Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

10.04.2013

[3] Catatan KKN Atambua 2013: Selama KKN PPM Atambua 2013 ngapain aja sih? Ini dia ceritaku.

4 Oktober 2013
Suasana: Di rumah Solo, bersantai sambil dengerin lagu Tebe Malik Ku'u Kebit

Well, mungkin bagi mahasiswa/i yang belum pernah KKN, akan bertanya-tanya. Sebenarnya KKN itu ngapain aja sih? Apa cuma dijadikan kesempatan aja buat main-main aja ke tempat yang jauh?

Well, kalau anggapan KKN cuma ajang buat main-main aja itu sebenarnya salah. Yah, nggak salah-salah banget lah, tapi karena sebenarnya KKN itu diwajibkan oleh UGM supaya kita bisa mengaplikasikan ilmu yang sudah kita dapat selama sekitar 3 sd 4 tahun kuliah dalam bentuk program-program yang berasaskan pembelajaran pemberdayaan masyarakat.

Weleh, opo meneh iku pembelajaran pemberdayaan masyarakat?
Yoh gampange, dalam setiap program yang kita lakukan, kita harus melibatkan masyarakat di sekitar desa KKN kita. Penglibatan itu bertujuan supaya masyarakat tahu, gimana sih caranya bikin ini? gimana si caranya bikin itu, i.e. cara membuat biogas, jerami amoniasi, menanam paprika dll. Jadi diharapkan setelah mahasiswa/i itu pulang dari daerah KKN masing-masing, masyarakat bisa melanjutkan program-program itu secara mandiri demi kemajuan desa mereka.

Weleh, jadi menggurui donk??
Well, sebenarnya tidak mutlak demikian, karena sebenarnya dalam setiap penglibatan masyarakat, kita senantiasa melakukan dialog yang menyesuaikan dengan kebiaasaan, adat maupun budaya daerah setempat. Jadi saling diskusi gitu, enaknya gimana.

Nah dibawah ini aku ingin berbagi sedikit mengenai program-program yang aku (dan satu temanku) lakukan selama KKN PPM Atambua 2013 kemarin, karena kami masuk dalam kluster Sainstek maka program banyak berwujud pembangunan fisik. Ini sebenarnya adalah catatanku: Laporan Pelaksanaan Kegiatan (LPK) KKN PPM UGM Atambua 2013.

Trus kerjaannya cuma ngerjain program aja setiap hari??
Tentu aja enggak, program itu dikerjakan aja dengan santai tapi harus penuh tanggung jawab. Hanya satu hal yang perlu diingat, selain fokus pada program, kita juga harus mempunyai hubungan sosialisasi yang baik dengan masyarakat sekitar. Maksudnya gimana? maksudnya, jangan sampai kita itu enggan bergaul dan individualis, karena masyarakat desa itu biasanya akan sangat senang dan terhormat bila desa mereka dijadikan lokasi KKN apalagi oleh UGM. Maka dari itu menjalin persahabatan dengan masyarakat lokal sangat penting.

Ada banyak lho keuntungannya, jika kita dekat dengan masyarakat, maka akan lebih memudahkan untuk menggerakkan mereka dalam konsep pembelajaran pemberdayaan, kita akan diajak ikut serta dalam kegiatan-kegiatan mereka (i.e. ada pesta nikahan, pelesir-pelesir gratis, panen raya, dll), kita akan diberi kasih sayang dan penghargaan, dll. Semua itu benar-benar nyata karena aku mengalaminya sendiri.

Oke langsung aja, ini dia program-program kluster sains-teknologi:

1. Pembangunan Gapura Selamat Datang Desa Rinbesi Hat
Pembangunan gapura berfungsi sebagai batas desa berupa bangunan yang permanen, dimana proses pembangunan dilaksanakan pada batas desa bagian selatan tepatnya di Dusun Seo B. Pembangunan dilakukan selama 20 hari dengan total biaya sebesar Rp 5.420.000. Pembangunan ini dilaksanakan melalui beberapa tahap seperti:

a.   Proses identifikasi permasalahan yang ada di Desa Rinbesi Hat
Pada tahap ini kami mengidentifikasi masalah berupa belum terdapatnya batas desa berupa bangunan fisik yang permanen.

b.   Sosialisasi umum program KKN di Rinbesi Hat
Pada tahap ini, dengan usulan dari Bapak Desa yang kemudian disepakati bersama, kami memutuskan membuat program pembangunan gapura sebagai batas desa.

c.    Survei lokasi pembangunan gapura
Pada tahap ini, dilakukan survei lokasi pembangunan gapura.

d.   Pembelian bahan dan material
Setelah didapatkan lokasi pembangunan gapura, mulai dilakukan pembelian bahan dan material. Pembelian bahan dan material terlaksana karena adanya bantuan dari masyarakat berupa tenaga dan pikiran serta bantuan instansi pemerintah (BRI) berupa dana. Pada tahap awal ini dibeli bahan dan material berupa:
-         Semen 10 sak
-         Pasir 1 rit
-         Bata 300 buah
-         Beton 3 mm 2 stap
-         Beton 8 mm 4 stap
-         Lem weber 1 buah
-         Plamir 1 buah
-         Oker 1 buah
-         Pilog Cat 3 buah

e.   Tahap pembangunan
Pembangunan dimulai tanggal 22 Juli 2013 dan dilaksanakan secara rutin (kurang lebih 1-3 hari seminggu) sampai 29 Agustus 2013. Selama tahap pembangunan, dilakukan penambahan material berupa semen 3 sak, beton 8mm 1 stap dan beton 3 mm 1 stap.


Pembangunan gapura dilaksanakan dengan peran serta masyarakat dengan jadwal yang diatur oleh Bapak Desa Rinbesi Hat. Pada setiap pembangunan biasa terdapat 2 tukang dan 6 buruh, sementara itu mahasiswa (kluster sainstek) juga berada di lokasi untuk turut membantu serta mengawasi jalannya pembangunan.


Kelebihan:
- Pembangunan terselesaikan tepat waktu

Kekurangan:
-  Masyarakat masih kurang aktif jika tanpa arahan Bapak Desa

Saran/rekomendasi: Dilakukan perawatan secara berkala pada gapura yang sudah selesai dibangun, serta dibangun lagi sepasang gapura pada batas desa yang di bagian utara.

      2. Pembinaan dan Pembuatan Lapangan Voli di Lapangan Kantor Desa Rinbesi Hat
Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang dilakukan tanggal 9 Juli 2013 pada Desa Rinbesi Hat secara keseluruhan, didapatkan 2 masalah utama terkait lapangan voli yaitu belum tersedianya lapangan voli untuk masyarakat Desa Rinbesi Hat berlatih menghadapi lomba 17 Agustus di kecamatan serta masyarakat belum memahami cara pembuatan lapangan voli dengan ukuran standar internasional. 

Selama survei masalah, didapatkan kesimpulan juga bahwa masyarakat Desa Rinbesi Hat banyak yang mempunyai hobi bermain voli tapi masih dengan lapangan yang seadanya. Oleh karena itu dengan persetujuan Bapak Desa, dilaksanakan program pembinaan dan pembangunan lapangan bola voli, adapun tahapannya meliputi:

a.   Survei lokasi lapangan bola voli
Atas rekomendasi Bapak Desa, maka pembangunan lapangan voli dilakukan di lapangan kantor desa.

b.   Pembuatan garis dan batas lapangan
Setelah didapatkan lokasi yang tepat, maka mulai dilakukan pengukuran lapangan dengan ukuran standar internasional. Setelah itu dilakukan pencangkulan batas lapangan. Pencangkulan garis dan batas lapangan ini dilaksanakan selama 3 hari.

c.    Pemberian bambu pada batas lapangan
Setelah batas lapangan dicangkul, maka selanjutnya diberi bambu supaya tahan lama dan tidak mudah hilang. Bambu ini kemudian dikunci dengan kayu kecil-kecil supaya tidak mudah bergeser. Proses ini membutuhkan waktu 2 hari.

d.   Pengecatan bambu
Supaya bambu terlihat jelas dari rerumputan disekitarnya, maka dicat dengan warna putih.

e.   Pemberian tiang net sementara
Karena tiang net dari besi sedang dalam masa pengelasan, maka supaya lapangan voli dapat digunakan secepatnya dilakukan pemasangan tiang net sementara dari bambu.

f.  Pemasangan tiang net besi dan pengecoran dengan campuran (semen + pasir)
Setelah tiang net besi selesai di las, maka dilakukan pemasangan dengan ketinggian yang standart serta diperkuat dengan campuran supaya tidak mudah goyah.

Tahap pembinaan dan pengadaan lapangan voli dengan ukuran standart internasional ini melibatkan perangkat desa, mahasiswa KKN serta karang taruna setempat. Pengerjaan dilakukan selama 15 hari tidak secara berturut-turut dengan total biaya mencapai Rp 131.000.


          Setelah selesai pembuatan lapangan voli, masyarakat Desa Rinbesi Hat tampak antusias bermain voli setiap sore dengan mengadakan pertandingan-pertandingan kecil untuk persiapan menghadapi kejuaraan diKecamatan. Selain itu lapangan ini juga dipakai bertanding sewaktu mahasiswa KKN dengan karang taruna setempat mengadakan pesta rakyat pasca 17 Agustus.


Kelebihan:
- Partisipasi karang taruna yang aktif dalam proses pembinaan serta pembuatan lapangan voli
Partisipasi warga sekitar kantor desa yang sangat aktif dalam hal penyediaan alat selama proses pembuatan lapangan voli
- Partisipasi warga Desa Rinbesi Hat yang aktif memanfaatkan lapangan voli yang sudah ada dengan berlatih setiap sore.

Kekurangan:
- Tidak ada

Saran: Diharapkan lapangan voli yang telah dibuat ini dapat dijaga dan dipelihara supaya dapat terus dimanfaatkan untuk bermain voli. Selain itu di Desa Rinbesi Hat terlihat masih banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan oleh warga. Selama lahan tersebut tidak digunakan untuk pertanian, maka bisa dibangun lapangan-lapangan olahraga yang lain supaya bakat-bakat terpendam di Desa Rinbesi Hat bisa tersalurkan.

3.  Pembuatan Papan Pengumuman Desa
Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang dilakukan tanggal 9 Juli 2013 pada Desa Rinbesi Hat secara keseluruhan, didapatkan satu masalah tentang sumber informasi desa yakni belum adanya papan pengumuman pada kantor desa. Selama ini sumber informasi hanyalah dari mulut ke mulut sehingga seringkali masih banyak warga yang belum mengetahuinya. Maka dari itu dilaksanakan program pembuatan papan pengumuman desa pada KKN ini. Adapun tahapan pembuatan papan pengumuman desa ini meliputi:

a.    Survei lokasi peletakan papan
Didapatkan lokasi yang paling pas adalah berada di depan kantor desa supaya bisa terlihat dengan jelas.

b.   Pembelian bahan-bahan papan pengumuman
Pembelian bahan ini dilakukan oleh mahasiswa KKN meliputi kayu dan paku, sedangkan palu serta gergaji mendapatkan pinjaman dari warga sekitar.

c.    Pembuatan rangka papan pengumuman
Pembuatan rangka ini dilakukan oleh mahasiswa dengan bantuan karang taruna setempat.

d.   Pemasangan papan pengumuman pada kantor desa
Setelah selesai dibuat rangka dan dipasang papan, maka papan ini dipasang di kantor desa dan sudah bisa digunakan untuk penyebaran informasi


Diharapkan dengan adanya papan pengumuman ini, sistem penyebaran informasi dapat berkembang secara efisien dan maksimal.

       4. Pengadaan Tempat sampah di Kantor Kepala Desa
Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang dilakukan tanggal 9 Juli 2013 pada Desa Rinbesi Hat secara keseluruhan, didapatkan permasalahan tentang kebersihan di sekitar kantor kepala desa yakni belum tersedianya tempat/tong sampah sehingga banyak warga masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Sehingga berdasarkan data ini, diputuskan untuk membuat program pengadaan tempat sampah, dengan tahapannya meliputi:
a.     Survei lokasi penempatan tong sampah
Setelah dilakukan survei menyeluruh di sekitar kantor desa, diputuskan bahwa tong sampah akan diletakkan di depan kantor desa supaya warga masyarakat mengetahui dengan jelas dan bisa membuang sampah pada tempatnya.

b.     Pembelian tong sampah
Karena keterbatasan dana, maka tidak dibangun sebuah bak sampah dengan semen dan bata tetapi langsung membeli sebuah bak sampah.

Program ini berjalan selama 2 hari dengan total dana Rp 18.000,00. Adapun peran mahasiswa KKN disini adalah turut menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya.


      5Pembenahan dan Perbaikan MCK
           Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang dilakukan tanggal 9 Juli 2013 pada Desa Rinbesi Hat secara keseluruhan, didapatkan permasalahan tentang fasilitas umum MCK yaitu belum terdapatnya pintu pada beberapa fasilitas MCK umum, belum tersedianya alat pengangkat air (i.e. katrol) pada sumur desa, serta air sumur yang sangat kotor dan keruh pada sumur kantor desa sehingga tidak bisa digunakan. Oleh sebab itu dilaksanakan program pembenahan dan perbaikan MCK dengan uraian kegiatan:

a.     Pemompaan sumur di kantor desa
Pemompaan ini berfungsi untuk mengeluarkan air kotor, mengangkat sampah-sampah dan menjernihkan air supaya sumur dapat dimanfaatkan lagi secara maksimal. Pemompaan dilakukan selama dua kali serta diberi kaporit, setelah itu air sudah bisa digunakan kembali dengan maksimal. Pelaksanaan pemompaan dilakukan oleh Bapak Dusun Dinleo dengan pengawasan Bapak Desa serta dibantu oleh beberapa mahasiswa KKN.

b.     Pemasangan Katrol Pada Sumur Kantor Desa
Selama identifikasi permasalahan, diputuskan bahwa dengan adanya katrol akan mempermudah pengangkatan air serta kebersihan ember pengangkut akan lebih terjaga karena selalu tergantung. Program ini dilaksanakan dengan tahapan:

-         Survei bentuk katrol
Survei dilakukan pada beberapa sumur milik warga desa setempat

-         Survei bahan & pembelian bahan
Setelah didapatkan bentuk katrol yang sesuai, diadakan survei tentang harga kayu untuk dudukan katrol. Keesokan harinya dilakukan pembelian bahan, yaitu tiga kayu jati senilai @50.000

-         Penggalian lubang untuk katrol dan pengecoran dengan semen
Setelahnya dilakukan penggalian lubang sedalam 50 cm untuk setiap lubang, kemudian kayu dudukan katrol diletakkan untuk selanjutnya di cor supaya kuat.

c.      Pemasangan pintu pada fasilitas MCK Umum
Dengan adanya pintu akan membuat masyarakat merasa lebih nyaman dalam menggunakan fasilitas MCK umum, dan diharapkan mereka dapat ikut merasa memiliki serta menjaga fasilitas umum tersebut. Adapun tahapannya meliputi:

-         Survei MCK yang bermasalah
Dengan panduan Bapak Desa, didapatkan data beberapa MCK yang rusak dan perlu diperbaiki.

-         Pembelian rangka pintu& baut untuk fasilitas MCK umum
Setelah survei, didapatkan permasalahan berupa belum terdapatnya pintu pada beberapa fasilitas MCK sehingga kemungkinan masih banyak warga yang enggan untuk memakainya. Maka dilakukan pembelian 2 rangka pintu @Rp 150.000, pembelian rangka pintu ini ditindaklanjuti dengan pembelian engsel pintu serta baut.

-         Pemasangan pintu
Pemasangan pintu dilakukan oleh warga setempat, dan kini fasilitas MCK umum telah dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga Rinbesi Hat karena sudah tertutup.


            Program ini secara keseluruhan menghabiskan dana Rp 201.000,00.

       6. Perencanaan Sumber Daya Air
             Berdasarkan tahap identifikasi masalah yang dilakukan tanggal 9 Juli 2013 pada Desa Rinbesi Hat secara keseluruhan, didapatkan permasalahan tentang kebersihan air yaitu masyarakat belum mengetahui jarak minimum antara pembuatan sumur dengan tempat penampungan air, kualitas air sumur yang buruk sehingga perlu dipompa keluar serta diberi kaporit dan abate. 
        Program ini sebagian besar berupa sosialisasi pada minggu kedua KKN terutama tentang syarat-syarat pembuatan sumur gali yang baik dan benar. Sosialisasi dilakukan pada Dusun Seo A, Seo B serta Maktaen yang dihadiri oleh warga setempat dengan pengawasan Bapak Desa. Sementara untuk kualitas air sumur, program yang dilaksanakan berupa pemberian abotil serta kaporit secara berkala pada sumur kantor desa dan sumur warga.

 
       7Pembinaan dan Pembuatan Lapangan Futsal
Program ini dilaksanakan karena akan diadakannya pesta rakyat, salah satunya berupa lomba futsal untuk pemuda-pemuda Desa Rinbesi Hat, sehingga pelaksanaannya baru dilakukan pada 2 minggu menjelang KKN berakhir. Adapun tahapan pelaksanaannya adalah:

a.     Survei lokasi lapangan
Dengan bantuan karang taruna, ditemukan sebuah lapangan luas dan datar yang bisa dimanfaatkan untuk lapangan futsal serta lokasinya strategis karena tidak terlalu jauh dari kantor desa.

b.     Pencarian bambu untuk gawang dan kapur untuk batas lapangan
Dengan bantuan warga lokal, didapatkan cukup bambu untuk pembuatan gawang, sementara kapur didapatkan dari simpanan unit.

c.      Pencangkulan batas lapangan
Pencangkulan batas lapangan dilakukan secara bersama antara mahasiswa KKN dengan karang taruna, kegiatan ini dilakukan selama 3 hari.


Program ini secara keseluruhan menghabiskan dana Rp 100.000,00

Kelebihan:
-  Partisipasi karang taruna yang aktif dalam proses pembinaan serta pembuatan lapangan futsal
-  Partisipasi warga sekitar kantor desa yang sangat aktif dalam hal penyediaan alat selama proses pembuatan
-   Partisipasi warga Desa Rinbesi Hat yang aktif memanfaatkan lapangan futsal yang sudah ada dengan berlatih setiap sore.
Kekurangan:
-   Gawang sempat dirusak menjelang pertandingan final diakibatkan karena sebab tertentu, diharapkan hal seperti ini tidak akan terulang kembali.

Saran: Diharapkan lapangan futsal yang telah dibuat ini dapat dijaga dan dipelihara supaya dapat terus dimanfaatkan untuk berlatih. Selain itu di Desa Rinbesi Hat terlihat masih banyak lahan kosong yang belum dimanfaatkan oleh warga. Selama lahan tersebut tidak digunakan untuk pertanian, maka bisa dibangun lapangan-lapangan olahraga yang lain supaya bakat-bakat terpendam di Desa Rinbesi Hat bisa tersalurkan.


Nah itu dia program-program yang kluster Sainstek sub-unit Desa Rinbesi hat lakukan pada KKN PPM selama 2 bulan. Tentu tidak setiap hari kami isi dengan mengerjakan program dan program, ada satu hari dimana kami menghadiri panen raya sorgum, satu hari dimana kami berkunjung ke Timor Leste, beberapa hari libur lebaran, dll. Pokoknya KKN itu kalau dibuat santai tetapi tetap bertanggung jawab sama program bakal asyik banget.

Btw, semua program-program itu tidak akan berjalan tanpa bantuan dari masyarakat Desa Rinbesi Hat, sponsor utama, serta teman-teman KKN PPM Atambua 2013. 

Obrigado nafatin! (Terima kasih semuanya)

Rinbesi Hat: Desa penuh Cinta

Yogyakarta, 4 Oktober 2013

Suasana: Di kamar kos yang lumayan panas, mendengarkan lagu 'Beta Mati Rasa', mengenang Desa KKN-ku tercinta ~ Rinbesi Hat

Saat postingan ini ditulis, terhitung sudah 34 hari aku meninggalkan Desa Rinbesi Hat. Sama sekali tidak terasa karena seperti baru kemarin aku mengucapkan salam perpisahan untuk mereka, sahabat dan adik-adikku. Sepertinya baru kemarin juga kami saling menangisi perpisahan bersama-sama, sepertinya baru kemarin kami berjoget bersama di tengah dinginnya udara Belu. Oh Rinbesi Hat...


Desa Rinbesi Hat, beta sonde akan pernah melupakanmu..

Mengapa aku susah sekali move on dari Rinbesi Hat??

Adalah pertanyaan yang aku ajukan untuk diriku sendiri, karena sepertinya susah sekali hati ini mau melupakan Rinbesi Hat. Aku lihat teman-temanku KKN Atambua dari status facebook mereka sepertinya banyak yang sudah move on, tapi bagaimana sebenarnya dalam hati mereka aku tidak tahu? mungkin mereka juga sama dengan aku? Kurasa begitu.

Banyak sekali kenangan manis yang terkenang disana. Kenangan bersama anak-anak itu, kenangan dengan sahabat-sahabat DJ serta dugemku, kenangan dengan mama-mama, kenangan dengan Bapak Desa dan perangkatnya saat kami membangun gapura bersama-sama, kenangan dengan penjual bakso Salawati langganan kami, kenangan dengan penjual alat & bahan bangunan di Halilulik yang selalu bertanya padaku kapan aku akan selesai membangun 'sesuatu' itu (karena aku terus-terusan beli paku, hehehe).

Berada di Rinbesi Hat selama kurang lebih 2 bulan telah mengajarkanku sesuatu. Bahwa sebenarnya kita tidak perlu sesuatu yang muluk-muluk di hidup ini untuk bisa  bahagia. Hanya satu hal, apa itu? CINTA dan KESEDERHANAAN.

Disini aku benar-benar bisa merasakan CINTA, kasih sayang, penghargaan, penerimaan tulus yang diberikan kepada kami. Semua itu mereka berikan kepada kami dengan rasa tulus yang sederhana, tidak dibuat-buat. Memang penggambaran yang cukup rumit, sejujurnya susah sekali digambarkan, hanya bisa tergambarkan jika dirasakan sendiri.

Tak pernah sekalipun mereka mengecewakan kami meskipun kami sering mengecewakan mereka. Tak pernah sekalipun mereka melewatkan senyuman jika kebetulan berpapasan dengan kami. Mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi kami dengan segala kesederhanaannya, sesuatu yang membuatku selalu menangis jika mengenangnya. Aku seperti menemukan sebuah keluarga, sebuah rumah yang penuh dengan orang yang menyayangiku.
"Aku jadi teringat aku belum mengembalikan 2 palu milik keluarga Rinel, 1 linggis dan 1 pengeruk milik Bapak Dusun Dinleo sejak terakhir kali aku pinjam. Oh Myyy, maafkan aku"
Sesaat kemudian, aku kembali ke Jawa. Kebetulan akan mengambil surat di sebuah badan pemerintahan. Saat masuk kantor, karena mungkin aku terlihat asing, aku ingat ada 2 orang pegawai yang memandangku dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik. Menurutku, memandang orang dari atas ke bawah itu adalah sebuah penghinaan, dimana hal itu sebenarnya bisa dihindari dengan menanyakan identitasku dan apa keperluanku. Aku berusaha menyembunyikan perasaan sedikit tersinggung yang seketika datang. 

Oohh, sebegitu kejamkah sebuah modernisitas? Kalau begini, salahkah aku jika susah move on dari Rinbesi Hat? Suatu tempat yang memberiku cinta, penghargaan, penerimaan dengan tulus?

Rinbesi Hat....aku kangen kamu (Hau Hanoin O....) Obrigado.... (Terimakasih)


Bersama adik dan kakakku pada malam perpisahan..

Bersama adik-adikku, Berek (ki) dan Elis (kanan) di SD Halibesin

Bersama teman-teman DJ dan dansaku yang datang ke kantor desa tiap malam, aku sedang dansa dengan Alan

Bersama adikku juga..

Bersama tokoh fenomenal Rinbesi Viga (kiri) dan adikku sayang, Ria (kanan)

Diberi kenang-kenangan selendang istimewa pada malam perpisahan

Bersama Tenco dan Manek, dua porter yang setia menemaniku saat pemetaan mud vulcano

Bersama geng Rinbesi, kami biasa dugem setiap malam dengan lagu DJ Azonto, Zalele dan Bara Bere

Bersama geng voli dan dugem

Bersama adik-adikku, yang kusayang sepenuh hati

Bersama adik-adikku, yang kusayang sepenuh hati, temanku main bola

Bersama bapa dan bapatua, proses pembangunan gapura

Semoga tahun depan (2014), aku bisa kembali ke desa penuh cinta ini lagi.. see ya.. :-)

[PART 2] Tinta Hindustan: Chandni Chowk

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Ini pertama kalinya aku ke India dan menjelajah mulai dari ujung barat ke timur (Jaisalmer - Delhi - Agra - Varanasi - Bodhgaya - Kolkata). Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

Part sebelumnya : Disini


Delhi, 22 September 2012

Puas mengunjungi beberapa tempat wisata utama di Delhi hari sebelumnya, hari ini kami memutuskan akan pergi ke Chandni Chowk (duh susah amat ngejanya, gue harus lihat gugle). “Apa itu Chandni Chowk?” adalah pertanyaan yang gue ajuin ke travelmate sewaktu dia ngajak kesana. Karena jujur gue emang bukan tipe backpacker shoopers ( bohong kalau dah nemu barang-barang lucu) hahahaha. 

Chandni Chowk adalah salah satu pasar tradisional yang sangat terkenal dan murah di Delhi dimana pasar ini sudah ada sejak Kekaisaran Mughal berkuasa di Delhi. Bayangin pasar tradisional di Indonesia aja udah kayak gitu kan, nah apalagi ini di Delhi dengan berjubel manusia banyaknya. Akan gue ceritain nanti. Lokasi Chandni Chowk ini berada di Delhi bagian tengah-utara, diantara Lahore Gate di Red Ford  sampai Masjid Fatehpuri.

Oiya sebelumnya gue jelasin dulu arti nama pasar ini. Ya, Chandni Chowk itu berasal dari Bahasa Urdu yang berarti lapangan bulan terang. Atau lapangan terang bulan #martabak #eh. Pasar ini dibangun pada abad 17 oleh Kaisar Mughal yaitu Shah Jahan dan didesain lebih lanjut oleh saudara perempuannya Jahan Ara. Shah Jahan ini memang berjasa banget buat India, membangun bangunan-bangunan yang begitu bagusnya. 

Ceritanya dulu dibangun kanal gitu di tengah pasar untuk penyediaan air, dan saat bulan purnama, kanal itu akan memantulkan sinar bulan itu sehingga mendapatkan nama moonlit. Pasar ini adalah salah satu pasar terbesar dan teramai dengan hampir 2500 toko yang menjual berbagai macam barang dagangan. Beberapa toko bahkan sudah membuat website untuk memperluas jangkauan kustomer mereka. Uwih ngeri yaa?? Hanya saat ini kanal itu sudah ditutup.

Setelah check out dari penginapan, kami bertiga pun segera berjalan mencari stasiun metro terdekat yang sudah gue cari malam sebelumnya. Pagi itu udara di Delhi lembab dan terlihat mendung, tapi itu tidak menghalangi semangat para bolang ini. Kami pun segera ke stasiun Shadipur untuk berhenti di stasiun terdekat dengan Chandni Chowk yaitu Rajiv Chowk. Perjalanan singkat ini melewati 5 stasiun yaitu Patel Nagar, Rajendra Place, Karol Bagh, Jhandewalan dan RK Ashram Marg.

Inside Delhi metro with Indian womens
Source: Dokumentasi Pribadi

Turun dari Stasiun Rajiv Chowk, kami nggak menjumpai pasar seperti yang gue harepin. Pemandangan saat itu dikuasai oleh pengemis-pengemis yang mengenaskan dan toko-toko baju yang berjajar di pinggir jalan. Mana Chandni Chowk yang terkenal itu??? Dengan pantang menyerah gue terus cari tuh pasar sambil terus tanya-tanya. Akhirnyaa, gue melihat suatu lorong yang penuh manusia penuh dengan pedagang-pedagang. Bagi yang pertama ke Chandni Chowk, pasar ini memang sangat meruwetkan karena penuh dengan lorong-lorong sempit yang kalau semakin masuk ke dalam semakin sempit.

Dengan semangat 45, gue segera masuk ke kerumunan itu dan melihat-lihat barang yang dijual. Pasar ini menawarkan suatu kehidupan khas India yang belum gue rasain sebelumnya. Sekelompok ibu-ibu bersari berkerumun di suatu tempat mencari bahan sandang, ibu-ibu yang mencarikan gelang untuk anak putrinya (sepertinya memang semua cewek India harus pakai perhiasan), sapi-sapi yang mencari-cari kesempatan mencuri sayuran, warung teh chai yang penuh dengan para bapak-bapak bergosip dengan bahasa yang gue nggak ngerti. Sementara travelmate gue belanja, gue emang sibuk mengamati orang-orang. Btw di Chandni Chowk ini jualannya lengkaaap banget, mulai dari bunga-bungaan untuk pooja; sepatu dengan berbagai corak; kain saree dan pakaian umum; gantungan-gantungan; kacamata; topi; perhiasan; kalau lapar atau haus tidak usah kuatir karena terdapat penjual makanan minuman dari buah-buahan, roti dengan kari, es lemon, bla-bla bla sampai yang gue ngak ngerti namanya, hanya gue sama sekali nggak berani beli karena tidak bisa menjamin kebersihannya.








Keriuhan pedagang yang menjajakan berbagai macam barang/makanan/minuman
Sumber: Dokumentasi Pribadi Pix San (my travelmate)

          
So mess up
Can’t imagine how if ‘konsleting’ happen
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Akhirnya, perhatian gue pun terhenti pada toko kecil yang menjual gelang-gelang warna-warni kalau nggak salah namanya Baba Singh Marg. Kami pun segera masuk dan membeli beberapa gelang imitasi. Gelang disana sangat lengkap dan jenisnya sangat beragam. Saat itu, gue membeli 20-an gelang serta memakai 5 gelang masing-masing di tangan kanan dan kiri. Sempat ada perasaan malu kalau-kalau orang bakal memperhatikan pakai banyak gelang, tapi ternyata bagi orang India hal tersebut biasa aja dan malah banyak yang pakai gelang lebih banyak dari gue. Jadi gue enjoy aja, India mungkin emang tempat yang tepat buat mengekspresikan diri. Hahaha.

Bought some bracelets
Harganya bervariasi dari yang 100k/paket (yang motifnya emas) atau 4k/paket (yang kecil dan tidak bermotif)
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ini dia sosok Baba Singh yang ramah dan baik hati
Sumber: Dokumentasi Pribadi Pix San (My Travelmate)

So what’s next? Tersesat. Oh tentulah. Dengan begitu banyak lorong dan orang berjubel, nggak mungkinlah kami menemukan tempat kami masuk tadi. Disinilah pertualangan yang sebenarnya dimulai, Chandni Chowk ternyata merupakan pasar yang sangat luas dan berlorong-lorong. Gue nggak ngerti kenapa orang India suka banget nglorong-nglorongin sesuatu ya? Saat itu, hampir 1 jam waktu yang kami perlukan untuk mencari jalan keluar. Sempet salah dan malah masuk lorong yang lebih sempiit dan menyeramkan (halah), sempet salah masuk ke lorong yang menuju ashram, tetapi akhirnya berhasil juga nemu jalan raya. 

Berjuang masuk lorong-lorong untuk mencari jalan keluar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Akhirnya kami pun naik kereta metro di stasiun yang sama dengan tadi dan kembali ke penginapan buat ngambil backpack yang dititipkan. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan ke Stasiun Delhi Cant buat melanjutkan perjalanan ke 2’nd city, Jaisalmer.

Secara pribadi, gue cukup puas bisa mengunjungi salah satu pasar tradisional paling terkenal di Delhi ini dan menurut gue memang must visited places should visit  jika berkunjung ke Delhi. JAI HO!!!

PART Selanjutnya : Disini