sosialisasi ini, sebenarnya kormanit memutuskan subunit Desa Bakustulama saja yang berangkat ke Tiles. Tentu saja kami protes dan ‘mencak-mencak’ hehe. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat setelah acara sosialisasi selesai, dengan menggunakan 2 mobil pick up charteran.
 Overload eh...

Perjalanan ke perbatasan (Motaain) berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Sepanjang perjalanan, aku merasakan sensasi dejavu, padahal aku belum pernah kesini sebelumnya. Setelah aku pikir-pikir, ternyata karena kami melewati tempat shooting film ‘Tanah Air Beta’ yang berlangsung di Atambua. Memang seperti itulah keadaannya, kering meranggas.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi oleh rumah-rumah berbentuk lopo yang semakin banyak mendominasi dibandingkan dengan rumah bangunan modern. Keadaan masyarakat terlihat lebih memprihatinkan, aku tidak tahu apakah anak-anak tersebut bahkan sekolah, beberapa tempat bahkan tidak dialiri listrik sama sekali, kualitas air bagaimana juga aku tak tahu, aku jadi berpikir, apa yang selama ini aku lakukan? Kesenjangan yang begitu besar.

Akhirnya kami pun sampai di gerbang perbatasan Motaain. Normalnya kami harus turun dan mengurus visa on arrival, tapi setelah foto-foto sejenak, kami dipersilakan masuk dengan ditemani beberapa tentara baik dari TNI maupun tentara Timor Leste. Edisi imigran gelap hehe.
Ane berfoto sebelum masuk Indonesia gan, bangga rasanya foto disini

Pemberhentian pertama kami adalah peternakan kuda yang dimiliki oleh seorang Bapak keturunan Portugis mantan tetinggi sewaktu Tiles dan Indonesia belum berpisah. Disana kami banyak dijelaskan tentang perjuangan beliau sewaktu reformasi. Setelah itu ane tidak terlalu memperhatikan dan berjalan sekeliling, peternakan kuda ini berbatasan dengan muara sungai yang berakhir di Pantai Motaain. Pemandangannya sangat indah.
 Foto-foto di peternakan kuda dengan bendera Tiles

Foto-foto di peternakan kuda dengan tentara Timor Leste

Sesaat kemudian kami dibawa ke toko oleh-oleh minuman. Minuman yang dijual kebanyakan adalah minuman beralkohol impor yang cukup mahal, harganya mencapai jutaan. Bagi kami, cukup membeli minuman jus kaleng yang dibanderol 5 USD hehe. Oiya khusus di perbatasan ini, transaksi bisa menggunakan baik rupiah maupun USD. Disini juga ane harus menerima kenyataan pahit karena dompet yang berisi biaya hidup KKN raib, entahlah apakah hilang karena kecerobohan sendiri atau dicuri, sebaiknya selalu berhati-hati jika membawa barang berharga disini.

Selesai dari toko oleh-oleh, kami dibawa lebih jauh ke arah timur menuju peternakan kuda yang lebih besar di Batugade. Aku sendiri kurang tau kenapa Wakil Bapeda ini suka banget membawa kita ke peternakan kuda, tapi yang namanya diajak ngikut aja yah. Hehe. Peternakan kuda yang kedua ini terlihat lebih besar dilengkapi dengan fasilitas pendopo dan restoran, hanya saat itu sedang tutup. Disini Bapak Wakil Bapeda juga berjanji pada malam lebaran akan mengajak kami menginap disini. Di peternakan kedua ini karena lebih tinggi, pemandangan terlihat sangat indah. Kami bisa melihat Pulau Alor dari sini. Pulau yang suatu saat sangat ingin ane kunjungi hehehe.

Kami cukup lama berada disini, mendengarkan penuturan pemilik peternakan tentang kondisi disana, berfoto-foto dengan latar mobil berplat Tiles, hanya saat itu hati ane sedang sangat sedih karena baru kehilangan uang kekeke.

Akhirnya pukul 17 waktu setempat (di Tiles waktu setara WIT, sementara di Atambua setara WITA), kami pun beranjak pulang kembali ke Atambua membawa sejuta kenangan. Sebelum keluar dari Tiles tidak lupa kami berfoto di gerbang “Bem Vindo A (Welcome to) Timor Leste) dan Tugu Timor Leste, kami juga berfoto di gerbang ‘Selamat Datang Indonesia’. Jujur, perasaan lebih bangga dan senang sewaktu berfoto di tulisan kedua hehehe, memang I Love Indonesia! Gimana, menyenangkan bukan KKN di Atambua? Jangan ragu mau KKN disini!
 Foto-foto di gerbang "Bem Vindo A Timor Leste"

[5] Catatan KKN Atambua 2013: Ayok, Besong ikut Panen Raya Sorgum!

Holaa! Setelah sekian lama absen di blog kesayangan, kali ini beta akan melanjutkan menulis sekelumit pengalaman sewaktu melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata) 2013 di Atambua. Semoga ini menjadi inspirasi dan penyemangat bagi generasi KKN Atambua seterusnya. Cekidot gan!

Apa itu Sorgum??

Sorgum

Adalah pertanyaan yang terlontar di benak ane saat rombongan KKN PPM UGM diundang Bapeda Belu untuk menghadiri panen raya sorgum pada minggu pertama kami di Timor. Kami yang belum tahu apa-apa dan masih sangat antusias dengan budaya Masyarakat Timor pun sangat antusias menanti hari ini. Apa lai ini sorgum nha?

Dengan mobil pick up sewaan, sekitar pukul 9 pagi, kami rombongan KKN Desa Bakustulama dan Rinbesihat pun sudah berangkat untuk menuju tempat pelaksanaan panen raya yaitu di Kecamatan Raimanuk. Kecamatan Raimauik sendiri berjarak kurang lebih 20 kilometer sebelah timur Kecamatan Tasifeto Barat (tempat desa kami). Sepanjang perjalanan kami disuguhi oleh padang savana yang meranggas mengharap datangnya hujan.
Jujur waktu itu ane masih belum tahu apa-apa tentang acara ini, apakah acara ini akan berlangsung di ladang (maksudnya kita disuruh panen-panen bareng gitu), apakah acara ini akan berlangsung di suatu ruangan dengan penuh ceramah dari para tetinggi kecamatan, hehe kita lihat saja!

Satu jam kemudian, setelah sebelumnya berhasil melewati keramaian pasar kamis Halilulik dimana mobil kami sempat macet parah, kami pun sampai di lokasi acara panen raya. Ternyata acaranya berlangsung di ladang dengan dibangun dekorasi outdoor sederhana. Sewaktu kami datang, acara belum dimulai dan hanya terdapat beberapa orang yang duduk. Dengan sangat sopan mereka mempersilahkan kami semua duduk kemudian diberi snack ringan, sungguh keramahan masyarakat Timor yang kami mulai terbiasa dapatkan.

Menunggu cukup lama (terutama menunggu kedatangan tamu penting), acara pun akhirnya dimulai dengan sajian Tari Likurai yang dibawakan oleh gadis-gadis setempat. Saat itu ane begitu terkagum dengan salah satu budaya Belu ini karena kekompakan gadis-gadis tersebut dalam menabuh genderang kecil yang mereka gantung di lengan kiri di bawah ketiak. Tari Likurai yang pada dahulu digunakan untuk menyambut para meo pulang dari medan perang ini sekarang biasa disajikan untuk menyambut tamu-tamu penting.

 Para penari Likurai sedang bersiap-siap

Selesai pertunjukkan Tari Likurai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari beberapa tamu penting seperti Dirut PT Batan Teknologi (Persero) Yudi Utomo Imardjoko, Wakil Bupati Belu Taolin Ludovikus, Kepala Bapeda Belu Falentinus Pareira, Bapak Camat Tasifeto Barat dan Raimanuk (Bapak Gabriel Taek) dan Perwakilan Masyarakat. Mendengarkan sambutan-sambutan tersebut, ane jadi tahu kalau sorgum itu sejenis varietas jagung dengan ukuran yang lebih kecil.  

Trus gimana sorgum ini tau-tau bisa ditanam di Atambua gan? 

Ternyata gerakan tanam sorgum ini sudah dicanangkan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan gan pada tahun 2012 dan mendapat dukungan penuh dari BUMN seperti PT. Berdikari, PTPN serta sejumlah instansi BUMN lainnya. Emang keren ya gan menteri kita satu ini.
 
Penanaman sorgum varietas Numbu pertama kali dilakukan di Sidrap, Sulawesi Selatan awal 2012 pada areal seluas 3200 ha oleh Pt. Berdikari, kemudian dilanjutkan oleh PTPN XII pada lahan seluas 22 Ha di Banyuwangi. Barulah pada awal 2013 Dahlan Iskan mencanangkan pengembangan sorgum di wilayah perbatasan, dimana Atambua dipilih sebagai tempat uji coba pertama. Badan Litbang pertanian melalui UPT Balitsereal kemudian mengirimkan benih bantuan sorgum varietas numbu sebanyak 1,5 ton untuk diuji coba tanam di Atambua. Target luas lahan penanaman adalah 200 ha, dimana peruntukan utama adalah bahan pangan. Program penanaman ini dimulai pada April 2013.

Berdasarkan manajer proyek PT Batan, Kusmunandar, saat ini luas lahan sorgum di Pulau Timor mencapai 400 ha yang tersebar di Kabupaten Belu dan Malaka. Secara lebih spesifik, lahan tersebut tersebar di Kecamatan Tasifeto Barat, Raimanuk, Kakuluk Mesak, Tasifeto Timur, Kobalima dan Malaka Tengah.

Dan begitulah, kami mahasiswa/i KKN beruntung ini berkesempatan untuk mengikuti panen perdana yang berlangsung di Desa Mendeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu. Hehehe. Terus, kenapa sorgum ini dikembangkan di Atambua gan? 

Ternyata sorgum ini sengaja ditanam dan dikembangkan di Atambua ini untuk menggantikan peran gandum gan, dimana gandum sulit berkembang di Indonesia sehingga seringkali kebutuhan gandum harus dipenuhi dengan cara impor. Masak kita sebagai negara agraris mau terus-terusan impor gan? 

Penanaman sorgum ini juga dilakukan untuk memanfaatkan lahan kosong yang ‘nganggur’ saat musim kemarau tiba, serta diharapkan dapat memberi sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan dari total 200 ha lahan sorgum, mampu memenuhi kebutuhan 1000 rumah tangga Atambua sehingga orang Atambua tidak perlu lagi mengkonsumsi nasi, karena padi sulit tumbuh di Atambua sementara sorgum bisa tumbuh subur. Sorgum juga mempunyai potensi sebagai bahan baku tepung, bahan baku bioetanol untuk pembuatan BBM, pakan ternak, beras, , gula air, mie, cendawan dan obat-obatan terutama untuk obat kanker.

Berdasarkan penuturan Bapak Yudi, penanaman sorgum ini juga menguntungkan karena tidak membutuhkan terlalu banyak air, masa sejak tanam dan tunggu panen yang cukup cepat yakni sekitar 3 bulan serta mudah beradaptasi dengan iklim Timor yang kering. Serta merta Bapak Yudi mengharap penanaman sorgum dapat dikembangkan seterusnya di berbagai daerah Pulau Timor dan dia berharap sorgum ini dapat berkembang di Jawa juga. 

Trus gimana dengan pembagian hasilnya gan?
Sesuai perjanjian dengan kelompok masyarakat, menurut Kusmunandar, pembagian dengan perusahaan adalah 30: 70. Dimana proses sejak penanaman dan perawatan senantiasa mendapatkan pembinaan dari PT. Batan Teknologi.

Akhirnya acara sambutan itupun selesai dan kami diajak ke ladang untuk peresmian panen raya, acara dilakukan dengan pemotongan pita dan setelahnya pemotongan satu batang sorgum untuk simbol panen. Saat itu warga terlihat bahagia karena salah satu sumber kehidupan mereka menghasilkan hasil yang melimpah. Kemudian acara dilanjutkan dengan foto-foto. Tak lupa kami narsis dengan sorgum dan ikut mencicipi rasa sorgum mentah = tawaaar, hehehe, maksa banget ini.


Lahan sorgum yang tumbuh subur di Atambua

Selesai acara foto-foto, kami (terutama yang tidak puasa) mendapatkan kejutan tak terduga karena langsung disuruh makan dengan lauk serba daging. Ada sapi bakar, sayur kuah sapi, sayur dengan ayam, babi panggang, dll. Kami yang sejak KKN dimulai hanya makan sayur seakan kalap dan makan sepuasanya. Karena aturan disini sangat aneh yakni lauk harus lebih banyak daripada nasi, kalau tidak berdosa. Yaudah deh, sekuutt aja! Hehehe. Disini kami juga sempat mencicipi sorgum yang sudah diolah, rasanya tawar dan mirip jagung muda.

Selesai makan kami pun ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak polisi sembari disuguhi sopi (arak khas Timor), aku sanggup meminum dua putaran. Di Timor ini, budaya minum sopi adalah orang-orang yang akan minum akan membentuk lingkaran, kemudian satu orang akan memegang botol sopi dan menuangkannya ke gelas. Gelas itu kemudian diputar, diisi ulang kembali, sampai sopi habis. Dengan cara seperti ini, diyakini akan menambah keakraban. Asoyy.

Satu kejutan tak terduga lagi, saat sedang makan tiba-tiba Kormanit kami dipanggil oleh Bapak Bapeda yang mengajak kami pelesir ke TIMOR LESTE keesokan harinya! Wuaah, saat itu kami langsung merasa sangat antusias dan bahagia. Bapak Wakil memang sempat menjanjikan akan membawa kami ke Tiles, ane hanya nggak nyangka akan secepat ini. Sebenarnya ini KKN atau pelesir? Wkwkwk.

12.23.2013

Timor, I'M BACK =)

10 Desember 2013

Di tanggal inilah gue membuat suatu keputusan besar yang 'sesekali' masih gue pertanyakan. 

Keputusan itu adalah, gue membatalkan trip keliling Asia Tenggara 26 Januari 2014 sd 9 Februari 2014 yang sudah gue rencanakan semenjak 8 bulan silam untuk kembali ke tempat KKN-ku, Pulau Timor. Gue merelakan uang tiket dan booking hotel yang hampir 1,5 juta. Sebuah keputusan besar yang kumantapkan dari hati terdalam.

Sejak KKN memang gue merasa jadi semakin mencintai Indonesia. Ditambah lagi kegemaran gue melihat acara di TV bertema traveling dan sosial seperti Jejak Petualang, Indonesiaku, Jelajah, Jelajah Daerah Tertinggal dan lain sebagainya semakin membuatku 'melek' tentang bagaimana kondisi negaraku. Kesenjangan yang sangat besar menusuk jantungku, ragaku, semangatku, apa yang aku lakukan selama ini?? Apakah aku hanya bersenang-senang, pamer sana sini diatas penderitaan bangsaku? kemelaratan bangsaku?? 

Aku tidak munafik, keinginan untuk kembali ke Timor itu bukan satu-satunya alasan aku membatalkan trip-ku. Nilai tukar rupiah yang semakin jeblok juga pendukung yang sangat kuat. Aku merasa dengan uangku yang terbatas ini, sebisa mungkin akan aku gunakan untuk sesuatu yang berguna di Timor. Entah apakah itu hanya sesuatu yang kecil, aku berharap aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka yang membutuhkan.

Awalnya aku bertanya-tanya, apakah aku akan membuat kesalahan besar dengan membatalkan trip-ku ke Asia Tenggara? Apakah aku akan sedih dan menyesal nantinya? Pertanyaan itulah yang selalu aku ajukan ke diriku sebelum membuat keputusan ini, diam-diam aku berharap, seandainya aku bisa melihat masa depan, mana yang akan membuatku lebih bahagia nantinya.

Pertanyaan itu terjawab sangat cepat ketika aku memberikan pesan singkat kepada temanku bahwa aku membatalkan trip ini dan memutuskan akan kembali ke NTT. Seketika itu juga, aku merasa sangat 'plong' dan 'bahagia'. Mungkin ini memang petunjuk Tuhan, aku harus kembali ke NTT.

Gue merasa, Indonesia adalah negara yang sangat kaya baik alam maupun budayanya. Kaya, sangat kaya dan kurasa akan dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk benar-benar bisa menjelajahnya secara keseluruhan. Aku berpikir, untuk apa aku menghabiskan uangku yang tidak seberapa ini untuk negara lain dengan perasaan tertekan, sementara aku bisa menggunakannya untuk lebih mengenal negeriku, bertemu dengan orang-orang yang sangat aku rindukan di Atambua? Bukan berarti aku skeptis dengan mereka yang selalu pengen ke luar negeri, dulu aku begitu, tetapi sekarang aku seakan menemukan pencerahan di diriku sendiri, bahwa aku ingin mengenal negeriku lebih dalam dahulu, baru akan keliling dunia.

10.17.2013

Pengalaman dengan IMIGRASI 6 negara

Selama ini banyak traveler yang mempunyai pengalaman nggak menyenangkan sama imigrasi, termasuk gue. Well, sebenarnya pengalaman gue itu bervariasi. Gue sering merasa orang-orang dibalik kaca pengecap paspor itu kebanyakan sok-sokan, ntah sok galak, sok selidik, sok tegas. Bwahaha. Biasa aja kalee mbak/masss/pakdhee/budhee...

Berdasarkan pengalaman gue, sejauh ini imigrasi terbaik yang gue jumpai adalah sewaktu mau pulang dari Filipina (Bandara Internasional Ninoy Acquino), imigrasi paling menyebalkan adalah Malaysia (LCCT Airport) dan imigrasi paling ribet adalah Kolkata (India). Lainnya? Biasa-biasa aja lah..Yah, bisa dibilang mendekati ketiga kriteria diatas, Let’s cekidot....

1.       Soekarno Hatta International Airport Terminal 3
Pertama kalinya keluar negeri, paspor masih kosong melompong. Dicap keluar sewaktu mau boarding dengan wajah yang sangat antusias setelah menunggu di bandara selama 6 jam -,- . Untung nggak disorakin, “Cieee yang mau keluar negeri pertama kali..selamat yaa..kamu dapat piring cantik...”, karena kalau sampai bilang gitu gue bakal malu banget sumpeh#toyor.

 2.       Suvarnabhumi International Airport ~ Bangkok ~ Thailand
Lumayan di paspor gue setidaknya udah ada cap keluar dari Indonesia. Bwahaha. Ehm, di Thai ni biasa aja. Petugas pengecapnya ibu-ibu dengan wajah yang datar dan tanpa ekspresi, bahkan tak mengucapkan “Welcome to Thailand” buat gue yang baru pertama kalinya keluar negeri. Alih-alih dia bilang, “Please step backward behind the line” ke gue, jiaaahhh ibu. Ternyata karena gue masih ndeso, gue nggak tau kalau garis merah itu batas buat antrian selanjutnya. Jadi posisi gue saat itu berada persis dibelakang temen gue yang paspornya sedang dicap, malah gue clingak-clinguk ngliat ibunya ngecap #ditoyor~ibunya. Jiaaahhh......Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi.

Imigrasi Thailand. Awalnya gue berdiri tepat di belakang temen gue dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....
Sumber: dokumentasi pribadi

 3.       Imigrasi Kamboja jalur darat dari Thailand (Poipet)
Mungkin ini adalah imigrasi paling lamaaaa yang pernah gue lalui selama ini, total gue membutuhkan hampir 2 jam cuma buat dapat cap ungu pudar “Kingdom of Cambodia”. Interpretasi gue hal itu dikarenakan jumlah petugas yang jaga dikit #tempatnya sempit dengan batas triplek dan pohon besar nembus atap didalamnya, OMGG#, serta mereka agak ribet karena pakai scan jari tangan jugaaahh~gue baru jumpai disini~. Hal itu diperburuk dengan jumlah ratusan traveler yang mengantri secara bersamaan dengan backpack segede-gede bagong yang pas nutupin muka gue, kadang kalo mereka nengok ke samping nyampar muka gue#siaaallll...

Ada pohon besar nembus atap di dalamnya, gue yang pas di belakang tas ini dengan muka melas #pfftt
Sumber: dokumentasi Adis

Sumpeh itu pengalaman nunggu ter-boring gue, sampai pundak gue memerah gendong backpack inih. Temen baru gueh dari Jerman namanya Lieberkitz/Lieberkichz/blah-blah susahnya okeh sebut aja Mbakyu ngomong lebih enak kalau backpack digendong aja terus supaya pundak malah nggak terlalu sakit. Tapi menurut gue nasehat mbakyu itu sangat bertentangan dengan hukum Fisika gravitasi sehingga gue seret-seret aja backpack gue dibawah sambil maju kecepatan siput nunggu giliran paspor gue dicap, kalau mood, backpacknya gue gendong. Hasilnya?? KRAM yang luar biasa pada pundak gue malam harinya. Mungkin mbakyu emang benar, karena gue lihat muka dia masih segar-segar aja meski backpacknya 3-4 x lebih besar dari punya gueh, hahahaha..

Akhirnyaaaa...
Sumber: dokumentasi pribadi

Okeh singkatnya imigrasi disini biasa ajah, bapak-bapak dengan muka datar dimana wajah dia hanya kelihatan dari kotak bolong 30x20 cm didepan gueh, ventilasi lainnya pakai besi dirangkap kaca. Sumpeh pengen gue cium deh tu bapak-bapak sewaktu dia selesai ngecap paspor gue!

Bosen? Coret-coret aja hihi. Close to Vandalism but it's not.
Sumber: dokumentasi pribadi

4.       Imigrasi Malaysia jalur darat dari Thailand (Kedah)
Aseeenngg, aseeenngg, aseeennnggg..Itulah yang ada di benak gue saat temen gue jawab “nggak tuh, kok bisa?” sewaktu gue tanya dia dimintai uang 10 Ringgit nggak pas di imigrasi Malaysia. Yah ini pengalaman di imigrasi yang menyebalkan, tapi bukan yang paling menyebalkan buat gue. Sampai sekarang gue masih bingung, buat apa dia minta-minta duit gitu dari traveler, bukankah itu ilegal?? 

Ini lokasinya!
Sumber: dokumentasi Alfiana (my travelmate)

Huah, inilah yang gue sebut imigrasi nakal. Setelah gue banyak browsing, hal itu terjadi ketika kita ngisi kartu imigrasinya nggak lengkap, sehingga beberapa torehan tinta ‘petugas imigrasi nakal’ itu bernilai 10 ringgit. Gue merasa aneh karena gue merasa udah ngisi lengkap, entahlah gue mungkin emang lagi dapat zong. Fiuuhhh...Kalau sampai hal ginian terjadi lagi sama gue, gue punya rencana.

Imigrasi: “10 ringgit mam.” (posisi paspor gue masih di tangan dia)
Gue: “Sorry..for what?”
Imigrasi: “Because you’re not write your imigration card completely.”
Gue: “Oh I should pay because of that? Is that new rule?”
Imigrasi: “...../yeah”

Gue: “OK..give me my paspport first (kalau dia nggak bereaksi pakai cara kedua ini : “OK give me my passport first, I think I keep 10 ringgit in the backside of paspport cover.

Kalau dikasihkan paspornya : KABUUURRRRR!! Hahaha, gueh akan benar-benar melakukannya kalau suatu saat hal ini terjadi lagi sama gue. Gimanapun, gue nggak akan jatuh ke lubang yang sama lagi!

 5.       Konter Visa on Arrival ~ Indira Gandhi International Airport~ New Delhi~ India
Karena gueh belum ada visa saat mendarat di New Delhi, gue bikin Visa on Arrival yang berada di konter VOA lantai bawah. Satu kata: LAMANYOOOOOO.... Sumpah, nunggu dapat cap visa ini adalah penantian yang paling membuat gue frustasi!! Hal itu dikarenakan kondisi fisik gue yang sudah sangat lelah (hampir 2 hari nggak tidur) dan gue TAKUT BANGET kalau duit USD yang gue bawa terindikasi palsu. Kenapa gue sampai berpikiran seperti itu?? Karena dua traveler di depan gue (seorang ibu sama anaknya dari Indonesia) duit yang buat bayar (120 USD) diindikasikan palsu oleh petugas VOA yang superlelet ini. Beberapa kali dia melihat, menerawang, diraba-raba, masukin kantong, eeehh, beberapa saat kemudian tuh duit dikeluarin lagi, dia manggil temennya ~yang kayaknya ahli membedakan uang palsu/asli kita sebut saja Raj Malhotra~ buat memastikan keaslian uang itu. Raj  pidato lamanyaaaa...dimana gue cuma bisa nangkap kata “Aseli...aseli..” dari bahasa Hindi-nya..Kata Aseli itu masih diikuti dengan serentetan kata lain yang nggak ada habisnya, WUAH, kenapa nggak bilang ASELI gitu aja teros pergi?!  #toyorRaj

Bikin VOA lama banget.
Sumber: dokumentasi pribadi

Akhirnya tiba giliran gue diinterogasi, tanyain apa gue keturunan Pakistan ~I WISHHH, supaya ketularan manis,eh supaya tambah manis duenk wekeke~, duit gue 60 USD diraba dan langsung dimasukin kantong. Leganyaaaa....Btw, kantong bapaknya itu sampai berjubel gitu penuh duit dollar ngintip-ngintip bwahahaha.
Akhirnya setengah jam kemudian cetak-cetik di komputer, ngecap-ngecap, nama gue dipanggil “ Galouh Pratiwui ” #wuih, nama gue jadi kebule-bulean#, gue dapat visa India selama 15 hari dan melenggang lega. Huaaahh, India.


Akhirnya selesai juga bikin VOA, India, Aku masuk!
Sumber: dokumentasi pribadi Pix San

 6.       Netaji Subhas Chandra Bose International Airport~Kalkuta~India
Imigrasi di bandara Kalkuta ini gue kasih gelar teribet. Kenapa? Check this out!


Karena udah ngeprint boarding pass penerbangan Air Asia Kolkata-KL dari rumah,  gue santai-santai aja pas nunggu temen gue check in di airport (dia belum ngeprint boarding pass). Tapi pas di depan loket imigrasi, gue dibilang bahwa gue nggak bisa terbang dengan boarding pass yang gue bawa itu. Gue merasa sangat aneh karena selama terbang dengan AA dimanapun, boarding pass nya ya boarding pass yang di print dari web itu. Gue berusaha menjelaskan ke bapak-bapak itu, “No, No, It works when I was in Malaysia”. “No, No, you can’t. You won’t be allowed entering the plane with this.” Ternyata gue tetep disuruh check in meski sudah bawa boarding pass, dan dapat boarding pass baru berupa kertas seperti receipt gitu. Terpaksa balik lagi ke konter check in. Owalaaahhhh....bedanya apa coba?

Setelah sukses melewati imigrasi ~dimana kelihatannya bapak ini meragukan VOA gue karena terus-terusan tanya, “this one the visa?” ~ gue pun mendesah lega dan beranjak ke pemeriksaan detektor. Pemeriksaan disini, selain dengan mesin juga dengan tentara di ruangan tertutup dengan cara diraba dari atas ke bawah. Oke disini gue well done. Setelah itu barang bawaan gue discan, setelah discan masing-masing tas akan diberi gantungan kertas kuning sebagai simbol lolos scan. Karena gue kira itu Cuma formalitas, setelah discan gue nggak minta kertas kuning buat tas kecil gue dan langsung aja nungguboarding. Sewaktu mau naik pesawat, tas gue kena periksa karena nggak ada kertas kuningnya dan disuruh balik lagi ke tempat scan tas untuk discan ulang dan minta kertas kuning. Hwuaaahhhhh.....

Sekali lagi, dalam perjalanan masuk ke pesawat setelah semua tas gue sudah ada kertas kuningnya, ada lagi tentara kekar yang stand by  untuk memastikan semua tas sudah aman #ampunBrooo. Gue tersenyum lebar sewaktu dia membiarkan gue lewat, “noh, salah gue apa lagi?!”  hahaha. Memang ini paling ribet, tapi sisi positifnya keamanan akan sangat terjamin. Bruuummmm, ngoooeeeennnggg...See u India!

 6.      Changi International Airport ~ Singapura
2013 datang!! Untuk mengawali tahun ini ane mempunyai rencana untuk mbolang di 3 negara sekaligus yaitu Singapura – Malaysia – Filipina. Berangkat dengan uang seadanya dan tiket Bandung – Singapura Rp 0, Kuala Lumpur – Manila Rp 250rb dan Manila – Jakarta Rp 350rb, ane pun menginjakkan kaki di Bandara Changi yang super big dan mewah gan.

Imigrasi Bandara Changi ini bisa ane bilang biasa aja. Saat itu petugas imigrasi yang ngecap paspor ane orang Melayu keturunan India. Ane hanya ditanya ‘keperluan apa datang ke Singapura?’. Ane jawab ‘holiday, Sir.’ Langsung dicap dan setelah membandingkan wajah ane sejenak dengan foto di paspor, ane pun masuk Singapura. Nggak ada yang spesial gan. Intinya asal kita ke Singapura untuk alasan berlibur dan tidak mencurigakan, pasti aman gan dan langsung bisa masuk.


Ane pun tersenyum lebar dan segera mengambil brosur-brosur berupa peta, panduan wisata, panduan penginapan (yang ane nggak bakal nginep disini karena penginapan mewah semua), refill air minum gratis, serta update status untuk pamer menggunakan wifi gratis bandara wkwkwk.

 7.      Imigrasi keluar Singapura (border land dengan Malaysia)
Ane lupa gan, tapi imigrasinya biasa aja. Nggak terlalu ketat. Ya iya lah, soalnya kan kita udah mau meninggalkan Singapura. Menurut ane imigrasi itu lebih ketat pas masuk gan. Ane melenggang mulus dan nggak ditanyain apa-apa disini.

 7.      Imigrasi masuk Malaysia (border land dengan Singapura)
Petugas imigrasinya ibu-ibu, baik dan ramah gan. Ane nggak terlalu menjumpai masalah berarti disini. Menurut ane semakin besar dan megah sebuah imigrasi, biasanya semakin serem gan dan sebaliknya.

 8.      Imigrasi Bandara LCCT ~ Kuala Lumpur ~ Malaysia
Mungkin ini imigrasi paling menyebalkan yang pernah ane lalui gan. Padahal ane udah sering keluar masuk KL lewat LCCT tapi entahlah, kali ini ane merasa sebal tingkat dewa aja. Ceritanya ane lupa kalau di tas masih ada air minum, itu pun tinggal sedikit, nggak sampai 1 liter seperti aturan penerbangan internasional. Pas X-ray imigrasi, kena deh ane gan. Akhirnya tas ane yang penuh baju kotor + kolor dibongkar-bongkar pas habis imigrasi. Pas botol minumnya udah ketemu, ane langsung ambil dan minum tapi ane dimarahi gan. Katanya, “If you want to drink it, drink it outside”. Nadanya galak banget lagi, ane pun segera keluar dan meminum dengan jengkel gan. Jengkel karena air minum ane sebenarnya nggak sampai 1 liter.

 9.      Imigrasi Bandara Diosdado Macapagal, Angeles City, Filipina
Setelah penerbangan yang lumayan melelahkan selama 4 jam dari Kuala Lumpur, akhirnya mendarat juga gan ane di Filipin. Ane masih buta gan, nggak tau sama sekali tentang negara ini, dan petualangan pun dimulai.
Imigrasi Bandara Clark
Sumber: dokumentasi pribadi 

Ane mendarat jam 12 malam waktu setempat gan, segeralah menuju imigrasi untuk mendapatkan cap masuk Filipina. Awalnya ane yakin 100 % gan, ane bakal nggak mendapatkan masalah berarti sampai ada 2 TKI di depan ane yang mendapatkan masalah dengan paspor mereka yang antrinya di depan ane. Ane bisa tahu kedua orang di depan ane TKI karena melihat paspor mereka yang mirip paspor ane/paspor hijau. Saat itu entah karena masalah apa, mereka cukup lama bersitegang dengan petugas imigrasi  dan akhirnya malah mereka keluar dari antrian imigrasi tanpa cap masuk. Entahlah ane nggak tau masalahnya gan.

Setelah kedua TKI itu mundur dari antrian, ane pun maju gan. Deg-degan abis, ‘jangan-jangan Filipina mempunyai aturan bagi orang Indonesia yang nggak ane tau ya’. Ane jadi semakin deg-degan aja saat si ibu petugas imigrasi membaca data paspor ane. Pertanyaan ane terjawab saat si ibu memberikan cap masuk Filipina ke Ane.. Huaahh, syukurlah. Ane lega banget dan segera saja melangkahkan kaki menginjak Filipina yang sebenarnya. Welcome, FILIPINA!!

 10.    Imigrasi Bandara Ninoy Aquino, Manila, Filipina
Dari semua imigrasi yang ane lalui, mungkin imigrasi Bandara Ninoy Aquino adalah imigrasi terbaik dan teramah. Gimana nggak? Inilah satu-satunya imigrasi yang memberikan senyuman dan kemudahan buat ane. Gimana ceritanya gan? Cekidot!

Selama di Filipina, kecuali berurusan dengan tukang-tukang rickshaw dan delman nggak jelas yang hobinya ngasi scam ke turis, ane benar-benar menyukai masyarakat lokal disini. Menurut ane, masyarakat Filipina itu sangat baik gan, kayak ane dibantuin nyari stasiun LRT, ane dibantuin nemu Fort Santiago, ane didiskon pas naik bus, dan lain-lain. Dan kebaikan ini berlanjut pas ane di Bandara Ninoy Aquino saat mau pulang ke Indonesia.
Saat itu imigrasi keluar nggak terlalu rame, dengan PD dan semangat tinggi karena akhirnya mau pulang ane segera antri untuk mendapatkan cap keluar Filipina sebelum boarding. Petugas imigrasi di depan ane ibu-ibu gitu gan, udah tua dan murah senyum. Akhirnya tiba giliran ane gan:

“Sobekan kertas imigrasinya mana neng?” tanya ibu itu dengan ramah dan senyum.
“Aduh buk, harus pakai itu ya?Maaf buk saya nggak tau.” Jawab ane.
“Yaudah, diisi dulu aja. Ambil kertasnya disana. Nanti balik lagi kesini ya kalau udah” Jawab ibunya lagi-lagi dengan ramah sambil menunjuk tempat pengambilan formulir kertas imigrasi.
“Iya buk. Makasih ya buk.”
“Iya neng.”

Wuaahh, baik banget gan ibu imigrasi ini. Selama ane traveling, baru kali ini ane dapat senyuman dan perlakuan ramah seperti itu dari imigrasi. Ane benar-benar tersentuh dengan kebaikan masyarakat Filipina. Hikz hikz hikz (si gembeng nangis lagi).

Ane pun segera menuju meja pengambilan formulir imigrasi dan menulis data bersama beberapa calon penumpang pesawat yang lain. Saat itu karena harus mengambil bolpoin, tanpa sadar ane menaruh tas slempang ane yang berisi 2 kamera, dompet, dan beberapa benda berharga lainnya di meja formulir. Dan yang terjadi selanjutnya......bisa ditebak....ane lupa bawa tas itu lagi gan. Huaaa!!

Selanjutnya karena masih nggak sadar tas slempang ane ketinggalan di meja, ane pun segera melangkahkan kaki ke loket imigrasi ibu tadi. Si ibu tersenyum lagi dan segera memberikan cap ke ane. Ane pun segera melangkahkan kaki dengan PD untuk mencari tempat boarding pesawat ane, Cebu Pacific.

Saat berjalan itulah ane merasa ada sesuatu yang aneh gan, biasanya daerah sekitar leher ane itu akan sakit karena tali tas slempang. Kok sekarang nggak sakit ya?? Ya TUHANNN....ane lupa tas slempang ane. Ane berusaha menenangkan diri dan fokus, ane berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir kali ane duduk atau melepas tas dan ane ingat itu di meja pengisian formulir imigrasi. Ya Tuhaann....ane kan udah di cap keluar, sekarang gimana caranya ane bisa masuk lagi untuk mengambil tas ane? Itupun kalau masih ada. Ane benar-benar mengutuki kecerobohan ane saat itu.

Sampai loket imigrasi lagi, segera saja ane mencari imigrasi yang nggak terlalu rame. Saat itu ane menemukan satu lagi ibu-ibu muda, dan ane pun menunjukkan paspor yang udah ada cap keluar Filipina sambil menjelaskan situasi ane kalau ada tas yang tertinggal. Dan ajaibnya, ibu itu langsung menganggukan kepala gan nggak banyak tanya. Wuaaahh, ane bersyukur berat dan segera meluncur ke meja formulir imigrasi untuk mencari tas ane dan ternyata.....MASIH ADA!! Ya Tuhaann...ane nggak berhenti-berhentinya bersyukur saat itu. Ane pun keluar Filipina lagi melalui loket imigrasi ibu muda tadi. Menjelaskan kalau ane sudah menemukan tas ane, dan kembali menunjukkan paspor yang sudah ada cap keluar. Wah terimakasih Tuhan, inilah bandara dan imigrasi terbaik ane selama jalan-jalan gan. Di Filipina, tepatnya Bandara Ninoy Aquino.

Selanjutnya, perjalanan selama 4 jam dari Manila ke Jakarta dengan pesawat Cebu Pacific Airline ane lalui dengan lancar gan. Hal menakutkan yang terjadi, sepanjang jalan dari Manila ke Jakarta itu suering banget turbulensi gan pesawatnya. Saat itu yang ada di pikiran ane cuma hal buruk aja, ane mikir ane bakal kecelakaan pesawat karena sumpah pesawatnya goyang terus gan. Ane tatut. Tapi akhirnya sekitar pukul 12 malam, sampailah ane di Jakarta gan. Saat melihat lampu gemerlapan Bandara Soekarno Hatta, ane mengucap syukur sedalam-dalamnya. Rasanya senang sekali melihat tanah air tercinta ini setelah beberapa minggu terpisah. I LOVE INDONESIA.

Sementara, itulah pengalaman-pengalaman ane dengan imigrasi yang bisa ane bagikan gan. Tahun 2014 secara keseluruhan ane habiskan dengan traveling ke tanah air tercinta gue, INDONESIA. Ane akan update cerita baru lagi tentang imigrasi jika keluar negeri lagi. CIAO.