Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.28.2020

17 APRIL 2020 : PERJUANGAN BELI RUMAH, Bayar Cicilan 3


Syukurlah.. Bulan ini bisa nyicil lagi rumah Rp 13.000.000.

Lebih besar dari kewajiban ane, yakni Rp 8.250.000/bulannya gan.


Ane bersyukur banget bulan ini ada rejeki masuk lagi setelah klien ane asal Tulungagung akhirnya mentransfer biaya DP pembuatan dokumen. Padahal pembayaran ini udah ane tunggu sejak Februari yang lalu, tapi baru ditransfer sekarang karena mereka menunggu persyaratan dokumen lengkap dulu semua hehehe. Gpp-lah.. hitung-hitung buat tabungan.


Beberapa hari setelah ditransfer, ane diingetin oleh Mbak A, marketing perumahan bahwa ini sudah tanggal 17 April, dimana setiap bulannya ane emang diharuskan bayar maksimal tanggal 15. Sejak kerja freelance memang ane jujur jadi lupa tuh namanya tanggal sama hari hehe.


Saat itu posisi hutang rumah ane masih Rp 23.000.000. Ane sebenarnya udah gatel banget mau nglunasin, tapi sebelumnya ane minta bapak ane mastiin dulu apa itu rumah udah kelar semua perbaikan-perbaikan kecilnya. Posisi ane masih di Surabaya btw. Karena gak enak udah diingetin Mbak Anita, malam itupun setelah paginya diingetin, ane transfer Rp 13.000.000 dulu. Ane bilang ke Mbak Anita, sisanya Rp 10.000.000 akan ane transfer setelah semua perbaikan kecil sudah diperbaiki, atau ane bayar sebagai cicilan bulan depan.

Sesaat setelah transfer, jujur ane lega. Legaaa banget. Itu berarti utang cicilan ane tinggal Rp 10.000.000 aja gan. Cicilan yang seharusnya kelar di bulan Agustus/September 2020, ane berharap banget bisa ane selesaikan bulan Mei 2020 ini. Ane cuma bisa beryukur sedalam-dalamnya sama Tuhan, atas semua berkahNya sehingga ane bisa dapat rejeki tiap bulan untuk mengangsur melebihi ketentuan yang udah ane sepakati sehingga pelunasannya bisa lebih cepat!

Semangat, 10 Juta lagi untuk (temporary) financial freedom masalah rumah !!

4.08.2020

17 MARET 2020 : PERJUANGAN BELI RUMAH, Bayar Cicilan 2

Syukurlah... Rejeki yang kutunggu-tunggu di bulan Maret 2020 datang juga. Setelah penuh perjuangan (berbalut emosi di belakang), akhirnya salah satu klienku melunasi kewajibannya juga untuk pembuatan dokumen. Hmmmm...bukan perjuangan yang mudah, tapi untungnya berhasil.

Pada 17 Maret 2020 kemarin, setelah berpikir sejenak terhadap uang pembayaran klien tersebut, aku memutuskan akan menggunakannya untuk melakukan pembayaran cicilan kedua. Diotakku sempat terpikir untuk membayar cicilan di angka paling rendah, yakni Rp 8.250.000. Kemudian dalam pikiranku sempat naik pengen bayar cicilan jadi Rp 10.000.000. Sesaat kemudian Rp 15.000.000. Namun setelah kupikir matang-matang, lebih baik aku membayar Rp 20.000.000. Membayangkan sebentar lagi utangku lunas, aku merasa sangat bahagia. Jujur ane akuin bahagianya bukan karena rumahnya sih, tapi gak ada beban lagi hehehe. 


Dengan ini sisa utangku tinggal Rp 23.000.000. Berharap banget di bulan April ini segera aku lunasin, dan kemudian aku bias dapat sertifikatnya segera. Harus fokus!!!

11 FEBRUARI 2020 : PERJUANGAN BELI RUMAH, Bayar Cicilan 1

Bukannya sombong, ane akuin, ane itu orang yang benci banget sama yang namanya utang gan. Apalagi di posisi ane yang berhutang dan harus bayar setiap bulan, hmmmmm, kepikiran terus gitu aja rasanya. Dan jadi nggak bebas. Meski pada beberapa kesempatan ane terpaksa berhutang untuk membeli sesuatu (i.e. rumah ane ini), ane tetap bertekad untuk melunasinya secepat mungkin.

Punya utang yang harus dibayar tiap bulan itu rasanya...hmmmm... mau traveling kepikiran masih punya utang. Mau beli sesuatu barang masih kepikiran punya utang. Pokoknya apa-apa kepikiran. Nah seperti ane jelasin di part sebelumnya, ane melakukan pembelian rumah subsidi di Boyolali yang pembayarannya ane pake cara cash bertahap. Sebenarnya pas mau beli kemarin, lihat perbedaan harganya kredit vs cash yang selisihnya 50 jutaan,ane awalnya tergoda kredit aja. Namun karena ane seorang freelance dan tidak mempunyai persyaratan untuk kredit, ane harus ambil pilihan tengah, cash bertahap.

Sama developernya, ane dikasih waktu 6 bulan untuk membayar cicilan pokok setelah pembayaran DP. Waktu itu, bulan Januari 2020, harga rumah yang diberikan ke ane adalah Rp 163.000.000. Itu sudah termasuk rumah pokok, sisa kelebihan tanah 7m2, sama biaya notaris untuk nanti balik-balik nama. Dari harga tersebut, ane DP Rp 100.000.000. Otomatis masih ada sisa Rp 63.000.000. Dari sisa tersebut, ane diwajibkan bayar Rp 8.250.000 tiap bulan.


Karena ane orangnya gak sabaran pengen utang cepet lunas, tapi sayang duit juga kalau langsung bayar Rp 63.000.000, pada 11 Februari kemarin ane melakukan pembayaran cicilan kedua sebesar Rp 20.000.000. Kebetulan dapat rejeki dari project di Trenggalek. Uang DP project yang ane dapet langsung ane setorkan 90% untuk membayar rumah. Jadi utang ane tinggal Rp 43.000.000. Semangat 45!!!


1.11.2020

9 JANUARI 2020 : PERJUANGAN BELI RUMAH, Bayar DP dan Tandatangan PJB

9 Januari 2020

Akhirnya hari ini datang juga. Hari dimana aku akan kehilangan sebagian besar tabunganku untuk membayar DP Rumahku. Tabungan yang dengan susah payah kukumpulkan selama beberapa tahun ini hehehe. Setelah berhari-hari dirundung kemalasan, akhirnya hari ini aku beranjak juga dari kasur dan HP ku yang nyaman untuk menuju lokasi rumah Marketingnya yang berjarak 1 km dari rumah kakakku. Aku kesana dengan ayahku, ibuku, dan keponakanku, Gavriel.

Akhirnya sampai juga. Setelah berunding sejenak, akhirnya aku memutuskan membayar DP Rp 100.000.000 dari harga total rumah Rp 150.000.000. Karena aku berencana membayar rumah ini secara cash bertahap selama 6 bulan, aku tidak mau terlalu membebani diriku selama 6 bulan kedepan. Jadi selama 6 bulan ke depan, setiap bulan maksimal tanggal 15, aku harus membayar cicilan harga pokok rumah Rp 8.250.000.

Selain harga pokok rumah, aku masih dibebani biaya balik nama, biaya sertifikat dan biaya kelebihan tanah Rp 13.500.000, biaya ini sendiri bisa dibayarkan pada bulan ke-7 setelah cicilan pokok harga rumahku selesai. Aku melakukan transfer 4 kali senilai @ Rp 25.000.000 dari Go Mobile CIMB Niaga.



 Setelah selesai transfer, Mbak A - marketing perumahannya - segera membuatkan Perjanjian Jual Beli (PJB), yang intinya menerangkan hak dan kewajibanku terkait pembayaran tahap selanjutnya dan kepemilikan rumah. Aku tandatangan 2 berkas diatas materai, dan secara sah aku sudah bisa memegang kunci rumahku.

Aku merasa begitu lega, begitu senang. Gimanapun, ingin punya rumah sendiri ini sudah keinginanku dari bertahun-tahun yang lalu. Aku ingin mandiri, aku ingin menata rumahku sesuai keinginanku dan aku tidak ingin bergantung tinggal di rumah orang, meski itu rumah kakakku sendiri. Dengan pembelian rumah ini juga, aku memupus kegalauanku tentang "BELI RUMAH atau TERUS TRAVELING?"

Kini karena aku sudah punya rumah, ketika aku sudah selesai menutup bagian belakang rumah (memperluas terkait sisa tanah), membangun pagar dan mengisi beberapa perabotan pokok, aku bisa traveling sepuasnya hihihi.

Aku bisa kemanapun tanpa harus berpikir lagi, "Beli Rumah atau Terus Traveling?"

Setelahnya aku mengajak keluargaku dengan mobil kesayanganku, "KIA RIO 2012" untuk jalan-jalan sejenak ke bandara dan ke Waduk Cengklik. Perasaanku sangat ringan dan tenang. Terimakasih Tuhan....

1.06.2020

6 Januari 2020: PERJUANGAN BELI RUMAH, Minta Surat Keterangan Lajang ke Kelurahan

Pagi ini aku baru tidur jam 4 pagi, karena aku masih mengerjakan penggambaran peta 9 lokasi di Blitar. Namun karena mata semakin berat dan aku tidak berniat begadang, kusudahi kerjaanku untuk kulanjutkan esok hari. Aku tertidur dengan nyenyak dan terbangun keesokan harinya oleh desakan dari bapakku yang menyuruhku bangun untuk segera mengurus surat keterangan lajang di kantor Kelurahan Gilingan, Solo.

Aku terbangun dengan malas, setelah mengurus kucingku, Si Mio sebentar, aku segera bersiap dan setelahnya mengajak ayahku berangkat. Sebelumnya, kita sarapan di Soto Seger Sastro. Sarapan yang murah, lezat dan mengenyangkan.
Setelahnya, kita bergegas fotocopi KTP dan KK kemudian beranjak ke Kantor Kelurahan Gilingan. Disana kami disambut dengan ramah dan setelah mengutarakan tujuan kami, aku segera diberi form surat keterangan lajang untuk diisi. Setelah ttd diatas materai, surat tersebut langsung distempel kelurahan, dan tadaa, prosesnya selesai. Hanya begitu saja. Tidak perlu menunggu berhari-hari ataupun berminggu-berminggu. Hanya perlu beberapa menit dan semuanya selesai. Salut banget dengan pelayanan Kantor Keluarahan Gilingan.

Setelahnya, ayahku mengajak ke KPP Solo untuk mengurus NPWPku. Sebenarnya aku sudah punya NPWP, hanya belum mempunyai kartunya. Jadi rencana kesana mau nyetak, tapi antrinya lama banget. Jam 12 siang baru antrian ke 54 dari antrian 66 (antrianku). Karena tadi pagi aku sudah berjanji dengan salah satu klienku di Nganjuk untuk menyerahkan perbaikan dokumen 2 hari lagi, aku memaksa ayahku pulang dan mengurus lain waktu. Lagipula, syarat kartu NPWP ini belum urgent dibutuhkan.

Setelah ini, kewajibanku selanjutnya adalah menghubungi Mbak A (marketing perumahan), untuk mengabari jika syaratku sudah lengkap. Aku harus menyiapkan KTP, KK, Surat Lajang, dan mempersiapkan membayar uang DP. Bismillah semoga semuanya lancar... Rencana 2 harian lagi aku hubungi.

Sekian, ngetik sambil PDKT sama kucing baruku, Si Mio, yang susah banget didekatin sejak kubeli 3 hari yll di Pasar Depok. 

1.05.2020

[2] Kisah Perantauanku di Jakarta : Hari Pertama Kerja

 CERITA SEBELUMNYA : Sasaran Kemarahan Emak

GEOLOGIS di BANK

"Apa yang kamu kerjakan?"

Ane mendapatkan banyak pertanyaan serupa dari teman-teman kuliah ane.

"Apa yang kamu lakukan di bank?"

"Pekerjaan apa yang kamu lakukan di bank?"

"Bagaimana kamu berpakaian di bank?"

"Berapa gajimu?"

FYI, untuk mengambil tanggung jawab atas beasiswa ane, ane magang di Bank C*** N**** Pusat (Jakarta Selatan) pada 2 April 2015 hingga 18 Juni 2015. Di sana, ane ditempatkan di divisi hukum. Divisi yang benar-benar aneh bagi ane. Ane hanya berharap orang akan menerima ane dengan baik di sana. Ane tidak terlalu memikirkan pekerjaan yang akan dikerjakan nanti.

Berdasarkan pencarian internet ane, fungsi divisi hukum adalah untuk Membantu Direktur Administrasi dan Keuangan untuk mengkoordinasikan kegiatan Penanganan Hukum Perusahaan, seperti penanganan masalah hukum dan pendapat hukum terkait dengan bisnis dan administrasi, serta untuk mengembangkan dan mengendalikan standar kualitas, pemantauan dan evaluasi dalam kualitas produk dan layanan perusahaan kontrol, termasuk praktik tata kelola perusahaan yang baik.

Ya ane tidak mengerti sama sekali. Ane cuma berharap ane diletakkan di Divisi CSR. Ane hanya menangkap bahwa pekerjaan saya tampaknya berhubungan dengan undang-undang.


Hari pertama ane di Jakarta tidak benar-benar bahagia. Ane berangkat dari Solo ke Cikarang menggunakan bus malam dengan hati yang muram. Ane tidak pernah ingin tinggal dan bekerja di Jakarta. Ane tidak suka kekacauan, lalu lintas, polusi, dan biaya hidup yang tinggi. Tapi Ane harus pergi dan mengambil tanggung jawab ini.

Ane tiba di Cikarang di pagi hari. Ane berencana untuk tinggal dan beristirahat beberapa jam di rumah saudara perempuan ane di Cikarang sebelum berangkat ke Jakarta. Jarak antara Cikarang dan Jakarta tidak terlalu jauh, hanya 1,5 jam menggunakan bus umum. Ane tidur nyenyak pagi itu, dan bangun jam 12 siang untuk bersiap-siap berangkat ke Jakarta. Hati ane masih muram, ane kayak nggak punya semangat sama sekali. Ane tidak tahu kenapa. Ane pergi sendiri.

Perjalanan dari Cikarang ke Jakarta menunjukkan sisi kemacetan Jakarta yang sebenarnya. Perjalanan yang biasanya bisa dilalui 1,5 jam menjadi 4 jam karena kemacetan lalu lintas. Ane belum pernah melihat begitu banyak mobil dan bus secara bersamaan. Pukul 4 sore, ane tiba di Terminal Blok M dan langsung membuat kartu Trans Jakarta seharga Rp40.000 untuk kartu transportasi. Route ane harus lulus: Blok M-Dukuh Atas-Mampang Prapatan. Dari Dukuh Atas, ane harus mengubah koridor busway 6 ke Mampang Prapatan.

Ane tidak tahu ini adalah ujian mental berikutnya di Jakarta.

Naik busway dari Blok M ke Dukuh Atas okey. Bus itu bersih, besar dan nyaman. Walaupun ane tidak mendapatkan kursi, ane berdiri cukup nyaman dan menikmati pemandangan Jakarta Selatan yang modern. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 45 menit perjalanan hingga Dukuh Atas. Di sinilah penderitaan ane dimulai

Dengan begitu banyak penumpang yang antri, ane menunggu begitu lama di sebuah kamar pengap kotak kaca untuk mendapatkan bus ke Mampang Prapatan. Setiap bus datang, penumpang selalu berebut dan mendorong satu sama lain. Ane harus membawa tas penuh pakaian dan rescucer didorong ke sana kemari. Keringat sudah membanjiri tubuh ane. Ane merasa ingin menangis. Kaki ane lelah, tubuh ane lelah karena kurang tidur dan sekarang ane harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan bus. Plus, ane bahkan tidak tahu lokasi yang tepat dari kost ane.

Orang-orang mulai berteriak dan memprotes bus konduktor. Mereka memprotes karena dari beberapa halte bus, semuanya kenapa hanya berakhir di halte Kuningan Timur (1 halte sebelum halte Mampang Prapatan), tidak ada bus yang berakhir di halte Ragunan sesuai keinginan. Ane mulai stres. Orang-orang berteriak dengan marah. Tidak ada pilihan lain, ane harus naik bus yang berakhir di halte Kuningan Timur. Ane akan berjalan dari Kuningan Timur stop untuk Mampang Prapatan Stop. Ane melihat di peta saya, jaraknya tidak begitu jauh, sekitar 1 kilometer.

Penderitaan ane akhirnya berakhir ketika ane berhenti di Kuningan Timur. Di sana, ane mulai berjalan ke selatan sampai menemukan Mampang Prapatan berhenti. Jalanan sangat ramai dan macet. Beberapa kali ane harus melintasi persimpangan besar dengan klakson penuh dari sepeda motor atau mobil. Tidak ada yang peduli bahwa ane berjalan dengan kaki, sedangkan mereka menggunakan mesin. Ane berdoa agar saya bisa selamat.

Dari halte Mampang Prapatan, ane terus berjalan dengan kaki ane yang lelah sampai menemukan Kantor Utama Blue Bird. Calon ibu kost ane mengatakan bahwa lokasi kost terletak di gang di belakang Kantor Utama Blue Bird. Dia mengatakan kepada ane untuk mengambil lorong Blue Bird yang tepat dan pergi sekitar 200 meter untuk menemukan masjid. Rumahnya ada di sebelah masjid. Ane harus meminta beberapa orang untuk menemukan lokasi rumah dan akhirnya sepenuhnya sampai jam 8 malam.

Ibu kost ane adalah wanita yang baik dengan gaya berbicara aktif. Setelah kami berbicara untuk sementara dan menyelesaikan administrasi, ane pergi tidur. Besok adalah hari kerja pertama ane di bank.

###

2 April 2015

Ane bangun jam 03.30 pagi dan mandi. Ini Jakarta, dan dengan kemacetannya, ane tidak tahu jam berapa berangkat ke kantor. Kantor ane akan dimulai pukul 08.30 pagi. Jadi ane memutuskan untuk naik bus sepagi mungkin. Rute bus yang harus 
ane lewati adalah Mampang Prapatan-Dukuh Atas II, dari Dukuh Atas II, ane harus menyeberangi jembatan ke halte Dukuh Atas I dan naik bus ke halte Gelora Bung Karno. Sederhana, tetapi di Jakarta bisa kacau ketika kami pergi terlambat.

Ane tiba di Halte Gelora Bung Karno terlalu awal, jam 7:15. Bangunan CIMB Niaga sudah di depan mata, tapi ane tidak berani masuk. Ane tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ane menghubungi seorang teman yang magang pertama membawa ane ke sana untuk hari pertama di kantor. Dia setuju dan ane menunggu 1 jam baginya untuk datang.

Dengan kepercayaan yang mulai meningkat, ane berjalan bersama teman ane ke gedung CIMB Niaga. Ane naik lift sampai lantai 16 dan dia memperkenalkan ane ke beberapa orang di sana. Orang-orang baik dan menghargai kedatangan ane. Ketika menunggu bos ane datang, ane ngobrol dengan teman saya. Ketika sedang berbicara, salah satu staf menegur:

"jika kamu ingin berbicara, kamu bicara di luar aja"

Ane sangat terkejut. Sekasar inikah orang Jakarta dalam menegur orang??

Ane minta maaf dan tetap diam sampai bos saya datang. Pfftt.

Bos saya adalah wanita yang baik, sabar dan pengertian. Hari pertama ane isi dengan memperbaiki beberapa file dan setelah itu tidak melakukan apa-apa. Ane memainkan ponsel saya sepanjang hari sampai kembali ke kantor pada pukul 05.30.

Dapatkah dikatakan bahwa hari pertamaku di Jakarta Selatan kacau? Mungkin sedikit.....hmmmmm....Bagaimana kelanjutan hari-hariku setelahnya?

Solo, 5 Januari 2020: PAGI dan SECANGKIR TEH


PAGIKU. Beginilah pagiku hari ini, ditemani segelas teh, hembusan udara sepoi-sepoi dan pemikiran-pemikiran ringan akan hidupku.

Aku menyukai kesunyian dan suara-suara di pagi hari. Momen favoritku dalam 24 jam adalah momen sebelum dan sesaat matahari terbit serta momen malam hari menjelang dini hari. Sepi... Sunyi... Menenangkan batin dan pikiranku.

Ruangan tempatku duduk ini hanya taman kecil berukuran kira-kira 1.5m x 2.5 m di sebelah kamar depan rumah kakakku. Sebenarnya sedikit kurang nyaman karena terlalu sempit, namun inilah tempat dimana aku bisa merasakan sedikit privacy dan kedamaian ketika sendiri.

Nanti, ketika rumah baruku sudah fix milikku dan diserahkan kuncinya, aku pastikan akan membuat sebuah ruangan/tempat khusus untukku "me time". Ruangan itu akan kubuat senyaman mungkin. 

Pagi ini, sambil menunggu sesaat lagi aku akan berangkat kerja ke Ngawi.