Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.21.2026

[PART 8] Menggapai Himalaya : Mengunjungi (kembali) Taj Mahal !

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part Sebelumnya: DISINI


Semalam, aku dan Fredo sempat berwacana sok ambisius. Besok kami akan mengunjungi Taj Mahal saat sunrise. Wow banget kan rencananya. Padahal selama beberapa hari di India ini, kami hampir nggak pernah benar-benar bangun pagi. Wkwk. Mungkin Fredo bangun subuh buat salat, tapi sepertinya habis itu dia tidur lagi. Yang jelas, setelah seharian jalan, ditambah browsing dan ngobrol sampai larut malam, rencana indah itu berakhir… ya begitu saja. Wkwk.

Seperti bisa diduga, esoknya, kami baru benar-benar bangun sekitar jam sepuluh. Sunrise sudah lama lewat. Matahari sudah tinggi. Hahaha.. Ya sudah lah ya. Backpacking memang sering begini, rencana kalah sama badan. Lagipula kami juga dalam kondisi sangat capek, hanya dalam beberapa hari sudah menempuh jarak ribuan kilometer, 2 hari tidur di kereta sleeper, jalan kaki eksplor beberapa kota tanpa henti, yaaah bisa dimaklumi hehe..

Setelah leyeh-leyeh sebentar dan sarapan di restoran rooftop penginapan, kami langsung siap-siap untuk berangkat ke Taj Mahal. Kali ini tanpa ambisi waktu tertentu, kami jalan lebih santai. Google Maps sudah kusetel sejak masih di hotel. Dari penginapan, kami harus berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju area pembelian tiket dan gerbang selatan Taj Mahal.

Pagi itu, jalanan Kota Agra sudah cukup ramai. Tukang becak, motor, penjual kecil, dan turis bercampur di satu ruang yang sama. Penjual-penjual cenderamata mulai membuka tokonya, beberapa menawarkan kami tanpa nada memaksa. Nggak butuh waktu lama, kami sampai di area pembelian tiket. Kali ini aku nggak pakai drama seperti dulu, tahun 2012, yang sempat sok-sokan pengen menyamar jadi warga lokal biar dapat harga murah. Hahaha… sekarang rasanya udah lebih realistis. Aku langsung menuju loket turis dan membayar tiket sebesar 1000 rupee.
Sekitar dua ratus ribuan.

Lumayan mahal, iya. Tapi entah kenapa, begitu tiket itu sudah di tangan, rasanya tetap ada sensasi “wah, akhirnya sampai juga di sini lagi.”

Dari area tiket, perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju gerbang selatan. Sepanjang jalan, suasana makin terasa “turistik”. Banyak guide yang menawarkan jasa, tukang foto dengan contoh hasil cetak Taj Mahal ala-ala postcard, sampai pedagang yang jual miniatur marmer putih.

Langkah kami santai saja. Nggak ada lagi kejar-kejaran waktu seperti rencana sunrise tadi. Justru rasanya lebih enak begini. Pelan-pelan, sambil menyerap suasana.

Akhirnya kami sampai di gerbang masuk Taj Mahal. Dari kejauhan saja, siluetnya sudah kelihatan. Dan entah kenapa, meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke sini, tetap saja ada rasa takjub yang sama.

Sebelum benar-benar masuk, aku sempat duduk sebentar di kursi bagian luar. Tempat ini jadi titik terakhir sebelum tiket diperiksa. Aku santai saja waktu itu… sampai tiba-tiba tersadar.

“Lho, tiketku mana?!”

Rasa panik langsung menyergap.

Aku langsung berdiri, celingak-celinguk, meraba setiap saku celana, dan tanpa banyak mikir aku langsung lari balik ke arah sebelumnya. Untungnya, nggak lama kemudian aku lihat seorang bapak penjaga memegang tiket itu. Diamankan.

Fiuhhhh.

Padahal tiketnya bahkan belum diperiksa. Kalau sampai hilang, aku harus beli lagi 1000 rupee. Lumayan banget kan. Untung saja, hari ini ketelodaranku belum sampai berujung kesialan. Wkwk.

Setelah drama kecil itu, akhirnya kami benar-benar masuk. Dan begitu melewati gerbang utama, pemandangan itu langsung terbuka lebar di depan mata.
Taj Mahal.

Putih, simetris, dan… megah banget.
Sayangnya, dua minaretnya sedang dalam proses renovasi, jadi ada bagian yang tertutup scaffolding. Sedikit mengganggu memang, tapi ya sudahlah. Nggak mengurangi rasa kagum sama sekali. Kami tetap sibuk foto sana-sini, cari angle terbaik sambil sesekali menghindari kerumunan orang.

Sedikit cerita, Taj Mahal ini dibangun oleh Kaisar Mughal, Shah Jahan, sebagai bentuk cinta untuk istrinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan. Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1632 dan memakan waktu lebih dari 20 tahun. Jadi ya, ini bukan sekadar bangunan indah, tapi juga simbol cinta yang… levelnya udah nggak masuk akal 😆
Setelah puas foto-foto di luar, kami lanjut masuk ke bagian dalam bangunan utama.
Seperti biasa, sebelum masuk, sepatu harus dilepas dan diganti dengan alas kaki dari kain tipis yang sudah disediakan. Rasanya agak aneh sih, jalan di atas marmer dingin dengan pelindung tipis begitu, tapi justru jadi bagian dari pengalaman.

Begitu masuk ke dalam, kami disambut suasana lebih gelap. Lebih dingin. Dan jauh lebih ramai. Suara orang-orang bergema pelan di dalam ruangan, bercampur dengan langkah kaki yang terus bergerak mengelilingi bagian tengah. Di sana, terdapat makam Mumtaz Mahal dan Shah Jahan—meskipun yang kita lihat sebenarnya adalah cenotaph (makam simbolis), sementara makam aslinya berada di ruang bawah tanah.
Dinding-dindingnya penuh dengan ukiran marmer yang sangat halus. Detailnya luar biasa. Motif bunga-bunga dengan teknik inlay batu semi mulia yang ditanam ke dalam marmer putih—kalau dilihat dekat, benar-benar rapi tanpa celah.

Tapi karena pencahayaan minim dan orang-orang terus bergerak, rasanya nggak bisa benar-benar diam lama untuk menikmati setiap detail. Semua seperti mengalir cepat. Kita ikut bergerak bersama arus manusia.

Ada rasa sakral, tapi juga sedikit chaotic.
Dan di tengah keramaian itu, aku sempat berhenti sebentar.

Berpikir… bahwa bangunan sebesar dan seindah ini, pada akhirnya tetap dibangun karena satu hal yang sangat sederhana.
Cinta.

Dari sini kelihatan aliran sungai yang tenang, warnanya agak kecoklatan, dengan tepian yang terlihat kering di beberapa bagian. Di kejauhan, sisi seberang tampak lebih sepi, hampir nggak ada bangunan mencolok. Angin sesekali berhembus pelan, tapi tetap saja nggak cukup untuk mengalahkan teriknya matahari siang itu.
Di sekitar kami, taman-taman tertata rapi dengan jalur simetris khas arsitektur Mughal. Rumput hijau, pohon-pohon yang dipangkas rapi, dan jalur batu yang dipenuhi turis dari berbagai negara. Ada yang duduk santai, ada yang sibuk foto, ada juga yang cuma bengong menikmati suasana.

Setelah duduk sebentar dan tenaga mulai balik sedikit, kami lanjut jalan lagi. Nggak ada target, cuma keliling santai mengitari kompleks. Sesekali berhenti, sesekali ngobrol, sesekali foto lagi. Sampai akhirnya tanpa terasa, kami kembali ke bagian depan.

Nah, di sinilah drama kecil berikutnya dimulai. Fredo tiba-tiba dapat ide.

“Eh coba fotoin aku melayang,” katanya.

Maksudnya, dia loncat, terus pas di udara difoto biar kelihatan seperti “floating”. Ya sudah, aku sih ketawa saja, tapi tetap bantu fotoin. Baru dua kali jepret—

“Sir! No jumping!”

Langsung ditegur petugas 😂
Aku sebenarnya dari awal sudah ada feeling bakal kena tegur. Ya gimana ya, ini kan bangunan tua, bersejarah, marmernya juga halus. Kalau tiap orang lompat-lompat nggak jelas, bisa-bisa lama-lama rusak… atau malah ambles (oke ini agak lebay sih wkwk, tapi tetap saja 😆).

Fredo langsung berhenti, agak kikuk. Aku? Ya ketawa saja.

“Udah dibilang juga apa…” 😜

Setelah itu, kami turun lagi untuk eksplor bagian lain dari kompleks Taj Mahal. Di samping bangunan utama, ada satu bangunan lain berwarna merah bata yang cukup mencolok. Bentuknya megah juga, dengan lengkungan-lengkungan khas arsitektur Mughal.

Jujur aku agak lupa itu bangunan apa, tapi yang jelas kami nggak masuk ke dalam. Hanya berhenti di depannya, ambil beberapa foto, lalu lanjut jalan lagi. Dari luar saja sudah cukup menarik, apalagi kontras warnanya dengan putihnya Taj Mahal.

Hari semakin siang dan panas Kota Agra mulai terasa menyengat. Setelah beberapa jam berkeliling kompleks Taj Mahal, duduk-duduk di taman, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto, aku mulai menyadari satu hal. Well, ini adalah hari terakhir kami benar-benar menjelajahi India.

Rasanya baru kemarin kami mendarat di Kochi dan mulai petualangan ini. Padahal dalam beberapa hari terakhir, kami sudah berpindah-pindah kota, tidur di kereta sleeper, berjalan kaki tanpa henti menyusuri jalanan India yang ramai, melihat istana, benteng, pasar, hingga akhirnya berdiri di depan Taj Mahal pagi itu. Perjalanan terasa begitu padat sampai waktu seperti berlalu lebih cepat dari yang seharusnya.

Sesuai itinerary yang sudah kami susun sejak di Indonesia, malam nanti kami akan meninggalkan Agra dengan kereta sleeper menuju Gorakhpur, sebuah kota di Uttar Pradesh yang lokasinya tidak jauh dari perbatasan India dan Nepal. Perjalanan akan ditempuh semalaman, dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, keesokan harinya kami sudah berada di kota tersebut.

Petualangan belum berakhir, tepatnya akan berlanjut di negara berikutnya, Nepal. Dari Gorakhpur, kami berencana langsung menyeberang ke Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pokhara. Dari Pokhara baru terakhir naik bus kembali ke Kathmandu sebelum terbang ke Indonesia.

Kalau dipikir-pikir sekarang, rencana itu memang terdengar cukup ambisius. Dalam hitungan hari kami akan berpindah dari India Selatan ke India Utara, lalu menyeberang ke negara lain dan melanjutkan perjalanan darat berjam-jam lagi. Namun saat itu semuanya terasa masih sangat mungkin dilakukan. Setidaknya di atas kertas, seluruh rencana tersebut terlihat rapi dan masuk akal.

***

Sekitar pukul enam sore, aku dan Fredo meninggalkan penginapan kami di Agra menuju stasiun kereta. Backpack besar sudah menempel di punggung, sementara tas kecil kubawa di depan dada seperti biasa. Sesuai jadwal, kereta Avadh Express yang akan membawa kami ke Gorakhpur seharusnya berangkat sekitar pukul sembilan malam. Kami datang lebih awal, mencari tempat duduk di peron, membeli minum, lalu menunggu sambil mengobrol tentang rencana perjalanan berikutnya. Kalau semuanya berjalan lancar, besok kami sudah berada di Nepal.

Namun seperti banyak hal selama perjalanan di India, kenyataan ternyata punya rencana lain.

Menjelang waktu keberangkatan, papan informasi stasiun menunjukkan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan. Awalnya aku tidak terlalu khawatir. Kereta terlambat satu atau dua jam rasanya bukan sesuatu yang aneh di sini. Kami pun tetap santai, duduk di bangku peron sambil sesekali memperhatikan lalu-lalang penumpang.

Satu jam berlalu.

Lalu dua jam.

Kereta masih belum datang.

Setiap kali jadwal di papan informasi diperbarui, waktu kedatangannya kembali mundur. Rasa penasaran mulai muncul. Aku dan Fredo akhirnya menghampiri petugas stasiun untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

Dari penjelasan yang kami dapatkan, ada gangguan pada jalur kereta akibat banjir di wilayah sekitar Mumbai. Masalahnya, tidak ada yang bisa memberikan kepastian kapan kereta kami akan tiba di Agra. Bahkan petugas stasiun sendiri hanya bisa menyarankan kami untuk terus memantau pengumuman berikutnya.

Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa pasrah.

Malam semakin larut. Penumpang yang tadinya masih ramai mulai satu per satu mencari posisi untuk beristirahat. Sebagian menggelar koran di lantai, sebagian lagi menjadikan tas mereka sebagai bantal. Keluarga-keluarga tampak sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Karena tidak ada kepastian kapan kereta datang, kami akhirnya memutuskan bertahan di stasiun dan mencoba tidur di peron. Malam itu bisa dibilang menjadi salah satu malam paling tidak nyaman selama perjalanan India-Nepal kami.

Peron tempat kami menunggu cukup kecil dan berdebu. Di beberapa sudut terlihat gelandangan yang tertidur nyenyak seolah tempat itu adalah rumah mereka sendiri. Sesekali polisi stasiun berkeliling memeriksa keadaan. Salah seorang sempat menghampiri kami dan menyarankan agar kami tidur bergantian supaya barang bawaan tetap aman. Kami mengangguk, berterimakasih dan bergantian berjaga menjaga tas.

Meski disebut tidur, sebenarnya lebih mirip memejamkan mata sambil menunggu waktu bergerak. Setiap kali aku mulai terlelap, sering sekali suara kereta barang yang melintas sukses membangunkanku lagi. Suaranya benar-benar menggelegar, bergema di seluruh area stasiun. Belum lagi debu yang membuat badan terasa lengket dan gatal.

Yang lebih menantang lagi tentu saja urusan toilet.

Jujur saja, toilet stasiun malam itu termasuk salah satu yang paling ekstrem yang kutemui selama perjalanan. Untuk sekadar buang air kecil aku harus menahan napas beberapa detik. Bau menyengat langsung menyerbu begitu pintu dibuka. Di beberapa sudut bahkan terlihat tumpukan kotoran manusia yang membuatku buru-buru menyelesaikan urusan lalu keluar secepat mungkin.

Backpacking memang sering terlihat keren di foto-foto. Yang tidak terlihat adalah momen-momen seperti ini. Tidur di peron berdebu, menunggu kereta yang entah kapan datang, sambil berharap malam segera berlalu.

Menjelang subuh rasa kantuk dan lelah bercampur menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu apakah benar-benar tidur atau hanya setengah sadar ketika tiba-tiba suara klakson panjang terdengar dari kejauhan.

Aku membuka mata.

Di ujung rel terlihat rangkaian kereta merah perlahan memasuki stasiun.

Avadh Express.

Akhirnya datang juga.

Jam menunjukkan sekitar pukul enam pagi.

Aku segera bangun, mencuci muka seadanya di wastafel stasiun, lalu bersama Fredo berjalan cepat menuju gerbong kami. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.

Begitu sampai di depan pintu gerbong, aku langsung terkejut.

Isinya manusia.

Benar-benar penuh manusia.

Orang berdiri di lorong, duduk di lantai, memenuhi area dekat pintu, bahkan sebagian terlihat berdesakan di antara tumpukan barang bawaan. Untuk masuk ke dalam saja kami harus menyelipkan badan dan mendorong backpack perlahan melewati kerumunan.

Ketika akhirnya berhasil masuk, masalah berikutnya langsung muncul. Tempat duduk yang tertera di tiket kami sudah ditempati orang lain.

Tentu saja.

Untungnya seorang pemuda lokal yang bisa berbahasa Inggris cukup baik membantu menjelaskan kepada para penumpang bahwa kursi tersebut memang milik kami. Setelah sedikit negosiasi dan saling bergeser, kami akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk kami.

Meski kalau dipikir-pikir, menyebutnya sebagai mendapatkan kursi mungkin agak berlebihan. Karena pada praktiknya kami tetap berbagi ruang dengan beberapa penumpang lain beserta barang-barang mereka yang bertumpuk di mana-mana. Rupanya banyak penumpang tanpa tiket yang ikut naik karena kereta sudah terlalu penuh.

Perjalanan menuju Gorakhpur berlangsung sekitar empat belas jam. Di luar jendela, pemandangan pedesaan India terus berganti. Sawah, desa-desa kecil, stasiun mungil, dan aktivitas sehari-hari masyarakat India berlalu tanpa henti. Namun sejujurnya, hari itu aku tidak terlalu menikmati pemandangan. Tubuh sudah terlalu lelah setelah semalaman tidak benar-benar tidur.

Di dalam gerbong, aroma khas kereta India terus menemani perjalanan. Campuran makanan, debu, keringat, dan sesekali bau dari arah toilet yang terbawa angin ke dalam kabin. Untungnya para penumpang di sekitar kami cukup ramah. Beberapa sempat mengajak mengobrol dan bertanya kami berasal dari mana serta hendak pergi ke mana.

Ketika mendengar tujuan kami Nepal, beberapa langsung mengangguk-angguk sambil memberikan berbagai saran tentang perjalanan menuju perbatasan.

Menjelang malam, kereta akhirnya tiba di Gorakhpur.

Saat kakiku menginjak peron, rasanya seperti baru menyelesaikan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada empat belas jam. Badanku benar-benar remuk. Kurang tidur, duduk seharian di gerbong yang penuh sesak, ditambah malam sebelumnya tidur di lantai stasiun, semuanya mulai terasa sekaligus.

Sesuai rencana awal, sebenarnya kami ingin langsung menuju Nepal malam itu juga. Namun setelah bertanya kepada beberapa penduduk lokal, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Mereka tidak menyarankan kami berangkat ke perbatasan pada malam hari. Selain transportasi yang lebih terbatas, perjalanan malam menuju kawasan perbatasan juga dianggap kurang nyaman untuk wisatawan.

Akhirnya kami memutuskan mengubah rencana.

Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Kochi, itinerary yang kususun jauh-jauh hari dari Indonesia harus dikoreksi. Ada satu kota yang akhirnya dicoret dan diganti dengan kota lain yang lebih memungkinkan dijangkau sesuai kondisi perjalanan. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah backpacking. Kadang jadwal yang dibuat berbulan-bulan bisa berubah total hanya karena satu kereta terlambat.

Sebelum mencari hotel, kami sempat makan malam di sebuah warung sederhana dekat penginapan. Aku bahkan tidak tahu nama warungnya karena seluruh papan namanya ditulis menggunakan huruf Devanagari yang sama sekali tidak bisa kubaca. Yang kuingat hanya satu: kari ayamnya luar biasa enak. Kuahnya kaya rempah, hangat, dan terasa sangat pas setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Malam itu, sambil merebahkan badan di atas kasur hotel sederhana di Gorakhpur, aku membuka kembali itinerary yang sudah penuh coretan. Besok kami akan meninggalkan India dan memasuki Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama. Setelah itu rencananya langsung melanjutkan perjalanan menuju Kathmandu.

Entah akan berjalan sesuai rencana atau tidak, aku sudah tidak berani terlalu yakin. Dijalani saja!


0 comments:

Posting Komentar