Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

10.24.2016

Diary Menggapai Himalaya 28 : Stupa Boudhanath

" Aahh, sinyal internetnya hilang muncul terus!" kataku setengah emosi dari belakang motor.

"Sabar.....sabar.. Kita berhenti saja dulu buat nyari sinyal," kata travelmateku dengan sabar.

Aku pikir karena kita sudah membeli internet dengan kartu perdana terbaik disini, perjalanan akan lancar. Tapi ternyata perjalanan kami tersendat. Titik biru penunjuk lokasi di google map tidak mau jalan mengikuti laju motor.

Tujuan pertama kami adalah Stupa Boudhanath yang terletak di Kota Boudha, 6 kilometer sebelah timur Thamel. Sebenarnya cukup dekat dan cepat jika sinyal internet ini lancar, tidak hilang muncul seperti ini.

" Sampe pengen takbanting ni HPku," kataku lagi dengan kesal.

"Bukan salah HPmu kok. Santai aja bro," kata travelmateku lagi.

Setelah menunggu beberapa saat dan akhirnya titik biru di google map mau berjalan juga, kami melanjutkan perjalanan menuju Stupa Boudhannat. Tentu saja google map tidak selalu lancar, sehingga kami sempat tersesat sehingga harus bolak-balik jalan yang sama dua kali.

Melewati jalanan kecil berkelok-kelok dan berdebu, akhirnya sampai juga kami di Stupa Boudhannat. Aku cukup terkejut karena meskipun merupakan salah satu destinasi wisata utama di Kathmandu, tapi pintu masuk Stupa Boudhannat sangat kecil. Hampir tidak bisa dibedakan dari bangunan di sekitarnya. Stupa Buddha berwarna emas yang menjulang tinggi menjadi petunjuk kuat kami bahwa ini adalah tempatnya.

Karena tidak ada tempat parkir motor resmi, kami menitipkan motor pada lelaki tua penjaga ruko di depan Stupa Bouddhanat. Pasrah saja. Pasti semua akan baik-baik saja.

Kami menghabiskan waktu sekitar 45 menit di Stupa Boudhanath. Tidak ada biaya masuk yang ditarik sewaktu kami memasuki gerbang, padahal ada penjaga di pintu gerbang. Aku rasa disini mereka hanya mengandalkan kejujuran. Kamu jujur kamu bayar, demikian juga sebaliknya. Prinsip yang baik di sebuah negara yang percaya adanya karma.

Stupa Boudhanath bisa dibilang merupakan salah satu tempat paling suci di Nepal. Stupa ini mempunyai gelar stupa terbesar di Nepal, sekaligus Kuil Buddha Tibet tersuci di luar Tibet sendiri. Hal itu bisa terinterpretasi dari banyaknya simbol Buddhisme disini.

Stupa Boudhanath berbentuk persegi dengan mandala berbentuk setengah bola. Bagian utama stupa terlihat sedang direnovasi karena rusak akibat gempa dahsyat berskala 7,8 SR yang meluluhlantahkan Nepal pada 25 April 2015. Tapi rupanya itu sama sekali bukan penghalang, karena masih banyak umat Buddha yang menjalankan ritual mengelilingi stupa sembari berkomat-kamit dan memutar roda doa. Bagi mereka, perjalanan ini adalah suatu perjalanan devosional, perjalanan untuk menuju pencerahan. Kontras dengan kami para turis yang hanya berfoto disana-sini.

Pemandangan di sebelah kiri jalur jalan kaki peziarah didominasi oleh puluhan ruko, cafe, hostel, tempat yoga dan meditasi, restoran, bahkan tempat penukaran uang. Dua konsep berbeda yang dipaksakan berada di satu tempat yang sama.

Kami melangkahkan kaki searah jarum jam mengelilingi stupa. Tanganku beberapa kali memutar roda doa yang banyak terdapat di sekeliling stupa. Rasanya begitu damai dan tentram disini.

Kami memasuki bagian dalam stupa untuk menuju tingkat kedua. Pada bagian dalam, terdapat roda doa yang lebih besar dan tempat bersembahyang. Aku menikmati suasana religi yang benar-benar terasa disini. Bagaimanapun, ini adalah perjalanan yang indah.

Kami melanjutkan perjalanan kembali. Setelah memberi 'uang parkir' 20 Npr kepada penjaga toko, kami mengarahkan motor ke barat menuju Swayambhunath Stupa. Jarak yang harus kami tempuh sekitar 10 kilometer. Terasa cukup jauh dengan keadaan Kathmandu yang cukup macet dan berdebu dimana-mana....

Stupa Swayambhunath, kami datang!

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa harus searah jarum jam (GALUH PRATIWI)

Berziarah mengelilingi Stupa Boudhanat sembari membawa kalung doa (GALUH PRATIWI)

Kami mengikuti jalan para peziarah mengelilingi Stupa (GALUH PRATIWI)

Toko pernak-pernik untuk sembahyang umat Buddha (GALUH PRATIWI)

Berziarah seakan tidak memperdulikan keadaan sekitar yang ramai oleh turis (GALUH PRATIWI)

Kehidupan duniawi di sekitar Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Memutar roda doa atau roda mani yang berisi mantra suci (GALUH PRATIWI)

Monasteri di dalam Stupa Boudhanat (GALUH PRATIWI)

Stupa Boudhanat sedang dalam renovasi setelah gempa dahsyat pada 25 April 2015 (GALUH PRATIWI)

Diary Menggapai Himalaya 27 : Menyewa motor untuk keliling Kathmandu

Kathmandu kota yang cukup luas dan berdebu untuk ditelusuri dengan berjalan kaki. Karena jujur, tersesat di kawasan Thamel saja sudah membuat kakiku gempor, apalagi kalau harus berjalan keliling kota untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disini.

Sewa motor menjadi pilihan kami untuk menghemat tenaga sekaligus uang. Menghemat tenaga karena kami berencana akan mengunjungi beberapa tempat wisata yang lokasinya cukup berjauhan dari hostel tempat kami menginap. Menghemat uang karena jika tidak menggunakan motor sewaan/jalan kaki, satu-satunya transportasi ke tempat-tempat tersebut adalah taksi yang mematok harga 200-400 Npr (Rupee Nepal) sekali berangkat (sekitar Rp 20.000 sampai Rp 40.000). Apalagi jika dapat supir nakal yang suka mematok harga seenaknya ke turis asing, tambah apes lagi.

Cukup banyak persewaan motor yang berjajar di ruko-ruko padat Thamel. Setiap ruko menawarkan harga dan jenis motor yang berbeda-beda, tapi kebanyakan adalah motor matik, motor bajaj, dan motor tril. Paling murah tentunya motor matik.

Setelah berkeliling sesaat kami mendapatkan sewa motor yang menurut kami cukup murah, berada di sebuah ruko yang menjual bahan makanan di dekat Dharmadhaatu Stupa. Di depan ruko tersebut ada sebuah plang kecil bertuliskan "Rent Motorcycle". Pemiliknya lelaki Nepal bernama Mr. Sunil. Ramah dan informatif. Harga sewa motornya adalah 500 Npr/sampai sore. Cukup fair untuk sebuah motor matik (bentuknya seperti Honda Beat dengan perawakan yang lebih gemuk). Kami menyewa motor selama tiga hari. Hari ini berkeliling Kota Kathmandu, dua hari setelahnya untuk menuju Bhaktapur Durbar Square dan Nagarkot yang berada 32 kilometer di sebelah timur laut Kathmandu.

Paspor adalah syarat yang diminta Mr. Sunil untuk menyewa motornya. Karena kami berdua dan pasporku akan kugunakan untuk check in di hotel Nagarkot nanti, temanku yang meninggalkan paspornya. Kami sempat mengecek dan menfoto kondisi motor sebelum diberi dua buah helm dan fotocopy surat kendaraan.

" Bagaimana jika kita melakukan pelanggaran lalu lintas dan polisi menangkap kita? Apakah fotocopy surat motor ini bisa digunakan?" tanyaku penasaran. Bagaimanapun aku tidak mau berurusan dengan birokrasi disini.

"Tenang saja. Bilang saja Mr. Sunil. Mereka (polisi) teman saya. Pasti akan baik-baik saja," jawab Mr. Sunil.

Antara percaya dan tidak percaya, aku pasrah. Kami akan berusaha mengemudi sebaik mungkin, menghindari melanggar lalu lintas. Setelah menanyakan arah keluar dari Thamel menuju jalan raya utama dan menerima dua buah helm, kami segera meninggalkan ruko Mr. Sunil.

Mungkin ini kesalahan terbesar kami. Menyewa motor tapi sama sekali tidak tau arah. Memang banyak informasi arah di Kathmandu (seperti papan hijau penunjuk arah di Indonesia), tetapi semuanya nama-nama asing yang belum pernah kudengar. Tujuan kami adalah Stupa Bouddhanat. Kami sama sekali tidak tau arah, hanya berputar-putar kesana kemari.

Debu Kota Kathmandu yang tebal dan menggumpal sedikit membuatku pusing. Aku mengusulkan ke travelmate untuk mencari ruko yang menjual kartu internet. Harus menggunakan google map. Susah sekali jalan tanpa arah dan tujuan seperti ini. Untung saja google bukanlah sesuatu yang diblokir di negara ini.

Setelah berputar-putar cukup lama, kami mendapati sebuah warung kelontong yang menjual kartu internet. Setelah bertanya-tanya cukup banyak tentang kartu internet terbaik di Nepal, kami disarankan menggunakan NCell. Katanya sinyal NCell bisa menjangkau sampai ke Nagarkot (tujuan kami besok). Tetapi karena untuk menggunakan kartu internet harus aktivasi dahulu, penjual warung tersebut - seorang lelaki muda Nepal berperawakan tinggi - menyarankanku untuk membeli kartu perdana sekaligus pulsa internet di konter NCell langsung. Kami mengikuti arahannya dan menemukan konter yang dimaksud.

Seperti di India, membeli kartu perdana di Nepal harus melewati prosedur yang lumayan ribet. Aku diharuskan memberikan paspor dan visa nepal untuk difotocopy, mengisi formulir yang meliputi data diri, memberikan foto close up (waktu kuberi foto dengan kertas foto tipis mereka sempat menolak). Setelah melalui proses yang lama, akhirnya mereka memberikanku kartu perdana seharga 150 Npr. Tentu saja itu hanya kartu perdana yang berisi pulsa reguler, aku masih harus membeli paket internet. Karena hanya untuk 3 hari, aku membeli paket internet 100Mb seharga 100 Npr. Penjaga konter mengaktivasi nomorku dan akhirnya aku bisa menggunakan internet!

Tetapi, bukan berarti masalah selesai....

Alamat ruko Mr. Sunil :
di depan Stupa Dharmadhaatu, Kawasan Thamel, Kathmandu (search "Stupa Dharmadhaatu" di google map)
Nomor telepon Mr. Sunil :
+9803239539



Sewa motor matik di Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Plat motornya hampir kami tidak bisa membaca sama sekali (GALUH PRATIWI)

Sebelum berangkat semua kondisi motor dicek dan difoto terlebih dahulu (GALUH PRATIWI)

Stupa Dharmadhaatu (GALUH PRATIWI)

Mr. Sunil (sebelah kanan) (GALUH PRATIWI)

10.23.2016

Diary Menggapai Himalaya 26 : Thamel

Thamel adalah surganya backpacker!

Bisa dikatakan, disinilah kita bisa mendapatkan segala kebutuhan dasar backpacker. Mulai dari ratusan penginapan murah, tour dan travel,perlengkapan treking, restoran dengan menu makanan barat sampai lokal, toko kaset yang terus menerus memutar mantra suci "Om Mani Padme Hum" dari pagi sampai malam, toko berbagai macam pernak-pernik mulai dari patung Buddha Gautama, perlengkapan bersembahyang umat Buddha, kaos-kaos, kartu pos, gantungan kunci, dan lain sebagainya. Bisa dibilang, semua kebutuhan dasar manusia bisa ditemukan di kawasan backpacker dengan ratusan cabang jalan yang membingungkan ini.

Kawasan Thamel dihubungkan oleh jalanan sempit (kira-kira 2-5 meter lebarnya) yang saling sambung-menyambung satu sama lain. Jangan heran kalau "tersesat" menjadi menu utama kami disini. Bahkan untuk mencari penginapan kami pun, kami harus sedikit memutar otak. Semua jalan dan gang terlihat sama, membuat kami harus mengingat-ingat beberapa bangunan otentik untuk menentukan arah.

Kami menginap di Thamel, sebuah guest house sederhana bernama Shangrilla Lodge. Letaknya sangat tidak strategis, kami harus membelok-belok masuk melalui sebuah gang kecil. Jalan di depan penginapan tersebut bahkan hanya selebar 1,5 meter. Cukup fair dengan tarif Rp 115.000/malam, kami mendapatkan sebuah kamar dengan 3 kasur berjajar, kamar mandi dalam, air panas, jendela lebar dengan angin sepoi-sepoi yang menyegarkan.

Di kawasan Thamel ini, traveler dari berbagai macam negara tumpah ruah disini. Mulai dari turis Eropa, Amerika, Asia, Amerika Latin, China, Jepang, Afrika, hilir mudik kesana kemari dengan menjinjing ransel mereka. Ada yang sekedar jalan santai, melihat-lihat paket tur, melihat berbagai macam souvenir, mempersiapkan perjalanan untuk mendaki gunung. Atmosfer yang benar-benar santai. Beban kehidupan seakan menguap disini, semuanya berjiwa muda. Bangga telah berhasil menaklukan separuh bola dunia untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran Sang Buddha.

Ritme perjalanan kami menurun. Kami yang sebelumnya di India menggunakan ritme jalan cepat, disini gerakan kami sedikit melambat. Rasa malas menyergap, seakan hanya ingin tidur dan menikmati suasana. Aku rasa semua orang disini juga begitu, ingin berdiam sembari menikmati hidup.

Ah Thamel, aku kangen.........
Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu di pagi hari masih sepi (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Kawasan Thamel, Kathmandu (GALUH PRATIWI)

10.08.2016

Solo, 8 Oktober 2016 : Kenapa ngeblog kalau tidak ada yang baca?

Malas menulis, tidak bisa menulis, tidak bisa nge-blog, tidak bakal ada yang baca adalah alasan utama teman-temanku menolak untuk membuat blog. Padahal mereka mempunyai banyak pengalaman menyenangkan yang pastinya akan menarik diceritakan kembali dalam sebuah blog. Sebuah blog, walaupun sederhana, entah bagaimanapun pasti suatu saat akan membantu orang lain. Di era digital dan internet seperti sekarang ini, google adalah tujuan utama orang untuk mencari informasi. Selain membantu memberikan informasi untuk orang lain, nge-blog juga membantu diri sendiri untuk mengingat perjalanan-perjalanan seru yang pernah dilakukan dalam hidup.

Aku mulai nge-blog pada 2010. Pada awalnya hanya ingin membuat blog yang memuat sejarah-sejarah di dunia ini. Aku sangat suka sejarah. Tapi dalam perkembangannya 2010-2016, blog ini lebih banyak berisi cerita perjalanan dan curhatanku. 

Pada awal-awal aku membuat blog, jumlah pengunjungnya bisa dikatakan sangat sedikit. Sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah like saat Justin Bieber sekali saja pasang foto di facebook. Tapi bukan itu motivasiku untuk membuat blog. Bagiku blog adalah sebuah tempat untuk mencurahkan semua pemikiranku dalam bentuk buku diari digital. Semua perjalanan yang pernah kulakukan, sebisa mungkin aku tulis di blog ini. Tujuannya? Supaya aku tidak pernah melupakan perjalanan tersebut. Supaya aku bisa terus membacanya. Jika orang lain membutuhkan informasi, itu adalah bagianku untuk membantu orang.

Blog ini, sudah berusia enam tahun, ibaratnya seperti anakku sendiri. Ini adalah hasil karyaku, kekalutanku, kebingunganku, kebahagiaanku kutuangkan dalam ratusan tulisan selama enam tahun terakhir.

Tidak perlu mengharap jumlah pengunjung yang banyak, tidak perlu terlalu mengharapkan jumlah komentar yang banyak. Jika tujuan kalian hanya menulis, maka menulislah. Menulislah untuk diri kalian sendiri, menulislah seakan-akan itu adalah pengalaman paling berharga yang tidak ingin kalian lupakan. Jangan sampai sebuah perjalanan mahal yang cukup menguras kantong kalian, berakhir terlupakan begitu saja dalam bentuk folder foto yang menumpuk di hard disk dan postingan di media sosial yang mudah dilupakan orang. Abadikan itu dalam bentuk tulisan. Bisa menulis itu karena terbiasa. Aku sendiri masih terus belajar, masih sering tidak konsisten menggunakan gaya bahasa. Tapi itu tidak masalah.

Menulis dan menulislah di blog. Jumlah pengunjung yang membludak adalah sebuah bonus, yang penting pengalamanmu akan abadi.

10.04.2016

Surabaya, 4 Oktober 2016 : Kebahagiaan yang sederhana

Sumber gambar : www.theodysseyonline.com

Apa sebenarnya arti dari kebahagiaan?

Aku terus mencari artinya, karena terkadang aku benar-benar tidak memahaminya.

Menurut beberapa definisi yang aku baca di internet, kebahagiaan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan atau kegembiraan yang intens.

Ketika aku singgah ke Maha Vihara Majapahit di Mojokerto, dikatakan “Kebahagiaan karena melepas, penderitaan karena mengikat.” Menurut ajaran Buddha, jelas bahwa jika kita melepaskan kekotoran batin di dalam hidup kita (iri, benci, egois, marah, jengkel, cemburu) maka kita akan bahagia, demikian juga sebaliknya.

Ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan tergantung dari seberapa banyak uang yang kita miliki. Semakin banyak uang, maka hidup akan semakin bahagia. Banyak yang ngomong, “Munafik kamu kalua kebahagiaan bukan ditentukan oleh uang.”

SALAH. Pemikiran salah yang sudah aku buktikan sendiri. Aku sama sekali tidak bahagia dengan uang. Uang hanya membawa kita ke dalam suatu jeratan yang akan menarik kita semakin dan semakin dalam. Susah untuk keluar. Sifat tamak, iri hati, benci, dengki seakan muncul jika sudah berhubungan dengan uang….

Aku mendapati ketika aku masuk ke dalam jeratan tersebut, aku tidak bahagia. Aku merana.
Lantas, dimana aku bisa mencari kebahagiaan?

Aku tidak ingin hidup sekedar hidup, bekerja untuk hidup, bekerja untuk membayar hutang yang menggunung, membayar tagihan, aku tidak mau begitu. Aku ingin menghidupi hidup ini. Aku ingin hidupku berwarna, penuh dengan hal-hal indah yang membuatku bahagia.

Aku rasa kehidupan yang lalu adalah sebuah pengalaman. Aku terus mencari file kebahagiaan di pengalaman-pengalaman hidupku yang lampau. Semuanya masih tersimpan rapi di otakku. Ketika kubuka aku mendapati beberapa hal: Traveling, Bercanda bersama teman-teman, KKN dan tinggal di Atambua, reuni bersama teman-teman SMP dan SMA, ketika membantu orang lain, memasak, menonton film sembari minum coklat panas saat hujan…..

Well, aku terkejut. Ternyata hal-hal yang cukup sederhana.

Bukan uang. Bukan rumah mewah. Bukan mobil. Bukan handphone bagus.

Sebuah sumber menyatakan, "Do more of what makes you happy."

I WILL.

Disitu aku menyadari, bahwa kebahagiaan bukanlah faktor eksternal……

Kebahagiaan adalah faktor internal, berasal dari dalam diri kita. Seperti sebuah sensor, dia akan menyala hijau kalau ada ransangan hal-hal yang membuat kita senang. Sebaliknya, dia akan menyala merah ketika dirangsang oleh hal-hal yang tidak membuat kita senang.

Sebenarnya aku berbahagia hidup sederhana…

Yang mendorongku untuk menjauhkan diri dari sifat tamak dan serakah….Menerima keadaan dan tetap bersyukur.

Meskipun akan ada banyak batasan, tetapi Tuhan akan selalu memberi jalan.

Dan di tengah perjalanan tersebut, kita bisa tersenyum….

Aku bahagia, hidupku tidak sia-sia……




9.19.2016

[PART 16] Tinta Hindustan: Sujata, Perempuan Penolong Sang Buddha

Trip ini merupakan cerita perjalananku menjelajah India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Part sebelumnya : Disini

Nama Sujata Garh mungkin tidak terlalu banyak didengar. Siapa itu Sujata Garh? Mungkin masih banyak yang akan menggelengkan kepalanya ketika ditanya siapa dia. Bagi umat Buddha di Indonesia maupun di India, mungkin sudah ada yang pernah mendengar. Ya, Sujata Garh adalah seorang perempuan penolong Buddha Gautama. Sujata Garh adalah perempuan penolong yang membantu Buddha Gautama memperoleh pengetahuan baru bahwa penyiksaan diri dan perendahan diri yang terlalu ekstrim bukanlah jalan yang tepat untuk memperoleh pencerahan. Jalan yang tepat untuk mencapai nirwana adalah 'jalan tengah'. Semua pengetahuan itu disadari oleh Buddha Gautama saat menerima tawaran puding beras dari Sujata Garh disaat tubuhnya sudah lemah dan kelaparan karena berpuasa ekstrim sembari bermeditasi. Setelah kejadian ini, Buddha Gautama pergi untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan kemudian tercerahkan.

Penjelasan mengenai stupa Sujata Garh (GALUH PRATIWI)

Mobil yang kami tumpangi meluncur menuruni Bukit Dungeshwari menuju dataran luas di sebelah timur Kota Bodh Gaya. Perjalanan menapaki jejak sejarah Sang Buddha kami lanjutkan. Supir memelankan laju mobil di Desa Bakraur. Disinilah dibangun sebuah stupa untuk menandai lokasi kediaman Sujata Garh. Sebuah stupa sederhana dari tumpukan batu bata merah yang berbentuk relatif melingkar. Terlihat sederhana, tetapi tentulah memiliki arti mendalam bagi Umat Buddha sedunia. Hal yang unik, terdapat sebuah pohon peepal tumbuh di bagian atas stupa ini untuk mengingatkan pengunjung hubungan antara Buddha dan pohon suci.

Stupa Sujata Garh dengan pohon peepal di bagian tengah, di sekelilingnya terlihat pohon lontar (GALUH PRATIWI)

Stupa Sujata Garh terbuat dari tumpukan batu bara merah (GALUH PRATIWI)

Stupa Sujata Garh (GALUH PRATIWI)

Selain stupa, tidak banyak hal lain yang bisa dilihat disini. Kami menghabiskan waktu setengah jam kemudian untuk berfoto dan mengelilingi stupa. Pada bagian luar stupa, terlihat beberapa pengemis yang mengharapkan rupee dari para turis. Sepertinya mereka sudah hafal, kebanyakan turis yang kesini tentulah umat Buddha yang melakukan ziarah, sehingga mudah mengeluarkan uang. Aku memberinya beberapa rupee, dan bergegas menuju mobil untuk menuju tujuan berikutnya, Mahabodhi Temple.

Kondisi di sekitar Stupa Sujata Garh, mirip dengan NTT ya? Tapi ini di Bodhgaya, India. (GALUH PRATIWI)

                                      PART Selanjutnya : Disini

9.12.2016

Solo, 12 September 2016 : I Still Remember

Aku masih teringat. Ketika aku masih seorang anak kecil yang mempunyai begitu banyak mimpi. Semuanya hanya seperti bayang-bayang. Aku terpaku di tempat, meratapi ketidakberdayaanku untuk menggapai semuanya.

Kini beberapa mimpi telah terwujud, atau hampir terwujud. Aku bersyukur pada Tuhan. Tanpa Tuhan, ini semua tidak akan terjadi. Terimakasih Tuhan....

Quote ini sangat indah dan sangat menyentuh. Karena menggambarkan perjuanganku.