Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

11.01.2016

Road Trip Bromo via Tumpang 2 : Berjuang di Lautan Pasir Tengger

Motor terus kulajukan melewati jalanan yang semakin sepi dan dingin. Aku sudah tidak memikirkan apapun, yang terpenting adalah sampai ke Cemoro Lawang secepatnya.

Sekitar setengah jam berkendara, kami dihadapkan pada jalan yang bercabang. Sebelum berangkat, aku sempat mempelajari google map dan mengetahui cabang jalan ini adalah jalan ke Ranu Pane jika lurus (titik pendakian ke Gunung Semeru) dan Bromo jika belok kiri. Setelah bertanya pada warga lokal untuk memastikan, kami mengambil jalur belok ke kiri melewati jalan aspal yang terus menurun.

Kami takjub! Pemandangan di sebelah kiri jalan mungkin adalah pemandangan terindah yang pernah kulihat. Perbukitan berwarna hijau membentang dengan guratan-guratan ngarai hasil erosi yang sangat indah. Perbukitan menghijau segar. Membuat kami terbengong-bengong dan terus menatap ke sebelah kiri di sepanjang jalan turun ke Lautan Pasir Tengger.

Alur-alur erosi pada tebing yang membentuk pemandangan menakjubkan (GALUH PRATIWI)

Bukit-bukit kecil berhiaskan kabut (GALUH PRATIWI)

Hijau dan segar lagipula pemandangan sangat sepi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan terindah yang pernah kulihat (GALUH PRATIWI)

Menakjubkan, bukan? (GALUH PRATIWI)

Kami berhenti beberapa kali untuk berfoto. Sesekali jeep para wisatawan melaju di sebelah kanan kami. Mereka menyapa kami dengan ramah. Sementara kami terus turun, hujan rintik-rintik mulai berjatuhan. Aku agak panik karena bahkan kita belum mulai berjalan di lautan pasir. Bagaimana jika hujan deras? Bagaimanapun aku terus memacu motor ke arah bawah.

Aku dan Si Merah (GALUH PRATIWI)

Rerumputan bernyanyi dengan gembira (GALUH PRATIWI)

Hujan semakin bertambah deras seiring motor kami telah hampir sampai ke jalur lautan pasir. Ketika itu ada dua cabang jalan yang membingungkan, dimana kalau belok kiri langsung menuju ke jalur off road jeep, sementara kalau lurus jalannya masih aspal tapi entah berakhir dimana. Seharusnya kami memang harus lewat jalur off road, tetapi karena aku melihat tanahnya yang sangat gembur dan tebal, pastilah Si Merah susah sekali berjalan disitu. Akhirnya aku memutuskan mengambil jalan lurus aspal dahulu. Aku melihat sebuah rumah kecil disitu, ingin berteduh sebentar sembari menunggu hujan reda.

"Mas...arah ke Cemoro Lawang lewat mana ya?" tanyaku kepada dua orang laki-laki yang sedang berteduh di rumah kecil tersebut. Sepertinya mereka melakukan rute reversed dengan kami, dimana mereka berasal dari Cemoro Lawang dan akan menuju Tumpang.

"Lewat sini bisa mbak. Oiya, jalan ke arah Tumpang hujan nggak?" jawabnya.

"Aman mas, cuma gerimis," jawabku kemudian.

Akhirnya kami tetap melanjutkan perjalanan dengan memakai mantel. Adapun sepertinya bukan ide bagus jika aku harus berteduh di rumah kecil ini. Suasana sangat sepi, dan berada di tengah antah berantah.

Bismillah, aku mulai melajukan laju motor di Lautan Pasir Tengger. Sepuluh kilometer adalah ajrak yang harus kami tempuh sampai ke Cemoro Lawang. Tetapi pemandangan alam di sekitar benar-benar membius kami. Bagaimana tidak? Tebing berjajar di sebelah kanan dan kiri kami dengan begitu cantiknya, alur-alur hasil erosi terlihat kokoh. Kabut menambah kesan mistis. Aku merasa seperti berada di antara New Zealand dan Hawai'i. Entahlah keindahannya tidak bisa kugambarkan lagi.

Ini Lautan Pasir Tengger atau Hawai'i? Atau New Zealand? (GALUH PRATIWI)

Bunga-bunga ungu bermekaran (GALUH PRATIWI)

Kabut menggantung pada ujung dinding kaldera (GALUH PRATIWI)

Hujan mulai sedikit mereda. Si Merah berjalan terus dengan agak terseok-seok. Bisa kuingat, kami beberapa kali hampir jatuh terpeleset pasir. Mengingat ini, aku hanya bisa mengemudikan Si Merah dengan kecepatan maksimal 40-50 kilometer per jam. Karena sekali ngebut, '''ssssseeetttttt....." pasti ban akan selip.

Kami berhenti beberapa kali untuk berfoto-foto dengan latar perbukitan beralur yang menghampar luas. Pemandangan itu masih dipercantik dengan bunga-bunga kecil berwarna keunguan yang terhampar luas. Sungguh luar biasa perjalanan ini.

Siapa yang bosan melihat pemandangan seperti ini? (GALUH PRATIWI)

Kabut mulai turun, mendung datang lagi (GALUH PRATIWI)

Bukit kembar (GALUH PRATIWI)

Kabut semakin turun, suhu semakin dingin (GALUH PRATIWI)

Bunga-bunga ikut berbahagia(GALUH PRATIWI)

Indonesia sungguh indah (GALUH PRATIWI)

Siapa yang tidak terkagum-kagum akan kuasa-Nya? (GALUH PRATIWI)

DI jalan, kami sempat bertemu dengan para rider-rider yang sedang melaksanakan touring dengan arah yang berlawanan dengan kami. Mereka menggunakan motor-motor besar dengan ban yang kokoh sehingga bisa melaju dengan leluasa. Si Merah hanya bisa memandang mereka dengan nyinyir.

"Ssssssseeetttttttt...."

Aku hampir terpeleset lagi entah keberapa kalinya karena terlalu asik memandang pemandangan sehingga lupa melajukan kecepatan terlalu kencang.

Jalur Lautan Pasir dari Tumpang ke Cemoro Lawang tidak hanya satu, banyak cabang off road yang bercabang-cabang. Kita dibebaskan untuk melewati jalur mana saja yang enak sepanjang mengikuti jalur ke arah utara. Aku terus melajukan motor karena gerimis mulai datang lagi, kabut mulai turun. Kami bertemu dengan beberapa pengendara motor maupun jeep lain yang juga hendak menuju Cemoro Lawang. Sedikit melegakan. Ternyata kami tidak sendiri di padang pasir ini.

Kami terus melajukan motor. Jalan off road yang semula cukup keras karena basah mulai berubah menjadi agak lembut dan gembur. Sangat menyulitkan Si merah. Kami harus berganti jalur beberapa kali dengan sedikit mendorong-dorong motor karena susahnya bukan main. Untunglah pada beberapa bagian sudah dibuatkan jalur motor, dimana tanahnya cukup keras sehingga kami bisa menjalankan Si Merah agak kencang.

Beberapa kali di jalan, kami menjumpai rombongan turis asing yang terlihat berjalan kaki menyusuri keindahan Kaldera Tengger. Meskipun hujan mulai datang, mereka terlihat masih bersemangat jalan. Mantel plastik berwarna-warni menjadi pemandangan yang menarik dan kontras dan perpaduan warna hijau dan abu-abu di sekitarnya.

Tiba-tiba, hujan mulai berubah deras dan kami mulai panik. Jujur aku takut sekali kalau sampai ada petir karena padang ini sangat luas dan tidak ada objek tertinggi selain kami. Jalanan mulai berubah sepi. Beberapa pengendara motor yang kami temui sudah mendahului kami dengan rentang jarak yang cukup jauh. Kami memutuskan memakai mantel plastik kembali dan segera melanjutkan perjalanan.

Hujan berubah semakin deras. Udara menjadi sangat dingin. Tanganku terus mencengkeram setir, berusaha tidak memikirkan apapun selain segera mencapai Cemoro Lawang sesegera mungkin. Kami mulai kebingungan karena jalur jeep (yang terlihat dari bekas roda) mulai kabur, sementara padang berubah menjadi sangat luas. Aku menjalankan Si Merah lewat jalur pasir sebelah kiri, aku malah menjumpai banyak bongkahan-bongkahan batu yang bertebaran.

'Wah, sepertinya ini bukan jalurnya.... Banyak batu-batu besar bertebaran.. Bagaimana ini? Aku harus tetap tenang,' kataku dalam hati.

"Itu ada motor disana, lewat sana!" kata temanku dari belakang. Suaranya beradu dengan derasnya hujan. Pakaianku sudah basah semua karena aku hanya menggunakan mantel plastik yang kekecilan. Dinginnya udara dan kakunya tanganku sudah tidak kupedulikan lagi.

Aku segera memotong jalur dan mengarah ke pengendara motor di kejauhan yang ditunjuk temanku. Aku berusaha memacu Si Merah semaksimal mungkin, aku tidak mau kehilangan jejak pengendara tersebut. Gawat kalau tersesat di tengah hujan lebat begini.

Si Merah kupacu melewati beberapa kali turunan dan naikan kecil. Saat pengendara motor tersebut hampir tidak kelihatan, aku mulai panik. Akhirnya setelah beberapa saat memotong jalur, kami kembali juga ke jalur jeep. Terlihat dari bekas gilasan ban pada pasir yang terlihat memanjang. Aku lega sekali. Setidaknya bekas gilasan ban ini akan membawa kami ke Cemoro Lawang.

"Tenang...Tenang...Kalau udah lewat jalur jeep kita pasti aman kok sampai ke Cemoro Lawang," kataku ke temanku. Aku ragu ini untuk membuat temanku tenang atau untuk menenangkan diriku sendiri.

Hujan masih mengguyur dengan lebatnya. SI Merah terus kulajukan mengikuti jalur jeep. Kami melewati jalur lurus sekitar setengah jam sebelum akhirnya melihat tiang-tiang berwana kuning. Aku bahagia sekali. Aku terus mengikuti tiang-tiang tersebut karena aku yakin itu akan mengantarkanku ke jalan aspal yang menuju Cemoro Lawang.

"Eh itu bapaknya belok kesana!" kata temanku menunjuk ke arah kanan, sementara tiang-tiang kuning itu sendiri menuju ke arah kiri.

"Loh, ini tiangnya kearah sini,"kataku setengah protes melawan derasnya hujan.

"Kesana aja, itu bapaknya kesana," kata temanku.

Aku segera membelokkan arah Si Merah mengikuti jalur bapak pengendara motor yang menjadi penuntun kami tadi. Dan setelah beberapa saat, akhirnya kami menjumpai jalan naik..............berupa jalan aspal! Aku ingat sekali jalan ini adalah jalan aspal yang menuju Cemoro Lawang karena aku pernah ke Bromo sebelumnya! 

Oh, akhirnya!!

10.29.2016

Road Trip Bromo via Tumpang 1 : Perjalanan ke Malang

Perjalanan 'Road Trip' Surabaya - Malang - Tumpang - Bromo - Probolinggo - Surabaya kami mulai pada hari Jumat tanggal 23 September 2016. Jumat itu seusai pulang kerja jam 14.30, aku tidak ping pong seperti biasanya melainkan segera pulang kos untuk memulai road trip ini yang menurut google map akan menempuh jarak total sekitar 283 kilometer. Benar-benar sebuah tantangan. Aku belum pernah nyetir sejauh itu. Tujuan utama road trip ini sendiri tentulah untuk refreshing dari rutinitas yang jarang berubah. Karena jujur saat itu aku sedang sangat jenuh dengan pekerjaan yang menumpuk. 

Setelah mengisi penuh bensin untuk motor kesayanganku - Si Merah 'Shogun R 125' - aku segera pulang ke kos untuk mempersiapkan pakaian dan bekal perjalanan, selain itu juga menjemput temanku yang sudah menunggu di kos. Setelah siap semua, langsung berangkat mengarahkan motor ke selatan menuju Kota Malang.

Aku dan Si Merah yang tangguh (GALUH PRATIWI)

Perjalanan dari Surabaya ke Malang dimulai dari kemacetan yang tak terhindarkan di ruas jalan Surabaya - Sidoarjo. Karena baru mulai, aku masih sabar menghadapai semuanya. Sekitar satu setengah jam menyetir, sampai di Kota Sidoarjo, tanganku mulai pegal dan perut mulai memberontak kelaparan. Jajanan pentol dan siomay meluncur mulus ke perut. Dengan beberapa teguk aliran air segar, kami melanjutkan perjalanan kembali.

Perjalanan Sidoarjo - Porong - Gempol - Pandaan - Purworedjo - Lawang kami lalui dengan leluasa dan menyenangkan karena jalanan relatif sepi serta suhu mulai berubah agak sejuk. Panasnya Kota Surabaya seakan menguap begitu Si Merah kupacu menuju Pandaan. Jalanan mulai naik dan gunung-gunung mulai terlihat di sebelah kanan, sesekali terlihat sawah yang menghampar luas. Pemandangan yang menyegarkan mata.

Sekitar Mahgrib, kami sudah sampai Lawang dan memutuskan beristirahat di warkop lesehan yang cukup nyaman. Segelas kopi panas dan gorengan hangat meluncur mulus ke perut kami yang mulai keroncongan kembali. Hawa sejuk nan dingin seakan menambah semangat suasana sore itu. Kami beristirahat selama setengah jam sebelum kembali bermotoran ria menuju Malang.

Gorengan dan Kopi di Lawang (GALUH PRATIWI)

Perjalanan dari Lawang ke Malang cukup menguras waktu karena macet yang tidak tertahankan. Bus, mobil, motor, seakan bertumpuk jadi satu di jalan yang relatif tidak terlalu lebar tersebut. Si Merah hanya mampu melaju di kisaran 30-40 kilometer per jam. Karena hawa yang dingin dan suasana hati yang sedang baik, kami bisa melalui itu semua dengan lancar. Sekitar pukul tujuh malam, kami akhirnya sampai di Kota Malang.

Kami menginap di Hotel Malang. Sebuah kamar sederhana dengan fasilitas kasur, TV dan kipas angin menyambut kami. Tarifnya cukup murah, untuk kamar ekonomi hanya 100ribuan/malam untuk berdua. Hawa Kota Malang yang sejuk-sejuk dingin membuat kami sama sekali tidak membutuhkan AC, cukup kipas angin yang dinyalakan menghadap ke tembok (itupun sudah membuat kami kedinginan).

Kamar Ekonomi di Hotel Malang, semalam Rp 100.000 (GALUH PRATIWI)

Kami menghabiskan malam itu dengan tiduran, cerita-cerita dan nonton TV, sempat keluar sebentar untuk makan nasi penyetan di dekat penginapan. Hawa Kota Malang sungguh sempurna untuk refreshing. Semua beban, permasalahan, kebingungan, seakan hilang saat aku sedang di jalan begini. Tanpa sadar, mataku semakin berat dan tertidur. Menyiapkan tenaga untuk 'road trip' hari kedua, menyusuri Malang - Tumpang - Bromo. Kuharap besok tidak menjadi hari yang berat.


###

Aku terbangun jam enam pagi, tetapi kemudian kembali tidur setelah mengecek HP. Bagiku, refreshing adalah suatu kegiatan untuk me-refresh otak, mengisi otak dengan hal-hal baru, hijau dan bernuansa alam. Karena itulah aku tidak terlalu mempersoalkan jam kalau traveling jarak dekat. Lagipula, kamar ekonomi ini terlalu nyaman. Aku menarik selimut dan tertidur pulas lagi.

Aku terbangun satu jam kemudian karena mimpi buruk. Karena malas tidur lagi, akhirnya aku hanya tiduran sambil menyalakan TV dan main HP. Sejenak kemudian, tiba-tiba petugas hotel mengantarkan sarapan segelas teh hangat dan setangkup roti dengan selai nanas. Cukup mengejutkan karena sewaktu aku booking hotel ini di pegi-pegi disana dikatakan kami tidak mendapatkan sarapan.

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami segera melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Tumpang. Tujuanku adalah mencari warung soto daging yang lezat untuk sarapan. Tidak lupa bensin kuisi penuh dan mengambil sejumlah uang di ATM untuk persiapan karena hari ini kami akan menuju pegunungan jadi tidak terlalu yakin ada mesin penarik uang disana. Mencari warung makan yang pas tanpa hasil, akhirnya aku memutuskan jalan dahulu sampai Tumpang dan mencari makan disana.

Kami menyusuri Jalan Raya Madyopuro, Jalan Raya Kedungrejo, Jalan Raya Slamet, Jalan Raya Bokor dengan santai.Jalanan yang sepi dan mulus memudahkan deru Si Merah. Tumpang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Malang yang berjarak 16 kilometer dari Kota Malang. Perjalanan kami akhirnya terhenti di Pasar Tumpang untuk mencari sarapan. Setelah bolak-balik kesana kemari, akhirnya kami sarapan di sebuah warung makan penyetan di dekat pertigaan.

Lokasi mendapatkan 'kesialan' di Tumpang (GALUH PRATIWI)

Sepertinya kami mendapat 'kesialan', karena dari nasi penyet mujair yang kami pesan, kami mendapatkan ikan yang sudah bau. Mau bilang penjualnya nggak enak. Orangnya ibu-ibu nyentrik yang masih muda, malas kalau harus berdebat. Aku paling malas berdebat mengenai hal-hal yang menurutku kurang begitu penting. Akhirnya kutahan makan semua itu, temenku cuma nyengar-nyengir makan nasi dan sayur. 

Seusai perjuangan makan ikan bau, Kami melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju Bromo. Tujuan kami selanjutnya adalah Coban (Air Terjun) Pelangi yang ada di Desa Ngadas. Jarak yang harus kami tempuh dari Pasar Tumpang adalah 16 kilometer. Jalanan yang kami lewati relatif mulus dengan medan yang semakin menaik dan terjal. Sepuluh menit berkendara, kami melewati gapura selamat datang Desa Gubugklakah. Pemandangan sawah yang menghijau mendominasi. Sesekali kami menjumpai rumah penduduk sederhana di kanan kiri jalan. Udara bersih dan segar.

Lembah yang cukup dalam di sepanjang jalan (GALUH PRATIWI)

Lembah yang cukup dalam di sepanjang jalan (GALUH PRATIWI)

Semakin mendekati Coban Pelangi, jalanan semakin meliuk-liuk tajam. Pada beberapa kesempatan, aku harus terus menggunakan gigi satu supaya motor dapat melaju. Kami sempat berhenti beberapa kali untuk berfoto karena pemandangan yang disajikan memang sangat yahud.

Setiap ada spot menarik langsung berhenti untuk berfoto (GALUH PRATIWI)

Perkebunan subur milik warga (GALUH PRATIWI)

Tanaman subur (GALUH PRATIWI)

Tanaman tropika menghampar lebat (GALUH PRATIWI)

Melewati beberapa liukan tajam dengan kondisi jalan bergelombang, akhirnya sampai juga di Coban Pelangi. Coban Pelangi ini adalah salah satu wilayah konservasi alam di bawah perlindungan Perhutani maka dari itu sangat terjaga. Tarif masuknya sendiri Rp 8000/orang dan parkir Rp 2000/motor.

Susu Jahe (GALUH PRATIWI)

Jalan menuju Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan tanaman menghijau di sepanjang jalan turun ke Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Pemandangan tanaman menghijau di sepanjang jalan turun ke Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Fasilitas yang ada di kawasan wisata Coban Pelangi sendiri cukup lengkap, terdapat beberapa warung yang menyambut kedatangan kami. Warung tersebut menjual makanan dan minuman panas, sangat cocok di tempat dingin seperti ini. Setelah minum susu jahe segelas untuk meredakan pusing yang tiba-tiba melanda (kayaknya gara-gara mujaer bau), kami memutuskan segera berjalan menuju Coban karena jarak tempuhnya dari parkiran cukup jauh. Menurut petunjuk arah kami harus berjalan turun sejauh 800 meter.

Jalan turun tidak masalah karena sudah dibangun tangga-tangga yang memutar sampai bawah. Pepohonan tropika berjajar menyambut di kanan kiri kami, kicau burung bersahut-sahutan, angin dingin sepoi-sepoi menampar wajah kami. Semuanya tenang dan damai disini. Di beberapa titik disediakan tempat duduk untuk beristirahat, tempat sampah, warung, mushola dan toilet. Fasilitasnya cukup lengkap.

Kami terus berjalan menuruni tangga demi tangga yang terbuat dari batu. Jalan jauh seakan tidak menjadi masalah karena pemandangan yang sangat indah di kanan dan kiri jalan. Di sebelah kanan kita bisa melihat lembah yang dialiri oleh sungai berair jernih. Tanaman tropika lebat menghampar hampir di semua tempat. Tidak diragukan lagi tanah di daerah ini pastilah subur karena dekat dengan pegunungan.

Kurang lebih setengah jam jalan turun, kami diharuskan menyeberang jembatan yang terbuat dari kayu. Di bawahnya aliran air sungai membelah perbukitan dengan begitu derasnya. Banyak yang berfoto-foto disini karena memang pemandangannya sangat indah.

Sungai jernih di dekat Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Setelah menikmati pemandangan sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Coban. Dari sini jaraknya tidak terlalu jauh lagi, sekitar 200 meter melewati jalan berbatu yang basah. Tidak lama kemudian, kami sudah sampai di Coban Pelangi.

Sebuah air terjun dengan ketinggian 30 meter menghampar di depan mata kami. Air mengalir dengan derasnya melalui celah sempit perbukitan di atas sana. Aliran air tersebut menghantam dengan keras bebatuan di bawahnya. Sangat indah, segar, menyejukkan mata. Kami menghabiskan waktu berfoto dan menikmati pemandangan di bawah air terjun.

Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Coban Pelangi (GALUH PRATIWI)

Coban Pelangi finish! (GALUH PRATIWI)

Mau gaya masukin air ke botol tapi gagal (GALUH PRATIWI)

Kami tidak menghabiskan waktu lama disini karena kami harus bergegas melanjutkan perjalanan dari Coban Pelangi ke Cemoro Lawang. Hari semakin siang dan kami harus bergegas karena sebelum menuju Cemoro Lawang nanti, kami harus melalui lautan pasir Tengger sejauh sepuluh kilometer. Kami membutuhkan waktu setengah jam untuk kembali ke atas kembali. Perjalanan naik tidaklah semudah perjalanan turun. Tarikan gravitasi memaksa kami berhenti beberapa kali untuk mengatus nafas.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Menurut rute google map, dari sini kami mengikuti jalan saja dari Desa Ngadas ke Desa Jemplang. Desa Jemplang adalah desa terakhir sebelum menuju Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.  Jalanan yang beraspal bagus membuat Si Merah bisa melaju dengan leluasa.

Seperti sebelumnya, sebelah kanan kiri jalan didominasi oleh pepohonan tropika yang menghampar tinggi dan lebat. Jalanan sepi sekali. Bisa dihitung berapa kali kami menjumpai pengendara lain. Tapi aku tidak boleh takut. Pilihan kami hanya ada dua, maju terus sampai Cemoro Lawang (lebih dekat) atau kembali lagi ke Tumpang dan Malang (lebih jauh). Aku tidak suka perjalanan kembali, karena itulah aku memantapkan untuk terus melaju apapun yang terjadi meskipun jalanan semakin sepi dan dingin.

Kami terus melaju ke tempat yang lebih tinggi. Jalan aspal masih bagus, tetapi lagi-lagi sepi sekali. Tidak ada pengendara yang lain. Kabut mulai turun. 'Sial, aku rasa mau hujan', ujarku dalam hati.

Tiba-tiba setelah melewati jalan dengan perkampungan di sekitarnya, kami harus melalui jalan dengan jurang di sisi kanan dan kirinya. Iya benar-benar jurang di kanan kirinya, tanpa pengamanan sama sekali! Jalan aspal dengan lebar sekitar dua meteran itu sontak membuatku pusing. Bayangan akan jatuh langsung berkelebat. Tapi aku memaksa diriku tetap fokus menghadap ke depan. Syukurlah kami bisa melaluinya dengan lancar sampai menemukan jalan yang normal kembali (well, setidaknya hanya ada satu jurang di salah satu sisinya, bukan kedua sisi seperti yang tadi).

Diary Menggapai Himalaya 30 : Keliling Kompleks Lumbini 1

Aku tertegun melihat peta Kompleks Lumbini di depanku.

"Wuahh....ternyata luas banget Lumbini itu. Nggak mungkin kita mengelilinginya dengan jalan kaki, apalagi waktu kita hanya dua jam sebelum bus ke Kathmandu berangkat," kataku ke Fredo.

Belum sempat Fredo menjawab seorang lelaki tua mendekati kami dan menawarkan tumpangan cycle rickshaw untuk berkeliling Lumbini. Memang tidak memungkinkan mengelilingi Lumbini dengan jalan kaki, ujarnya. Kecuali kaki mau gempor dan hanya membuang-buang waktu. Lelaki tua itu meminta 500 Rupee untuk mengantarkan kita berdua keliling Kompleks Lumbini.

Aku menawar 400 Rupee, beralasan kita mahasiswa yang jalan dengan uang pas-pasan. Tawar menawar sejenak, dia akhirnya setuju dengan tarif 400 Rupee dan mulai mengayuh sepedanya membawa kami berkeliling.

Lumbini merupakan salah satu situs ziarah umat Buddha yang berlokasi di Distrik Rupandehi. Menurut tradisi Buddha, di tempat inilah Ratu Mayadevi melahirkan Siddharta Gautama pada tahun 528 SM tepatnya di Kuil Mayadevi. Desain Situs Lumbini sendiri cukup unik, disini kita menjumpai zona biara yang cukup luas. Tidka ada toko-toko, hotel ataupun restoran. Biaranya sendiri terbagi menjadi dua yaitu Zona Biara Timur dan Zona Biara Barat, dimana zona timur dibangun biara-biara beraliran Theravadin, sementara zona barat dibangun biara-biara beraliran Mahayana dan Vajrayana. Biara-biara tersebut dibangun oleh negara-negara yang kebanyakan mempunyai penduduk mayoritas beragama Buddha, tetapi ada juga biara yang dibangun oleh Jerman dan Perancis.

Biara pertama yang kami kunjungi adalah biara milik negara Myanmar. Sebuah pagoda berwarna keemasan yang sering disebut Pagoda Lokamani Cula Burma berdiri gagah di depan kami. 

"Panas....panas...", ujarku kepada Fredo sesaat setelah melangkahkan kaki untuk mengelilingi pagoda. Kita memang diwajibkan melepas alas kaki saat masuk ke area biara.

"Udah ayo kita keliling cepat saja terus segera lanjut," kata Fredo.

Kami berjalan cepat-cepat mengelilingi biara dan segera melanjutkan perjalanan ke biara selanjutnya. Lelaki Nepal pengayuh cycle rickshaw kami terlihat semangat mengayuh sepedanya. Keringat mulai berjatuhan di pelipisnya, tapi tidak menghalanginya untuk terus emnjawab keingintahuan kami tentang Nepal.

"Sir, di Nepal mayoritas Hindu atau Buddha?" tanyaku. Aku penasaran karena di negara inilah pemimpin spiritual Buddha terbesar lahir.

"Hindu madam..70 persen orang Nepal beragama Hindu, " katanya.

"Sir, disini sangat tenang dan damai. Sebelumnya kami di India keadaan sangat ribut, jadi sangat aneh sekarang jadi sepi," kata Fredo.

"Yeah, disini lebih baik dari Kathmandu," kata lelaki itu lagi.

"Sir, kamu bisa berbicara bahasa Hindi?" tanya Fredo lagi.

"No, kita berbicara bahasa Nepal disini Sir," jawabnya tanpa lelah.

Bla bla bla masih banyak pertanyaan lain yang kami ajukan kepada supir auto rickshaw kami. Pemberhentian kami selanjutnya adalah biara milik negara India. Beberapa anak tangga menyambut kami sebelum masuk ke kompleks biara utama, seperti biasa kami juga harus melepas alas kaki disini.

"Dari Indonesia ya Pak?" aku mendengar Fredo bertanya kepada seorang Bapak yang juga hendak memasuki biara India.

"Iya, iya," jawab Bapak tersebut, "Kamu juga?"

"Iya Pak..," jawab Fredo.

"Wah Bapak dari Indonesia ya? Kami baru ketemu orang Indonesia pertama ini pak selama jalan dari India," kataku ikut nimbrung.

bla, bla, bla, selanjutnya kami langsung mengobrol dengan akrab. Rasanya senang sekali bertemu teman sebangsa kalau sedang jalan-jalan di luar negeri begitu. Setelah mengobrol sejenak aku segera mengelilingi biara ini. Di sepanjang dindingnya dilukis cerita Buddha ketika pertama kali meninggalkan istana dan memutuskan mengakhiri penderitaan duniawi untuk menjadi pertapa, godaan-godaan ketika Buddha mulai bertapa, ketika Sujata Garh memberinya makanan dan minuman ketika Buddha sudah sangat lemah, ketika Buddha memperoleh pencerahan, dan saat Buddha memberikan ajaran Dhamma kepada pengikutnya. Cerita gambar yang menarik, aku mengambil setiap foto. Sungguh aku sangat menghormati Sang Buddha.

Oiya, Bapak dari Indonesia tadi datang dengan istrinya. Istri bapak tersebut segera bergabung dengan kami setelah selesai mengelilingi kompleks biara. 

"Ibu Buddha ya? Saya lihat tadi ibu berdoa," tanyaku.

"Tidak, saya Katolik, tapi tidak apa-apa kan kita berdoa? Kita harus mengucap syukur karena perjalanan sudah diberkahi sampai kesini," jawab ibu tersebut.

"Iya bu. Oya dari mana bu?"

"Dari Surabaya. Ini sudah hari-hari terakhir kami disini. Sebelumnya kami dari Kathmandu dan Phokara. Saya senang disini karena suasananya tenang. Di Kathmandu sering hujan. Kalau kalian dari mana?"

"Kami dari India bu. Setelah ini akan lanjut ke Kathmandu. Bagus ya bu disana?"

"Yah bagus kok, cuma waktu kami disana sering mendung setiap hari, " kata ibu itu lagi.

"Kalau Phokara menurut kami biasa saja ya. Bahkan malah kaya Sarangan. Tau Sarangan kan? Yang di Gunung Lawu itu, katanya lagi.

"Wah trimakasih Bu infonya. Sedikit menghibur kami, karena sebenarnya kami mau ke Phoakra tapi karena kereta dari India telat sehingga terpaksa dibatalkan."

Kami masih mengobrol panjang setelah itu, bahkan sempat foto-foto. Usia mereka bisa dibilang tidak lagi muda, tetapi semangat menjelajahnya masih mengagumkan. Aku harap aku bisa seperti mereka, mempunyai semangat berpetualang tanpa dibatasi usia. Mereka memberikan kami banyak nasehat sebelum kami berpisah pada arah sebaliknya.

Trimakasih Bapak, Ibu, saya akan selalu mengingat kalian!

Peta Kompleks Lumbini, luas banget ya (GALUH PRATIWI)

Salah satu gerbang keluar Kompleks Lumbini (GALUH PRATIWI)

Zona biara dibagi dua yaitu zona biara barat (bagian atas) dan zona biara timur (bagian selatan). Zona tersebut berdasarkan aliran Buddha yang diyakini. (GALUH PRATIWI)

Pagoda Lukamani Cula Burma (milik Myanmar) (GALUH PRATIWI)

Pagoda Lukamani Cula Burma (milik Myanmar) (GALUH PRATIWI)

Ukiran pada pagoda sangat detail, indah dan cantik (GALUH PRATIWI)

Semangat mengantarkan kami keliling (GALUH PRATIWI)

Kenampakan bagian depan biara milik India (GALUH PRATIWI)

Kelahiran dan langkah pertama Pangeran Siddharta, dibelakangnya adalah sosok Ibunya, Ratu Mayadevi. Langkah kaki Pangeran Siddharta ditandai oleh bunga teratai. (GALUH PRATIWI)

Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan semua kesengsaraan duniawi dan memotong rambutnya di Sungai Anoma untuk menjadi seorang pertapa (GALUH PRATIWI)

Pangeran Siddharta melakukan praktek meditasi di Uruvela, Gaya selama 6 tahun. Melakukan penyiksaan diri untuk melepaskan diri dari kesengsaraan duniawi. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan lemah saat itu. (GALUH PRATIWI)

Seorang perempuan desa bernama Sujata Garh tidak tega melihat kondisi Pangeran Siddharta yang sudah sangat lemah sehingga menawarinya nasi susu. Dari situlah Pangeran Siddharta menyadari bahwa penyiksaan diri yang ekstrim bukanlah jalan untuk memperoleh pencerahan. Kemudian beliau pindah bermeditasi di bawah pohon bodhi dan memperoleh pencerahan, mengajarkan ajaran "jalan tengah" dan menjadi Buddha (GALUH PRATIWI)

Seekor gajah dan kera menawari Buddha madu dan buah-buahan untuk dimakan (GALUH PRATIWI)

Buddha merawat Biksu Putigatta Tissa yang sedang sakit (GALUH PRATIWI)

Buddha mengajarkan Dhamma kepada pengikut-pengikutnya di Sarnath (sekarang di India dekat kota Bodh Gaya) (GALUH PRATIWI)

Buddha menjinakkan gajah yang mengamuk di Nalagiri (GALUH PRATIWI)

Posisi terakhir Buddha sebelum meninggal. Posisi ini banyak diabadikan di beberapa patung Buddha di berbagai belahan dunia seperti Bangkok (Wat Pho) dan Mojokerto (Mahavira Majapahit) (GALUH PRATIWI)