Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.26.2015

[PART 5] Tinta Hindustan : Jainisme

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Ini pertama kalinya aku ke India dan menjelajah mulai dari ujung barat ke timur (Jaisalmer - Delhi - Agra - Varanasi - Bodhgaya - Kolkata). Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.  

Part sebelumnya : Disini


Jaisalmer, 25 September 2012

Pemandangan Jaisalmer Fort dari restoran roof top Ganesh Travel yang berdiri diatas Bukit Trikuta setinggi 250 ft.

Setelah safari unta yang sangat menyenangkan di Gurun Pasir Thar, akhirnya kembalilah kami ke kota Jaisalmer dan bersiap untuk menjelajah salah satu wisata utamanya yaitu Jaisalmer Fort. Orang India sana biasa menyebutnya Sonar Quila, ada juga yang menyebutnya Golden Fort karena warnanya yang kuning keemasan ketika terkena sinar bulan. Mungkin bagi kebanyakan turis, setelah safari unta di Gurun Pasir Thar, benteng ini adalah tempat selanjutnya atau sebelumnya yang dikunjungi. Karena begitu memasuki kota ini, pasti Jaisalmer Fort yang pertama kali terlihat karena merupakan bangunan tertinggi dengan ketinggian mencapai 250 ft. Jaisalmer Fort ini sendiri berdiri di puncak Bukit Trikuta.

8.25.2015

[2] FILIPINA TRIP: Kota Manila yang amazing sampai kena SCAM dokar 40 USD!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Tengah hari, sekitar jam 12 siang akhirnya aku terbangun dan siap untuk menjelajah Kota Manila. Kota Manila ternyata seperti ibukota negara kebanyakan yaitu kota yang cukup semrawut dengan penduduk yang cukup banyak, agak kumuh, dan pedagang kaki lima ada dimana-mana. 

Pemandangan Kota Manila dari berbagai sudut kota.

Setelah mandi, aku segera melangkahkan kaki keluar penginapan dan landmark pertama yang kulihat adalah patung Marcelo H. Del Pilar, yang setelah aku browsing ternyata merupakan seorang revolusioner kemerdekaan Filipina yang hidup dari 1850-1896. Menurut keterangan di bawah patung, pada zaman keemasannya dulu, dia adalah seorang penulis dan jurnalis brilian yang sangat menentang Kolonialisme Spanyol di Filipina. Di Filipina ini memang pahlawan revolusioner dihormati banget, sepanjang jalan Manila aku banyak banget menjumpai patung-patung pahlawan dengan keterangan riwayat hidupnya di bawah. Hal ini mirip dengan Thailand, dimana mereka sangat menghormati rajanya sehingga banyak dijumpai foto-foto Raja Thailand dengan bingkai besar di jalan.

Patung Marcelo H. Del Pilar di Distrik Makati

Setelah memberikan penghormatan singkat di dalam hati untuk Marcelo H.Del Pilar, akupun kembali melangkahkan kaki di jalanan Manila tepatnya Distrik Makati ini. Kali ini tujuanku adalah makan siang dengan makanan lokal Filipina. Setelah membaca buku panduan jalan di Filipina karangan Sihmanto yang menerangkan bahwa makanan lokal Filipina itu enak dan murah, aku jadi pengen mencoba. Langkah kaki ane pun berhenti di sebuah warung makan nasi rames kecil. Dengan bahasa tarzan karena si empunya nggak bisa bahasa inggris, ane pun mendapatkan nasi sayur, pritilan ayam dan air minum seharga 40 peso (Rp 8000) aja gan. Murah banget, dan yang bikin ane kaget, citarasa masakan Manila itu mirip banget gan sama Indonesia. Enak dan berbumbu, ane jadi merasa nggak di luar negeri. Tapi bagi yang Muslim, harap hati-hati ya gan. Karena penduduk mayoritas Kota Manila beragama Katholik, cukup banyak yang menjual daging babi.

Manila nyetirnya di sebelah kanan gan.

Selesai makan ane segera melangkahkan kaki ke Stasiun LRT terdekat untuk memulai petualangan menjelajah Manila. Disini ane baru tau kalau orang Filipina itu nyetirnya di sebelah kanan, hmmm jadi kerasa kek di Sepanyol aja gan. Karena tujuan ane yang pertama adalah Fort Santiago, setelah melihat peta LRT sejenak ane merasa harus naik LRT dari  Stasiun Quirrino Avenue (tempat gue sekarang) ke Stasiun Carriedo. Namanya Spanish banget ya gan, ane nyebutinnya sampai gimana-gimana gitu wkwkwkwk.

Sampai di Stasiun Carriedo ane bingung gan. Ini harus ngapain ya? Aduh, ane harus ngarah kemana ya? Sumpah kagak ada petunjuk apa-apa gan. Kebingungan ane itu terjawab saat ane melihat kerumunan pasar gitu di bawah. Sepertinya menarik. Ane pun segera turun untuk melihat-lihat barang apa saja yang dijual. Ternyata 11-12 sama Sunmor gan (pasar mingguan kampus UGM). Barang yang dijual itu berupa  pakaian, sepatu, buah-buahan segar, pernak-pernik, VCD, kelapa, kapur barus, dan lain-lain. Kapur barus? Iya gan. Ada yang jual kapur barus dan itu diiderkan pakai tampah. Ane pengen beli gan sebenarnya, ane kasian gan sama yang jual kapur barus soalnya kek belum ada yang beli. Tapi ane urungkan dan membeli VCD lagu-lagu Filipina gan. Barang-barang disini murah-murah juga gan, karena memang berfungsi sebagai pasar rakyat.


Pasar rakyat murah meriah di bawah Stasiun LRT Carriedo.

Di ujung pasar, akhirnya ane menemukan salah satu landmark Kota Manila yang ane incar yaitu Gereja Quaipo. Gereja Quaipo ini nama lainnya Minor Basilica of the Black Nazarene dan Saint John the Baptistdinamakan begitu karena terdapat patung suci Black Nazarene di dalamnya. Black Nazarene ini merupakan patung Yesus Kristus memikul salib yang dipahat dari kayu berwarna coklat gelap, dipahat pada abad 17 oleh seniman Meksiko yang tidak diketahui namanya. Patung ini sendiri didatangkan via galleon dari Acapulco, Meksiko pada pertengahan abad 16.

Gereja Quiapo a.k.a Minor Basilica of the Black Nazarene.

Patung Black Nazarene di dalam Gereja Quiapo.

Patung Yesus Kristus ini sangat terkenal di Filipina dan dianggap menakjubkan oleh banyak penganut Khatolik di Filipina. Terdapat beberapa tanggal tahunan dimana patung ini dibawa ke publik untuk pemujaan yaitu Tahun Baru (hari pertama dari Novena); Jumat baik (Good Friday); dan 9 Januari (hari transfer Minor Basilica dari lokasi asalnya di Rizal Park ke lokasi sekarang). Prosesi 9 Januari ini bisanya paling besar dari dua prosesi yang lain gan.

Patung Black Nazarene dibawa ke publik untuk pemujaan.

Sejarah Gereja Quaipo ini sendiri cukup panjang gan. Gereja ini pertama kalinya dibangun oleh Misionaris Fransiskan dengan hanya menggunakan bambu dan jerami. Perjuangan Misionaris Fransiskan tersebut membangun gereja harus sia-sia karena pada 1574, Limahong dan tentaranya menghancurkan dan membakar gereja ini. Bertahun-tahun melihat rumah Tuhan hanya teronggok rusak, pada 1588 seorang biarawan Fransiskan, Fr. Antonio de Nombella mendirikan kembali gereja ini dengan nama Parish of St. John the Baptist, prekursor Yesus Kristus yang memanggil setiap orang untuk bertobat sebelum menerima Yesus. Tapi lagi-lagi, gereja ini kembali dibakar pada 1603 sehingga paroki sementara diserahkan ke Jesuit sampai keadaan stabil kembali. Gubernur Jenderal Santiago de Vera memprakarsai pembangunan kembali gereja ini secara penuh pada 1686.

Pada 1762, Inggris berusaha menghancurkan gereja ini. Kehancuran sekali lagi harus terjadi akibat gempa bumi pada 1863. Pada 1879, Pendeta Eusebio de Leon memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dan diselesaikannya dengan bantuan Pendeta Manuel Roxas pada 1889 menggunakan sumbangan dari berbagai pihak. Pada 1928, Gereja ini kembali hancur karena kebakaran yang menghancurkan langit-langit kayu dan sakristi di belakang altar utama.

Kenampakan bagian dalam Gereja Quiapo.

Kehancuran terus menerus baik karena sebab manusia maupun alam tersebut tidak menyurutkan niat Fr. Magdaleno Castillo untuk memulai rekonstruksi pembangunan gereja kembali dari awal. Rekonstruksinya adalah berdasar rencana konstruksi yang disiapkan oleh Arsitek Juan Nakpil pada 1933. Dia menambahkan kubah dan menara lonceng di kedua sisi gereja. Arsitek Jose Maria Zaragoza memperbesar gereja dan membangun desain dinding lateral pada 1984. Perjuangan tersebut tidak sia-sia karena pada 1988 gereja ini dianugerahi gelar Basilika dari Nuestro Padre Yesus, Nazareno.

Saat itu di Gereja Quaipo lagi ada misa gan, dan ane dengan gejenya masuk dan mengikuti misa sejenak meski nggak ngerti sama sekali karena menggunakan Bahasa Tagalog. Pas itu banyak banget gan warga sekitar yang ikut misa sampai gedung bagian dalamnya nggak cukup sehingga beberapa mengikuti misa di luar gedung. Ane merasa sangat kusyuk gan saat misa disini, dan ane merasa warga Manila itu religius banget gan. Setelah berdoa sejenak, ane pun meninggalkan gereja ini untuk melanjutkan petualangan menemukan Fort Santiago.

Waktu ane datang lagi ada misa gan, ini kenampakan bagian samping Gereja Quiapo dari Plaza Miranda.

Oya, pelataran di depan Gereja Quaipo seluas 5358 m2 itu disebut Plaza Miranda gan. Hal itu dijelaskan dari tugu-tugu kecil yang berdiri di sekeliling gereja. Plaza Miranda merupakan lapangan umum yang dikelilingi oleh Gereja Quaipo di sebelah utara, Quezon Boulevard di sebelah timur, Hidalgo Street di sebelah selatan dan Evangelista Street di sebelah barat. Plaza Miranda ini dilantik dan dibuka oleh Mayor Arsenio Lacson pada 1961. Nama 'Miranda' didapat dari Jose Sandino y Miranda, yang menjabat sebagai sekretaris bendahara Filipina pada 1833 dan 1854.

Plaza Miranda.

Plaza Miranda ini dilapisi oleh ubin dari granit dan dikelilingi oleh arsitektur Neo-Gotik detail yang terinspirasi oleh arsitektur Gereja Quaipo. Arsitektur ini tercermin di bagian barat  dan selatan plaza, dimana terdapat dua gerbang besar yang dipisahkan oleh beberapa gerbang kecil berbentuk busur membentuk tiang tertutup. Selain Gereja Quaipo, di Plaza Miranda ini juga terdapat beberapa landmark lain seperti F&C Tower (sebelumnya Gedung Picache yang sebelumnya merupakan markas Bank Tabungan Filipina dan Teater Times yang merupakan salah satu bioskop tertua di Manila.

Setelah foto-foto sejenak, ane segera melangkahkan kaki di riwetnya lalu lintas Manila. Perjalanan ane yang tanpa arah dan tujuan ini menghantarkan ane ke kawasan kumuh di sepanjang Sungai Pasig gan. Ane sendiri nggak tau, setelah berjalan melewati pasar kok tiba-tiba bisa berada di bawah jembatan ya? Ane pun langsung berhenti dan tanya sejenak ke mbak-mbak yang jaga warung kecil. Ane menanyakan jalan ke Rizal Park, dan untungnya mbaknya bisa bahasa Inggris. Ane disuruh naik lewat jembatan di depan dan naik jeepney ke arah Kalaw.

“Kalaw hatiku mendua…ku tak tau harus gimana.”

Hilang arah lagi gan, hanya melihat Sungai Pasig dengan latar belakang gedung-gedung khas ibukota.

Sampai di atas ane kembali bingung gan. Pemandangan di depan ane berupa sebuah sungai luas (Sungai Pasig) dengan latar belakang gedung-gedung tinggi khas ibukota. Ane harus kemana lagi? Walaupun kebingungan, ane kembali melangkahkan kaki dan berharap menemukan seseorang yang bisa ditanyai. Beberapa saat berjalan, akhirnya ane ketemu seorang bapak-bapak yang lagi makan. Bapak tersebut mengatakan ane harus naik jeepney ke Baclaran untuk bisa mencapai Rizal Park. Dengan petunjuk singkatnya, ane pun segera naik jeepney dan berusaha duduk sedekat mungkin dengan supir untuk memberinya petunjuk suruh menurunkan ane di Rizal Park.

Jeepney khas Filipina.

Sewaktu di dalam Jeepney itu, ane belajar salah satu budaya orang Filipin gan yaitu oper-operan untuk bayar ongkos. Biasanya kalau mau bayar, mereka akan omong ‘bayad’, kemudian menyerahkan uang logam ke penumpang di sampingnya. Nanti penumpang yang nerima uang tadi akan mengoperkannya lagi ke penumpang di sampingnya sampai uang itu diterima Pak Sopir di depan. Ane yang lagi-lagi sok-sokan pun ikut-ikutan ngomong ‘bayad’ n ngoperin duit hehehe. Ongkos sekali naik jeepney ini 8 peso gan. Sekitar 10 menit berkendara, ane sampai juga di Rizal Park gan. Rizal Park ini lokasinya ada di Roxas Boulevard, Ermita, Manila. Ane masuk melalui Kalaw St.

Rizal Park.

Rizal Park yang dalam Bahasa Tagalog disebut Liwasang Rizal, merupakan salah satu taman bersejarah di Filipina gan. Sejak Era Kolonialisme Spanyol, taman ini telah menjadi salah satu taman kota terbesar di Asia. Masyarakat lokal biasa mengunjungi taman ini untuk bersantai pada hari Minggu ataupun libur nasional. Kenapa sebelumnya ane sebut taman bersejarah? Karena ternyata eksekusi pahlawan nasional, Jose Rizal, pada 30 Desember 1896 itu dilakukan disini gan. Eksekusi tersebut tentulah menimbulkan kemarahan yang luar biasa gan bagi masyarakat Filipina, akhirnya berhembuslah semangat Revolusi Filipina pada 1896 melawan Kerajaan Spanyol. Selain itu, deklarasi kemerdekaan Filipina dari Kependudukan Amerika juga dilakukan di taman ini gan pada 4 Juli 1946. Karena itulah taman ini dinamakan Rizal Park untuk menghormati dan menghargai Jose Rizal, salah satu pahlawan nasional mereka gan.

Central Lagoon Dancing Fountain.

Masuk pertama kali, landmark yang paling kelihatan adalah central lagoon dancing fountain yang merupakan kolam dengan air mancur berbentuk melingkar dan kursi taman di sepanjang pinggiran kolam sehingga suasananya asri banget gan. Salah satu yang bikin ane tambah kagum, saking mereka menghormati pahlawan revolusionernya, di sepanjang pinggiran kolam ada banyak patung pahlawan Filipina gan dengan riwayat hidupnya secara singkat di bagian bawah. Di pinggir kolam sebelah utara juga ada auditorium terbuka jika ada acara-acara tertentu. 

Patung pejuang kemerdekaan Filipina yang berada di sebelah utara kolam.

Boneka semacam ondel-ondel yang ane jumpai di Rizal Park.

Terus waktu itu lagi ada acara karena banyak tenda-tenda dan boneka raksasa kayak ondel-ondel gitu gan. Kalau ane baca flyer di jalan sih, lagi ada peringatan 29 tahun meninggalnya Gubernur Kota Manila gan, namanya Senator Benigno Aquino Jr. Ane udah bilang di awal kan gan, kalau mereka sangat menghormati pahlawan atau orang-orang yang pernah mempunyai jasa untuk Filipina, jadi jangan heran gan kalau peringatannya kematiannya pun dirayakan gan.

Di sepanjang sisi utara Rizal Park, juga terdapat beberapa landmark seperti Kanlungan ng Sining. Kanlungan ng Sining ini merupakan museum untuk seniman Filipina dan tempat yang dipenuhi kedamaian untuk mereka menyelesaikan karya seninya. Kanlungan ng Sining ini seperti hutan dengan pohon-pohon besar, tanaman, burung, dan serangga di sekelilingnya gan. 

Kanlungan ng Sining.

Selesai mengelilingi taman bagian depan, ane pun bingung harus ngapain lagi haha. Karena hampir semua yang ke taman itu membawa pasangan/keluarga gan. Banyak juga yang menggelar tikar di taman kemudian makan bekal yang dibawa dari rumah. Ane sadar gan, ane merasa sangat kesepian sebagai solo traveler hehe. Akhirnya supaya nggak mati gaya, ane pun naik sepur kelinci seharga 50 peso untuk mengelilingi Rizal Park yang cukup gempor juga kalau harus jalan kaki.

Sepur kelinci dengan tarif 50 peso yang siap mengantarkan ane keliling Rizal Park.

Setelah itu, ane pun berjalan lebih ke timur Rizal Park kemudian memasuki Diorama of Rizal’s Martyrdom dengan membayar 20 peso. Diorama ini berisi diorama Jose Rizal yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal pas sampai eksekusinya gan. Di bagian luarnya, terletak di dinding granit hitam pintu masuk, terdapat pahatan berupa ucapan selamat tinggal Jose Rizal sebelum meninggal dalam Bahasa Inggris dan Spanyol berjudul “Mi Ultimo Adios”. Diorama itu menggambarkan Jose Rizal dieksekusi dengan cara ditembak sekelompok pasukan Spanyol gan. Sebelum ditembak, Jose Rizal diikat tangannya,  dan disuruh berdiri menghadap ke belakang. Mengerikan ya gan.

Ucapan selamat tinggal Jose Rizal di pahatan dinding granit hitam.

Diorama yang menggambarkan kehidupan Jose Rizal sampai eksekusinya.

Selain beberapa spot menarik diatas, ini dia gan beberapa spot menarik lainnya di Rizal Park, kurang lebih urut dari timur (Kalaw St) ke barat (Museum of the Filippino People):

Chinese Garden.

La Madre Philippine.

Rizal Monument.

Filipino-Korean Soldier Monument

Lapu-lapu monument

Musium of Filipino.

Selesai mengelilingi Monumen Lapu-lapu, ane pun bergegas jalan kaki di Kilometer Zero untuk menuju Museum of the Filippino People. Tapi saat itu ane nggak masuk kesana, karena tujuan selanjutnya adalah Fort Santiago yang konon katanya lokasinya dekat dari sini. Karena tidak mempunyai clue harus jalan kaki kearah mana, ane pun memutuskan naik dokar. Ane tanyakan tarifnya, 30 peso sampai ke Fort Santiago. Okelah ane percaya sama bapak tukang dokar ini.

Sewaktu udah di dokar, ane mulai curiga aja nih, kok jauh banget ya mau ke Fort Santiago aja?? Saat itu si Bapak Dokar terus-terusan saja ngomong kalau dia itu tour guide, gue iya-iyain aja soalnya ane nggak tau maksudnya. Kecurigaan ane semakin bertambah saat dia terus saja menjelaskan dengan cukup detail tentang tempat-tempat yang kita lewati. Sesekali dokar dihentikan oleh dia, dan ane disuruh foto. Selain itu ane juga dibelikan 1 botol minuman air putih dingin. Perasaan ane semakin nggak enak, sepertinya ane kena scam, dia nggak nganterin ke Fort Santiago, malah diputer-puterin keliling kota selama kurang lebih 45 menit.

Patung Raja Felipe, yang menjadi asal muasal nama Filipina.


Gerbang Masuk Chinatown.

Akhirnya di bawah stasiun LRT, tiba-tiba Bapak Tukang Dokar berhenti dan menyuruh ane turun. Jujur ane bingung dan nggak tau apa maksudnya. Sebelum ane turun, tiba-tiba dia menyuruh ane membayar 40 USD!!!

WHAT THE FU*K???

Ane awalnya berpikir positif, mungkin dia salah bilang 14 jadi 40, tetapi sekali lagi dia menjelaskan “FORTHY”. Gue langsung diem mak clep! 40 USD itu berarti kan kurang lebih 1600 peso! Sedangkan di awal sudah ane jelaskan duit ane cuma 3500 peso. Keringat dingin langsung bermunculan aja gan.

Gue yang nggak terima dan merasa dibohongi langsung aja menolak todongan nggak manusiawi ini. Gue pun protes-protes karena dari awal gue sama sekali nggak nyuruh si Bapak muter-muterin gue. Gue juga menyesali kenapa di sepanjang jalan nggak tanya atau protes. Dengan segera ane jawab,

“No, it’s to much. I need to eat to. I can’t live if you ask me 40 USD.”

“No, it’s 40 USD.”

Dia masih aja ngomong sambil cekikikan. Udah rasa mau gue apain aja ni Bapak. Tapi gue pun tetap bersikeras dan menyerahkan dengan paksa 14 USD (700 peso) ke Si Bapak. Dengan terpaksa dia pun menerima uang dari ane, dan ane segera kabur dari si Bapak. Rasanya kayak mau nangis aja gan. Udah uang pas-pasan, masih kena scam 700 peso. Huaaahh, rasanya pengen ada travelmate yang bisa diajak mengeluh sekarang huhuhu...

Kejadian itu membuat mood ane sesorean berantakan dan nggak berniat kemana-mana lagi. Karena rasa lapar kembali menyerang, ane pun segera mencari warung makanan di bawah stasiun. Tidak lupa supaya tidak kena scam lagi, ane tanya dulu berapa harganya. Saat itu ane makan nasi dengan daging babi kecap seharga 50 peso aja gan. Sebenarnya nggak doyan babi, tapi ane nggak ngerti kalau yang ane makan babi sampai tinggal setengahnya. Karena masih shock dan galau, ane pun makan aja nggak peduli dengan semuanya.

Selesai makan, ane udah nggak punya tenaga ataupun mood untuk keliling lagi gan. Hari juga mulai menggelap. Jujur ane tidak berani berkeliling Manila di malam hari karena menurut beberapa info, tingkat kriminalitas di Filipina itu tinggi gan. Ane pun naik LRT ke Stasiun Querreno, setelah mandi tertidur nyenyak. Dalam hati ane bersumpah, besok ane nggak akan tertipu lagi!! Ane harus kuat!!


Part Selanjutnya : DISINI

8.19.2015

[3] MALAKA TRIP: Meteran Taksi terus berjalan dengan cepatnya..40RM..45RM..50RM..sementara duit gue tinggal 30 RM. Mati!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Jantungku terus berdegup kencang..

Mataku terus memandang kotak digital kecil ber-angka itu tanpa berkedip sedikitpun..

Meski tempatku duduk sangat nyaman dan sejuk, bulir keringat mulai berjatuhan..

40..42..44..46..48..50..setiap 100 meter berjalan bertambah 2..

Jalanan kanan kiri adalah tol menuju bandara,

tidak ada kesempatan turun..

Tanganku merogoh kantong,

uangku tinggal 30 ringgit!

Matilah aku!


KUALA LUMPUR, 2 Februari 2013
16.00 waktu Malaysia

Sesaat setelah turun dari bus Maju yang membawa gue selama 2 jam perjalanan dari Malaka ke Kuala Lumpur, gue sama sekali nggak mendapat firasat bahwa sesaat lagi  akan mendapat kesialan. Sial lagi. Ya, cukup banyak kesialan yang gue dapatkan selama solo trip  pertama gue itu, tapi itu sudah kucatat di buku hitam gue sebagai "things don't ever do it again when traveling".

Setelah berputar-putar cukup lama, sampailah bus-gue di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur. Meskipun gue sudah beberapa kali ke KL, tapi inilah kali pertama gue menginjakkan kaki di TBS. Menurutku TBS ini sangat bagus dimana interiornya sangat modern sampai modelnya mendekati bandara, petunjuk setiap lokasi jelas, bersih, teratur, rapi dll pokoknya beda jauh lah sama terminal di negara gue tercinta. Sesaat setelah turun, gue segera mencari informasi tentang bus yang berangkat ke Bandara LCCT sore itu. Jarak TBS ini sendiri dengan Bandara LCCT sekitar 64 km.

Kenampakan interior Terminal Bersepadu Selatan yang sudah sangat modern
Sumber: tripadvisor.com

Saat sedang sibuk mencari informasi bus itu mata gue secara nggak sengaja menangkap sebuah poster yang menyebutkan bahwa ada fast train  yang menghubungkan KL Sentral/Bandar Tasik Selatan dengan LCCT (transfer di Stasiun Salak Tinggi) dengan biaya hanya 10 ringgit. Kesalahanku karena aku nggak mencari informasi ini sesaat sebelum traveling. Saat membaca poster itu, aku tengak-tengok kesana kemari mencari orang yang bisa ditanyai. Itu adalah kesalahan besar karena ternyata ada yang mengincar gue sebagai mangsa penipuan. Huhuhu.

Pose gue yang seperti orang kebingungan itu memancing perhatian seorang bapak berseragam putih biru yang langsung menghampiriku, singkatnya beginilah obrolan kami,
X  : Mau kemana?
G  : LCCT.
X  : Mari ikut saya.
G  : Kemana? Itu ada fast train ya ke LCCT.
X  : Tidak ada, fast train hanya ke KLIA saja. Sudah ikut saya.

Bodohnya gue percaya! dan supir taksi penipu itu jelas-jelas bohong karena memang ada kereta (transfer bus) yang ke LCCT. 

Saat itu gue berpikiran optimis aja, mungkin dia mau nyariin gue bus atau apa. Gue juga berpikir dia nggak akan mungkin berani macem-macem di tengah keramaian terminal kaya gini. Akhirnya gue pasrah aja ikut dia. Entah kemana pokoknya kami turun sampai ke lantai dasar. *semacam tempat parkiran

Gue akhirnya tersadar dia bukan mau bantuin gue cariin bus atau apa, tapi dia adalah supir taksi a.k.a dia nawarin nganterin gue ke LCCT dengan taksinya. Saat itu gue bersikeras menolak karena duit ringgit di kantong tinggal 30 ringgit, dan itupun sebagian bakal gue buat beli makan di LCCT. Tapi supir taksi penipu ini terus maksa, "Flight kamu tidak akan terkejar, percaya awak! percaya awak!"

PREEETT, padahal waktu itu baru menunjukkan jam 16.30, aku baru bisa check in jam 19.00 karena penerbanganku ke Filipina jam 21.00!

Akhirnya karena menyerah terus dipaksa, gue pun mau naik tapi dengan syarat gue minta diturunin ke KL sentral karena setelahnya gue akan naik bus/kereta dari sana. "Oke", katanya.

Mesin dinyalakan, "DEG!" Argo langsung menunjukkan 6 ringgit. Perasaan gue udah nggak enak aja nih!

Di dalam taksi supir penipu ini masih aja mempengaruhi gue buat langsung ke LCCT aja dengan gaya bahasa yang sangat persuasif, gue yang beberapa kali nolak akhirnya kalah  dan mempersilahkan supir ini bawa gue ke LCCT. Saat itu yang ada di pikiran gue, 30 ringgit itu udah termasuk duit yang banyak. Jadi ya sial-sialnya, gue nggak bisa makan malam ini di LCCT.

Tapi ternyataaa..oh my God, semakin taksi berjalan cepat, argometer berjalan dengan semakin derasnya. Dari 22, 24, 26, 28, 30!!! Mati nggak gue, saat itu badan gue udah lemes dan dipenuhi keringat dingin. 30 ringgit masih menempuh jalan sekitar 13 km ke bandara, mana jalanan kanan kiri seperti tol yang sepii banget -ala jalanan Indonesia kalau mau menuju bandara- sehingga nggak ada pilihan buat gue selain bertahan didalam taksi.

Keringat dingin gue semakin mengucur deras saat argo sudah menunjukkan angka 50 ringgit tapi jarak ke LCCT masih sekitar 40 menit lagi. Gue pun mulai bicara nggak jelas ke supir penipu dengan nada mau nangis.

 G  : "Pak apakah saya bisa diturunkan di sekitar sini saja? Sepertinya uang saya tidak cukup lagi" kata gue dengan muka melas.

 X  : "Tadi bilang punya uang, memang situ bawa uang berapa??"
Gue diem aja, jelas bakal diketawain kalau dia tahu gue cuma punya 30 ringgit.

 G : " Saya kira nggak semahal itu." jawab gue dengan cuek, padahal dalam hati nangis huaaa....

 X : " Ah bagaimana kamu itu, ini bagaimana, sudah hampir 60 ringgit. Tidak bisa turun disini, nanti diturunkan di Stasiun Putrajaya di depan."

Gue pasrah aja, dalam hati udah nangis-nangis dan nyumpahin kenapa tadi lu bohongin gue tentang fast train, sekarang mungkin ini balasan dari Tuhan, gue bohongin dia balik secara nggak sengaja.

Akhirnya gue diturunin di Stasiun Putrajaya, dan karena duit ringgit tidak cukup terpaksa aku bayar pakai dolar singapore (20 SGD). Penipu ini sempet muni-muni dan menelepon temannya untuk tahu nilai tukarnya, masih sempetnya bilang "Masih kurang 10 ringgit ini, bagaimana?" Dasar, apa nggak tau muka gue udah melas semelas ini, gue pun terpaksa nambahin 5 ringgit lagi. Sebelum pergi, dia sempatnya ketawa-tawa, "Kasian sekali kamu ini." 

Rute fast train
Sumber: lcct.co.my

Akhirnya gue pun ke tempat pembelian tiket fast train  di lantai atas dan membeli tiket cuma seharga 5 ringgit. Dalam hati gue udah menyesal banget kenapa gue nggak naik ini dari awal huhuhu. Keretanya nyaman, luas, ber-AC, cepet banget nyampenya.

Kenampakan fast train yang melayani transportasi ke bandara (KLIA maupun LCCT)
Sumber: wikipedia.org

Ya Tuhaaannn...gue cuma bisa mengucap syukur sedalam-dalamnya saat akhirnya nyampai di LCCT... Kapan sih kesialan ini berakhir? Hhhhhh.......

PS: Gue cuma bawa duit sedikit di Kuala Lumpur karena emang nggak berencana jalan-jalan kesini, cuma transit aja dari Malaka sebelum terbang ke Filipina. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup!!


Part Selanjutnya : DISINI

[2] MALAKA TRIP: Kunci Kamar Masuk Bolongan WC Jam 2 Pagi, MATI!!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Cukup puas beristirahat di KFC Mahkota Parade, aku segera berinisiatif untuk mencari lokasi penginapan yang sudah aku booking sebelumnya bernama Backpacker’s Freak Hostel yang beralamat di Jalan PM 2 No.25-3, Plaza Mahkota, Melaka. Aku berhasil menemukan tempat ini setelah bertanya kepada beberapa orang, tempatnya sendiri cukup strategis dan kamarnya berada di lantai dua. Pemiliknya engkong-engkong yang kalau sama tamu baik banget, tapi kalau pas lagi sama pegawainya buseet dah... galaknyaaa. hahaha. Pegawainya cewek chinese masih seumuran aku juga, dan pas si pegawai nyatet data paspor aku, nggak kehitung deh berapa kali dia kena bentak dari si engkong. Mana bentaknya di depan tamu lagi. Huft kasian. Aku mendapatkan sebuah kamar single room (tapi dengan 2 kasur) dengan tarif 8 USD per malam, dengan sarapan gratis. Aku pun segera merebahkan badan untuk beristirahat. Rencana malam ini aku akan melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Melaka.

8.14.2015

[1] MALAKA TRIP: Dari Dutch Square sampai A Famosa, jalan terus!

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Menempuh perjalanan selama 30 menit dengan bus SBS, ane pun sampai di Terminal Larkin di Johor Bahru. Pemandangannya cukup kontras juga ya setelah 3 hari di Singapura. Terminal Larkin ini mirip dengan Indonesia, banyak warung-warung kelontong dan loket-loket yang menjual tiket bus. Saat itu langsung aja ane beli snack, air rasa sama burger 3RM gan. Seneng banget rasanya bisa nemu makanan-makanan murah lagi setelah di Singapore nggak berani beli apa-apa. Saat itu ane naik bus Maju seharga 21 RM dari Johor Bahru ke Malaka. Bus-nya nyaman banget gan. Kursinya luas dan kebetulan saat itu bus hanya berisi sedikit penumpang sehingga perjalanan selama 4 jam ke Malaka menjadi tidak terlalu berasa lama.

8.11.2015

Tempat Wisata di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang + Transportasi Menuju Kesana

Sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Apa yang ada di pikiran Anda saat ada seseorang mengajak Anda liburan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur? Bisa ditebak, nama Pulau Komodo, Danau Kelimutu, Desa Lamarela (desa perburuan ikan paus di Pulau Lembata) dan Festival Pasola di Sumba merupakan tujuan-tujuan wisata utama yang terlintas. Pernahkan terlintas nama Pulau Timor sebagai salah satu tujuan wisata alternatif? Jika belum, maka Anda harus mulai berpikir ulang untuk memperpanjang waktu liburan Anda dan menjelajahi salah satu pulau terluar Indonesia ini.

8.06.2015

Transportasi dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Gubeng Surabaya

Salah satu hal yang paling dipusingkan oleh traveler/backpacker ketika harus transit di Surabaya adalah transportasi dari Terminal Bungurasih ke Stasiun Gubeng atau sebaliknya. Sebagai seorang backpacker, tentulah kita akan mencari alternatif termurah kan? Cara ini efektif dilakukan untuk solo backpacker, jika backpackeran rame-rame (>= 4 orang) ane sarankan naik taksi gan karena lebih nyaman dan cepat (bisa lewat tol).