Bisa dikatakan, manusia hidup dalam lautan pilihan. Setiap hari kita disuguhi ratusan hal yang bisa dipilih, disentuh, dibuka, dibeli, dicoba, dijalani. Kita bisa bekerja dari mana saja, berkomunikasi seketika, belajar apa pun, membuka banyak pintu sekaligus. Dari situlah banyak orang yang merasa kewalahan. Seolah hidup penuh kemungkinan, dan kita dituntut harus mengambil keputusan yang entah bagaimana endingnya.
Dan di tengah arus informasi yang tidak berhenti, muncul satu konsep sederhana yang justru terasa sangat dalam, yaitu setiap kali kita berkata “ya” pada sesuatu, di saat yang sama sebenarnya kita sedang berkata “tidak” pada banyak hal lain.
Ini bukan soal manajemen waktu, bukan juga tentang produktivitas. Ini tentang bagaimana setiap keputusan kecil yang tampak sepele sebenarnya membentuk seluruh arah hidup kita. Tentang bagaimana sebuah ya bisa menjadi titik balik, sekaligus menjadi pintu yang menutup banyak kemungkinan lain, yang mungkin tidak pernah kita sadari.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa berkata ya adalah tanda kebaikan. Ya untuk membantu, ya untuk kesempatan, ya untuk orang lain, ya untuk kerja keras, ya untuk harapan masa depan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa semakin banyak “ya” yang kita berikan, semakin baik hidup kita nanti. Kita merasa harus selalu tersedia, harus mampu, harus menjadi orang yang bisa diandalkan kapan saja.
###
Yang membuat konsep ini begitu kuat justru karena ia menyentuh inti dari kehidupan modern yaitu kita terbiasa berpikir bahwa memilih berarti menambah, padahal sering kali memilih justru berarti melepaskan.
Hidup sebenarnya bukan tentang menampung semua kesempatan, tapi tentang menentukan apa yang layak diberi ruang. Setiap hal yang kita pilih untuk masuki, selalu ada hal lain yang tidak bisa ikut. Ruang hidup kita terbatas. Waktu terbatas. Energi terbatas. Dan semakin kita mencoba menjejalkan semuanya, semakin kita merasa kehilangan diri sendiri di tengah keramaian pilihan yang membingungkan.
###
Kepala kita seperti rumah yang pintunya selalu terbuka, dan semua orang bisa masuk kapan saja. Kita merasa harus mengakomodasi semuanya. Pekerjaan, chat, klien, keluarga, ekspektasi sosial, komentar orang, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Di titik itu, teori “ya dan tidak” menjadi seperti cermin yang menampar lembut. Jika hidup kita sekarang terasa terlalu sesak, mungkin bukan karena masalah yang terlalu banyak, tapi karena terlalu banyak ya yang kita berikan tanpa sadar.
Dan setiap kali kita mengatakan ya untuk memenuhi ekspektasi dunia, kita sedang mengatakan tidak pada kemungkinan hidup yang lebih pelan, lebih sederhana, dan lebih damai, yang sebenarnya kita rindukan.
Hidup tidak pernah mengajarkan kita cara menolak dengan lembut. Kita tumbuh dalam budaya yang memuliakan kesibukan, merayakan produktivitas, dan memandang istirahat sebagai kemalasan. Tidak heran banyak orang akhirnya menjadi penat tanpa tahu dari mana datangnya. Padahal kunci keluar dari kelelahan itu bukan dengan bekerja lebih cepat atau merapikan jadwal lebih rapi. Kuncinya ada pada keberanian untuk memutuskan apa yang layak diberi ya dan apa yang perlu diakhiri dengan tidak. Karena mengatakan tidak bukan tanda kelemahan. Ia adalah cara paling jujur untuk menjaga diri tetap utuh.
Dan ketika kita mulai berlatih berkata ya hanya pada hal-hal yang benar-benar penting, hidup perlahan kembali menemukan ritmenya. Hari-hari tidak lagi terasa seperti perlombaan panjang tanpa garis akhir. Lebih seperti perjalanan pelan, dimana setiap langkah terasa lebih ringan, setiap momen lebih penuh, setiap keputusan lebih sadar.
Karena hidup sebenarnya bukan tentang memenuhi semua pilihan, tapi memilih yang membuat kita tetap manusia. Kadang, tidak adalah kata paling penuh kasih yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Dan ya yang dipilih dengan sadar adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.
Dari teori sederhana ini, bahwa setiap ya selalu membawa tidak di belakangnya, kita sebenarnya sedang diajak untuk melihat pilihan dengan lebih jernih. Hidup bukan hanya tentang menerima kesempatan sebanyak mungkin, tapi tentang memilih kesempatan yang sungguh layak kita masuki. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena sadar betul bahwa ruang hidup kita tidak seluas ambisi, dan waktu kita tidak sepanjang daftar keinginan di kepala.
Ada momen-momen ketika kita ingin langsung menyetujui sesuatu demi terlihat baik, demi menjaga hubungan, atau demi menghindari rasa bersalah. Kita terburu-buru mengucapkan ya, seolah itu jawaban paling aman. Padahal sering kali, yes reflex itu justru membuat kita kehilangan arah. Kita mengorbankan tenaga, tidur, ketenangan, bahkan diri sendiri hanya karena takut mengecewakan orang lain. Padahal sebelum mengucapkan satu kata pendek itu, kita sebenarnya butuh sedikit jeda. Jeda untuk bertanya pada diri sendiri:
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan bentuk keraguan, tapi bentuk kedewasaan. Kita tidak sedang menolak dunia, kita hanya sedang memilih dengan sadar. Karena pada akhirnya, ya yang terburu-buru sering berubah menjadi penyesalan, sementara ya yang dipikirkan dengan jernih bertahan sebagai keputusan yang utuh.
Menelaah sebelum berkata ya juga mengajarkan bahwa hidup tidak harus diisi sebanyak mungkin, tapi dipilih sebaik mungkin. Kita tidak harus memeluk semua peluang yang datang. Tidak semua jalan harus kita tempuh. Tidak semua orang harus kita penuhi. Tidak semua permintaan harus kita jawab.
Kadang, yang membuat hidup menjadi lebih ringan bukanlah menambah hal baru, melainkan berhenti sejenak sebelum langkah pertama diambil, menimbang apakah keputusan ini benar-benar milik kita atau hanya milik ekspektasi orang lain. Dalam jeda kecil itulah kita menemukan kembali suara hati yang sering tenggelam yaitu suara yang mengingatkan bahwa hidup ini terbatas, energi terbatas, waktu terbatas, dan diri kita pun berhak untuk dilindungi.




0 comments:
Posting Komentar