Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Part Sebelumnya: DISINI
Kunjungan ke Swayambhunath pada sore hari sebelumnya akhirnya menutup eksplorasi kami di Kathmandu. Memang, waktu yang kami miliki di ibu kota Nepal ini sangat terbatas. Kami hanya mengalokasikan satu hari penuh untuk menjelajahi kawasan kota tua, mulai dari lorong-lorong Thamel yang ramai, kompleks bersejarah Kathmandu Durbar Square, hingga perbukitan tempat Swayambhunath berdiri mengawasi seluruh Lembah Kathmandu dari kejauhan.
Pagi itu kami kembali bangun dengan semangat baru. Hari ini petualangan akan berlanjut ke Nagarkot, sebuah kota kecil di perbukitan timur Kathmandu yang terkenal sebagai salah satu tempat terbaik untuk menikmati panorama Pegunungan Himalaya.
Namun kami tidak terburu-buru menuju Nagarkot.
Ada satu tempat yang sejak awal sudah masuk dalam daftar kunjungan wajib kami selama berada di Nepal.
Bhaktapur Durbar Square.
Jika Kathmandu Durbar Square sering dianggap sebagai jantung sejarah Nepal, maka Bhaktapur Durbar Square bisa dibilang sebagai mahakaryanya.
Dari Thamel menuju Bhaktapur jaraknya sekitar 15 kilometer. Di peta terlihat dekat, tetapi seperti biasa di Nepal, jarak tidak selalu berbanding lurus dengan waktu tempuh. Jalanan Kathmandu yang padat, sempit, serta dipenuhi kendaraan membuat perjalanan bisa memakan waktu hampir satu jam dengan sepeda motor.
Untungnya pagi itu lalu lintas belum terlalu padat.
Kami pun melaju meninggalkan kawasan wisata Thamel yang mulai ramai oleh backpacker dan toko-toko perlengkapan trekking. Perlahan suasana kota tua Kathmandu berganti menjadi kawasan permukiman yang lebih padat. Jalanan dipenuhi sepeda motor, minibus lokal, becak, pejalan kaki, hingga truk-truk kecil yang sesekali mengeluarkan kepulan debu ketika melintas.
Di beberapa sudut terlihat kuil-kuil kecil berdiri di tengah permukiman. Tidak jarang pula kami melewati stupa-stupa Buddha berwarna putih yang muncul begitu saja di pinggir jalan. Pemandangan seperti itu sangat umum di Nepal. Bangunan keagamaan seolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya.
Semakin menjauh dari pusat Kathmandu, lalu lintas mulai sedikit longgar. Dari atas motor aku bisa melihat hamparan lembah yang dikelilingi perbukitan hijau. Rumah-rumah bata merah khas Nepal berdiri rapat di berbagai sisi jalan, sementara aktivitas pagi warga sudah berjalan seperti biasa. Ada yang membuka toko, mengangkut barang dengan sepeda, hingga sekadar duduk berbincang di depan rumah.
Perjalanan menuju Bhaktapur terasa menyenangkan karena untuk pertama kalinya aku bisa melihat kehidupan sehari-hari warga Nepal di luar kawasan wisata utama.
Sekitar satu jam kemudian kami akhirnya tiba di Bhaktapur.
Kesan pertamaku sederhana.
Cantik.
Bahkan sebelum memasuki kawasan Durbar Square, suasananya sudah terasa berbeda dibandingkan Kathmandu. Jalan-jalan kecil berbatu, rumah-rumah bata merah berusia ratusan tahun, jendela-jendela kayu berukir khas Newari, serta minimnya bangunan modern membuatku merasa seperti sedang melangkah masuk ke masa lalu.
Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno yang pernah menguasai Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Kota ini mencapai masa kejayaannya pada abad ke-14 hingga ke-15 ketika menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat kebudayaan Kerajaan Malla.
Nama Bhaktapur berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "Kota Para Penganut Bhakti" atau "Kota Para Pemuja". Selama berabad-abad kota ini berkembang menjadi salah satu pusat seni, arsitektur, dan kebudayaan terpenting di Nepal.
Ketika kerajaan Nepal masih terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, para raja Malla berlomba-lomba membangun kuil, istana, halaman kerajaan, dan berbagai monumen megah untuk menunjukkan kejayaan mereka. Hasil dari persaingan itulah yang masih bisa dinikmati hingga sekarang.
Banyak orang bahkan menyebut Bhaktapur sebagai kota tua terindah di Nepal.
Dan setelah melihatnya sendiri, aku bisa memahami alasannya.
Jika Kathmandu terasa hidup, semrawut, dan penuh energi, maka Bhaktapur terasa jauh lebih utuh. Bangunan-bangunan tradisionalnya masih mendominasi hampir seluruh kawasan kota tua. Kendaraan bermotor juga jauh lebih sedikit. Suasananya lebih tenang, lebih tertata, dan lebih mudah membuat pengunjung membayangkan seperti apa kehidupan di Nepal beberapa ratus tahun yang lalu.
Tidak berlebihan jika kawasan ini sering disebut sebagai museum terbuka terbesar di Nepal.
Dan saat aku melangkahkan kaki memasuki Bhaktapur Durbar Square pagi itu, aku langsung merasa bahwa satu atau dua jam jelas tidak akan cukup untuk menjelajahi semua sudutnya.
***
Setelah hampir satu jam berkendara dari Thamel, perut kami mulai memberikan sinyal protes. Sejak pagi kami belum sempat sarapan yang benar-benar mengenyangkan. Maka sebelum mulai menjelajahi Bhaktapur Durbar Square, kami memutuskan mencari tempat makan terlebih dahulu di salah satu kafe kecil yang berada tidak jauh dari pintu masuk kawasan kota tua.
Sebuah pizza hangat berukuran sedang dan dua gelas es teh menjadi sarapan sekaligus makan siang kami hari itu. Mungkin terdengar aneh datang jauh-jauh ke Nepal lalu makan pizza, tetapi itulah salah satu hal yang kusukai dari perjalanan. Kadang yang paling diingat justru bukan makanan khasnya, melainkan momen sederhana ketika duduk santai setelah perjalanan panjang sambil menikmati makanan yang kebetulan lewat di depan mata.
Selesai menghabiskan pizza dan es teh, kami akhirnya melangkah masuk lebih jauh ke kawasan Bhaktapur Durbar Square. Semakin jauh berjalan, semakin aku mengerti mengapa banyak orang menyebut Bhaktapur sebagai kota tua tercantik di Nepal.
Bhaktapur sendiri merupakan salah satu dari tiga kota kerajaan kuno di Lembah Kathmandu, bersama Kathmandu dan Patan. Pada masa Kerajaan Malla, kota ini pernah menjadi pusat kekuasaan yang sangat penting sekaligus pusat seni dan budaya masyarakat Newari. Jejak kejayaan itu masih terlihat jelas hingga sekarang. Hampir setiap sudut kota dipenuhi bangunan bata merah, jendela kayu berukir, kuil-kuil kuno, serta halaman-halaman luas yang seolah tidak banyak berubah selama ratusan tahun.
Berjalan di Bhaktapur terasa seperti berjalan di dalam sebuah kota yang lupa menjadi modern.
Bangunan-bangunan tua berdiri berdampingan tanpa terganggu papan reklame besar atau gedung beton tinggi. Jalanannya masih menggunakan bata merah. Banyak warga lokal yang duduk santai di teras rumah, bercengkerama, atau sekadar mengamati wisatawan yang lalu-lalang.
Yang membuatku semakin terkesan adalah suasana kota ini terasa sangat hidup. Bhaktapur bukan kawasan bersejarah yang dibangun ulang khusus untuk turis. Ini adalah kota tua yang benar-benar masih dihuni dan digunakan oleh masyarakat sehari-hari.
Di tengah kawasan durbar square berdiri berbagai bangunan bersejarah yang usianya mencapai ratusan tahun. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah paviliun kayu bertingkat bergaya pagoda yang berdiri di tengah alun-alun. Detail ukiran kayunya luar biasa rumit. Hampir tidak ada bagian bangunan yang dibiarkan polos. Setiap sudut, tiang, dan bingkai jendela dipenuhi pahatan yang menunjukkan betapa tingginya kemampuan para pengrajin Newari pada masa itu.
Ketika aku berkunjung, proses pemulihan pasca Gempa Nepal 2015 masih berlangsung. Beberapa kuil terlihat disangga balok-balok kayu besar. Tumpukan bata masih terlihat di beberapa sudut lapangan. Ada bangunan yang sedang direstorasi dan ada pula yang masih menunggu giliran diperbaiki.
Namun anehnya, pemandangan itu tidak mengurangi keindahan Bhaktapur. Justru sebaliknya.
Tumpukan bata dan penyangga kayu itu seperti menjadi pengingat bahwa kota ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang sedang diperjuangkan agar tetap hidup.
Kami terus berjalan menyusuri alun-alun. Sesekali berhenti untuk memotret kuil, mengamati ukiran kayu, atau memperhatikan detail-detail kecil yang mungkin terlewat jika berjalan terlalu cepat.
Di salah satu sudut, aku menemukan deretan toko yang menjual berbagai kerajinan logam khas Nepal. Patung Buddha, mangkuk singing bowl, lonceng kuil, lampu minyak, hingga berbagai ornamen perunggu dipajang memenuhi etalase. Cahaya matahari siang yang memantul dari permukaan logam membuat jalanan kecil itu terlihat begitu menarik.
Tidak jauh dari sana, seekor kambing berbulu putih sedang berbaring santai di atas pondasi bata tua. Tidak ada yang memperhatikannya. Orang-orang berlalu lalang begitu saja, seolah keberadaannya merupakan bagian alami dari pemandangan kota.
Dan mungkin memang begitu.
Nepal adalah salah satu negara paling unik yang pernah aku kunjungi. Di sini, kuil berusia ratusan tahun, kambing yang tidur di tengah situs bersejarah, pedagang suvenir, wisatawan asing, dan warga lokal bisa berbagi ruang yang sama tanpa terlihat janggal sedikit pun.
Semua terasa berjalan dengan ritmenya sendiri.
Semakin lama berada di Bhaktapur, semakin aku merasa bahwa daya tarik Nepal bukan hanya terletak pada Himalaya atau Gunung Everest. Justru yang membuat negara ini begitu berkesan adalah bagaimana sejarah, budaya, agama, dan kehidupan sehari-hari masih menyatu secara alami dalam satu ruang yang sama.




0 comments:
Posting Komentar