Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

4.11.2013

[PART 0] Tinta Hindustan: Perjuangan ke India

Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dari 21 Agustus 2012 - 2 September 2012. Ini pertama kalinya aku ke India dan menjelajah mulai dari ujung barat ke timur (Jaisalmer - Delhi - Agra - Varanasi - Bodhgaya - Kolkata). Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.


Jogja, 24 Agustus 2011
Kapan ya aku bisa ke India?”

 Adalah pertanyaan yang kuajukan ke Piopi tertanggal 24 Agustus 2011. Siapa itu Piopi? Nggak lain dan nggak bukan adalah sahabatku, yang selalu bersedia mendengarkan segala keluhan tentang mimpiku. Piopi adalah my dream book. Di dalam Piopi lah kutuliskan semua mimpi-mimpiku yang mungkin nggak semua orang bisa ngerti. Tapi, Piopi selalu ngerti.

Aku masih ingat, malam itu aku nggak bisa tidur. Lagi semangat-semangatnya mikirin trip ke Asia Tenggara Januari 2012. Di tengah itu, terbersit pemikiran, “Kapan ya aku bisa ke India?”. Saat itu kupandang pemikiran itu masih khayalan belaka. “Ah, mana mungkin ke India sekarang. Duit dari mana? Bikin visa di Jakarta ribet. Belum lagi masalah keamanan selama di sana, izin ortu yang pasti nggak gampang, dll.”

Mimpi yang tadinya sekadar khayalan langsung dihadang pikiran-pikiran itu. Aku yang emang gampang nyerah langsung down. “Iya ya. Duit dari mana? Tabungan buat visa duit siapa? Ortu nggak mungkin ngizinin.” Kesimpulan itu langsung kubuat, dan seketika perasaan sedih mulai menghantuiku.

“Aku nggak akan pernah ke India sekarang...........”

Tetapi saat itu, dengan tekad bulat aku pengen ke India, kapanpun waktunya, aku segera mengambil notes dan memperkirakan biaya yang aku perlukan jika ke sana. Saat itu aku merencanakan akan membeli tiket pesawat dengan beasiswa dari Diknas yang aku dapat saat itu, sementara untuk uang sakuku selama di sana, aku merencanakan akan pakai beasiswa Diknas yang keluar tahun depan. Saat aku melakukan kalkulasi itu, semuanya terasa mungkin dan semangatku naik lagi. 

(PS: Beasiswa Diknas ini adalah beasiswa prestasi, dan jumlahnya memang lebih besar dari kebutuhan kuliahku saat itu jadi aku bisa menggunakan sisanya untuk traveling)

Seketika itu juga, aku memutuskan AKU AKAN PERGI KE INDIA!!

AKU AKAN PERGI KE INDIA!!

Keputusan yang aku ambil hanya dalam beberapa menit setelah aku mikir aku nggak akan pernah ke India.

Keputusan itu cukup mengagetkanku, “Yakin kamu luh?” Aku berusaha mengusir semua perasaan gusar yang saat itu seketika datang. Sekarang, setelah yakin soal masalah duit, aku malah galau soal tabungan untuk visa dan izin orang tua. Untuk membuat visa di Jakarta, memang diwajibkan punya sejumlah uang (tabungan) yang cukup memadai selama 3 bulan terakhir, dan hal ini akan dicek di embassy nanti.

Saat itu rekening di ATM-ku tinggal 5 juta, dan itu pun 70% akan aku gunakan buat trip ke Thailand Januari nanti, sisanya buat beli tiket. Aku berusaha melupakan masalah tabungan buat visa, lalu beralih mikirin soal izin orang tua. Dengan kesimpulan sepihak, aku berpikir orang tuaku nggak bakal ngizinin kalau aku pergi ke India sendirian.

Setelah aku berpikir keras, aku pun mutusin buat ngiklanin trip ini kemana-mana di forum backpacker/traveler, siapa tahu ada yang tertarik dan mau join. Saat itu perasaan optimis dan putus asa bercampur aduk di benakku. Aku nggak tahu mana yang harus aku percayai saat itu: “Aku ke India” atau “Aku nggak ke India.”


Sebulan kemudian....
“Tuhanmu..Tak akan memberi ular beracun, pada yang minta roti”

Sepenggal lagu di atas akan selalu aku ingat untuk menggambarkan keadaanku saat itu. Perasaan bersyukur yang nggak terkira, akhirnya mimpiku terwujud: AKU BAKAL KE INDIA AGUSTUS 2012!!! Gimana ceritanya? Let’s see...

Kurang lebih sebulan setelah malam itu, 24 Agustus 2011—malam saat aku memutuskan akan pergi ke India—aku mendapatkan sebuah kado kejutan dari Tuhan: Air Asia mengumumkan akan mengadakan promo gede-gedean (Rp 0) ke beberapa destinasi mereka termasuk India. Saat itu aku seneng setengah mati, bener-bener bersyukur dan yakin ini merupakan jalan Tuhan untuk mewujudkan semua impianku.

Tibalah tanggal 21 September 2012. Aku sudah siap di depan laptop dengan modem terpasang karena akan hunting tiket. Rasanya deg-degan banget, soalnya situs Air Asia terus-menerus busy gara-gara banyak orang mengakses di waktu bersamaan. Aku terus-menerus masuk ke waiting room dan berkali-kali gagal membooking karena not responding. Begitu harus mulai booking ulang dari awal, harganya sudah kembali ke harga normal. Rasanya frustasi banget, bahkan sempat ingin menyerah.

Tetapi akhirnya… setelah 1 jam mencoba, aku berhasil mendapatkan tanggal yang pas (21 Agustus 2012) untuk rute Jakarta–Delhi dengan harga 1 juta berstatus lowest fare. Tanpa ba bi bu, aku langsung booking, bahkan belum ngomong apa-apa ke orang tuaku.

Finnaly ^.^

Perjuangan tidak sampai di situ, aku masih harus mencari tiket balik! Karena nggak mau balik dari tempat yang sama, aku memutuskan untuk mengambil rute Kolkata–KL. Untuk rute ini aku nggak mengalami masalah berarti dan cukup cepat dapat tiket seharga 540 ribu all in. Hunting selanjutnya, aku harus menemukan tiket pulang dari KL ke Jakarta. Entah angin ajaib apa, aku gampang sekali menemukan tiket promo seharga 3 USD dari KL ke Jakarta. Total waktu yang aku butuhkan untuk booking semua tiket ini sekitar 2 jam.

Hadiah dari Tuhan nggak sampai di sini saja. Beberapa minggu kemudian, aku dapat tiket promo Rp100 ribu untuk kepulangan ke Jogja dari Jakarta. Saat semua boarding pass sudah di tangan, aku merasa sangat lemas tapi penuh syukur. Thanks God… really You’re an amazing God!


INDIA BISA VOA (VISA ON ARRIVAL)!!

Huahuahuahua… apakah kado Tuhan untuk mimpiku berhenti sampai tiket saja?? Of course not!! Sore itu aku iseng browsing syarat membuat visa di Jakarta. Aku baca pengalaman orang-orang saat bikin visa di Kedubes India dan berapa minimal tabungan yang harus dipunyai. Mayoritas bilang tidak sulit, tabungan tidak harus puluhan juta, cukup disesuaikan dengan lama waktu tinggal.

Lalu aku iseng ketik VOA India dan membaca headline berita di situs Kedubes India. Betapa kagetnya aku:

Oke. Intinya, pemegang paspor WNI bisa menggunakan VOA untuk ke India, berlaku sejak Januari 2011!!

Aku benar-benar nggak percaya dengan semua kemudahan yang Tuhan beri untukku. Oh thanks God 😭. FYI, VOA singkatan dari visa on arrival, artinya kita bisa memperoleh visa tanpa harus bikin dulu di Indonesia. Cukup bawa syarat-syarat (tiket PP, bukti booking penginapan, copy paspor), nanti visa dibuat di bandara kedatangan dengan bayar 60 USD. Perfect!


Kuliah Lapangan vs Tiket Pesawat Dibatalin vs Duit Beasiswa Nggak Keluar!!

Oh My God!

Aku selalu percaya dengan ungkapan: hidup itu seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Setelah semua kemudahan yang aku rasakan, roda hidupku benar-benar terasa dibalikkan.

a. Pemetaan Mandiri
Isu pemetaan mandiri untuk liburan semester 4 mulai ramai dibahas di kampus. Banyak yang bilang: “mungkin kita bakal nggak bisa lebaran di rumah demi pemetaan”, “ada senior yang pemetaan sampai 25 hari”, dll. Intinya, kegiatan ini berpotensi menabrak Idul Fitri. Aku stress setengah mati: “Aku bakal ke India pas libur Idul Fitri, masa dibatalkan gara-gara pemetaan?” Saat itu aku pesimis dan menganggap: sudahlah, trip ini gagal.

b. Duit beasiswa nggak keluar!
Sejak awal aku memang mengandalkan sisa beasiswa Diknas semester 4 untuk membiayai trip ini. Tapi minggu demi minggu, bulan demi bulan, beasiswa itu tak kunjung cair. Padahal semester 4 berbarengan dengan kuliah lapangan & ekskursi yang biayanya total 3,1 juta. Perlahan aku mulai percaya: “jangan-jangan bener, beasiswaku nggak keluar.” Ditambah stress, aku malah jadi boros setengah mati.

c. Tiket pesawat dibatalin!
Suatu sore aku dapat SMS dari calon travelmate: “Air Asia ngebatalin penerbangan ke India sama Eropa.” DEG! Aku langsung cek situs Air Asia, dan benar: penerbangan ke Paris, London, Mumbai, dan New Delhi dibatalkan mulai akhir Maret 2012.

“What the f! Kenapa dibatalin pas aku mau ke sana?? Kenapa nggak dibatalin tahun depan aja? Kenapa harus New Delhi, bukan Teheran?” pikirku sambil berlinang air mata. Aku merasa takdir benar-benar menentangku: nggak ada kepastian pemetaan, nggak ada duit, tiket pun hilang. PERFECT! Aku menyerah, menganggap trip ini gagal total bahkan sebelum dimulai.


Penantian tak Berpengharapan....

Berbulan-bulan aku jalani tanpa kejelasan. Berkali-kali aku kirim pesan ke Air Asia via email & Twitter, tapi jawabannya hanya “harap sabar” atau terkesan acuh. Aku jadi agak kesal sama maskapai favoritku itu.

Suatu ketika aku buka grup backpacker dunia, ada yang posting bahwa tiket mereka yang dibatalkan diganti Malaysian Airlines. Aku antara percaya dan nggak percaya. “Masa tiket promo diganti tiket bintang lima??” Aku coba optimis, terus menunggu. Hampir tiap hari aku cek email, berharap ada kabar.


Akhirnyaaa...

Kadang sesuatu yang baik justru datang saat kita nggak mengharapkannya. Beberapa waktu kemudian, calon travelmate SMS: “Luh, udah ada email dari Air Asia masalah tiket. Gue mau coba reroute ke Shanghai.”

Aku langsung cek email, dan bener! Air Asia resmi kasih kabar. Mereka minta maaf atas pembatalan, dan menawarkan tiga opsi:

  1. Refund 100% (tapi tiket hangus).

  2. Tetap terbang ke New Delhi dengan maskapai lain yang ditentukan Air Asia, tanggal sama.

  3. Reroute ke rute lain yang dilayani Air Asia tanpa biaya tambahan.

Tanpa pikir panjang, aku pilih opsi 2. Ada yang nyaranin reroute ke Jepang, Korea, atau Australia, tapi aku belum siap finansial & minat. Hanya India yang ada di otakku. Jai Nehi oh Jai Nehi!

Beberapa hari kemudian, Air Asia merespons. Mereka minta aku sabar, lalu mengirim itinerary: Jakarta–KL, KL–New Delhi dengan Malaysian Airlines di tanggal yang sama persis! Aku sempat cek harga tiket MAS di web: mencapai 5 juta!

WOW. Aku langsung bersyukur sedalam-dalamnya. Masalah fundamental ini akhirnya selesai! Mungkin Tuhan memang sedang menguji seberapa besar tekadku ke India.

Jujur, aku jadi makin sayang sama maskapai low cost favoritku ini.
Love uuuu, Air Asia!!!


Kapan lagi bisa naik Malaysia Airlines? Thank youu Air Asia ^.^

Masalah itu akhirnya selesai satu per satu.

Seiring masalah tiket pesawat dan kereta yang sudah kelar, aku jadi bisa lebih berpikir dingin untuk mencari penyelesaian masalah pra-departure lainnya, yaitu uang saku dan masalah pemetaan mandiri. Sampai April 2012, aku baru punya 3 juta di tangan. Dengan estimasi 14 hari 13 malam di luar negeri (12 hari 11 malam di India, 2 hari 1 malam di Malaysia), aku merasa jumlah itu masih sangat kurang.

Aku benar-benar melakukan pengiritan besar-besaran selama beberapa bulan, dan akhirnya sampai Agustus 2012 terkumpul 4 juta. Itulah uang yang aku bawa ke India, di luar biaya VOA sebesar 60 USD dan pajak bandara Soetta Rp150.000, yang baru aku dapatkan dari bapakku H-1 keberangkatan setelah aku nangis sesenggukan. Hahaha. Saat di Malaysia, aku mengandalkan sisa uang trip ke Malaysia Januari 2012 yang masih ada 75 ringgit. Ternyata selama 12 hari 11 malam di India, mengunjungi 6 kota 5 provinsi, uangku habis 3,2 juta. Jadi aku masih punya sisa 800 ribu ketika pulang ke Indonesia.

Bagaimana dengan duit Ekskursi dan Kuliah Lapangan yang juga harus aku bayarkan menjelang keberangkatan? Tuhan memberiku solusi. Kuliah Lapangan yang biayanya 2,3 juta ditanggung oleh pemberi beasiswa sebagai jatah kegiatan penunjang pendidikan, sementara Ekskursi sebesar 900 ribu aku bayarkan dengan mencaplok tabunganku 400 ribu ditambah bantuan dari bapakku 500 ribu. Done!! Thanks God!! =D

Masalah waktu pemetaan mandiri dan checking? Ternyata nggak se-hectic bayanganku. Aku menjalaninya dengan cukup senang (plus sedikit keluhan trekking, hehe). Aku mulai pemetaan mandiri tanggal 31 Juli 2012 dan selesai dalam 14 hari, jadi 13 Agustus aku sudah balik ke Solo dengan setumpuk data yang belum kusentuh sampai semester V mulai. Checking? Ternyata baru dilakukan pertengahan semester V, bukan pas liburan Idul Fitri seperti yang kutakutkan. Memang kalau roda sedang di atas, segalanya terasa jadi lebih mudah. Done!! Thanks God!! =D


Solo, 20 Agustus 2012

Saat itu aku sudah ada di dalam kereta bisnis Senja Utama tujuan Solo–Jakarta yang akan mengantarkanku ke ibukota dengan tujuan akhir ke bandara. Aku nggak bisa tidur semalaman, memang aku nggak pernah bisa tidur dengan posisi duduk. Setelah menghabiskan sebungkus nasi ayam yang dibelikan ibu sebagai bekal di kereta, aku merenung memandang kegelapan di luar jendela.

Aku mengenang semua perjuangan yang sudah kulalui sampai bisa berada di gerbong kereta malam itu. Aku merenung ke sana ke mari, bahkan tentang pemetaan mandiri: saat aku harus trekking sendirian di perbukitan curam perbatasan Kebumen–Banjarnegara dan hampir menyerah karena takut tersesat. Saat hampir menyerah, aku membayangkan trip India yang sudah di depan mata, dan berjanji akan mengenang perjuangan trekking itu ketika di India nanti. Akhirnya aku kembali trekking lagi berbekal kompas, GPS, dan peta topografi tanpa tersesat.

Aku juga merenung tentang apa yang akan kuhadapi di India. Aku membayangkan bagaimana travelmate-ku nanti—yang belum pernah kutemui langsung, hanya berhubungan lewat FB dan SMS—dan ternyata mereka benar-benar asik. Tanpa sadar, renunganku itu sudah mengantarkanku tiba di Stasiun Pasar Senen keesokan paginya. Setelah tawar-menawar singkat, aku pun naik ojek seharga Rp20.000 ke Stasiun Gambir untuk lanjut naik DAMRI menuju bandara.


21 Agustus 2012 - Soekarno Hatta Airport, Boarding Time

Tak ada kata-kata yang bisa diucapkan lagi… Pesawat MH 710 tujuan Jakarta–Kuala Lumpur take off dengan sempurna. Lewat kaca jendela, aku memandangi negeriku yang semakin mengecil dan mengecil seiring dengan naiknya burung besi raksasa ini.

Hanya satu seruan singkat yang membahana di hatiku dengan perasaan bahagia:
“INDIA, I’M COMING!!!”

"Don't ever quit for what you really want.."
Thanks GOD 🙏


Part Selanjutnya : DISINI 

1.24.2013

Dari Traveling Passion sampai Rencana Perjalanan Gila!


Traveling Passion = Rencana Perjalanan Gila
Ikut-ikutan. Itulah sebenarnya awal pengalamanku backpackeran sampai aku jadi ketagihan kaya sekarang. Hal itu berawal dari perjalananku sama tujuh temen ke Pulau Lombok yang eksotis. Sebenarnya waktu itu aku belum suka-suka amat sama backpackeran, bahkan H-1 keberangkatan aku malah males. Terutama aku males membayangkan harus naik kereta ekonomi dengan duduk supertegak selama 34 jam PP.
Tetapi tanpa gue nyana, gue bener-bener menikmati perjalanan ke Lombok ini. Selain Lombok emang beautifuuuulll banget dan sangat top recommended, setelah pulang gue mendapatkan suatu perasaan kepuasan yang belum pernah gue rasakan sebelumnya. Gue seakan menemukan apa yang selama ini gue cari. Passion gue, gairah gue, kesenangan gue, semangat gue. Gimana gue bisa tahu itu semuanya? Jawabannya adalah karena gue pengen melakukannya lagi, lagi dan lagi. Gue pengen jalan lagi, eksplor setiap jengkal Indonesia, eksplor dunia…
Keindahan Pantai Senggigi di Pulau Lombok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Keindahan Pantai Senggigi di Pulau Lombok (2)
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Keindahan Pantai di Pulau Gili Trawangan, Lombok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pantai Dreamland, Bali
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Karena passion itulah dengan tekad membara gue segera merencanakan jalan lagi. Saat itu gue memandang luar negeri hanya sebagai impian disamping gue emang pengeeeennn banget ke luar negeri dari SMA tapi cuma ngimpi karena nggak punya duit. Tapi saat itu gue sedikit mempunyai modal karena beasiswa gue dari Kemendiknas masih sisa, dengan keberanian dan tekad yang membara gue booking tiket promo ke Thailand untuk keberangkatan 6 bulan ke depan. Tak puas hanya tiket ke Thailand, saat menemukan promo besar-besaran dua bulan kemudian gue kembali booking tiket ke India untuk keberangkatan 1 tahun ke depan. 


Grand Palace, Bangkok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Wat Pho, Bangkok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Wat Arun, Bangkok
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ta Phrom, Siem Reap, Kamboja
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Town Hall, Penang, Malaysia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Esplanade, Penang, Malaysia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Petronas Twin Tower, Kuala Lumpur, Malaysia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

berlanjut ke....
Indira Gandhi International Airport, New Delhi, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Red Fort, Delhi
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Diwan i-khas, Red Fort, Delhi
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Humayun Tomb, Delhi, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

India Gate, Delhi, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Qutab Minar, Delhi, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Thar Desert, Jaisalmer, India Barat
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Taj Mahal, Agra, Uttar Pradesh, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Shiva Temple, Varanasi, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mahabodhi Temple, Bodh Gaya, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Menyentuh tapak kaki Sang Budha, Mahabodhi Temple, Bodh Gaya, India
Sumber: Dokumentasi Pribadi



Victoria Memorial, Kolkata, India
Sumber: By Pix San (My Travelmate)

2013
My First Solo Backpacking Experience kaa..
Marina Bay, Singapore
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dutch Square, Melacca, Malaysia
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Rizal Park, Manila, Philippines
(Diorama eksekusi Joseph Rizal oleh Spanish)
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Aku bertaruh. Aku mempertaruhkan kuliah lapanganku karena aku nggak tahu itu selesai kapan (untungnya aku bisa selesai), aku bahkan nggak ikut remidi salah satu makul penting karena tidak mendaftar sehingga nilaiku tetap C, aku nggak daftar jadi asdos padahal pengen sekali karena telat daftar semua saat aku sudah pulang.
Aku kini tahu bahwa hidup emang pilihan. Aku meninggalkan beberapa hal yang bisa aku tinggalkan di kuliah demi mengejar passionku, sesuatu yang nggak setiap orang lakuin. Meski jujur beberapa hal itu membuatku sedih sesekali. Aku sadar dengan resikonya dan aku sudah menghadapinya. Kini aku hanya perlu fokus ke satu hal yaitu mimpi lamaku yang belum terpenuhi, “Going to Hawaii”.
Kepulauan Hawaii, USA

Tapi tentu saja tidak semudah itu untuk pergi ke Hawaii, terutama masalah visa USA yang merupakan visa tersulit untuk didapatkan. Tapi aku berjanji itu semua nggak akan menghalangi mimpiku. Aku mempunyai beberapa perencanaan antara lain:

Targetku selama kuliah ini sampai lulus adalah mengunjungi 9 negara.
Sampai awal semester 6, aku sudah akan mengunjungi 6 negara yaitu Thailand, Kamboja, Malaysia, India, Singapura dan Filipina. Untuk kota besar, aku sudah akan mengunjungi 15++ kota yaitu Bangkok, Chumpon, Hat Yai, Siem Reap, Penang, Kuala Lumpur, New Delhi, Jaisalmer, Agra, Varanasi, Gaya, Kolkata, Singapura, Malaka, Manila, Tagaytay?. Aku bersyukur, aku benar-benar mensyukurinya. Dari mimpi seorang anak kecil yang setiap harinya hanya membuka atlas dan merengek kepada ayahnya ‘pengen kesini, pengen kesitu’ akhirnya aku benar-benar bisa mewujudkannya. Begitu besar kekuatan sebuah mimpi.

Setelah lulus kuliah, mengunjungi 3 negara yang memudahkan pendapatan visa USA yaitu Australia, Jepang dan Korea Selatan. Yah, mungkin ditambah Selandia Baru. Aku selalu ingin mengunjunginya sejak melihat Lord of the Ring.
Aku cukup yakin bisa melakukannya. Aku berencana lulus dengan cepat, mencari pekerjaan, bekerja dengan rajin, menabung, beli rumah dan mobil, setelah itu mulai merencanakan pergi ke negara yang aku baca dengan visa-visa mereka nempel di paspor, akan memudahkan pendapatan visa USA. Aku berencana akan mengunjungi Australia dulu, kemudian berlanjut ke Selandia Baru. Dari Selandia Baru, kemudian baru pulang ke Indonesia. Wuah rencana yang indah ya? Semoga suatu saat bisa benar terwujud. Pulang dari Selandia Baru, dengan jeda waktu beberapa bulan, aku ingin segera merencanakan pergi ke Jepang dan Korea Selatan. Mungkin bisa bervariasi antara Indonesia-Jepang-Korea Selatan-Indonesia atau ke Korea Selatan dulu.

Apply  visa USA dan pergi ke HAWAII, setelah itu = US Land
Setelah perjalanan sebelumnya berjalan lancar, inilah rencanaku selanjutnya. Aku akan apply visa USA (mungkin di Surabaya aja) dengan modal tabungan gaji, pekerjaan tetap, itinerary mantap. Pokoknya aku akan melakukan apapun untuk meyakinkan embassy bahwa aku akan kembali. Jika tembus, aku berencana akan berangkat ke Hawaii dari Filipina menggunakan maskapai Hawaiian Airlines. Rencanaku adalah aku akan mendarat di Honolulu, kemudian dengan tiket pesawat terusan interisland, aku akan mengunjungi semua pulau di gugusan Kepulauan Hawaii sebelum kembali lagi ke Honolulu. Setelah puas dengan Hawaii, aku akan mencari tiket ke daratan Amerika Serikat. Aku ingin ke Los Angeles. Aku akan membeli tiket penerbangan ke LAX dan setelah itu mengelilingi negara bagian California. Aku mempunyai rencana gila terinspirasi dari acara ‘Oprah Winfrey Show  ‘, yaitu dia dan seorang temannya berkeliling 50 negara bagian Amerika Serikat menggunakan mobil untuk mencicipi pizza di setiap negara bagian. Aku berencana akan mengelilingi 50 negara bagian AS dengan MOBIL! PERSIAPAN:
1.    Aku akan membeli mobil sejenis pick up  berpintu 4 di Amerika (mungkin yang used car supaya lebih murah). Sengaja memilih mobil pick up supaya bisa membawa banyak barang.
2.     Membawa mobilku ke bengkel untuk diservis dan diperbaiki segala sesuatu yang bermasalah.
3. Mendapatkan asuransi untukku dan mobilku, sebagai syarat departemen transportasi AS.
4.     Mendapatkan SIM International/SIM negara bagian.
5.     Membeli GPS.
6.   Mendaftar dan bergabung ke AAA seharga 60 USD/year. Melalui keanggotaan AAA ini aku baca akan banyak memperoleh keuntungan. Salah satunya layanan derek mobil.
7.  Belajar cara bengkel-bengkel dasar. Misal mengganti ban bocor, mesin rusak ringan, dll.
8. Membawa seorang/2 orang teman dan seekor anjing. Aku tidak berencana melakukannya sendiri, aku akan benar-benar kesepian jika sendirian. Selain itu bisa bergantian nyetir.
9.    Membawa persediaan bensin 1 jerigen (always)

Mobil Incaran untuk Keliling 50 Negara Bagian, Pick Up 4 Pintu

Perjalanan gila ini kurencanakan berawal dari Los Angeles dan berakhir di Miami dengan estimasi waktu 6 bulan . Waktu gimana kalau dah kerja? Aku nggak Tahu..Duit dari mana? Aku nggak tahu.. Itulah indahnya mimpi bukan? yang jelas aku akan BERUSAHA KERAS untuk benar-benar mewujudkannya!
Dan aku akan benar-benar melakukannya meski dengan HITCH-HICKING!



1.12.2013

Temanggung, 2012 : Main ke Dataran Tinggi Posong

EKSOTISME DATARAN TINGGI POSONG
‘Amazing..Unbeliveble..So Beautiful..’

Pemandangan Gunung Sindoro di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumen Pribadi

          Adalah ketiga kata yang gue ucapin dalam hati saat sampai di gardu pandang Dataran Tinggi Posong. Dari yang awalnya gue cuma iseng search di mbah gugle  dengan keyword objek wisata di Temanggung’, gue bener-bener mendapatkan sajian istimewa suatu pemandangan alam yang luar biasa.

       Berbekal motor supra x 125 cc dengan bensin full dan tekad membara, kami (gue dan 1 temen) berangkat pagi itu meninggalkan Jogja dan kegiatan kampus yang seharusnya dihadiri (mbolos.com) untuk membolang di suatu tempat asing di Kabupaten Temanggung yang disebut Dataran Tinggi Posong.  Gue tahu tempat ini dari internet setelah putus asa pengen mbolang ke suatu tempat yang baru dan tidak membosankan, secara hampir semua objek wisata alam di Jogja udah gue sambangi. Setelah nyari, gue menemukan beberapa review para bolangerz juga tentang suatu tempat wisata baru yang masih cukup perawan di Kabupaten Temanggung. Sekilas gue lihat foto-fotonya, oke juga nih. Tempat itu mirip seperti lembah yang terletak di antara pegunungan (ceritanya sih ada 8 gunung bisa kelihatan dari tempat ini) dan kelihatan asyik. Target pun gue kunci, “Gue pengen kesini!!”

       Perjalanan dari Jogja ke Temanggung kami tempuh selama kurang lebih 2,5 jam dan setelah sarapan soto yang sangat asin, kami pun bertolak mencari Dataran Tinggi Posong ini. Dataran Tinggi Posong relatif sangat mudah ditemukan, yaitu berada di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung. Petunjuk jalan ke Dataran Tinggi Posong akan ditemukan di sebelah kiri jalan raya utama Temanggung-Wonosobo (km berapah gue lupa yang jelas udah hampir perbatasan dengan Kabupaten Wonosobo) berupa papan yang menunjukkan arah belokan ke sebelah kanan jalan “3,5 kilometer lagi” begitu katanya. Jika kesulitan menemukan, bisa bertanya dengan warga sekitar letak daerah Kledung. Setelah sampai di Kledung, tinggal tanya warga sekitar dimana letak Dataran Tinggi Posong.

       Jalan 3,5 kilometer ini awalnya emang nggak meyakinkan (kecil banget) tetapi kondisi jalanan sudah cukup bagus walau tidak rata. (setidaknya lebih bagus dari jalan menuju Golden sunrise Dieng) Sepanjang perjalanan ke gardu pandang Dataran Tinggi Posong, kami disuguhi dengan pemandangan alam yang begitu memanjakan mata. Gunung Sumbing dan Sindoro terlihat begitu gagah perkasa menyambut kami, perkebunan jagung dan kopi yang terhampar luas, para petani yang sedang menggarap lahan dengan semangat, bebas polusi, dll. Saat itu gue sudah mendapat feeling bahwa Dataran Tinggi Posong ini sepertinya akan luar biasa.

Sepanjang perjalanan menuju Dataran Tinggi Posong yang segar dipandang
Sumber: Dokumen Pribadi

         Memasuki kilometer 3, kami di stop oleh pemuda setempat yang meminta bayaran tiket masuk dan parkir motor. Menurut gue tiket masuknya sangat murah yaitu hanya Rp 2000,00/orang dan Rp 1000,00 untuk parkir motor. Setelah itu gue melanjutkan perjalanan keatas. Saat sudah sampai diatas, Amazing..Unbeliveble..So Beautiful..Pemandangan begitu luar biasa indahnya. Sejauh mata memandang, beberapa gunung berjajar menyambut kami. Beberapa gunung yang kelihatan (tidak tertutup awan) adalah Sumbing, Sindoro, Merapi dan Merbabu. Gunung-gunung tersebut dilatari dengan siluet langit biru cerah dan perkebunan jagung serta kopi yang terhampar luas. Sungguh suatu karya cipta Tuhan yang sangat luar biasa dan menurut gue nggak sebanding dengan biaya masuk yang hanya Rp 2000,00 per orang.

Pemandangan perkebunan jagung dengan latar Gunung Sindoro
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pemandangan perkebunan jagung dengan latar Gunung Sumbing
Sumber: Dokumentasi Pribadi


Wisatawan di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumentasi Pribadi

         Pemandangan seperti ini tidak kami sia-siakan untuk foto-foto dan bersantai di cakruk yang banyak disediakan. Salah satu hal yang masih kurang di tempat ini adalah belum adanya penjual makanan (2012). Padahal menurut gue, merupakan kombinasi yang sangat tepat menikmati gunung dengan semilir angin dengan ditemani semangkok mie panas pedas dan teh panas. Ya sudahlah, pemandangan ini sudah cukup mengabaikan rasa lapar gue.

          Fasilitas yang disediakan di Dataran Tinggi Posong ini selain penjual makanan sudah cukup lengkap yakni ada 3 cakruk besar dan 1 cakruk kecil untuk bersantai, 2 kamar mandi yang cukup bersih dengan air sedingin es, mushola dan sepetak lahan tempat parkir . Menurut gue, Dataran Tinggi Posong ini sangat cocok digunakan untuk wisata keluarga (mobil atau bis bisa sampai atas), hanya jangan lupa membawa makanan dan minuman untuk menambah kombinasi arti kata ‘menyenangkan’ di tempat ini.




Fasilitas yang ada di Dataran Tinggi Posong
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Gimana kakak cara kesini?Begini transportasi ke Dataran Tinggi Posong.
Gampang aja. Kalau naik kendaraan pribadi, langsung melaju aja ke Wonosobo. Nanti lajukan lagi kendaraan ke arah Temanggung. Dataran Tinggi Posong ini berada di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Wonosobo (lebih tepatnya sisi Kabupaten Temanggung-nya). Papan penunjuknya akan berada di sisi kanan jalan (jika arah dari Wonosobo) atau di sebelah kiri jalan (jika arah dari Temanggung).

Kalau naik transportasi umum:
Menggunakan Bus antarkota dari Bandung atau Jakarta bisa menggunakan bus dengan tujuan Wonosobo. Kemudian dilanjutkan dengan bus 3/4 jurusan Wonosobo-Magelang atau Purwokerto-Magelang dan turun di Desa Tlahab,  Kecamatan Kledung (tinggal bilang turun di sekolahan dan semua kondektur sudah mengerti). Jarak dari terminal bus Wonosobo ke Tlahab hanya sekitar 10 Km. (sumber travel.detik.com)

Perlu menginap nggak?
Well, menurutku kalau cuma ingin bersantai aja memandang pemandangan sambil menikmati udara sejuk, nggak perlu nginap. Tapi jika kalian mau pemandangan yang spektakular, silakan menginap karena menurut berbagai sumber, pemandangan terindah adalah sekitar jam 04.30 am.

Nginapnya dimana?
Jangan khawatir mengenai penginapan karena banyak penduduk yang menjadikan rumahnya sebagai Guest House dengan tarif murah tentunya. Setelah sampai di Tlahab Anda bisa bertanya kepada Pak Hadi. Dia adalah kepala dusun Desa Tlahap yang bisa membantu para wisatawan untuk mencari Guest House atau mengantar ke lokasi Posong.
(sumber travel.detik.com)

Info penginapan di Kecamatan Kledung:
GRIYA TEH HOMESTAY
Jalan Wonosobo-Parakan Km 15 (Kec. Kledung)
CP: 085 7298 989 18

(sumber foto dan info: http://dolandolen.blogspot.co.id/)

Oke ini sedikit ulasan tentang Dataran Tinggi Posong dari aku, semoga membantu para wisatawan yang ingin kesana. Mari majukan wisata Indonesia! #visitjawatengah2013