Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

8.25.2014

[1] Sawadee Thailand: Mimpi yang Terwujud

Trip ini merupakan rangkaian trip Thailand - Kamboja - Malaysia yang kulakukan dari 23 Januari 2012 - 2 Februari 2012. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku berikan linknya di bagian paling bawah postingan.

23 Januari 2012

Aku akan selalu mengingat tanggal ini. Tanggal dimana mimpiku akhirnya terwujud..Mimpiku untuk bisa menginjakkan kaki keluar negeri. Negara pertama itu adalah Thailand..This is my story in Thailand...

Setelah menunggu selama hampir 10 jam di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta karena antusiasme yang terlalu tinggi mau ke luar negeri pertama kali, akhirnya naik juga aku dan Alfi -travelmateku- ke pesawat Air Asia yang bakal menerbangkan kami ke Bangkok. 

“Hhhhhhhh..akhirnyaaa”, hembusan nafas kerasku membarengi raungan pesawat yang mulai mengudara membelah langit malam Jakarta. Di dalam pesawat aku bersyukur, bersyukur berat akhirnya hari ini datang. Hari yang sudah kutunggu selama hampir 6 bulan terakhir. Hari dimana aku akan menginjakkan kaki pertama kalinya di luar negeri, sesuatu yang sudah kutunggu sejak SMP! 

Aku, menunggu dengan melasnya selama 10 jam di Bandara Soekarno Hatta karena bus yang mengantarkan kami dari Solo ke Jakarta tiba pagi, sementara penerbangan Jakarta - Bangkok masih sore

Penerbangan Jakarta-Bangkok berlangsung selama 3 jam, dan nggak ada yang melebihi rasa antusiasmeku saat pesawat Air Asia ini mulai merendahkan ketinggian membelah langit malam Bangkok. Saat itu aku bisa melihat kerlap-kerlip keemasan lampu Kota Bangkok. Sungguh senang rasanya hati ini, wajah tak hentinya menyunggingkan senyum. Pemandangannya begitu indah dan hati ini rasanya udah nggak sabar pengen cepat mendarat. Saat itu hanya rasa penasaran yang memenuhi benakku, “Ya Tuhan, kayak apa ya luar negeri? Kayak apa ya Thailand?”

Pesawat Air Asia Jakarta - Bangkok mengudara

Pemandangan kerlap-kerlip malam Kota Bangkok dari pesawat. Sungguh indah.

Akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Saat itu kami cukup bingung. ‘Trus, apa yang harus kami lakukan? What’s next?’ Hahaha. Maklum, wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri.

Saat itu ada papan penunjuk transfer bus ke berbagai kota di Thailand, kontrol kesehatan, imigrasi, klaim bagasi, transfer dan visa on arrival. Karena setau kami kalau ke luar negeri itu harus bawa paspor dan nanti paspornya di cap, maka kami pun menuju ke imigrasi. Wealah, mau diapain di imigrasi nanti? Kami pasrah aja dan membawa paspor kosong kami dengan rasa sok tau.

Banyak petunjuk eh (papan dengan tulisan warna biru). Dua orang desa dari Solo ini pun bingung hehehehe..

Setelah menemukan imigrasi, kami pun segera mengantri untuk mendapatkan cap masuk Thailand di paspor. Disini karena kendesoanku, aku membuat kesalahan besar, karena berdiri persis di belakang Alfi yang paspornya sedang di cap. Ternyata karena aku masih ndeso, aku masih nggak tau kalau garis merah (kurang lebih 3 meter di belakangku) itu batas buat antrian selanjutnya. Jadilah, ibu imigrasinya bilang “Please step backward behind the line” ke aku, Jiaaahhh......Malu banget sama antrian di belakangku wkwk. Bwahahaha....Maaf ibuukk, namanya juga wong ndeso yang baru pertama kali ke luar negeri, hihihi. Ternyata di imigrasi itu biasa aja. Kita Cuma ditanyain ada keperluan apa di Thailand, menyocokkan wajah dengan foto di paspor, cap masuk, habis itu capcus deh kami diperbolehkan masuk dengan gratis selama 30 hari di Thailand.

Imigrasi Thailand. Awalnya aku berdiri tepat di belakang Alfi dimana hal itu jelas dilarang. Hahaha....

Saat itu kami memang sudah booking penginapan bernama The Green House yang berlokasi di Khaosan Road. Konon, katanya Khaosan Road itu memang kawasan backpacker di Bangkok. Jadilah di sepanjang jalan kurang lebih 500 meter ini, kita bisa menemukan backpacker dari berbagai negara yang mengunjungi Thailand. Kami semakin tak sabar. Karena tidak ada transportasi umum yang murah dari bandara ke pusat kota, kami pun sharing taksi dengan seorang ibu dari Jakarta yang kami kenal di bandara Soekarno Hatta.

Saat perjalanan dari bandara ke pusat kota Bangkok itulah aku bisa benar-benar melihat luar negeri secara langsung. Ternyata begini, seperti ini. Salah satu hal yang unik adalah, di sepanjang jalan kami banyak menjumpai foto-foto raksasa Raja Thailand. Dengan menganut sistem pemerintahan monarki konstutisional, mereka memang sangat mengagungkan dan menyayangi rajanya. Aku belajar budaya baru itu untuk pertama kalinya disini. Kalau di negaraku, kebanyakan foto calon legislatif di jalan hahaha.

Setengah jam kemudian, sampailah kami di Khaosan Road dan inilah perjuangan sebenarnya karena kami harus mencari The Green House dari sekian banyak penginapan. Tapi hal itu justru membuat kami tambah bersemangat. Ternyata Khaosan Road meski sudah malam masih sangat ramai dan penuh dengan para traveler. Di sepanjang jalan banyak dijumpai penginapan, restoran, travel agen, 7eleven (supermarket internasional favorit backpacker), pedagang kaki lima, pedagang baju maupun layanan pijat. Pokoknya suasananya sangat hidup, santai dan backpacker abis. Aku benar-benar menikmati hari pertama di Bangkok ini.



Suasana malam Khaosan Road, kawasan backpacker paling terkenal di Bangkok. Cozy banget gan..


Setelah memutari Khaosan Road sampai ujung, kami tak jua menemukan penginapan kami. Mulai curiga, jangan-jangan penginapan abal-abal aja nih, mana udah kami booking. Bertanya kepada beberapa orang, ternyata penginapan kami itu tidak di Khaosan Road, tapi di seberang jalan Khaosan. Suasananya tidak kalah cozy, tetap ramai dan musik berdentam-dentam dengan kerasnya dari beberapa cafe yang berjajar. Kami pun segera masuk untuk mandi dan merebahkan badan.

Penginapan kami The Green House

Meskipun saat itu badan terasa sangat capek, tetapi suara musik yang berdentam-dentam di bawah seakan memanggil-manggil kami untuk bangkit dan jalan-jalan lagi. ‘We are in Thailand man, masak mau diisi dengan tidur aja?’ hehehe. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah 7eleven yang berada tidak jauh dari penginapan. 7eleven merupakan supermarket internasional yang berbasis di Amerika Serikat, dan barang-barang yang dijual memang kebanyakan kebutuhan backpacker gan. Harganya relatif lebih murah daripada beli di luar. Disini gue beli sisir dan air minum 1,5 L. Pergi jauh-jauh selalu lupa bawa sisir, klasik. Hahaha.

Kami pun melanjutkan petualangan lagi, saat itu dengan begitu banyaknya pedagang makanan khas Thailand di pinggir jalan, aku jadi penasaran bagaimana rasanya. Hal ini sempat memicu perdebatan dengan Alfi, karena dia tidak mau coba, tapi setelah beberapa kompromi, akhirnya mau juga. Saat itu kami pesan toum yam soup udang.

Toum Yam Soup Udang...

Melihat kenampakan toum yam soup untuk pertama kalinya, aku yakin banget kalau makanan ini sepertinya enak. Tapi setelah dirasakan kuahnya, ya ampunnn... kok aseeeem n sengak banget gan. Kami yang orang Jawa terbiasa dengan makanan manis malah akhirnya nggak doyan dan makan udangnya aja. Haha, dasar. Emang siapa suruh aneh-aneh? Akhirnya Alfi menyerah baik dengan udang maupun kuahnya, dan aku yang harus menghabiskan sendirian. Akhirnya karena nggak enak dengan Alfi, aku yang bayar toum yam soup-nya. Hahaha, kapok dah beli ini.

Setelah selesai makan dan mengitari Khaosan Road lagi sejenak untuk foto-foto, kami pun memutuskan untuk kembali ke penginapan dan beristirahat. Bukan perkara mudah untuk tidur dengan begitu kerasnya suara musik di bawah. 

But we’re in vacation. That’s not problem, isn’t it? 


Part Selanjutnya : DISINI

8.24.2014

Perjalanan Membelah Indonesia Tengah-Timur Selama 1 Bulan: I Found My Self!

Rute penjelajahanku selama satu bulan. Mulai dari Surabaya-Makassar-Bulukumba-Tana Toraja-Gowa-Maros-Surabaya-Banyuwangi-Denpasar-Kupang-Soe-Atambua-Surabaya-Solo.

15 Mei 2014
di dalam Kereta Sritanjung jurusan Surabaya-Banyuwangi

Well, kenapa ya kalau liburan rasanya waktu berjalan cepat bangat? Yah, meskipun cukup singkat, liburan ke Sulawesi Selatan ini telah menyembuhkan kegalauanku yang sempat mencapai to the max sebelum berangkat. Hehe. Sekarang bisa dibilang, galauku sudah hilang. Aku hanya ingin bercerita, aku ingin mengekplore lagi setiap sudut Indonesia. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah, dan mereka sangat harus mengunjunginya. Aku banyak melihat sesuatu yang menyulutkan semangatku selama traveling.

Pada tanggal 15 Mei 2014, pukul 11.38 am, di Stasiun Gubeng Lama Surabaya adalah saat aku mengucapkan selamat tinggal (sementara) buat kedua travelmate-ku yang sudah bersama-sama selama 9 hari 8 malam terakhir ini. Mereka harus melanjutkan perjalanan ke Jogja, sementara aku ke Bali. Sedih? Sedih bangat, sekarang kerasa bangat bedanya. Aku di kereta Sritanjung jurusan Banyuwangi sendirian, yang biasanya ada teman cerita-cerita. Tapi aku percaya, kita tidak akan pernah sendiri. Kita akan selalu menemukan teman di sepanjang jalan.

Well, trip ke Sulawesi Selatan ini merupakan salah satu trip yang paling berkesan untukku. Hal itu karena aku kembali melihat budaya Indonesia yang begitu mengesankannya, terutama saat di Tana Toraja. Hal ini membuatku semakin mencintai negaraku dengan keindahan alam dan budayanya.
Over all, kami berhasil mengunjungi 4 kabupaten dan 1 kotamadya yakni:

1. Kabupaten Maros -->  Bantimurung, Gua Batu, Gua Mimpi, Kompleks Gua Purbakala Leang-Leang
2. Kabupaten Bulukumba --> Tanjung Bira, Pembuatan Kapal Pinisi, Pulau Liukang
3. Kota Makassar --> Pantai Losari; Makassar City Hall; Kuliner Mie Titi, Coto dan Pisang Epe; Otak-Otak Bu Elly;
4. Kabupaten Gowa-->  Air Terjun Parangloe
5. Kabupaten Tana Toraja-->  Batutumonga, Lokatonda, Kota Rantepao, Kete Kesu, Londa, Sulaya, Gambira

Capek? Sangat. Tapi tidak ada yang bisa menggantikan kepuasan ketika aku berhasil mengunjungi semua tempat itu. Tempat-tempat yang awalnya hanya sering kulihat di internet/TV, sangat senang ketika bisa melihat semuanya secara langsung.

Foto di Makassar Hall

Setelah sekian lama, akhirnya bisa mengunjungi Bantimurung kembali..

Air Terjun Parangloe, Kabupaten Gowa. Butuh sekitar 2 km trekking dari tempat parkir.

Keindahan Pantai Tanjung Bira Timur dengan latar belakang Kapal Pinisi

Akhirnya sampai juga di Tana Toraja :)

Cerita mengharukan?menyebalkan? Of course ada, inilah yang membuat perjalanan semakin berwarna bukan? Cerita mengharukan terjadi ketika kami sedang di Kabupaten Tana Toraja. Disana, kami ditampung oleh saudara teman kami yang adalah seorang dokter gigi. Baiknyaaa....masyaAllah....Beliau adalah salah satu dokter gigi paling terkenal di daerahnya, dan disaat pasiennya sedang menumpuk, beliau masih sempat menemui kami, mencarikan aku charger BB, mengantarkan kami ke pool bus naik mobil saat hujan deras, menyewakan kami motor dan meminjami kami 1 motor tril untuk keliling toraja, membelikan kami makan, bahkan berpesan kalau ada teman/saudara yang mau ke Toraja dipersilahkan menginap di rumahnya dan di saat akhir, malah mengucapkan terimakasih karena kami bersedia mampir di rumahnya selama di Tana Toraja. Aduh kebalik bapak, kami yang berterimakasih sekali.....

Selain Pak Dokter, kami banyak bertemu teman baik selama di Sulawesi. Saat perjalanan dari Makassar ke Bulukumba, kami bertemu pasangan Perancis-Perancis half Thai (Boni dan Surya) sehingga menambah teman baru. Kami banyak bercerita tentang budaya negara kami masing-masing, sehingga perjalanan menjadi terasa tidak lama. Selain itu, saat pulang dari Bulukumba ke Makassar, kami bertemu dengan 2 teman lagi asli Makassar (Kak Oliv dan Kak Doni). Mereka menyayangkan kenapa kami tidak ke Pulau Selayar dan Pulau Takabonerate, dan malah mentraktir kami kopi dan pop mie (gue) saat pulang, padahal baru kenal, terimakasih kakak. Hehehe.

Cerita menyebalkan terjadi ketika kami dipalak habis-habisan oleh supir kijang yang mengantarkan kami dari Kabupaten Bulukumba ke Kota Makassar. Tidak main-main, kami bertiga dimintai uang total 500.000 untuk membayar biaya transportasi kijang. Hal itu dikarenakan kijangnya tidak penuh, jadi kami harus membayar kekurangan 1 orang. Gimana nggak lemes...Padahal jarak Bulukumba-Makassar hanya sekitar 5 jam perjalanan. Tapi yasudah, biarlah itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak boleh diulang.

Singkatnya, tanggal 15 Mei 2014, akhirnya berakhirlah petualangan kami menjelajah Sulawesi Selatan. Kami mengakhiri malam di Bandara Hassanudin dengan makan ikan kakap dan tidur klesotan di Mushola Bandara dengan membawa sejuta kenangan. Thanks Celebes!!
                                                                                                         ***

BALI
15-16 Mei 2014
Pukul 22 Waktu Indonesia Barat, akhirnya sampailah aku di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Ujung Timur Pulau Jawa. Apa yang aku lakukan? Pulau Bali akan menjadi tujuanku selanjutnya, bukan berlibur, hanya sebagai tempat transit sebelum melanjutkan petualangan berikutnya a.k.a menuju bandara. Aku akan terbang ke Kupang dari Denpasar sore ini.

Saat bertanya kepada seorang pedagang tentang ferry ke Pulau Bali, mas-nya menyarankan aku untuk ambil bus Banyuwangi-Denpasar yang banyak stand by di depan pelabuhan, jadi nyebrangnya bareng bus. Karena menurutnya sangat rawan bagi aku untuk jalan sendirian tengah malam. Tapi karena sudah pernah menyeberang Pulau Bali tengah malam, aku tetap bertekad akan naik ferry sendirian dan mengambil bus menuju Denpasar saat sudah sampai Pulau Bali. Ternyata semuanya berjalan lancar, penyeberangan hanya berlangsung selama 1 jam dan aku terdampar sendirian di Pulau Bali tengah malam. Apa yang harus aku lakukan? Jujur aku nggak tau.

Akhirnya setelah bertanya kepada beberapa petugas, aku dibilang bahwa bus ke Denpasar baru ada jam 2 pagi, padahal saat itu waktu baru menunjukkan jam 24.00 WITA. Yaudah gue pun berhenti di sebuah warung kopi kecil dan ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung serta Bapak Polisi. Mereka sangat membantu dan menunjukkan bus mana yang harus kutumpangi untuk menuju Denpasar. Thank you!!! Jam 2 lebih sedikit, akhirnya aku sudah berada di Bus yang akan mengantarkanku ke Denpasar.

Perjalanan selama 3 jam dari Pelabuhan Gilimanuk ke Denpasar berlangsung cukup lancar dan cepat. Di dalam bus aku banyak merenung, aku merenungkan tentang kehidupan yang kujalani sekarang, betapa aku sangat menikmati proses ‘melarikan diri selama sebulan’ dari rumah ini. Hehehe. Rasa rindu ke rumah seakan tidak ada, hanya ada rasa rindu untuk keluarga. Bagaimanapun, aku ingin seperti inilah kehidupanku kelak. Mempunyai beberapa usaha wiraswasta bidang travel agency yang bisa kupercayakan pada seseorang sementara gue-nya terus mbolang. Haha. Gue bisa membayangkan di masa depan, traveling menjadi semacam gaya hidup dan mungkin suatu saat akan menjadi kebutuhan, pasar yang menarik.

Singkatnya, setelah naik ojek seharga 50rb dari Terminal Ubung, sampailah aku di Bandara Ngurah Rai, segera menuju mushola untuk sekedar merebahkan badan sampai menunggu waktu check in jam 12.30 nanti. Di mushola ini, aku berkenalan dengan seorang teman asal Jawa juga yang akan menuju Kupang. Dia bercerita tentang pekerjaannya di Pertamina sebagai penyalur minyak di NTT.  Jadi setelah sampai Kupang, dia akan berkeliling NTT (ke pulau-pulau kecil juga) menggunakan kapal pertamina untuk menyalurkan minyak. Aku sangat tertarik dengan pekerjaannya dan membayangkan betapa asyiknya bekerja seperti itu, bisa berkeliling NTT bahkan sampai pulau-pulau kecilnya dengan gratis. Menunggu selama berjam-jam menjadi tidak terasa karena aku sangat menikmati cerita teman baru ini, akhirnya pukul 13.00 aku segera menuju ruang keberangkatan untuk check in.

Oya cerita lucunya, pagi-pagi gue sempat dimarahi petugas kebersihan Bandara Ngurah Rai karena mandi di kamar mandi (yang harusnya kamar mandi kering). Eee, emang gue pikirin? Hehehe (edisi nakal dikit).


Suasana Bandara Ngurah Rai pagi hari...


KUPANG
16 MEI 2014
Entah kenapa, setiap kali kembali ke Pulau Timor aku merasakan seakan sedang pulang kampung setelah sekian lama. Hmm, mungkin perasaan yang terlalu lebe. Tapi aku benar-benar merasakan kenyamanan setiap kali menginjakkan kaki disini, ini adalah ketiga kalinya aku ke Timor.

Segera setelah turun di bandara, aku sudah dijemput oleh beberapa kawan dari Universitas PGRI yang salah satu kost-nya menjadi host selama gue di Kupang. Hmm, mereka baik-baik sekali. Pertanyaan utama, apa yang gue lakuin di Timor untuk ketiga kalinya? Hmm, simak saja.

Sebenarnya salah satu tujuan utama datang ke Timor adalah pulang kampung, dan tentulah jalan-jalan tidak kulewatkan jika kebetulan teman-teman host gue itu sedang kuliah. Ada temen gue yang tanya, “Lah, lo kan udah pernah ke Kupang? Ngapain kesana lagi?”. Gue jawab, “ Kupang itu nggak selebar daun kelor, masih banyak tempat wisata yang belum gue jabah.” Jadilah kegiatan gue selama 10 hari di Kupang lebih banyak dihabiskan dengan jalan kesana kemari.

Karena kebetulan bisa mendapat pinjaman motor selama 3 hari, gue pun langsung ajak 2 teman pgri motoran sampai ke Soe untuk mengunjungi Air Terjun Oehala. Jadi tebaklah, 1 motor boncengan 3 orang, gue yang boncengin, yang tengah nggak pakai helm, hahaha. Gue pikir jarak Kota Kupang-Soe itu seperti Jogja-Solo, eee ternyataa 110 km dan belok-belok ala pegunungan tak aes-aes dan sepi nyenyet (selama ini gue biasa naik bis dan tidur jadi nggak terasa terlalu lama pas lewat pegunungan). Dan dinginnyaa, awii (karena Benua Australia mulai masuk musim dingin). Sempat mau jatuh 1x pas membelok curam gara-gara sebelumnya gue ngetawain orang di depan gue yang mau jatoh, Astafirulloh.


Air Terjun Oehala, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Selain Soe, selama disana gue juga kembali mengunjungi desa KKN gue tercinta, Desa Rinbesi Hat di Atambua. Disana nginap di rumah salah seorang adik, dan gue belajar banyak tentang cara menggembalakan sapi (ternyata gampang, tinggal pukul aja bokong sapi pakai ranting mereka udah tau jalan sendiri), memasak di lopo, makan nasi kacang maupun nasi jagung, mandi di sumur umum dengan pakaian lengkap masih dipakai, angkut-angkut air cukup jauh untuk air minum, mendengarkan percakapan Bahasa tetun terus menerus, digigit kutu busuk, wuaah pokoknya Atambua selalu jadi tempat yang nyaman dan menyenangkan buat gue. Always.

Disini gue jadi tau bagaimana anak-anak Atambua dididik sejak kecil, di Atambua semua anak seakan sudah disetting untuk membantu orangtuanya bahkan tanpa disuruh sekalipun. Misalkan membantu panen padi, membantu menyiram sayuran, memasak, angkut air. Itu semua dilakukan bahkan oleh anak-anak SD-pun, tanpa mengeluh atau apa. Bandingin disini yang anak-anak kecil aja udah sibuk main tablet/ipad, eaaaa -,- (iri belum bisa beli ipad ya? Hehehe, nggak pengen juga).

Over all, selain Soe dan Atambua , aku menghabiskan waktu di Timor dengan jalan-jalan keliling Kota Kupang. Mulai dari menggeje sore-sore dengan main ke Pura Oebanantha. Soalnya unik khan, di Kupang yang mayoritas Nasrani ada Pura, jadi gue penasaran. Pas lihat orang berdoa di dalam Pura, gue lihat mereka pada ga pakai sandal, yaudah gue pikir masuk di Pura ga boleh pakai sandal, yaudah sandal gue cangking. Eh waktu mereka selsai berdoa, mereka pada nanyain kenapa aku nggak pakai sandal. Hahaha, daripada malu gue jawab aja deh kaki lagi sakit. Gue ditanyain asalnya darimana, agamanya apa, dll. Ternyata Pura ini welcome untuk semua agama, aku menghabiskan beberapa saat disini untuk merenung religi dan melihat sunset,kebetulan memang pura-nya di pinggir laut!


Gerbang masuk Pura Oebananta

Sore yang syahdu kuhabiskan di pura...

Gue selalu merasa orang-orang disini sangat baik dan suka membantu, seperti beberapa kali aku dibantu dicarikan dan diberhentikan bemo saat tanya ‘bemo apa yang harus dipakai ke tempat tujuan’; gue sempat digratiskan naik bemo (padahal bemo-nya nggak lewat jalur gue, gue malah dianterin dan supirnya nggak mau dibayar hikz hikz); gue sempat mau diantarkan ke Gua Monyet oleh supir Bemo lampu 1 dan katanya gak bayar, tapi gue nolak karena nggak enak dan itu bukan jalurnya; gue sempat diantarkan pakai mobil oleh seorang yang gue tanyain ‘ dimana letak Mall Flobamora’, katanya kasihan karena gue dari Jogja dan sendirian; gue ketemu dengan Kak Inda (teman jalan-jalan dari Kupang) yang ngobrol seru dan malah traktir gue (makasi kakak). Hehehe, Terimakasih semuanya. Itu semua yang bikin gue cinta mati sama Timor, bukan kemodernan maupun kekayaan yang gue cari, tapi keramahan dan kebersahajaan orang-orangnya.


Bemo (diskotik berjalan) Kota Kupang yang berjasa mengantarkan ane keliling kota.. ajeb-ajeb!

Over all, tempat di Kupang yang gue kunjungi selama perjalanan ini adalah Taman Doa Oebelo, Pantai Manikin, Cafe Forjes, Pantai Tedis, Pantai Ketapang Satu, Pantai Pasir Panjang, Mall Flobamora, Goa Monyet-Pelabuhan Tenau, Pura Oebanantha, Pasar Oeba, dll uokeh.


Kejar sunset di Pantai Pasir Panjang, Kota Kupang

Salah satu sudut spot foto Taman Doa Oebelo di Kabupaten Kupang

Menikmati kesendirian di Pantai Manikin, Kota Kupang

Bersantai di seberang jalan Gua Monyet di dekat Pelabuhan Tenau..

Panas-panasan di Pantai Ketapang Satu, salah satu pantai paling terkenal di Kota Kupang..

Pada 29 Mei 2014, pukul 15.35 gue harus kembali menelan pil pahit karena harus pulang dan meninggalkan Pulau Timor. Saat pesawat Lion Air  tujuan Kupang-Surabaya sedikit demi sedikit mulai mengudara, hati ini terasa sangat hancur dan hanya bisa melihat Pulau Timor yang semakin lama semakin mengecil dan menghilang. See you next time, Timor!
   ***

30 Mei 2014
02.00 am
Pukul 02.00 pagi, tanggal 30 Mei 2014, aku harus menerima kenyataan bahwa proses ‘kabur dari rumah’ selama satu bulan itu akhirnya berakhir sudah. Aku sudah berada di kamarku lagi, mengetik jurnal traveling ini, sambil pikiranku masih berkelana membayangkan semuanya. Semua pengalaman yang kini hanya terekam di memori dan hanya bisa dituangkan dalam tulisan maupun gambar. I’ll do it again for sure!

8.23.2014

Darimana sih dapat duit buat traveling terus, Luh??



“Darimana si Luh kamu dapat duit dari traveling?”
“Support dana traveling dari orangtua ya Luh?”
“Galuh itu anaknya orang kaya ya, kok kayaknya bisa ke luar negeri terus?”

Adalah pertanyaan yang sering banget ane terima dari temen-temen gan, terutama yang nomor satu. Dan selama ini, ane selalu jawab dengan jawaban yang sama, “Dari beasiswa bulanan kok, ane sisihkan sebagian buat traveling.” Dan mereka setengah nggak percaya gitu, yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan berikutnya, “Emang beasiswa kamu sebulan dapet berapa?”

Nggak tau kenapa, ane merasa paling sedih itu kalau ditanyai pertanyaan nomor dua gan. Kesannya jadi ane seperti anak yang cuma bisa minta duit orangtua terus buat seneng-seneng sendiri,jalan-jalan ke luar negeri, meskipun itu cuma pikiran ane sendiri. Ane yakin temen-temen nggak berpikiran seperti itu.

Oke gan ane jelaskan sebelumnya, ane bukan anak orang kaya. Keluarga ane biasa banget dan pas-pasan. Keluarga ane sampai sekarang belum punya rumah dan masih ngontrak dari saudara ane. Bapak ane bekerja di sebuah perusahaan swasta bidang produksi mesin, sementara ibu ane ibu rumah tangga yang nyambi menjahit maupun membantu ‘momong’ bayi tetangga. Bapak Ibu ane bekerja keras banting tulang gan, buat memenuhi kebutuhan hidup. Bapak apalagi, kalau lembur bisa semaleman dan sampai lupa waktu maupun tenaganya. Terutama sejak kakak ane merencanakan pesta pernikahan yang selalu diidamkannya. Sebenarnya gue kasihan ma bapak ane gan, tapi ane nggak punya suara masalah pernikahan kakak ane.

Dengan semua kekurangan itu ane beruntung banget gan bisa kuliah di salah satu universitas negeri terkenal dengan beasiswa. Mendaftar dengan pesimis karena ane satu-satunya anak IPS yang berusaha masuk jurusan IPA bergengsi lewat jalur prestasi dengan saingan yang bukan main, ane berhasil masuk, luar biasa bukan gan jalan Tuhan buat ane? Ane juga nggak habis pikir gan sampai sekarang.

Sebenarnya pas masuk pertama kali, ane belum dapat beasiswa gan. Kebetulan saat itu ane punya sisa tabungan 8 juta dari hadiah lomba yang sengaja ane simpen buat kuliah, dan akhirnya harus ludes seketika saat buat bayar SPMA. Sedih? Nggak terlalu gan, karena saat itu ane belum bermimpi untuk bisa traveling ke luar negeri. Lagipula, orangtua ane saat itu juga nggak punya simpenan gan buat bayar SPMA yang seabrek ini.

Selang beberapa bulan kuliah, tiba-tiba ane ditawari beasiswa gan dari sebuah bank swasta yang bekerja sama dengan kemendiknas. Ikut tes coba-coba, sekali lagi ane beruntung gan bisa masuk dan akhirnya mendapatkan beasiswa itu. Ane benar-benar bersyukur atas semua jalan Tuhan ini buat ane. Beasiswa itu sendiri mencakup 2 kategori gan, yaitu biaya hidup bulanan yang ditanggung oleh bank dan biaya kuliah persemester yang ditanggung oleh kemendiknas. Jadi intinya, ane kuliah udah nggak ngeluarin biaya sama sekali gan. Benar-benar jalan yang begitu indah dari Tuhan buat ane.

Setelah mengurus berkas sana-sini, akhirnya beasiswa itu keluar juga gan hampir bebarengan. Ane tercengang saat melihat nominal yang diberikan oleh kemendiknas karena jumlahnya hampir 20 juta untuk setahun, padahal biaya kuliah ane aja cuma menghabiskan sekitar 5 juta setahun. Ternyata setelah ane telaah dan bandingkan dengan temen ane, biaya SPMA, SPP dan jas almamater sebesar 8 juta yang gue bayarkan di awal itu dikembalikan lagi gan. Bener-bener suatu berkat dan anugerah yang nggak terkira buat ane. Sebelumnya, uang bulanan dari bank juga keluar sebesar 4,5 juta.

Ane bingung gan! Sumpah bingung banget dengan semua uang itu. Seumur-umur, uang terbanyak yang pernah ane pegang adalah 10 juta sewaktu dapat hadiah lomba. Ane jadi bingung gan harus ngapain dengan uang itu.

Berpikir kesana-kemari, memori otak ane mulai menyelami mimpi-mimpi ane yang dulu pernah ane buat gan yaitu jalan-jalan ke luar negeri. Saat masa SMA, mimpi itu begitu menekan-nekan ane untuk diwujudkan, walau saat itu belum bisa karena uang saku ane yang hanya 4000 rupiah sehari hehehe. Akhirnya kesampaian juga ane ke Thailand, Kamboja dan Malaysia gan di tahun 2012 dengan sebagian uang tersebut (sekitar 4 juta).

Dengan uang itu juga ane memutuskan membeli sebuah kamera gan, yaitu Nikon Coolpix L120. Kamera merupakan barang yang dari dulu selalu ane idam-idamkan juga gan, akhirnya kesampaian juga. Setahun kemudian, ane sudah bisa membeli tiket ke India PP, membantu pembelian TV LCD, membeli sepatu lapangan, membantu pembelian sepeda ontel dan kasur buat ibu ane gan dengan uang yang sama. Ane bersyukur banget atas semua ini.

Ke India Agustus 2012, sama gan. Ane juga mengandalkan uang beasiswa bulanan ini. Ane akui memang kadang masi minta bapak ane buat biaya hidup,biasanya dikasi 150rb/minggu, sementara uang beasiswa bulanan itu ane tabung. Ke Singapura,Malaka, KL dan Manila tahun 2013 sama saja dengan tabungan uang beasiswa ane. Tapi bukan berarti semua uang beasiswa ane buat jalan-jalan gan, masih sering ane ambil sedikit-sedikit jika bapak belum bisa kirim uang.

Selain dari beasiswa, dari mana lagi gan?

Nah, selain uang beasiswa bulanan, sumber uang ane yang lain untuk traveling adalah gaji asisten gan. Kebetulan ane terdaftar jadi salah satu asisten olimpiade internasional bidang kebumian gan, dan gajinya lumayan. Kerjanya nggak terlalu berat gan, meliputi mengoreksi kerjaan olimpiade tingkat provinsi se-Indonesia; mengurus pelaksanaan olimpiade tingkat nasional (OSN) yang meliputi pengurusan soal, pengecekan lapangan untuk membuat soal praktek dengan dosen pembimbing, mengoreksi jawaban, rapat-rapat; selain itu juga menjaga pelatnas anak-anak yang mau olimpiade internasional gan. Selain gaji lumayan besar, ane juga sering dapat fasilitas wow gan, karena nginap di hotel-hotel mewah. Benar-benar suatu berkah lagi buat ane gan.

Dari gaji ngasisteni ini, bisa mengantarkan ane ke Singapura, Malaka, Filipina, sama NTT dua kali gan.
Sumber terakhir, dari keluarga gan. Bapa ane selalu nggak tega kalau ane mau berangkat traveling, karena dikira di luar negeri apa-apa mahal, sehingga biasanya ngasi tambahan ane beberapa ratus ribu pas waktu berangkat. Ane sebenarnya malu gan, karena ini buat kesenangan ane sendiri, tapi ane tetap terima aja dengan senyum-senyum hehehe.

Yah, begitulah gan cerita ane tentang ‘darimana ane dapat duit buat traveling’. Sebenarnya traveling itu nggak mahal gan, asal tahu cara-caranya. See you....

3.31.2014

[7] Cerita KKN Atambua 2013: Anak Timor menari Indang asal Sumatera Barat? Mengapa Tidak?


Tak terasa, berminggu-minggu kami lalui dengan lancar dan menyenangkan di Rinbesi Hat. Hati ini yang awalnya berat mulai betah tinggal di Timor, dan seakan sangat berat jika mengingat bahwa 3 minggu lagi kami akan pulang. Saat itu setelah libur lebaran, tibalah saatnya persiapan menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 68.  Apakah kami sebagai mahasiswa KKN akan diam saja menyambut hari besar itu? Tentu saja tidak. Kami mulai mencanangkan berbagai program khusus untuk menyambut hari lahir Indonesia ini. 

Adalah Mandira, salah seorang teman saya yang paling kreatif, memutuskan untuk mengajari  siswa/i SMP Rinbesi Hat Tari Indang untuk ditampilkan pada acara puncak peringatan 17 Agustus di Kecamatan Tasifeto Barat. Tapi karena jumlah penari yang ingin ikut terlalu banyak, maka Mandira terpaksa melakukan seleksi khusus untuk memilih penari. Seleksi ini dilakukan setelah dia mengamati semangat serta kelenturan siswa/i tersebut saat latihan. Dengan pertimbangan matang, akhirnya dipilihlah 12 siswa/i (6 laki-laki, 6 perempuan) untuk dilatih lebih lanjut Tari Indang.

 Suasana latihan sebelum dilaksanakan seleksi oleh Mandira

Indonesia itu kaya, kaya seni dan budaya, jangan hanya belajar budaya dari daerahmu saja. Perkayalah wawasanmu karena Indonesia itu membentang dari barat ke timur!

Mungkin itulah sekelumit kata-kata yang mereka dapatkan saat belajar Tari Indang ini. Sedikit cerita, Tari Indang  atau juga disebut Tari Badindin merupakan salah satu tari tradisional asal Minangkabau (tepatnya Pariaman), Provinsi Sumatera Barat yang sudah berkembang sejak abad ke 13. Udah tua banget ya? Bahkan lebih tua dari kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia. 

Tari ini sebenarnya merupakan suatu bentuk sastra lisan sebagai bentuk media dakwah saat masuknya agama Islam daerah Sumatera Barat. Karena fungsinya merupakan media dakwah, maka sastra yang dibawakan berasal dari salawat Nabi Muhammad atau hal-hal bertema keagamaan. Tari ini biasa dilakukan secara berkelompok dengan gerakan yang diulang-ulang, dimana gerakannya memiliki kekhasan serta keunikan gerak.

Oke itulah sedikit sejarah tentang Tari Indang. Bagaimanapun, setiap sore ane bisa melihat bahwa siswa/i SMP Rinbesi Hat ini sangat semangat dan antusias saat berlatih. Latihan memang biasa dilaksanakan sore hari di Kantor Desa, dengan frekuensi yang semakin sering saat mendekati 17 Agustus. Aku sangat salut dengan Mandira yang tidak pernah lelah saat harus mengulang-ulang terus gerakan, dia juga selalu sabar membimbing siswa/i ini karena ini merupakan hal baru bagi mereka.

Akhirnya setelah kurang lebih seminggu berlatih, tibalah saat perdana penampilan mereka yakni pada acara Malam 17 Agustusan, bahasa kerennya tirakatan. Penari perempuan menggunakan kaos putih dengan topi kertas berwarna emas, sementara penari laki-laki menggunakan kaos merah dengan topi kertas berwarna perak.





Kekompakan kerja sama siswa/i SMP Rinbesi Hat saat membawakan Tari Indang

Akhirnya mereka benar-benar tampil, dan ane bisa melihat bahwa Mandira telah mengajari mereka dengan sangat baik. Gerakannya benar-benar kompak, seperti yang sering ane lihat di TV. Ane merasa begitu bangga dengan Mandira dan siswa/i SMP Rinbesi Hat saat itu. Tepuk tangan riuh pun langsung menghujani mereka begitu tari selesai dilaksanakan. 

 Keesokan harinya, setelah upacara 17 Agustus selesai dilaksanakan, para siswa/i Rinbesihat kembali membawakan Tari Indang di depan tamu-tamu penting. Lagi-lagi, kekompakan mereka menyihir para tamu sehingga tepuk tangan riuh kembali membahana seusai tarian selesai dilakukan. Bravo guys!!

[6] Cerita KKN Atambua 2013: Timor Leste, I'M COMING!

Tim KKN PPM UGM berpose di Tugu Timor Leste
 
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh tim KKN PPM Atambua 2013 karena kami akan ke luar negeri! Ya! Mungkin kamilah satu-satunya tim KKN yang pelesir keluar negeri di minggu pertama KKN, kemana lagi kalau nggak ke Timor Leste. Hehehe.

Saat itu kami berangkat agak siang, sekitar jam 11, karena sub unit Desa Rinbesi Hat harus melaksanakan sosialisasi dan pemantapan program dengan perangkat desa. Karena ada acara sosialisasi ini, sebenarnya kormanit memutuskan subunit Desa Bakustulama saja yang berangkat ke Tiles. Tentu saja kami protes dan ‘mencak-mencak’ hehe. Akhirnya diputuskan kami akan berangkat setelah acara sosialisasi selesai, dengan menggunakan 2 mobil pick up charteran.
 Overload eh...

Perjalanan ke perbatasan (Motaain) berlangsung selama kurang lebih 1 jam. Sepanjang perjalanan, aku merasakan sensasi dejavu, padahal aku belum pernah kesini sebelumnya. Setelah aku pikir-pikir, ternyata karena kami melewati tempat shooting film ‘Tanah Air Beta’ yang berlangsung di Atambua. Memang seperti itulah keadaannya, kering meranggas.

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi oleh rumah-rumah berbentuk lopo yang semakin banyak mendominasi dibandingkan dengan rumah bangunan modern. Keadaan masyarakat terlihat lebih memprihatinkan, aku tidak tahu apakah anak-anak tersebut bahkan sekolah, beberapa tempat bahkan tidak dialiri listrik sama sekali, kualitas air bagaimana juga aku tak tahu, aku jadi berpikir, apa yang selama ini aku lakukan? Kesenjangan yang begitu besar.

Akhirnya kami pun sampai di gerbang perbatasan Motaain. Normalnya kami harus turun dan mengurus visa on arrival, tapi setelah foto-foto sejenak, kami dipersilakan masuk dengan ditemani beberapa tentara baik dari TNI maupun tentara Timor Leste. Edisi imigran gelap hehe.
Ane berfoto sebelum masuk Indonesia gan, bangga rasanya foto disini

Pemberhentian pertama kami adalah peternakan kuda yang dimiliki oleh seorang Bapak keturunan Portugis mantan tetinggi sewaktu Tiles dan Indonesia belum berpisah. Disana kami banyak dijelaskan tentang perjuangan beliau sewaktu reformasi. Setelah itu ane tidak terlalu memperhatikan dan berjalan sekeliling, peternakan kuda ini berbatasan dengan muara sungai yang berakhir di Pantai Motaain. Pemandangannya sangat indah.
 Foto-foto di peternakan kuda dengan bendera Tiles

Foto-foto di peternakan kuda dengan tentara Timor Leste

Sesaat kemudian kami dibawa ke toko oleh-oleh minuman. Minuman yang dijual kebanyakan adalah minuman beralkohol impor yang cukup mahal, harganya mencapai jutaan. Bagi kami, cukup membeli minuman jus kaleng yang dibanderol 5 USD hehe. Oiya khusus di perbatasan ini, transaksi bisa menggunakan baik rupiah maupun USD. Disini juga ane harus menerima kenyataan pahit karena dompet yang berisi biaya hidup KKN raib, entahlah apakah hilang karena kecerobohan sendiri atau dicuri, sebaiknya selalu berhati-hati jika membawa barang berharga disini.

Selesai dari toko oleh-oleh, kami dibawa lebih jauh ke arah timur menuju peternakan kuda yang lebih besar di Batugade. Aku sendiri kurang tau kenapa Wakil Bapeda ini suka banget membawa kita ke peternakan kuda, tapi yang namanya diajak ngikut aja yah. Hehe. Peternakan kuda yang kedua ini terlihat lebih besar dilengkapi dengan fasilitas pendopo dan restoran, hanya saat itu sedang tutup. Disini Bapak Wakil Bapeda juga berjanji pada malam lebaran akan mengajak kami menginap disini. Di peternakan kedua ini karena lebih tinggi, pemandangan terlihat sangat indah. Kami bisa melihat Pulau Alor dari sini. Pulau yang suatu saat sangat ingin ane kunjungi hehehe.

Kami cukup lama berada disini, mendengarkan penuturan pemilik peternakan tentang kondisi disana, berfoto-foto dengan latar mobil berplat Tiles, hanya saat itu hati ane sedang sangat sedih karena baru kehilangan uang kekeke.

Akhirnya pukul 17 waktu setempat (di Tiles waktu setara WIT, sementara di Atambua setara WITA), kami pun beranjak pulang kembali ke Atambua membawa sejuta kenangan. Sebelum keluar dari Tiles tidak lupa kami berfoto di gerbang “Bem Vindo A (Welcome to) Timor Leste) dan Tugu Timor Leste, kami juga berfoto di gerbang ‘Selamat Datang Indonesia’. Jujur, perasaan lebih bangga dan senang sewaktu berfoto di tulisan kedua hehehe, memang I Love Indonesia! Gimana, menyenangkan bukan KKN di Atambua? Jangan ragu mau KKN disini!
 Foto-foto di gerbang "Bem Vindo A Timor Leste"