Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

10.27.2016

Diary Menggapai Himalaya 29 : Stupa Swayambunath

Motor matik kami kembali berjalan menembus kepadatan Kota Kathmandu. Motor, mobil, manusia, bangunan usang, debu saling bercampur di jalanan kota yang nyaris tanpa lampu pengatur lalu lintas ini. Untaian kabel-kabel melilit di tiang listrik yang ukurannya tidak seberapa. Matahari bersinar menyengat, klakson motor bersahut-sahutan. Pemandangan yang cukup klasik dan biasa di Kathmandu. Kami sudah terbiasa.

Semakin lama jalanan yang kami lewati terasa semakin menanjak. Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalanan aspal yang cukup halus ini. Setelah setengah jam berkendara, kami telah sampai di Stupa Swayambunath. Tidak seperti sebelumnya, disini kami bisa memarkir motor karena disediakan tempat parkir yang luas dan gratis. Rupaya Stupa Swayambunath berada di salah puncak Bukit Swayambhunath di Lembah Kathmandu.

Suasana stupa terlihat sangat tenang dan damai. Begitu masuk, pemandangan pertama yang kami lihat adalah sebuah kolam melingkar dengan patung Buddha ketika masih berusia belia di bagian tengahnya. Pada bagian bawah patung terdapat sebuah lempengan besi yang penuh dengan uang logam. Beberapa uang logam yang dilemparkan pengunjung meluncur masuk ke kolam. Aku sendiri kurang paham maksudnya untuk apa, mungkin sebagai bentuk persembahan, keberuntungan?


Kami melangkahkan kaki lebih jauh ke dalam kuil. Menurutku Kuil Swayambunath ini sangat damai dan menarik. Di bagian bawah aku bisa melihat monyet-monyet berlompatan dan berenang dengan bebas. Turis lokal maupun turis asing saling berjajar di pagar untuk melihat aktraksi menarik tersebut.

Petualangan kami berlanjut ke puncak bukit Swayambunath. Karena posisi kuil yang berada di puncak, kita bisa melihat pemandangan Lembah Kathmandu dari atas. Bendera-bendera doa warna-warni berkibar tertiup angin gunung yang segar. Penjual berbagai pernak-pernik mulai dari alat bersembahyang umat Buddha (mulai dari patung Buddha berbagai ukuran, roda doa, kalung doa, cawan-cawan kuningan), lukisan minyak, kalung, gelang, topeng dengan berbagai macam ukiran, kartu pos, dan masih banyak lagi.

Menaiki anak tangga yang cukup banyak dan curam, akhirnya kami sampai di bagian atas kuil yang merupakan tempat ziarah utama yakni Stupa Swayambhunath. Sebuah mandala berbentuk setengah bola berwarna putih menjadi alas bagi Stupa Swayambunath. Di sekeliling mandala terlihat dikelilingi oleh pagar dan roda doa. Bendera-bendera doa saling dibentangkan dari ujung stupa ke sekeliling arah, menyebarkan mantra-mantra yang diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi makhluk hidup di dunia. Berdasarkan tulisan di lempengan sekitar stupa, untuk melakukan ziarah mengelilingi stupa atau memutar roda doa diharapkan searah dengan jarum jam.

Dari stupa kami beranjak ke bagian ujung kuil yang langsung menghadap pegunungan dan Lembah Kathmandu. Pemandangan sangat indah dan damai, ditambah cuaca sedang sedikit mendung sehingga kami terhindar dari terik matahari. Ribuan rumah berbentuk kotak-kotak bertumpuk di Lembah Kathmandu. Banyak bangunan bertingkat-tingkat disini, mungkin seperti rumah susun. 

Aku memandang ke bawah, aku memandang ke gunung. Hatiku berdesir, hatiku bahagia. Terimakasih Tuhan telah mengizinkanku kesini.

Kolam dengan patung Buddha di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Monyet-monyet berlompatan dan berenang di kolam (GALUH PRATIWI)

Naik puluhan anak tangga menuju puncak bukit (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Buddha Siddharta Gautama (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Penjual souvenir di Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Berfoto bersama penjual lukisan minyak (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath yang berwarna kuningan dengan lukisan Buddha (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Stupa Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Kuil Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Langit mendung menggelayuti Lembah Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Bendera doa berkibar tertiup angin (GALUH PRATIWI)

PBendera doa berisi mantra-mantra. Ketika berkibar tertiup angin diharapkan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi dunia (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

Pemandangan Lembah Kathmandu dari puncak Bukit Swayambhunath (GALUH PRATIWI)

10.24.2016

Kuala Lumpur, 1 Februari 2012 : Dibuntuti 'Orang Jahat?'

Aku menulis catatan ini pada 2 Februari 2012 di facebook, sehari setelah peristiwa mendebarkan itu terjadi. Catatan ini sekaligus sebagai pengingat buatku, bahwa kita harus selalu waspada dimanapun kita berada. Gaya bahasaku masih kacau dan 'bocah banget', aku menuliskannya disini supaya aku selalu mengingat kejadian ini supaya bisa mawas diri.

Kuala Lumpur
1 Februari 2012

Well, w ga suka koya-koya, tapi pengen cerita.
Mumpung emosi w masih membara,
jantung masih berdebar..
males ngeblog, jd di fb.

Hari itu tanggal 1 Februari 2012, malem terakhir w di Kuala Lumpur..
sepagian sesiangan w cuma tiduran gak jelas di hotel ..
akhirnya jam 5 sore w sama temen mutusin start jalan2 di bagian kota KL yang w belum jelajahin, little india dgn jalan kaki..
Sebelumnya makan nasi goreng India yang porsi seabrek sama teh tarik, sambil dengerin lagu2 gereja Tamil
awalnya terasa menyenangkan, kami sempet kunjungin KTMB mosque, stasiun KA KL, national mosque.
foto-foto nggak jelas..
setelah nungguin temen w sholat, kami memutuskan balik, udah jam 8 malem..
cuma w baru sadar kalao jalan yg kite lalui td siang udah sepi n gelap.
yang ada cuma mobil2 sliweran kecepatan tinggi..
parahnya kite lupa jalan pulang, semuanya membingungkan!

Saat jalan ada orang laki2 yg tiba2 jalan mendahului kite, w biasa aja
tapi orang itu di depan berhenti, trus jalan balik, jadi kan sempet berpapasan..
dia tanya kite mau kemana, w jawab ke little india
die nya ngasi arah ngak jelas, menurut supir taksi arah itu justru menjauhi KL sentral, hotel kite
w ngak percaya gitu aja, w memutuskan balik arah, jadi di belakang orang td jalannya.
tiba2 tuh orang berhenti lagi, sandaran ngak jelas gitu di tembok.
w sama temen w memutuskan nyebrang jalan, ngejauhin tuh orang
tiba2 lagi tuh orang jalan lagi, ngak nyebrang tapi ngelietin kita.
trus w nyebrang lagi semakin ngejauh,hanya buat w sadar orang td ikut2tan nyebrang n start ngikutin w lagi..
sumprit ati w deg2kan tingkat tinggi..
w mulai ngebayangin bakal jadi korban pencopetan..
akhirnya w sampai lari2 keringat dingin ngak jelas..
tuh orang masih di belakang w..

dengan sisa keputusasaan w mulai nyetop taksi di pinggir jalan..
sialnye ni jalan tuh jalan tol lurus, jadi kalau ngak dapet taksi matilah w..
nyetop taksi pertama nolak, udah ada penumpang..
w lari2 lagi akhirnya dapat taksi..
sumprit ati lega gak ketulungan, 10 ringgit tak berartilah buat nyawa w..
10 menit kite akhirnya sampai penginepan, w jajan di market samping hotel..
tiba2 w lihat tuh orang lagi lewat di depan market, jantung w seakan mau copot.
tuh orang ga masuk market tapi ngeliatin w dengan pandangan setajam elang.

semaleman w parno banget gak bisa tidur..
kamar hotel w kunci dobel,
w takut cz jendela kamar mandi itu langsung akses keluar,
w takut tuh orang masuk lewat situ..
semalem suntuk mata w cuma ditemani ESPN
setiap ada suara mata w langsung belalak, jantung deg2kan..

w sujud syukur saat ni w udah di kamar w di rumah,
aman, nyaman, hangat..
home sweet home bener.
thanks my Jesus Christ

sepertinya w jahat bgt ya..
langsung nge-judge orang spt itu..
tapi itulah sisi kewaspadaan manusia w..
hidup emang keras, jd harus slalu was2..

Siem Reap, 26 Januari 2012 : Belajar dari Kamboja

Catatanku di sebuah komputer gratisan di Siem Reap........

Well, ini pertama kalinya aku pergi ke negara Indochina ini.
Aku nggak terlalu kenal Kamboja, bahkan awalnya nggak ada rencana kesini, tapi aku bersyukur kesini..
Disini aku bisa belajar banyak hal, salah satunya adalah perbedaan kehidupan msyarakat Kamboja n Indonesia..
Guide bus kami mengatakan bahwa Kamboja adl ngr yang sangat miskin, di bawah standar.
Aku melihatnya dan benar2 terenyuh, banyak rumah2 yg cuma seadanya dr bambu..
Sekolah terpencil di sabana..
Anak2 kecil yang selalu kelaparan..
Aku beri mereka roti dan mereka start minta terus..hhe
Udara yang berdebu..
Saat melihat beberapa orang, aku bahkan pengen nangis..hikz, cengeng bgt..

Aku nggak kaya,  tapi aku benar2 terenyuh meliat sperti itu..
Terenyuh lagi saat kami mengajari penunggu guest house kita bhs inggris..
Keinginannya untuk belajar begitu kuat meski fasilitas sangat sedikit..
Bahkan untuk mengucapkan beberapa kata dlm bhs inggris mrk sangat kesusahan,
lalu bagaimana dia bisa ngerti simple present tense, dll? (aku juga ga dong2 bgt dink smp skrg)

Aku belajar banyak dr sini,
Masyarakat Kamboja sangat ramah..lebih rmah dr bule..
aku banyak berkenalan dgn masyarakat lokal,
Chon, Bat, Don, Bon, dll
Bat supir tuk2 kami ke angkor wat, dan ganteng hahaha.
Mereka bercerita tentang Kamboja..
aku suka masyarakat disini,
tetapi aku tetap pengen pulang ke Indonesia.

This is my last night in here, aku harus kembali ke Bangkok besok..
Thank you Kamboja, I love this country.. 


Catatanku setelah pulang dari Kamboja:
2 Februari 2012

Aku di Ta Phrom, Siem Reap, Kamboja (GALUH PRATIWI)

Sejak kecil w suka geografi, sejarah, n sejenisnya..
w juga suka liet situs2 UNESCO macam Menara Pisa, Tembok China, Angkor Wat, Borobudur, dll
w inget pas kecil sempet ngrengek2 ngak jelas sama bapak w pengen ke tempat2 itu.
pengen ke meksiko juga gr2 nonton amigos.
ngrengek2 sambil bawa2 atlas.
waktu itu keluarga w sederhana bgt, cuma kecapei ke prambanan sm borobudur naik bis..

Akhirnya 26 Januari 2012 sampailah mimpi w buat ke angkor wat..
w antusias banget, bayar 20 USD buat masuk sama tuk2 10 USD..
w harus sewa tuk2 seharian coz angkor itu luasnye 400 km2
kriting2 kaki w kalau jalan..
si supir tuk2 bilang die bakal ngajak keliling ke 4 kawasan candi..
angkor wat, angkor thorm, Ta Phorm, satunya w lupa..
w sempet dongkol, kawasan angkor itu banyak candi, kenapa cuma 4?
w diem aja..hanya buat w akhirnya bersyukur kaki w kriting sorenya.

akhirnya sampailah w ke kompleks candi pertama, angkor wat..
hmm, awalnya antusias bgt, tapi lama2 bosen juga..
sialnya w emang bosenan, ngeliat candi2 ngak betah deh..
ngak tahu sejarahnya sama skali pula.
udah download tp males baca, emang dsr w malesan.
w pikir ngak ada bedanya nih candi sama borobudur.
cuma lebih besar n luasnyo.

kompleks kedua w ke angkor thorm,
namanya candi Bayon.
wuh kriting juga kaki w.
akhirnya supir tuk2 bawa kite makan siang..
nasib anak kampung kan pengennya dibawa ke warung makan pinggir jalan,
nah ni kite dibawa ke restoran,
sialnya karena w pinginan w makan sampai habis 8 dolar
dolar w bener2 nipis

kompleks ketiga ke ta phorm,
paling terkenal ada akar2 pohon di candi.
pas w dah foto ya bosen lagi,
malemnya kaki w bener2 kriting.
balseman sebadan, sampai tidur lupa ngunci guest house.
sampai pintunya kebuka..
untung duit w ngak hilang, duh

bisa2 masih disana w skarang.

Solo, 11 September 2016 : Brunei Darrusalam

Bagi para traveler/backpacker, tiket promo itu ibarat heroin. Sekali mencobanya, pasti akan ketagihan dan mau terus-terusan memburu dan membelinya. Padahal terkadang keberangkatannya masih sangat jauh, bisa setahun ke depan. Aku bisa memastikannya, karena aku sendiri mengalaminya.

Minggu, 11 September 2016 sebenarnya hari yang biasa saja. Bangun tidur, seperti biasa aku segera mengecek HP, kebetulan hari itu adalah hari terakhir periode promo Rp 0 dari maskapai Air Asia. Sebenarnya waktu itu aku sangat galau. Tiket murah bertebaran, aku bisa membelinya, tapi aku tidak punya waktu untuk melaksanakannya. Aku harus bekerja. Liburan tahun depan 2017 sudah semuanya kuambil untuk ke China (Maret), Myanmar (Mei), Russia (Juni-Juli) dan Vietnam (Agustus). Saat memikirkan itu, aku jadi pusing dan malas.

Aku iseng-iseng mengecek tiket ke Brunei Darussalam. Karena negara inilah mungkin satu-satunya negara di Asia Tenggara yang aku belum berpikiran untuk mengunjunginya. Padahal jika aku bisa mengunjungi Laos dalam lawatanku ke Vietnam Agustus 2017 besok, Brunei adalah negara terakhir di Asia Tenggara yang akan aku injak. Letaknya yang terisolir dari dataran Indochina membuatku harus berpikir dua kali jika ingin mengunjunginya. Hal itu karena saat traveling aku suka berpindah-pindah tempat dalam waktu cepat. Lokasi Brunei Darrusalam yang berada di Pulau Kalimantan hanya memberiku pilihan untuk mengunjungi Brunei sendiri, Malaysia Timur dan Kalimantan sisi Indonesia.


Saat mengecek via aplikasi Air Asia dengan tanggal acak, aku mendapati harga yang sangat murah. Kuala Lumpur - Brunei, penerbangan berdurasi dua jam, hanya bertarif 67 Ringgit Malaysia, setara sekitar Rp 220.000,- saja. Aku masih belum yakin kapan akan pergi, karena semua hari libur tahun 2017 sudah kuambil. Rencana pertamaku adalah bulan April, ada tiga hari tanggal merah. Tapi karena bulan Maret dan Mei aku sudah mengambil izin juga, aku menetapkan akhir 2017 saja ke Brunei-nya. 


Tiketnya belum kubeli, aku masih harus memantapkan diri. Akhirnya aku mencari tiket pulang dahulu ke Kuala Lumpur kembali. Sebenarnya tiket dari Bandar Seri Begawan - Kuala Lumpur murah juga, tetapi karena aku tipe traveler yang tidak suka harus pergi dan pulang dari tempat yang sama, aku memutuskan akan pulang dari Miri ke Kuala Lumpur. Miri adalah kota di sebelah barat Brunei Darrusalam yang sudah masuk ke wilayah Malaysia. Untuk kesini aku tinggal naik bus dari Brunei ke Miri, berdurasi 4 jam dengan tarif 40 ringgit Malaysia.


Setelah bergumul seharian, akhirnya aku memutuskan membeli tiket Kuala Lumpur - Brunei seharga 67 Ringgit Malaysia, dan Miri - Kuala Lumpur malam harinya dengan harga tiket 68 Ringgit Malaysia. Tanggal keberangkatanku adalah 6-8 Oktober 2017, masih setahun lagi. Saat melihat harga tiket Kuala Lumpur - Surabaya, aku mendapati harga yang sangat murah, hanya 40 Ringgit Malaysia. Segera aku booking sekalian, kapan lagi kan dapat harga murah. 


Brunei Darrusalam, aku datang 2017!! Akan aku update jika ada perkembangan baru lagi.



 Tiket Kuala Lumpur - Brunei seharga 67 Ringgit Malaysia (x Rp 3500)

 Tiket Miri - Kuala Lumpur seharga 68 Ringgit Malaysia (x Rp 3500)

 Tiket Kuala Lumpur - Surabaya seharga 40 Ringgit Malaysia (x Rp 3500)

Diary Menggapai Himalaya 28 : Stupa Boudhanath

" Aahh, sinyal internetnya hilang muncul terus!" kataku setengah emosi dari belakang motor.

"Sabar.....sabar.. Kita berhenti saja dulu buat nyari sinyal," kata travelmateku dengan sabar.

Aku pikir karena kita sudah membeli internet dengan kartu perdana terbaik disini, perjalanan akan lancar. Tapi ternyata perjalanan kami tersendat. Titik biru penunjuk lokasi di google map tidak mau jalan mengikuti laju motor.

Tujuan pertama kami adalah Stupa Boudhanath yang terletak di Kota Boudha, 6 kilometer sebelah timur Thamel. Sebenarnya cukup dekat dan cepat jika sinyal internet ini lancar, tidak hilang muncul seperti ini.

" Sampe pengen takbanting ni HPku," kataku lagi dengan kesal.

"Bukan salah HPmu kok. Santai aja bro," kata travelmateku lagi.

Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya titik biru di google map mau berjalan juga, kami melanjutkan perjalanan menuju Stupa Boudhannat. Tentu saja google map tidak selalu lancar, sehingga kami sempat tersesat sehingga harus bolak-balik jalan yang sama dua kali.

Melewati jalanan kecil berkelok-kelok dan berdebu, akhirnya sampai juga kami di Stupa Boudhannat. Aku cukup terkejut karena meskipun merupakan salah satu destinasi wisata utama di Kathmandu, tapi pintu masuk Stupa Boudhannat sangat kecil. Hampir tidak bisa dibedakan dari bangunan di sekitarnya. Stupa Buddha berwarna emas yang menjulang tinggi menjadi petunjuk kuat kami bahwa ini adalah tempatnya.

Karena tidak ada tempat parkir motor resmi, kami menitipkan motor pada lelaki tua penjaga ruko di depan Stupa Bouddhanat. Pasrah saja. Pasti semua akan baik-baik saja.

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di Stupa Boudhanath. Tidak ada biaya masuk yang ditarik sewaktu kami memasuki gerbang, padahal ada penjaga di pintu gerbang. Aku rasa disini mereka hanya mengandalkan kejujuran. Kamu jujur kamu bayar, demikian juga sebaliknya. Prinsip yang baik di sebuah negara yang percaya adanya karma.

Stupa Boudhanath bisa dibilang merupakan salah satu tempat paling suci di Nepal. Stupa ini mempunyai gelar stupa terbesar di Nepal, sekaligus Kuil Buddha Tibet tersuci di luar Tibet sendiri. Hal itu bisa terinterpretasi dari banyaknya simbol Buddhisme disini.

Stupa Boudhanath berbentuk persegi dengan mandala berbentuk setengah bola. Bagian utama stupa terlihat sedang direnovasi karena rusak akibat gempa dahsyat berskala 7,8 SR yang meluluhlantahkan Nepal pada 25 April 2015. Tapi rupanya itu sama sekali bukan penghalang, karena masih banyak umat Buddha yang menjalankan ritual mengelilingi stupa sembari berkomat-kamit dan memutar roda doa. Bagi mereka, perjalanan ini adalah suatu perjalanan devosional, perjalanan untuk menuju pencerahan. Kontras dengan kami para turis yang hanya berfoto disana-sini.

Pemandangan di sebelah kiri jalur jalan kaki peziarah didominasi oleh puluhan ruko, cafe, hostel, tempat yoga dan meditasi, restoran, bahkan tempat penukaran uang. Dua konsep berbeda yang dipaksakan berada di satu tempat yang sama.

Kami melangkahkan kaki searah jarum jam mengelilingi stupa. Tanganku beberapa kali memutar roda doa yang banyak terdapat di sekeliling stupa. Rasanya begitu damai dan tentram disini.

Kami memasuki bagian dalam stupa untuk menuju tingkat kedua. Pada bagian dalam, terdapat roda doa yang lebih besar dan tempat bersembahyang. Aku menikmati suasana religi yang benar-benar terasa disini. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang indah.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah memberi 'uang parkir' 20 Npr kepada penjaga toko, kami mengarahkan motor ke barat menuju Swayambhunath Stupa. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 10 kilometer. Terasa cukup jauh dengan keadaan Kathmandu yang cukup macet dan berdebu dimana-mana....

Stupa Swayambhunath, kami datang!

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa harus searah jarum jam (GALUH PRATIWI)

Berziarah mengelilingi Stupa Boudhanat sembari membawa kalung doa (GALUH PRATIWI)

Kami mengikuti jalan para peziarah mengelilingi Stupa (GALUH PRATIWI)

Toko pernak-pernik untuk sembahyang umat Buddha (GALUH PRATIWI)

Berziarah seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar yang ramai oleh turis (GALUH PRATIWI)

Kehidupan duniawi di sekitar Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Monasteri di dalam Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015 (GALUH PRATIWI)

Diary Menggapai Himalaya 27 : Menyewa motor untuk keliling Kathmandu

Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

Alamat ruko Mr. Sunil :
di depan Stupa Dharmadhaatu, Kawasan Thamel, Kathmandu (search "Stupa Dharmadhaatu" di google map)
Nomor telepon Mr. Sunil :
+9803239539



Sewa motor matik di Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Plat motornya hampir kami tidak bisa membaca sama sekali (GALUH PRATIWI)

Sebelum berangkat semua kondisi motor dicek dan difoto terlebih dahulu (GALUH PRATIWI)

Stupa Dharmadhaatu (GALUH PRATIWI)

Mr. Sunil (sebelah kanan) (GALUH PRATIWI)

10.23.2016

Diary Menggapai Himalaya 26 : Thamel

Thamel adalah surganya backpacker!

Bisa dikatakan, disinilah kita bisa mendapatkan segala kebutuhan dasar backpacker. Mulai dari ratusan penginapan murah, tour dan travel,perlengkapan treking, restoran dengan menu makanan barat sampai lokal, toko kaset yang terus menerus memutar mantra suci "Om Mani Padme Hum" dari pagi sampai malam, toko berbagai macam pernak-pernik mulai dari patung Buddha Gautama, perlengkapan bersembahyang umat Buddha, kaos-kaos, kartu pos, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, semua kebutuhan dasar manusia bisa ditemukan di kawasan backpacker dengan ratusan cabang jalan yang membingungkan ini.

Kawasan Thamel dihubungkan oleh jalanan sempit (kira-kira 2-5 meter lebarnya) yang saling sambung-menyambung satu sama lain. Jangan heran kalau "tersesat" menjadi menu utama kami disini. Bahkan untuk mencari penginapan kami pun, kami harus sedikit memutar otak. Semua jalan dan gang terlihat sama, membuat kami harus mengingat-ingat beberapa bangunan otentik untuk menentukan arah.

Kami menginap di Thamel, sebuah guest house sederhana bernama Shangrilla Lodge. Letaknya sangat tidak strategis, kami harus membelok-belok masuk melalui sebuah gang kecil. Jalan di depan penginapan tersebut bahkan hanya selebar 1,5 meter. Cukup fair dengan tarif Rp 115.000/malam, kami mendapatkan sebuah kamar dengan 3 kasur berjajar, kamar mandi dalam, air panas, jendela lebar dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

Di kawasan Thamel ini, traveler dari berbagai macam negara tumpah ruah disini. Mulai dari turis Eropa, Amerika, Asia, Amerika Latin, China, Jepang, Afrika, hilir mudik kesana kemari dengan menjinjing ransel mereka. Ada yang sekedar jalan santai, melihat-lihat paket tur, melihat berbagai macam souvenir, mempersiapkan perjalanan untuk mendaki gunung. Atmosfer yang benar-benar santai. Beban kehidupan seakan menguap disini, semuanya berjiwa muda. Bangga telah berhasil menaklukan separuh bola dunia untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran Sang Buddha.

Ritme perjalanan kami menurun. Kami yang sebelumnya di India menggunakan ritme jalan cepat, disini gerakan kami sedikit melambat. Rasa malas menyergap, seakan hanya ingin tidur dan menikmati suasana. Aku rasa semua orang disini juga begitu, ingin berdiam sembari menikmati hidup.

Ah Thamel, aku kangen.........
Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)