Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

9.09.2016

Video Travel : My Backpacking Journey to India and Nepal


This is the video link from my youtube channel :

This is my video about my journey in India and Nepal (June 29, 2016 till July 11,2016). We start my journey from Kochi (South India), then went north to Mumbai, Jaipur, Agra, Gorakhpur. From Gorakhpur we took a local bus to Sunauli (India - Nepal border) to enter Lumbini and then Kathmandu.

This is the most unforgetable n happiest journey I've ever done. This journey began with a child's dream to see Himalayan Mountain, and God's hand make it true with his own way.

Dont ever tired to running for ur dream.

Video Travel : My Backpacking Journey in Karimunjawa Island


This is the video link from my youtube channel :

This video is about my journey backpacking in Karimunjawa (May 6, 2016 - May 8, 2016). This journey is very memorable because of struggle we've done to make it true. Without announcement, suddenly our supposelly ship (Siginjai Ferry) is off that day. Otherwise, the only other ship, Bahari Express, ticket already sold out 3 months earlier. What we should do?

Luckily, Bahari Express sell extra ticket only for 80 people. We're really struggle even just for 1 ticket. But luckily all of us got ticket. We made it!!

9.05.2016

[3] Karimunjawa : Berangkat atau tidak?

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 tapi belum ada tanda-tanda kedatangan kapal Bahari Ekspress. Sesuai jadwal yang tertera di tiket, seharusnya kami sudah di dalam kapal dan bersiap berangkat sekarang. Tapi hal ini bisa dimaklumi karena dengan membludaknya para traveler/backpacker yang akan ke Karimunjawa, Bahari Ekspress harus bolak balik Jepara-Karimunjawa-Jepara sampai dua kali sehari.

Kami kembali menunggu di warung, sembari memesan beberapa gelas es untuk mengusir dahaga yang seakan tiada habis. Udara benar-benar panas dan gerah. Memang benar ungkapan yang selama ini beredar, menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan.

"Eh itu kapalnya udah dateng," kata Arin yang langsung membuatku bersemangat kembali.

Kami segera meninggalkan warung dan masuk ke area tunggu. Di ruangan yang tidak terlalu luas tersebut terlihat ratusan traveler yang menunggu, sampai mengular ke luar ruangan. Udara panas masih menyiksa. Bulir-bulir keringat tidak hentinya meleleh di dahiku.

'Begitu berat perjuangan liburan ke tempat mainstream di libur panjang seperti ini...Seharusnya tidak usah kesini saja.....Aku berlibur ingin mencari kesenangan, tapi nyatanya justru harus menghadapi hal-hal seperti ini dari pagi.....'

Aku mulai kesal dan menyesal melaksanakan perjalanan ini. Mental backpacker-ku memang benar-benar belum teruji sepertinya. Dengan memanggul dua tas, aku masih antri berdiri di pintu keluar. Masih belum ada tanda-tanda petugas kapal memperbolehkan kami para penumpang masuk ke kapal. Kakiku mulai lelah berdiri, badanku lengket, mataku letih.

Antrian masuk ke Bahari Ekspress (GALUH PRATIWI)

Dalam penantian yang melelahkan, akhirnya semua penumpang dipersilahkan masuk ke kapal. Tidak mau menunggu lama lagi, aku segera mengajak Arin dan Ega masuk. Setidaknya kita bisa beristirahat di kapal. Tidak ada masalah berarti sampai kami melangkahkan kaki bersiap masuk kapal. Seorang petugas kapal paruh baya memeriksa tiketku dan mengangguk mempersilahkan aku masuk.

"Tiket tambahan di lantai dua, di atas," ujar seorang petugas kapal yang lain.

Kami mengikuti arahan tersebut. Well, tentu saja kami berharap akan mendapatkan tempat duduk yang layak seperti penumpang yang lain (karena kami pun membayar dengan harga yang sama). Sebuah tempat duduk di ruangan ber-AC mungkin akan bisa mengantarkan tidur untukku. Aku sangat lelah karena dari kemarin belum memejamkan mata.

Kami terus berjalan mengikuti backpacker lain yang juga memegang tiket tambahan. Naik ke lantai dua, aku mulai curiga karena kami berjalan terus sampai ke bagian buritan kapal.

'Lho?!'

Ternyata oh ternyata.....tempat duduk kami adalah buritan kapal. Ha ha ha........

Buritan tersebut terlihat sudah dipenuhi oleh puluhan traveler yang sudah masuk sebelum kami. Sudah tidak ada tempat sama sekali untuk kami.

Aku terus berjalan saja ke bagian geladak samping kapal. Yihaa! Ternyata masih kosong. Jangan ditanya, tempatnya sempit, tidak sampai satu meter. Tetapi setidaknya bisa untuk tempat kami bersandar dua jam ke depan. Aku berdesak-desakan dengan Arin dan Ega. Kaki mau selonjor pun susah, harus ditekuk.

Satu jam, dua jam sudah kami menunggu. Cerita hal ini dan itu sampai bibir mengering. Ada apa ini? Kenapa kapal tidak berangkat juga?

"Lhoh, itu kenapa ya kok ada kerumunan di bawah?" kata Arin.

"Eh iya apaan ya?"

Di pintu masuk kapal terlihat puluhan orang yang hendak masuk kapal tapi dilarang oleh petugas kapal. Padahal penampilan mereka necis-necis, sepertinya penumpang yang bahkan sudah mempunyai tiket utama sebelum kami.

Mereka tidak diperbolehkan masuk (GALUH PRATIWI)

"Jadi kalian mau kapal ini berangkat atau tidak?!" kata petugas kapal setengah membentak terhadap puluhan penumpang di belakangnya.

Aku benar-benar bingung. Apa yang terjadi?? Kenapa mereka yang mempunyai tiket utama justru tidak diperbolehkan masuk? Kenapa kami yang punya tiket tambahan justru dipersilahkan masuk begitu saja?

Perdebatan sengit antara calon penumpang yang membludak dengan petugas kapal terus terjadi. Bahkan beberapa penumpang terlihat menunjuk-nunjuk kami - penumpang tambahan yang duduk di geladak samping dan buritan kapal - memprotes kenapa kami bisa masuk sedangkan mereka tidak. Kami serasa dalam posisi yang membingungkan, kenapa mereka menyalahkan kami? Wong kami saja membayar dengan harga yang sama.

Bagaimanapun, kami tetap menyembunyikan wajah kami di balik payung. Entah apa yang kami sembunyikan, kami kan bukan penumpang gelap.

Perdebatan sengit terus terjadi, belum ada satupun penumpang yang diizinkan masuk oleh petugas kapal. Beberapa traveler yang frustasi dan kelelahan bahkan sudah terlihat kembali berjalan ke ruang tunggu. Sepertinya mereka menyerah.

"Gimana nih kita berangkat nggak?" kata Arin setengah merengek.

"Gimana kalau kita disuruh turun?" tambahnya lagi.

"Tenang aja Rin, kita tetep disini aja. Selama nggak ada perintah buat turun ya kita tetep disini aja," kataku menenangkan.

Semakin lama, tumpukan traveler yang mengantri masuk di pintu masuk kapal semakin sedikit. Mungkin mereka sudah terlalu frustasi dan kelalahan sejak pagi. Entah angin apa, tiba-tiiba saja petugas mempersilahkan beberapa penumpang tersebut masuk. Atau mereka yang punya tiket benar-benar resmi? Entahlah.

Beberapa penumpang yang lain terlihat menyusul masuk. Mereka yang menunggu di ruang tunggu mulai lari-lari kembali ke kapal. Rupanya kapal akan benar-benar segera diberangkatkan!

Oh my God, akhirnyaa.....!

***

Kapal Bahari Ekspress yang kami naiki membelah Laut Jawa dengan begitu gagahnya. Sesuai dengan namanya, tentunya kapal ini cepat. Lautan yang membentang 297 kilometer antara Pulau Jawa dan Pulau Karimunjawa ditempuh dalam waktu dua jam saja.

Bahari Ekspress membelah Laut Jawa (GALUH PRATIWI)

Angin tentu saja sangat kencang, apalagi bagi kami yang duduk di geladak sampaing kapal. Tapi kami bersyukur, setelah perjuangan dari pagi tadi, bisa naik kapal ini bahkan hanya di geladaknya adalah suatu hal yang sangat patut disyukuri.

Matahari mulai turun ke peraduannya. Pulau Karimunjawa mulai terlihat samar. Kapal Bahari Ekspress terus membelah lautan dengan kencangnya. Tidak ada keraguan, gagah berani.

Kami akhirnya sampai di Karimunjawa pukul enam malam. Pelabuhan terlihat sangat ramai. Banyak dari mereka yang sudah dijemput atau ditunggu agen travel. Tinggal berjalan ke penginapan dan beristirahat. Beda dengan kami yang bahkan belum memesan penginapan untuk malam ini. Entah masih ada atau tidak.

Pelabuhan Karimunjawa di kala senja (GALUH PRATIWI)

Kami berjalan saja mengikuti arus orang-orang yang keluar dari pelabuhan. Berjalan ke arah alun-alun, aku bertanya kepada seorang bapak yang langsung membantu kami mendapatkan penginapan. Sebuah penginapan sederhana berharga Rp 150.000/malam untuk bertiga. Cukup adil.

Malam itu tidak kami sempurnakan dengan makan sea food di alun-alun Karimunjawa untuk menutup hari. Esok kami akan melakukan kegiatan utama di Karimunjawa, snorkeling dan berkeliling pulau.

Sea food di alun-alun Karimunjawa (GALUH PRATIWI)

Sea food bisa dimasak dengan berbagai macam pilihan (GALUH PRATIWI)

Penjual oleh-oleh di Alun-Alun Karimunjawa (GALUH PRATIWI)

Aku benar-benar di Karimunjawa!

9.01.2016

[5] FILIPINA TRIP: Kamera oh Dompet! (Finished)

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Karena jadwal kepulangan yang masih sore hari sementara sejak jam 12 ane sudah harus check out dari Friendly Backpacker, ane memutuskan akan ngenet dulu di warnet dekat penginapan untuk menghabiskan jam-jam terakhir di Filipina. Tapi setelah nyoba warnet di dekat Friendly Backpacker Guest House, ane males dengan tarifnya gan, masak setiap menit tarifnya 2 peso (400) ladelah baru tau ane warnet tarifnya menitan. Setelah ngenet bentar ane akhirnya memutuskan keluar dan mencari warnet di salah satu mall berukuran sedang yang ane lewatin kemarin karena lebih murah. Ane naik LRT sambung jeepney untuk menuju mall tersebut. Oya karena pas di warnet pertama ini ane sakit perut, ane ingat sempat boker disini gan. Penting ya? Penting bangeet soalnya pas mau cebok nggak ada airnya gan! Jadi modelnya kayak  ceboknya orang luar negeri gitu, cuma pakai tissue. Hueeekkk. Bayangin aja gimana rasanya gan hahahaha.

Mall yang ane kunjungi ini jauh lebih kecil dari Mall of Asia yang ane kunjungin kemarin gan. Modelnya persis kayak SGM (Solo Grand Mall gitu), dimana kebanyakan barang yang dijual adalah baju. Tapi ane nggak juga menemukan baju yang ada tulisan Filipina di depannya untuk oleh-oleh. Akhirnya karena lapar, ane mampir di sebuah restoran kecil yang menawarkan menu ayam kecap. Rasanya lagi-lagi mirip masakan Indonesia gan, uenakk. Harganya juga nggak terlalu mahal, untuk seporsi nasi ayam kecap dan air minum dibanderol 100 peso.

Selesai makan, ane pun segera menuju salah satu warnet yang ada disitu gan. Untungnya dapat paket murah, ngenet 3 jam cuma dipatok 60 peso aja. Alhasil sesorean itu ane gunain buat ngenet aja gan sambil nunggu jam 4 sore buat boarding di Bandara Ninoy Aquino. Tapi sedihnya, komputernya nggak bisa baca memori kamera ane sehingga mau pamer di fb terpaksa tertunda hahahaha.

Jam 4 sore, akhirnya ane memutuskan untuk segera menuju bandara gan. Berdasarkan petunjuk buku karangan Sihmanto, sebenarnya bisa aja naik taksi dengan biaya sekitar 200 peso, tapi karena malas membuang uang lagi ane sebelumnya sempat mencari informasi di internet cara menuju bandara dengan transportasi umum. Dari mall tersebut, ane hanya perlu jalan kaki sekitar 200 meter ke arah Stasiun LRT EDSA, kemudian  menyeberang lewat jembatan penyeberangan dan turun sampai menemukan terminal, disana naik bus putih untuk menuju Terminal 1 Bandara Ninoy Aquino. Semuanya berjalan lancar dan pukul 16.30 ane sudah nangkring di atas bis menuju bandara, biayanya hanya 60 peso.

Bandara Ninoy Aquino di Manila ini cukup luas dan bersih. Segera saja ane menuju konter check in Cebu Pacific untuk segera mendapatkan tiket dan menunggu dengan tenang. Semuanya lancar sampai ane membayar pajak penerbangan dan menuju gerbang imigrasi.

Saat itu imigrasi keluar nggak terlalu rame, dengan PD dan semangat tinggi karena akhirnya mau pulang ane segera antri untuk mendapatkan cap keluar Filipina sebelum boarding. Petugas imigrasi di depan ane ibu-ibu gitu gan, udah tua dan murah senyum. 

Akhirnya tiba giliran ane gan:

“Sobekan kertas imigrasinya mana neng?” tanya ibu itu dengan ramah dan senyum.

“Aduh buk, harus pakai itu ya?Maaf buk saya nggak tau.” Jawab ane.

“Yaudah, diisi dulu aja. Ambil kertasnya disana. Nanti balik lagi kesini ya kalau udah” Jawab ibunya lagi-lagi dengan ramah sambil menunjuk tempat pengambilan formulir kertas imigrasi.

“Iya buk. Makasih ya buk.”

“Iya neng.”

Wuaahh, baik banget gan ibu imigrasi ini. Selama ane traveling, baru kali ini ane dapat senyuman dan perlakuan ramah seperti itu dari imigrasi. Ane benar-benar tersentuh dengan kebaikan masyarakat Filipina yang lagi (lagi) ane dapatkan.

Ane pun segera menuju meja pengambilan formulir imigrasi dan menulis data bersama beberapa calon penumpang pesawat yang lain. Saat itu karena harus mengambil bolpoin, tanpa sadar ane menaruh tas slempang ane yang berisi 2 kamera, dompet, dan beberapa benda berharga lainnya di meja formulir. Dan yang terjadi selanjutnya......bisa ditebak....ane lupa bawa tas itu lagi gan. Huaaa!!

Selanjutnya karena masih nggak sadar tas slempang ane ketinggalan di meja, ane pun segera melangkahkan kaki ke loket imigrasi ibu tadi. Si ibu tersenyum lagi dan segera memberikan cap ke ane. Ane pun segera melangkahkan kaki dengan PD untuk mencari tempat boarding pesawat ane, Cebu Pacific.

Saat berjalan itulah ane merasa ada sesuatu yang aneh gan, biasanya daerah sekitar leher ane itu akan sakit karena tali tas slempang. Kok sekarang nggak sakit ya?? 

Ya TUHANNN....

Ane lupa tas slempang ane!!

Ane berusaha menenangkan diri dan fokus, ane berusaha mengingat-ingat, kapan terakhir kali ane duduk atau melepas tas dan ane ingat itu di meja pengisian formulir imigrasi. Ya Tuhaann....ane kan udah di cap keluar, sekarang gimana caranya ane bisa masuk lagi untuk mengambil tas ane? Itupun kalau masih ada. Ane benar-benar mengutuki kecerobohan ane saat itu.

Sampai loket imigrasi lagi, segera saja ane mencari imigrasi yang nggak terlalu rame. Saat itu ane menemukan satu lagi ibu-ibu muda, dan ane pun menunjukkan paspor yang udah ada cap keluar Filipina sambil menjelaskan situasi ane kalau ada tas yang tertinggal. Dan ajaibnya, ibu itu langsung menganggukan kepala gan nggak banyak tanya. Wuaaahh, ane bersyukur berat dan segera meluncur ke meja formulir imigrasi untuk mencari tas ane dan ternyata.....MASIH ADA!! Ya Tuhaann...ane nggak berhenti-berhentinya bersyukur saat itu. Ane pun keluar Filipina lagi melalui loket imigrasi ibu muda tadi. Menjelaskan kalau ane sudah menemukan tas ane, dan kembali menunjukkan paspor yang sudah ada cap keluar. Wah terimakasih Tuhan, inilah bandara dan imigrasi terbaik ane selama jalan-jalan gan. Di Filipina, tepatnya Bandara Ninoy Aquino.

Maraming Salamat Po, Filipina!

Selanjutnya, perjalanan selama 4 jam dari Manila ke Jakarta dengan pesawat Cebu Pacific Airline ane lalui dengan lancar gan. Hal menakutkan yang terjadi, sepanjang jalan dari Manila ke Jakarta itu suering banget turbulensi gan pesawatnya. Saat itu yang ada di pikiran ane cuma hal buruk aja, ane mikir ane bakal kecelakaan pesawat karena sumpah pesawatnya goyang terus gan. Ane tatut. Tapi akhirnya sekitar pukul 12 malam, sampailah ane di Jakarta gan. Saat melihat lampu gemerlapan Bandara Soekarno Hatta, ane mengucap syukur sedalam-dalamnya. Rasanya senang sekali melihat tanah air tercinta ini setelah beberapa minggu terpisah. I LOVE INDONESIA.

-- FINISHED --


Perjalanan ke Filipina ini akhirnya menjadi penutup dari rangkaian petualangan luar negeri yang aku lakukan selama masa kuliah. Saat pesawat membawaku pulang ke Indonesia, aku sama sekali tidak menyangka bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan internasional terakhirku untuk sementara waktu.

Tahun 2013 hingga 2014 menjadi periode yang berbeda. Fokusku perlahan bergeser kembali ke bangku kuliah. Skripsi, tugas akhir, dan berbagai urusan akademik mulai menyita sebagian besar waktu dan pikiranku. Jika sebelumnya setiap tabunganku selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau tiket kereta menuju negara baru, kali ini prioritasnya adalah menyelesaikan pendidikan dengan baik.

Bukan berarti hasrat menjelajahku menghilang. Aku tetap bepergian, hanya saja sebagian besar perjalanan kulakukan di dalam negeri. Indonesia yang begitu luas ternyata masih menyimpan banyak tempat yang belum sempat aku kenal. Tahun-tahun setelah perjalanan ke Filipina justru menjadi masa ketika aku lebih banyak mengenal negeri sendiri dibandingkan mengejar cap paspor baru.

Pada pertengahan tahun 2013, tepat setelah menyelesaikan semester enam kuliah, aku diwajibkan mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat pembagian lokasi dilakukan, aku mendapatkan penempatan di Atambua, Nusa Tenggara Timur, sebuah kota perbatasan Indonesia–Timor Leste yang saat itu terasa sangat jauh dari dunia yang kukenal. Pengalaman tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat di sana menjadi salah satu pengalaman paling berkesan selama masa kuliah. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.

 Awal tahun 2014, rasa rindu untuk kembali menjelajah muncul lagi. Bersama dua teman kuliahku, Arin dan Fredo, aku melakukan perjalanan backpacking menyusuri Pulau Timor. Perjalanan sederhana dengan budget mahasiswa itu justru menghadirkan begitu banyak cerita, mulai dari perjalanan darat yang panjang hingga pengalaman mengunjungi berbagai sudut Nusa Tenggara Timur yang sebelumnya hanya kulihat di peta. Kisah lengkapnya bisa dibaca di sini.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Mei 2014, aku kembali berangkat bersama dua teman kuliahku. Kali ini tujuan kami adalah Sulawesi Selatan. Penyebabnya cukup sederhana: kami berhasil mendapatkan tiket promo AirAsia seharga Rp10.000 pulang-pergi dari Surabaya. Sebuah harga yang bahkan sampai sekarang masih terasa sulit dipercaya. Kesempatan seperti itu tentu tidak mungkin kami lewatkan begitu saja. Kisah lengkap perjalanan ke Sulawesi Selatan bisa dibaca di sini.

Setelah itu, kehidupanku mulai memasuki fase yang berbeda. Tahun 2015 menjadi tahun yang nyaris tanpa perjalanan. Aku baru saja lulus kuliah dan sedang berada pada masa transisi dari kehidupan mahasiswa menuju dunia kerja. Fokusku perlahan bergeser. Jika sebelumnya sebagian besar tabungan selalu berakhir menjadi tiket pesawat atau ongkos perjalanan, kali ini aku mulai memikirkan hal-hal yang lebih mendasar: mencari pengalaman kerja, membangun karier, dan menata kondisi keuangan agar lebih stabil.

Bisa dibilang, tahun 2015 adalah tahun ketika aku lebih banyak berinvestasi pada masa depan dibandingkan pada perjalanan. Keinginan untuk bepergian tentu masih ada, tetapi aku menyadari bahwa ada waktunya untuk menjelajah dan ada waktunya untuk membangun fondasi terlebih dahulu. Karena itulah sepanjang tahun tersebut aku memilih untuk lebih fokus bekerja, menambah pengalaman, dan mengumpulkan kembali tabungan sebelum kembali melangkah ke negara berikutnya.

Di periode itulah aku belajar bahwa tidak semua impian bisa dikejar secara bersamaan. Ada saatnya bepergian harus mengalah pada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Aku bekerja, menabung kembali, dan perlahan menyusun hidup dari awal.

Hingga akhirnya, setelah hampir tiga tahun berlalu, kesempatan itu datang lagi.

Pada tahun 2016, aku kembali menginjakkan kaki di luar negeri. Kali ini bukan lagi sebagai mahasiswa yang berburu tiket murah, melainkan sebagai seseorang yang telah melewati fase baru dalam hidupnya. Tujuannya pun berbeda: India dan Nepal, dua negara yang sejak lama masuk dalam daftar impianku.

Dan tanpa kusadari, perjalanan itulah yang kemudian membuka babak petualangan berikutnya yang jauh lebih panjang.

Perjalanan yang kuberi judul, MENGGAPAI HIMALAYA..

[4] FILIPINA TRIP: Hari terakhir

Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Malaysia - Filipina yang aku lakukan dari 30 Januari 2013 - 6 Februari 2013. Perjalanan ini merupakan pengalaman solo backpacker pertamaku. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


Tragedi salah perhitungan uang saku membuatku terjebak di Manila. Ya, hari ketiga aku masih di kota yang sama dan tidak mempunyai rencana apapun. Setelah sarapan di Jollybee dan berpikir cukup lama, aku memutuskan akan ke Chinatown. Sekedar jalan-jalan mencari hal lain selain benteng dan bangunan Eropa sembari berharap bisa menemukan oleh-oleh murah untuk dibawa pulang. Untuk menemukan Chinatown tidak sulit karena aku sudah pernah melewatinya kemarin. Caranya ane naik LRT dari Querenno Avenue ke Carriedo, kemudian jalan kaki sekitar 400 meter.

Chinatown ini terletak di Distrik Binondo, dan ternyata merupakan Chinatown tertua di dunia yang didirikan pada 1594 oleh Gubernur asal Spanyol Luis Pérez DasmariñasWaahh, nggak nyangka ya ternyata ada di Manila? Justru bukan di negara-negara yang mayoritas Chinese macam Thailand ataupun Myanmar. 


Gerbang masuk Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Chinatown ini didirikan sebagai kediaman permanen imigran asal China (orang Spanyol menyebutnya Chinese Sangleys) yang berubah keyakinan menjadi Katholik semenjak kedatangannya ke Manila. Awalnya para imigran China itu akan ditempatkan di Parian yang lokasinya juga dekat Intramuros. Parian merupakan area kediaman imigran China pertama kali. Tetapi Pemerintah Spanyol memberikan lahan yang lebih besar di Binondo kepada sekelompok pedagang dan pengukir China dengan perjanjian akan diberikan permanen, bebas pajak dan mempunyai gubernur sendiri. Mana bisa ditolak kan? Tetapi lagi-lagi tentunya Pemerintah Kolonial Spanyol mempunyai tujuan khusus dari semua kemudahan itu. Lokasi Binondo yang berada di dekat Intramuros tetapi di sisi seberang Sungai Pasig memang disengaja supaya pemerintah kolonial Spanyol tetap bisa mengawasi mereka. Tetapi sebenarnya lokasi ini merupakan pusat perdagangan orang China/keturunnanya sebelum Periode Kolonial Spanyol.

Suasana Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Hotel Emperor di Chinatown Manila (GALUH PRATIWI)

Bisnis kecil dan menengah menjamur di Chinatown (GALUH PRATIWI)

Romo asal dari Spanyol-Dominika menjadikan Binondo jemaah gereja mereka dan sukses merubah agama beberapa residen menjadi Katholik. Secara cepat Binondo kemudian menjadi tempat dimana imigran China mengubah keyakinannya menjadi Katholik. Mereka kemudian menikah dengan wanita pribumi Filipina dan mempunyai anak, dinamakan komunitas China Mestizo. Bertahun-tahun kemudian, populasi China Mestizo di Binondo menjadi semakin banyak. Hal ini disebabkan karena sedikitnya jumlah imigran wanita China serta kebijaksanaan Pemerintah Spanyol yang tidak segan-segan mengusir bahkan membunuh (dalam kasus konflik) para imigran China yang tidak mau mengubah agamanya.

Pengaruh kebudayaan China di Manila ini juga menyebar sampai ke Quaipo, Santa Cruz dan San Nicolas. Distrik Binondo sendiri merupakan pusat perdagangan di Manila, dimana semua tipe bisnis secara pesat dijalankan oleh keturunan Filipina-China. Hal ini tentulah tidak lepas dari sejarah tempat ini sendiri gan, yang sebelum Periode Kolonialisme Spanyol merupakan pusat perdagangan.

Barang yang dijual di sepanjang jalan Chinatown beraneka ragam mulai dari Jeruk Bonsai (tanamannya kecil tapi buahnya banyak banget), bawang, sayur-sayuran, buah-buahan, berbagai macam perhiasan imitasi seperti gelang dan kalung, patung buddha dari kuningan, roti tikoy, bumbu dapur. Selain itu juga terdapat banyak banget toko kelontong, toko perhiasan, restoran-restoran kecil. Pokoknya isinya dagang semua gan, memang keren abis orang China ini gan jiwa bisnisnya.

Jeruk bonsai (GALUH PRATIWI)

Roti Tikoy (GALUH PRATIWI)

Aneka sayuran dan umbi-umbian (GALUH PRATIWI)

Di ujung jalan, akhirnya ane kembali menemukan gereja peninggalan Spanyol yang cukup tua sering disebut Minor Basilica of Saint Lorenzo Ruiz atau Gereja Binondo. Karena ingin mendingin sejenak dari keriuhan pasar, ane pun masuk ke dalam gereja dan ikut berdoa sejenak. Mengucap syukur kepada Tuhan karena trip selama 3 hari ke Manila ini berjalan lancar dan ane masih sehat serta bernafas lega sampai sekarang.

Bangunan tua Gereja Binondo (GALUH PRATIWI)

Gereja Binondo ini didirikan oleh Romo asal Dominika pada 1596 untuk melayani para Jemaah China yang merubah agamanya menjadi Katholik. Gedung asli gereja ini dihancurkan Inggris dengan pengeboman pada 1762. Pada area yang sama, dibangun kembali gereja dari granit yang selesai pada 1852 tetapi lagi-lagi hancur oleh Perang Dunia II, dimana hanya sedikit bagian dari gereja yang tersisa.

Ada sedikit kisah sedih berawal dari gereja ini. Saint Lorenzo Ruiz (ayahnya berasal dari China sementara ibunya dari Filipina) dilatih di gereja ini dan kemudian melakukan perjalanan misionaris ke Jepang. Disana dia dan teman-temannya mati martir karena menolak meninggalkan Katholik. Ruiz merupakan santo pertama dari Filipina, dan diangkat oleh Pope John Paul II pada 1987. Untuk mengingatnya, patung besar Saint Lorenzo Ruiz dipasang pada bagian depan gereja.

Selesai dari Chinatown, ane ingat masih belum beli oleh-oleh. Di buku Jalan-jalan keliling Filipina punya Sihmanto yang ane baca, disebutkan dia mengunjungi Mall of Asia, ane pun segera naik LRT dan turun di stasiun LRT EDSA kemudian sambung naik angkot ke Mall of Asia (MOA). Sebenarnya tujuan utama ke MOA itu mau membeli oleh-oleh gan, kata Mas Sihmanto ada toko oleh-oleh cukup terjangkau di MOA, dimana salah satu oleh-olehnya berupa gantungan kunci jeepney. 

Mall of Asia (GALUH PRATIWI)

Salah satu mall terluas di dunia (GALUH PRATIWI)

Mall of Asia (MOA) ini merupakan mall perbelanjaan yang terletak di Bay City, Pasay, Manila. Lokasinya yang berdekatan dengan Teluk Manila membuat pemandangan Kota Manila dari lantai atas terlihat sangat indah. Mall dengan luas area empat puluh dua hektar ini sukses menjadi salah satu mall terbesar di dunia. Bukan main-main, ratusan ruko dengan berbagai tawaran jasa maupun dagangan memang berjajar memanjakan mata. Bagi seorang kaya, tentulah bisa dengan mudah menghabiskan pundi-pundi uangnya disini.

Ane berkeliling lebih jauh, entah kemana ane tidak tahu. Melewati bioskop dengan berbagai tawaran film terbaru yang tidak terlalu membuat ane tertarik. Kaki ini berjalan tanpa arah dan tujuan. Melewati ratusan orang-orang yang sedang berbelanja atau sekedar nongkrong. Es krim adalah salah satu stan yang paling banyak berjajar di sudut-sudut mall, ane sempat membeli satu toping untuk melegakan tenggorokan yang mulai kering.


Mungkin saking besarnya, ane tidak juga menemukan toko oleh-oleh murah yang ane incar. Kakiku mulai lelah, kepala sedikit pening. Mungkin ane butuh istirahat. Duduk sejenak, ane melangkahkan kaki untuk mencari jalan keluar dari mall. Setelahnya ane memutuskan pulang dan beristirahat di guest house. Solo backpacking maraton dari Singapura - Malaka - Filipina ini cukup membuat kakiku bengkak-bengkak. Capek sekali. Tapi ane puas! Ternyata ane bisa menaklukkan semua ketakutan dan keraguanku untuk berjalan sendiri. Terimakasih Filipina!!


Part Selanjutnya : DISINI

[2] Karimunjawa : Perjuangan

Jepara, 5 Mei 2016
Pelabuhan Kartini

"Ada apa ini?" aku bertanya kebingungan kepada Arin dan Ega yang sudah mengantri berdesak-desakan dengan ratusan penumpang lainnya.

"Ada tambahan 80 tiket Ekspress Bahari!" jawab Arin sembari meringis menahan dorongan orang-orang di belakangnya yang didominasi oleh lelaki.

WHAT? Tadi kan dikatakan tiketnya sudah habis! Bahkan beberapa bulan sebelumnya!

Antrian semakin rapat dan tak terkendali. Tidak peduli laki-laki maupun perempuan, semuanya berebut untuk mendapatkan tiket Ekspress Bahari. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada space sedikitpun untukku menyelip di belakang Arin. Aku hanya bisa berpasrah kepada mereka.

Semakin lama antrian mulai tak terkendali dan semakin banyak orang yang berteriak "Antri! Antri!" kepada rombongan orang yang dengan seenaknya memotong antrian dari sisi lain loket. Kejadian ini memaksa polisi pelabuhan turun tangan dan menertibkan calon penumpang. Aku hanya bisa memandang Arin dan Ega yang mulai tak terlihat karena terselip di dalam tumpukan manusia itu.

"Satu orang maksimal beli 2 tiket!" petugas penjaga loket mulai berteriak kesal karena ulah beberapa orang yang membeli lima bahkan sepuluh tiket sekaligus.

Aku mengobrol dengan petugas pelabuhan tentang kekacauan yang terjadi ini. Beliau mengatakan hal seperti ini memang tidak biasa terjadi dan mencurigai adanya konspirasi tertentu dari beberapa pihak. Aku hanya bisa mengangguk dan mendengarkan.

Akhirnya aku melihat tangan Arin masuk ke lubang loket, membawa identitasku dan dia sendiri. Setelah melalui perjuangan panjang, dia akhirnya bisa keluar dari antrian. Kami masih menunggu Ega. Keberadaan Ega masih tersembunyi oleh tumpukan laki-laki yang seperti tanpa ampun terus mendorong dan menutup lubang loket dengan badan mereka. Sesaat kemudian, kami bernafas lega karena telah melihat tangan Ega menyorongkan identitas ke lubang loket.

Kami akhirnya akan berangkat!! Apakah ini mimpi atau bagaimana?

Aku bahkan tidak mempercayai hal ini setelah hal-hal melelahkan yang harus kami lalui dari pagi tadi. Benar-benar suatu berkah yang luar biasa bahwa kami sudah membawa tiket Ekspress Bahari sekarang. Hati-hati sekali aku menyimpannya, laksana menyimpan ijazah.

Kami beristirahat sejenak di warung makan dekat pelabuhan untuk mengisi perut yang sedari pagi buta belum diisi makanan berat. Kapal Bahari Ekspress masih tiga jam lagi dijadwalkan berangkat. Sepiring nasi soto ayam dan segelas es sukses menyegarkan tenggorokanku yang mengering karena banyaknya hal yang harus kami lalui.

Menunggu di warung (GALUH PRATIWI)

Kami duduk di bangku belakang warung yang teduh. Disana terlihat juga para backpacker lain yang sedang istirahat menunggu jadwal keberangkatan kapal. Aku bertemu dengan lelaki muda ini, aku lupa namanya. Kita berbincang cukup seru dan dia memberikan banyak masukan untuk bekal ketika kami di Karimunjawa nanti.

"Saya orang Jepara asli, disini mengantarkan teman," katanya dengan ramah dan senyumnya yang khas.

"Untuk menuju Pantai Kartini, kalian lewat jalan tikus saja. Gratis. Kalau lewat depan kalian harus bayar."

Aku tersenyum nakal dan mengingat petunjuk jalan darinya sebelum menuju Pantai Kartini. Memang benar, sesuai petunjuknya, jalan yang kami lalui adalah melewati pagar yang terbuka dan memang tidak dipungut biaya sepeserpun. Kami sempat melewati semak-semak dan onggokan kapal sebelum mencapai Taman Kartini.

Jalan tikus ke Pantai Kartini (GALUH PRATIWI)

Sebuah taman cukup luas dengan beberapa gazebo kayu sederhana menyambut kami. Panas matahari cukup terik, tetapi terhalangi oleh rimbunnya hijau pepohonan. Beberapa keluarga dan anak-anaknya terlihat menggelar tikar menikmati sejuknya angin laut. Memang suasana yang ideal untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Suasana taman di Pantai Kartini (GALUH PRATIWI)

Taman Laut Kura-Kura adalah salah satu tujuan kami memasuki kawasan Pantai Kartini. Bisa dibilang, patung kura-kura raksasa ini merupakan salah satu ikon yang paling dicari orang yang melancong ke Pantai Kartini (selain menunggu kapal ke Karimunjawa tentunya). Bangunan yang diresmikan Bupati Jepara pada 22 Februari 2011 ini memiliki ruangan bagian dalam yang bisa dimasuki, dimana lantai satu digunakan sebagai taman laut dengan akuarium yang berisi berbagai spesies ikan dan penyu, sementara lantai dua untuk wahana pendukung dari Taman Laut Kura-Kura. Karena masuknya berbayar, kami mengurungkan niat dan melanjutkan berjalan-jalan menikmati taman disekitarnya.

Taman Laut Kura-Kura (GALUH PRATIWI)

Taman Laut Kura-Kura (GALUH PRATIWI)

Cukup banyak penjual makanan dan minuman yang bertebaran, mulai menggodaku untuk mengeluarkan lembar-lembar rupiah. Jajanan salome tentu saja langsung kubeli, salah satu makanan kesukaanku sejak kecil. Cuaca yang terlalu panas memang menyebabkan tenggorokan mengering dengan cepat.

Kami melanjutkan berjalan sampai menemukan beberapa gazebo luas yang melingkari patung kura-kura. Setiap gazebo dihubungkan oleh jembatan yang dibangun diatas tiang-tiang di atas laut dangkal. Di sisi kiri kami, beberapa anak kecil usia belasan terlihat berenang-renang meminta koin kepada kami. Cukup atraktif.

Pejuang koin (GALUH PRATIWI)

"Koin mbak, koin!" kata mereka sembari mengayun-ayunkan kaki kecil mereka di Laut Jepara yang berwarna kecoklatan.

Aku melempar koin beberapa kali, menghabiskan koin limaratusan di dompetku yang mulai menggembung.

'Bahagia itu sederhana ya,' pikirku.

Selama dua jam berikutnya, kami habiskan dengan tiduran di tempat duduk yang tersedia di gazebo. Mataku sungguh terlalu berat. Perjalanan kemarin malam tanpa tidur sedikitpun telah sedikit menguras energiku. Mataku mulai berat dan tubuhku merasa rileks, aku sempat tertidur sebentar.

Gazebo (GALUH PRATIWI)

Harum asap sate dari penjual di dekatku memaksaku bangun. Perutku lapar lagi ternyata. Sebungkus sate lontong sukses meluncur ke perutku. Tak terasa, sebentar lagi kami harus kembali ke dermaga karena sudah mendekati jadwal keberangkatan.

Ternyata ujian buat kami tidak berakhir disini.

Diary Menggapai Himalaya 26 : Perjalanan di bibir jurang

7 Juli 2016
Perjalanan dari Lumbini ke Kathmandu

Aku melihat sisi kiriku, roda bus hanya berjarak kurang dari satu meter ke bibir jurang! Kalau sampai bus ini terpeleset dan jatuh, tidak ada kesempatan lagi. Kami akan digilas oleh derasnya aliran sungai yang membelah perbukitan di bawah sana.
Jantungku berdegup kencang. Aku hampir tidak tidur semalaman. Busku berjalan lambat beriringan dengan beberapa bus dan truk di depan. Bus hanya mampu melaju dengan kecepatan maksimal lima puluh kilometer per jam. Jalanan basah dan licin sehabis diguyur hujan deras, sebelah kiri jurang menganga. Menambah sedikit kecepatan lagi tentunya mempertaruhkan nyawa puluhan penumpang di bus yang kebanyakan sedang tertidur pulas.

Aku membuka jendela. Udara cukup dingin, di tengah ketakutanku aku tersenyum bahagia. Aku telah resmi memasuki kawasan Pegunungan Himalaya. Aku biarkan udara sejuk menampar mukaku. Kugunakan jaket tebal untuk menghangatkan tubuhku. Rasanya seperti mimpi!

Kututup kembali kaca jendelaku karena udara semakin dingin. Aku memejamkan mata, tersenyum. Inikah kebahagiaan?

Bus Ammar, dari Lumbini ke Kathmandu (GALUH PRATIWI)

Bus berhenti untuk makan malam dan ke toilet (GALUH PRATIWI)

Segelas chai di malam yang dingin (GALUH PRATIWI)