Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.
Hari semakin siang dan panas Kota Agra mulai terasa menyengat. Setelah beberapa jam berkeliling kompleks Taj Mahal, duduk-duduk di taman, dan sesekali berhenti untuk mengambil foto, aku mulai menyadari satu hal. Well, ini adalah hari terakhir kami benar-benar menjelajahi India.
Rasanya baru kemarin kami mendarat di Kochi dan mulai petualangan ini. Padahal dalam beberapa hari terakhir, kami sudah berpindah-pindah kota, tidur di kereta sleeper, berjalan kaki tanpa henti menyusuri jalanan India yang ramai, melihat istana, benteng, pasar, hingga akhirnya berdiri di depan Taj Mahal pagi itu. Perjalanan terasa begitu padat sampai waktu seperti berlalu lebih cepat dari yang seharusnya.
Sesuai itinerary yang sudah kami susun sejak di Indonesia, malam nanti kami akan meninggalkan Agra dengan kereta sleeper menuju Gorakhpur, sebuah kota di Uttar Pradesh yang lokasinya tidak jauh dari perbatasan India dan Nepal. Perjalanan akan ditempuh semalaman, dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, keesokan harinya kami sudah berada di kota tersebut.
Petualangan belum berakhir, tepatnya akan berlanjut di negara berikutnya, Nepal. Dari Gorakhpur, kami berencana langsung menyeberang ke Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pokhara. Dari Pokhara baru terakhir naik bus kembali ke Kathmandu sebelum terbang ke Indonesia.
Kalau dipikir-pikir sekarang, rencana itu memang terdengar cukup ambisius. Dalam hitungan hari kami akan berpindah dari India Selatan ke India Utara, lalu menyeberang ke negara lain dan melanjutkan perjalanan darat berjam-jam lagi. Namun saat itu semuanya terasa masih sangat mungkin dilakukan. Setidaknya di atas kertas, seluruh rencana tersebut terlihat rapi dan masuk akal.
***
Sekitar pukul enam sore, aku dan Fredo meninggalkan penginapan kami di Agra menuju stasiun kereta. Backpack besar sudah menempel di punggung, sementara tas kecil kubawa di depan dada seperti biasa. Sesuai jadwal, kereta Avadh Express yang akan membawa kami ke Gorakhpur seharusnya berangkat sekitar pukul sembilan malam. Kami datang lebih awal, mencari tempat duduk di peron, membeli minum, lalu menunggu sambil mengobrol tentang rencana perjalanan berikutnya. Kalau semuanya berjalan lancar, besok kami sudah berada di Nepal.
Namun seperti banyak hal selama perjalanan di India, kenyataan ternyata punya rencana lain.
Menjelang waktu keberangkatan, papan informasi stasiun menunjukkan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan. Awalnya aku tidak terlalu khawatir. Kereta terlambat satu atau dua jam rasanya bukan sesuatu yang aneh di sini. Kami pun tetap santai, duduk di bangku peron sambil sesekali memperhatikan lalu-lalang penumpang.
Satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Kereta masih belum datang.
Setiap kali jadwal di papan informasi diperbarui, waktu kedatangannya kembali mundur. Rasa penasaran mulai muncul. Aku dan Fredo akhirnya menghampiri petugas stasiun untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Dari penjelasan yang kami dapatkan, ada gangguan pada jalur kereta akibat banjir di wilayah sekitar Mumbai. Masalahnya, tidak ada yang bisa memberikan kepastian kapan kereta kami akan tiba di Agra. Bahkan petugas stasiun sendiri hanya bisa menyarankan kami untuk terus memantau pengumuman berikutnya.
Mendengar jawaban itu, kami hanya bisa pasrah.
Malam semakin larut. Penumpang yang tadinya masih ramai mulai satu per satu mencari posisi untuk beristirahat. Sebagian menggelar koran di lantai, sebagian lagi menjadikan tas mereka sebagai bantal. Keluarga-keluarga tampak sudah sangat terbiasa menghadapi situasi seperti ini.
Karena tidak ada kepastian kapan kereta datang, kami akhirnya memutuskan bertahan di stasiun dan mencoba tidur di peron. Malam itu bisa dibilang menjadi salah satu malam paling tidak nyaman selama perjalanan India-Nepal kami.
Peron tempat kami menunggu cukup kecil dan berdebu. Di beberapa sudut terlihat gelandangan yang tertidur nyenyak seolah tempat itu adalah rumah mereka sendiri. Sesekali polisi stasiun berkeliling memeriksa keadaan. Salah seorang sempat menghampiri kami dan menyarankan agar kami tidur bergantian supaya barang bawaan tetap aman. Kami mengangguk, berterimakasih dan bergantian berjaga menjaga tas.
Meski disebut tidur, sebenarnya lebih mirip memejamkan mata sambil menunggu waktu bergerak. Setiap kali aku mulai terlelap, sering sekali suara kereta barang yang melintas sukses membangunkanku lagi. Suaranya benar-benar menggelegar, bergema di seluruh area stasiun. Belum lagi debu yang membuat badan terasa lengket dan gatal.
Yang lebih menantang lagi tentu saja urusan toilet.
Jujur saja, toilet stasiun malam itu termasuk salah satu yang paling ekstrem yang kutemui selama perjalanan. Untuk sekadar buang air kecil aku harus menahan napas beberapa detik. Bau menyengat langsung menyerbu begitu pintu dibuka. Di beberapa sudut bahkan terlihat tumpukan kotoran manusia yang membuatku buru-buru menyelesaikan urusan lalu keluar secepat mungkin.
Backpacking memang sering terlihat keren di foto-foto. Yang tidak terlihat adalah momen-momen seperti ini. Tidur di peron berdebu, menunggu kereta yang entah kapan datang, sambil berharap malam segera berlalu.
Menjelang subuh rasa kantuk dan lelah bercampur menjadi satu. Aku bahkan tidak tahu apakah benar-benar tidur atau hanya setengah sadar ketika tiba-tiba suara klakson panjang terdengar dari kejauhan.
Aku membuka mata.
Di ujung rel terlihat rangkaian kereta merah perlahan memasuki stasiun.
Avadh Express.
Akhirnya datang juga.
Jam menunjukkan sekitar pukul enam pagi.
Aku segera bangun, mencuci muka seadanya di wastafel stasiun, lalu bersama Fredo berjalan cepat menuju gerbong kami. Namun rasa lega itu tidak berlangsung lama.
Begitu sampai di depan pintu gerbong, aku langsung terkejut.
Isinya manusia.
Benar-benar penuh manusia.
Orang berdiri di lorong, duduk di lantai, memenuhi area dekat pintu, bahkan sebagian terlihat berdesakan di antara tumpukan barang bawaan. Untuk masuk ke dalam saja kami harus menyelipkan badan dan mendorong backpack perlahan melewati kerumunan.
Ketika akhirnya berhasil masuk, masalah berikutnya langsung muncul. Tempat duduk yang tertera di tiket kami sudah ditempati orang lain.
Tentu saja.
Untungnya seorang pemuda lokal yang bisa berbahasa Inggris cukup baik membantu menjelaskan kepada para penumpang bahwa kursi tersebut memang milik kami. Setelah sedikit negosiasi dan saling bergeser, kami akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk kami.
Meski kalau dipikir-pikir, menyebutnya sebagai mendapatkan kursi mungkin agak berlebihan. Karena pada praktiknya kami tetap berbagi ruang dengan beberapa penumpang lain beserta barang-barang mereka yang bertumpuk di mana-mana. Rupanya banyak penumpang tanpa tiket yang ikut naik karena kereta sudah terlalu penuh.
Perjalanan menuju Gorakhpur berlangsung sekitar empat belas jam. Di luar jendela, pemandangan pedesaan India terus berganti. Sawah, desa-desa kecil, stasiun mungil, dan aktivitas sehari-hari masyarakat India berlalu tanpa henti. Namun sejujurnya, hari itu aku tidak terlalu menikmati pemandangan. Tubuh sudah terlalu lelah setelah semalaman tidak benar-benar tidur.
Di dalam gerbong, aroma khas kereta India terus menemani perjalanan. Campuran makanan, debu, keringat, dan sesekali bau dari arah toilet yang terbawa angin ke dalam kabin. Untungnya para penumpang di sekitar kami cukup ramah. Beberapa sempat mengajak mengobrol dan bertanya kami berasal dari mana serta hendak pergi ke mana.
Ketika mendengar tujuan kami Nepal, beberapa langsung mengangguk-angguk sambil memberikan berbagai saran tentang perjalanan menuju perbatasan.
Menjelang malam, kereta akhirnya tiba di Gorakhpur.
Saat kakiku menginjak peron, rasanya seperti baru menyelesaikan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada empat belas jam. Badanku benar-benar remuk. Kurang tidur, duduk seharian di gerbong yang penuh sesak, ditambah malam sebelumnya tidur di lantai stasiun, semuanya mulai terasa sekaligus.
Sesuai rencana awal, sebenarnya kami ingin langsung menuju Nepal malam itu juga. Namun setelah bertanya kepada beberapa penduduk lokal, hampir semua memberikan jawaban yang sama. Mereka tidak menyarankan kami berangkat ke perbatasan pada malam hari. Selain transportasi yang lebih terbatas, perjalanan malam menuju kawasan perbatasan juga dianggap kurang nyaman untuk wisatawan.
Akhirnya kami memutuskan mengubah rencana.
Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Kochi, itinerary yang kususun jauh-jauh hari dari Indonesia harus dikoreksi. Ada satu kota yang akhirnya dicoret dan diganti dengan kota lain yang lebih memungkinkan dijangkau sesuai kondisi perjalanan. Sedikit menyebalkan memang, tetapi itulah backpacking. Kadang jadwal yang dibuat berbulan-bulan bisa berubah total hanya karena satu kereta terlambat.
Sebelum mencari hotel, kami sempat makan malam di sebuah warung sederhana dekat penginapan. Aku bahkan tidak tahu nama warungnya karena seluruh papan namanya ditulis menggunakan huruf Devanagari yang sama sekali tidak bisa kubaca. Yang kuingat hanya satu: kari ayamnya luar biasa enak. Kuahnya kaya rempah, hangat, dan terasa sangat pas setelah perjalanan panjang yang melelahkan.
Malam itu, sambil merebahkan badan di atas kasur hotel sederhana di Gorakhpur, aku membuka kembali itinerary yang sudah penuh coretan. Besok kami akan meninggalkan India dan memasuki Nepal melalui Lumbini, tempat kelahiran Siddhartha Gautama. Setelah itu rencananya langsung melanjutkan perjalanan menuju Kathmandu.
Entah akan berjalan sesuai rencana atau tidak, aku sudah tidak berani terlalu yakin. Dijalani saja!




0 comments:
Posting Komentar