Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

2.03.2026

[Part 8] Cam on Vietnam : Hoi An, Pagi Terakhir dan Cerita Tentang Manusia

 Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke Singapura - Vietnam yang aku lakukan dari 30 Januari 2023 - 18 Februari 2023. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku beri pada link di bagian paling bawah setiap cerita.

Part Sebelumnya : DISINI


“Kring kring kring…”

Pukul enam pagi, alarm di HP-ku berbunyi nyaring. Terlalu nyaring, bahkan. Aku tersentak bangun, mata refleks terbuka, lalu langsung menatap langit-langit kamar dengan satu pikiran pertama yang muncul di kepala:

'Aduhh… masih ngantuk banget.'

Badanku masih berat, sisa lelah kemarin belum sepenuhnya pergi. Tapi di detik berikutnya, aku ingat janjiku sendiri semalam. Janji yang kubuat setelah menghabiskan malam dengan berjalan kaki menyusuri kota tua Hoi An yang cantik itu. Kemarin aku sudah mengambil waktu kerja untuk eksplor seharian. Artinya, pagi ini tidak ada tawar-menawar lagi. Hari ini aku harus bangun lebih pagi dan kerja. Aku melirik jam di layar HP. Aku punya waktu sampai sekitar jam dua belas siang sebelum harus check out dan kembali ke Kota Danang. Beberapa jam saja. Tidak banyak. Tapi aku bertekad harus semaksimal mungkin nyicil dokumen.

Aku duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, lalu memaksakan diri berdiri. Laptop menunggu. File-file kerjaan juga. Aku bertekad memanfaatkan waktu pagi ini sebaik-baiknya. Buat konteks, aku ini freelancer. Pekerjaanku menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman—dokumen yang isinya jauh dari kata santai. Teknis, detail, dan penuh tenggat waktu. 

Mungkin ada yang akan berpikir, “Enak ya, bisa kerja fleksibel sambil traveling.”

Well… kenyataannya tidak seindah itu, kawan. Aku tidak bisa benar-benar 100% melepas pikiranku untuk traveling. Selalu ada sebagian otak yang tetap sibuk memikirkan deadline, revisi, dan klien yang menunggu. Apalagi aku traveling di bulan Februari—bukan musim libur panjang seperti Idul Fitri, bukan masa di mana dunia ikut berhenti sejenak.

Jadi ya… beginilah akhirnya.

Aku tetap traveling. Tapi tetap harus dengan kerja. Aku tetap jalan-jalan. Tapi sambil mikir tanggung jawab. Aku harus ekstra membagi waktu—antara menikmati tempat baru dan menepati janji pada diri sendiri serta orang lain.

Aku menggosok gigi, cuci muka, lalu minum air putih banyak-banyak. Biasanya itu akan membuat mataku langsung melek. Setelah itu aku membuat secangkir teh panas—sederhana, tapi memberi sinyal ke otakku: oke, kita mulai hari ini.

Laptop kubuka. File-file kerjaan bermunculan di layar. Aku memulai dengan bagian yang paling “aman”: membuat peta-peta untuk pelengkap data. Fokus ke teknis dulu. Koordinat, layout, penyesuaian tampilan. Pekerjaan yang tidak terlalu menuntut emosi, tapi butuh ketelitian. Jari-jariku mulai terbiasa lagi dengan ritme kerja. Teh panas perlahan mendingin di samping laptop.

Sekitar satu jam kemudian, setelah peta-peta selesai, aku mulai masuk ke badan dokumen. Mengedit isi. Merapikan kalimat. Menyesuaikan data. Ini bagian yang lebih berat, tapi juga lebih “masuk”. Aku benar-benar fokus. Serius kerja.
Suasana di luar kamar masih tenang. Jalanan belum ramai. Hanya sesekali terdengar motor lewat, suara pintu dibuka, atau langkah kaki pelan. Kota masih bangun perlahan. Dan jujur saja, suasana seperti ini justru ideal buat kerja. Tidak berisik, tidak terganggu, tidak bikin pikiran lompat ke mana-mana.

Tanpa sadar, waktu berjalan cukup cepat.
Sekitar setengah delapan pagi, perutku mulai protes. Lapar. Aku berhenti sebentar, menutup laptop, lalu teringat sesuatu. Semalam, ibu pemilik penginapan sempat bilang kalau mereka juga menjual makanan.

Aku.segera  turun ke bawah, masih dengan rambut seadanya dan kaos santai. Aku pesan pie dan es kopi Vietnam. Tidak pakai lama. Dan… begitu minuman itu sampai, aku langsung paham kenapa banyak orang tergila-gila sama kopi Vietnam.

Es kopi Vietnam-nya juara.

Manisnya pas, kopinya kuat, dinginnya nyegerin. Serius, ini tipe minuman yang bisa bikin orang lupa kalau dia sebenarnya lagi kerja. Harganya? Sekitar 50 ribu rupiah—atau kalau dikonversi, mungkin 35 ribuan. Tidak murah-murah amat, tapi sepadan. Pie-nya juga enak. Hangat, mengenyangkan, dan jadi teman sarapan yang tepat.

Setelah sarapan, aku kembali ke kamar. Laptop dibuka lagi. Kopi jadi teman setia. Aku lanjut kerja dengan fokus yang sama. Kali ini rasanya lebih ringan. Mungkin karena perut sudah terisi. Mungkin juga karena kopi itu benar-benar membantu.
Aku terus bekerja sampai sekitar jam sepuluh pagi. Baru setelah itu aku berhenti sebentar. Menarik napas. Meregangkan badan. Memberi diri sendiri jeda kecil.

Sambil rebahan di kasur, aku membuka Google Maps. Aku lagi-lagi menyusuri Kota Hoi An lewat peta. Entahlah… rasanya aku benar-benar jatuh cinta dengan kota kecil di Vietnam tengah ini. Ada rasa nyaman yang susah dijelaskan. Dan pagi itu, perasaan lain ikut menyelinap pelan-pelan: sedih. Jam dua belas nanti, aku akan meninggalkan kota ini.

“Mana lagi ya yang bisa kukunjungi… sebagai perpisahan?” gumamku sambil menggulir Google Maps tanpa tujuan yang jelas.

Rasanya benar-benar belum rela. Belum siap bilang cukup pada kota yang ritmenya pelan, hangat, dan terasa ramah sejak hari pertama. Lalu, di antara deretan pin dan rekomendasi, mataku berhenti di satu tempat.

Sebuah galeri seni. Milik seorang fotografer Prancis bernama Rehahn.

Galeri ini dikenal dengan nama Precious Heritage Art Gallery Museum. Begitu aku membaca deskripsinya, aku langsung tertarik. Isinya bukan sekadar foto-foto cantik untuk dipajang, tapi dokumentasi perjalanan panjang Rehahn menjelajahi Vietnam—memotret wajah-wajah dari berbagai suku dan etnis minoritas, banyak di antaranya hidup jauh dari hiruk-pikuk kota. Di dalam galeri, pengunjung diajak masuk ke dunia yang tenang dan penuh makna. Foto-foto berukuran besar dipajang rapi di dinding—wajah-wajah penuh keriput, mata yang dalam, senyum yang tidak dibuat-buat. Banyak potret lansia dari komunitas etnis terpencil, mengenakan pakaian tradisional yang detailnya luar biasa rumit. 

'Waahh.. cocok ni,' kataku dalam hati. Selain alam, aku memang menyukai tujuan yang memperkenalkan budaya negara yang kukunjungi.

"Tapi lebih baik kita kesana dulu sebelum check out, supaya ga ribet perihal tas," kata travelmate.

"Iya juga sih. Kecil kok tempatnya, ga terlalu jauh juga dari ini. Kalau kita berangkat sekarang keknya masih sempat," kataku.

Kami langsung mandi dan bersiap-siap. Kebetulan semua barang sudah kami packing sejak semalam jadi pagi itu bisa langsung sat set.

Kami akhirnya memacu motor sejauh kurang lebih 4 km menuju galeri seni itu. Pagi yang cerah, angin tipis, jalanan Hoi An yang… entahlah, selalu berhasil bikin hatiku lembut. Kota ini memang kecil, tapi cara dia menyapa itu halus dan konsisten. Rumah-rumah rendah, tembok kuning, pohon-pohon besar yang sesekali memayungi jalan—semuanya terasa akrab meski aku baru beberapa hari di sini. Aku tersenyum sendiri di atas motor, menikmati setiap sudut pandang yang lewat. Ada sedikit rasa sedih yang mulai mengendap di belakang kepala: sebentar lagi aku akan pergi dari kota ini.

Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya kami tiba di depan bangunan galeri.
Dari luar, galeri seni Precious Heritage ini menempati sebuah rumah tua bergaya kolonial Perancis—dua lantai, memanjang, dengan dinding pucat yang mulai termakan usia. Di depan, ada papan nama bertuliskan kurang lebih “Precious Heritage by Réhahn”, sederhana tapi elegan. Pintu kayunya terbuka lebar, seolah mengundang siapa pun untuk masuk. Tidak ada gerbang besar, tidak ada kesan eksklusif; justru kebalikannya, tempat ini terasa sangat ramah dan “boleh masuk kapan saja”.

Begitu melangkah melewati ambang pintu, suasananya langsung berubah.
Dari pintu masuk, aku melihat ruang panjang dengan dinding kiri-kanan yang penuh oleh foto-foto berukuran besar. Inilah Fine Art Room, ruang pertama dari galeri/museum ini. 

Foto-fotonya bukan sekadar “indah”, tapi kuat. Banyak potret close-up wajah orang-orang Vietnam—terutama dari etnis minoritas—dengan pakaian tradisional mereka yang warna-warni. Ada nenek dengan kulit keriput dan mata tajam, ada anak kecil dengan senyum malu-malu, ada pria dewasa dengan tatapan dalam seperti menyimpan cerita yang panjang.

Cahaya di ruangan itu lembut, tidak terlalu terang, sehingga warna-warna di foto dan kain-kain tradisional terlihat kaya tapi tetap menenangkan. Di beberapa sudut ada bangku kecil, seolah galeri ini tahu bahwa pengunjung butuh waktu untuk duduk dan benar-benar memandang, bukan cuma lewat dan foto-foto.

Di dekat beberapa foto, ada teks penjelasan—dalam Bahasa Inggris dan kadang Perancis—yang menceritakan siapa orang di dalam foto itu, dari suku apa, tinggal di daerah mana, dan bagaimana pertemuan itu terjadi. Di sinilah pelan-pelan aku mulai paham apa yang dilakukan oleh Réhahn selama bertahun-tahun.

Dia bukan sekadar fotografer yang datang, memotret, lalu pergi.
Selama lebih dari satu dekade, dia melakukan proyek bernama Precious Heritage Project: berkeliling ke seluruh penjuru Vietnam—utara, tengah, selatan—untuk mencari, menemui, dan mendokumentasikan semua 54 kelompok etnis resmi di Vietnam.Yang dia lakukan bukan cuma memotret wajah mereka, tapi juga:
Mengambil potret formal orang-orang dari tiap etnis dengan pakaian tradisional mereka yang asli. Mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan benda-benda tradisional yang kadang sudah jarang digunakan di kehidupan sehari-hari.
Merekam cerita dan sejarah kecil dari tiap pertemuan—bagaimana dia sampai di desa itu, siapa yang ia temui, dan bagaimana pakaian itu diberikan padanya.
Hasil dari semua perjalanan dan “berburu jejak budaya” itu kini ditumpahkan ke dalam galeri ini.

Begitu melangkah lebih dalam dari pintu masuk, aku melihat bahwa ruang ini tidak hanya memamerkan foto; di beberapa sisi, tergantung busana tradisional lengkap, dengan detail tenunan, bordir, dan warna yang luar biasa rumit. Di lantai lain (atau ruang-ruang selanjutnya), koleksi ini berkembang menjadi semacam museum etnografi mini: lebih dari 60 kostum tradisional dari berbagai etnis, lengkap dengan penjelasan darimana asalnya, bagaimana cara pembuatannya, dan apa makna motifnya.

Ada satu bagian yang menampilkan deretan pakaian adat yang kini nyaris tidak dipakai lagi di kehidupan sehari-hari. Beberapa kostum bahkan katanya sudah sangat langka, diserahkan langsung oleh tetua adat sebagai bentuk kepercayaan bahwa pakaian itu akan “disimpan baik-baik di Hoi An,” bukan sekadar jadi koleksi pribadi.

Jadi, kalau dirangkum, apa yang dilakukan Réhahn?

Kurang lebih:

Ia menghabiskan bertahun-tahun menjelajah desa-desa etnis di seluruh Vietnam, bertemu langsung dengan komunitas-komunitas yang sering kali terpinggirkan atau jarang tersentuh wisata.

Ia mendokumentasikan mereka lewat fotografi—bukan gaya turis, tapi gaya cerita: potret yang menunjukkan martabat, karakter, dan keindahan manusia yang apa adanya.

Ia mengumpulkan pakaian adat, artefak, dan cerita, yang kemudian ia pajang kembali di galeri ini supaya orang-orang kota, turis, dan siapa pun yang lewat bisa melihat kekayaan budaya Vietnam yang sesungguhnya.

Ia membiayai sendiri museum ini dan membukanya gratis untuk umum, sebagai bentuk “balas budi” kepada komunitas-komunitas yang telah mengizinkannya memotret dan menyimpan cerita mereka.

Dan apa hasilnya?

Buatku sebagai pengunjung, hasilnya adalah:
Sebuah ruang sunyi tapi sangat kuat di tengah kota wisata yang penuh lampion dan keramaian. Ratusan potret yang membuatku merasa seperti sedang menatap wajah Vietnam yang jauh lebih luas daripada Hoi An, Danang, atau Hanoi. Puluhan kostum tradisional yang membuatku sadar bahwa satu negara bisa berisi begitu banyak identitas, motif, dan cara hidup yang berbeda—dan semuanya berharga.

Dari pintu masuk saja, aku sudah merasa seperti diajak masuk ke perjalanan panjang yang bukan milikku, tapi entah kenapa ikut menyentuhku. Rasanya seperti Rehahn berkata, lewat dinding-dinding ini:

“Ini Vietnam yang mungkin tidak sempat kamu datangi satu per satu. Tapi setidaknya, kamu bisa bertemu mereka di sini.”

Kami kembali melewati jalanan pesisir yang sama seperti kemarin. Laut di sisi kiri masih berkilau, tapi kali ini suasananya terasa berbeda. Matahari siang Da Nang sudah benar-benar terik, tanpa kompromi. Panas yang bukan lagi hangat untuk dinikmati, tapi panas yang bikin ingin cepat sampai tujuan.

Sekitar pukul satu siang lebih sedikit, kami akhirnya masuk ke area kota. Gedung-gedung mulai rapat, lalu lintas makin padat, dan suasana santai ala Hoi An perlahan tergantikan oleh ritme kota besar. Karena waktu check-in masih nanti—baru bisa jam dua siang—kami memutuskan cari makan siang dulu. Perut sudah protes sejak di jalan.

Awalnya kami kepikiran satu warung langganan. Warung Bu Surti?

Hmm… ya sudah bisa ditebak. Datang kesiangan, makanan sudah habis, warung tutup. Hehe. Sepertinya itu hukum alam yang konsisten di mana-mana.
Akhirnya kami muter-muter lagi, menyusuri beberapa ruas jalan sampai menemukan satu warung yang kelihatannya cukup meyakinkan. Tidak terlalu sepi, tidak terlalu ramai. Ada motor parkir di depan, ada orang lokal makan siang. Oke, ini biasanya tanda aman.

Begitu duduk dan melihat menu…Oh no. Semua tulisannya bahasa Vietnam. Penuh tanda aksen. Tidak ada foto. Tidak ada bahasa Inggris. Aku refleks buka Google Maps buat lihat menu yang biasa direview orang, tapi hasil terjemahannya… kacau. Benar-benar tidak membantu.

Aku cuma tahu satu kata: banh mi. Tapi jujur saja, aku lagi nggak pengen roti. Lagi pengen makan mie. Atau nasi. Atau apa pun yang hangat dan mengenyangkan—asal bukan roti isi daging sapi. Masalahnya, pegawainya juga tidak bisa bahasa Inggris. Kami saling pandang sebentar. Lalu aku ambil keputusan paling sederhana. Aku menunjuk menu, tersenyum, dan bilang,

“Moooo.”

Iya. Moo. Bahasa internasional sapi. Wkwk.

Dan… dia paham. Wkwkwk..

Beberapa menit kemudian, makanan datang. Semangkuk mie. Dengan irisan daging sapi di atasnya. Wkwk. Ternyata berhasil juga. Aku ketawa kecil sambil mulai makan. Rasanya enak. Hangat. Gurih. Tidak istimewa, tapi tepat sasaran. Di titik itu, aku sadar: kadang traveling memang soal begini. Tidak selalu tahu apa yang kita pesan, tapi tetap makan dengan puas karena akhirnya… perut terisi.

0 comments:

Posting Komentar