-
Assalamualaikum Oman
Kisah Perjalananku ke Oman -
KISAH PERJALANANKU DI RUSIA
Aurora, Huskey, Suku Samii, St. Petersburg dan Moscow -
KISAH PERJALANANKU DI EROPA
Islandia, Belanda, Italia, Yunani -
KISAH PERJALANANKU DI HAWAI'I
Eksplor Pulau Oahu
12.23.2025
Sains 1 : Makna Hidup dalam Kacamata Evolusi
11.26.2025
Boyolali, 26 November 2025 : Ya dan Tidak
Bisa dikatakan, manusia hidup dalam lautan pilihan. Setiap hari kita disuguhi ratusan hal yang bisa dipilih, disentuh, dibuka, dibeli, dicoba, dijalani. Kita bisa bekerja dari mana saja, berkomunikasi seketika, belajar apa pun, membuka banyak pintu sekaligus. Dari situlah banyak orang yang merasa kewalahan. Seolah hidup penuh kemungkinan, dan kita dituntut harus mengambil keputusan yang entah bagaimana endingnya.
Dan di tengah arus informasi yang tidak berhenti, muncul satu konsep sederhana yang justru terasa sangat dalam, yaitu setiap kali kita berkata “ya” pada sesuatu, di saat yang sama sebenarnya kita sedang berkata “tidak” pada banyak hal lain.
Ini bukan soal manajemen waktu, bukan juga tentang produktivitas. Ini tentang bagaimana setiap keputusan kecil yang tampak sepele sebenarnya membentuk seluruh arah hidup kita. Tentang bagaimana sebuah ya bisa menjadi titik balik, sekaligus menjadi pintu yang menutup banyak kemungkinan lain, yang mungkin tidak pernah kita sadari.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa berkata ya adalah tanda kebaikan. Ya untuk membantu, ya untuk kesempatan, ya untuk orang lain, ya untuk kerja keras, ya untuk harapan masa depan. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa semakin banyak “ya” yang kita berikan, semakin baik hidup kita nanti. Kita merasa harus selalu tersedia, harus mampu, harus menjadi orang yang bisa diandalkan kapan saja.
###
Yang membuat konsep ini begitu kuat justru karena ia menyentuh inti dari kehidupan modern yaitu kita terbiasa berpikir bahwa memilih berarti menambah, padahal sering kali memilih justru berarti melepaskan.
Hidup sebenarnya bukan tentang menampung semua kesempatan, tapi tentang menentukan apa yang layak diberi ruang. Setiap hal yang kita pilih untuk masuki, selalu ada hal lain yang tidak bisa ikut. Ruang hidup kita terbatas. Waktu terbatas. Energi terbatas. Dan semakin kita mencoba menjejalkan semuanya, semakin kita merasa kehilangan diri sendiri di tengah keramaian pilihan yang membingungkan.
###
Kepala kita seperti rumah yang pintunya selalu terbuka, dan semua orang bisa masuk kapan saja. Kita merasa harus mengakomodasi semuanya. Pekerjaan, chat, klien, keluarga, ekspektasi sosial, komentar orang, bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting.
Di titik itu, teori “ya dan tidak” menjadi seperti cermin yang menampar lembut. Jika hidup kita sekarang terasa terlalu sesak, mungkin bukan karena masalah yang terlalu banyak, tapi karena terlalu banyak ya yang kita berikan tanpa sadar.
Dan setiap kali kita mengatakan ya untuk memenuhi ekspektasi dunia, kita sedang mengatakan tidak pada kemungkinan hidup yang lebih pelan, lebih sederhana, dan lebih damai, yang sebenarnya kita rindukan.
Hidup tidak pernah mengajarkan kita cara menolak dengan lembut. Kita tumbuh dalam budaya yang memuliakan kesibukan, merayakan produktivitas, dan memandang istirahat sebagai kemalasan. Tidak heran banyak orang akhirnya menjadi penat tanpa tahu dari mana datangnya. Padahal kunci keluar dari kelelahan itu bukan dengan bekerja lebih cepat atau merapikan jadwal lebih rapi. Kuncinya ada pada keberanian untuk memutuskan apa yang layak diberi ya dan apa yang perlu diakhiri dengan tidak. Karena mengatakan tidak bukan tanda kelemahan. Ia adalah cara paling jujur untuk menjaga diri tetap utuh.
Dan ketika kita mulai berlatih berkata ya hanya pada hal-hal yang benar-benar penting, hidup perlahan kembali menemukan ritmenya. Hari-hari tidak lagi terasa seperti perlombaan panjang tanpa garis akhir. Lebih seperti perjalanan pelan, dimana setiap langkah terasa lebih ringan, setiap momen lebih penuh, setiap keputusan lebih sadar.
Karena hidup sebenarnya bukan tentang memenuhi semua pilihan, tapi memilih yang membuat kita tetap manusia. Kadang, tidak adalah kata paling penuh kasih yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Dan ya yang dipilih dengan sadar adalah bentuk tertinggi dari kebebasan.
Dari teori sederhana ini, bahwa setiap ya selalu membawa tidak di belakangnya, kita sebenarnya sedang diajak untuk melihat pilihan dengan lebih jernih. Hidup bukan hanya tentang menerima kesempatan sebanyak mungkin, tapi tentang memilih kesempatan yang sungguh layak kita masuki. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena sadar betul bahwa ruang hidup kita tidak seluas ambisi, dan waktu kita tidak sepanjang daftar keinginan di kepala.
Ada momen-momen ketika kita ingin langsung menyetujui sesuatu demi terlihat baik, demi menjaga hubungan, atau demi menghindari rasa bersalah. Kita terburu-buru mengucapkan ya, seolah itu jawaban paling aman. Padahal sering kali, yes reflex itu justru membuat kita kehilangan arah. Kita mengorbankan tenaga, tidur, ketenangan, bahkan diri sendiri hanya karena takut mengecewakan orang lain. Padahal sebelum mengucapkan satu kata pendek itu, kita sebenarnya butuh sedikit jeda. Jeda untuk bertanya pada diri sendiri:
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan bentuk keraguan, tapi bentuk kedewasaan. Kita tidak sedang menolak dunia, kita hanya sedang memilih dengan sadar. Karena pada akhirnya, ya yang terburu-buru sering berubah menjadi penyesalan, sementara ya yang dipikirkan dengan jernih bertahan sebagai keputusan yang utuh.
Menelaah sebelum berkata ya juga mengajarkan bahwa hidup tidak harus diisi sebanyak mungkin, tapi dipilih sebaik mungkin. Kita tidak harus memeluk semua peluang yang datang. Tidak semua jalan harus kita tempuh. Tidak semua orang harus kita penuhi. Tidak semua permintaan harus kita jawab.
Kadang, yang membuat hidup menjadi lebih ringan bukanlah menambah hal baru, melainkan berhenti sejenak sebelum langkah pertama diambil, menimbang apakah keputusan ini benar-benar milik kita atau hanya milik ekspektasi orang lain. Dalam jeda kecil itulah kita menemukan kembali suara hati yang sering tenggelam yaitu suara yang mengingatkan bahwa hidup ini terbatas, energi terbatas, waktu terbatas, dan diri kita pun berhak untuk dilindungi.
10.07.2025
Boyolali, 7 Oktober 2025 : Ilusi Kompleksitas Manusia
Di zaman sekarang manusia hidup di tengah segala kemudahan, tapi anehnya justru makin banyak yang merasa hampa. Kita bisa berkomunikasi secepat kilat, tapi sering merasa sendirian. Punya segalanya di genggaman, tapi kehilangan rasa cukup. Tidur di kasur empuk, tapi pikiran terus berisik.
Depresi, kecemasan, dan overthinking kini bukan lagi istilah klinis yang asing. Mereka sudah jadi bagian dari bahasa sehari-hari. Bukan karena dunia makin jahat, tapi karena kepala kita terlalu penuh. Terlalu banyak yang dipikirkan, terlalu banyak yang dibandingkan, dan terlalu banyak yang ditakutkan.
Ironisnya, semakin manusia dianggap maju, hidupnya justru terasa makin rumit. Kita punya teknologi, pendidikan, dan kebebasan, tapi bersamaan dengan itu muncul tekanan, ekspektasi, dan kekosongan batin yang sulit diisi. Semua ini terjadi karena kita menciptakan sesuatu yang disebut ilusi kompleksitas, yaitu keyakinan bahwa hidup harus istimewa, penuh makna, dan punya tujuan besar, padahal mungkin tidak perlu.
Hidup sebenarnya sederhana, tapi pikiran kita membuatnya menjadi drama panjang dengan subplot yang tak berujung.
****
1. Asal-usulnya Karena Kesadaran dan Imajinasi
Manusia dikaruniai dua kemampuan besar di otaknya, yaitu kesadaran diri dan imajinasi masa depan. Dua hal ini membuat kita menjadi makhluk paling kompleks sekaligus paling rumit di planet ini. Kesadaran diri membuat kita bisa melihat diri sendiri dari luar dan bertanya hal-hal yang tidak pernah muncul di kepala makhluk lain. Siapa aku, kenapa aku begini, apa yang orang lain pikirkan tentangku.
Sementara imajinasi masa depan memberi kita kemampuan untuk merancang rencana, menunda kesenangan, dan membangun peradaban. Tapi di sisi lain, imajinasi ini juga membuka pintu kecemasan. Kita bisa membayangkan masa depan yang belum terjadi, gagal yang belum datang, dan kehilangan yang belum dialami. Kita menciptakan kekhawatiran dari hal-hal yang belum nyata.
Dua kemampuan itu sebenarnya luar biasa. Tanpa mereka, tidak akan ada sains, seni, atau kemajuan peradaban. Tapi seperti banyak hal lain dalam hidup, kelebihan selalu datang bersama efek samping. Kesadaran dan imajinasi yang seharusnya menolong kita malah sering menjadi sumber penderitaan. Kita tidak hanya hidup, tapi juga memikirkan tentang hidup. Kita tidak hanya merasa, tapi juga menilai setiap perasaan. Kita tidak hanya mengalami sesuatu, tapi juga terus mengomentari pengalaman itu di kepala berulang-ulang.
Akhirnya hidup yang mestinya sederhana, sekadar makan, tidur, berinteraksi, dan beristirahat, berubah menjadi sistem yang rumit penuh target, pembanding, dan kecemasan. Kita ingin hidup bahagia, tapi justru sibuk mencari rumusnya. Kita ingin tenang, tapi malah stres memikirkan cara untuk tenang. Padahal makna yang kita kejar sering kali tidak lebih dari bayangan yang diciptakan oleh pikiran kita sendiri.
Kita lupa bahwa otak hanyalah alat untuk bertahan hidup, bukan mesin pencipta makna. Tapi karena begitu kuat, ia berbalik mengatur kita. Ia membuat kita percaya bahwa hidup harus luar biasa agar pantas dijalani, padahal cukup hidup dengan sadar pun sudah luar biasa.
2. Bentuk-bentuk Ilusi Kompeksitas
Manusia punya kebiasaan aneh, hal-hal sederhana selalu ingin dibuat lebih rumit, seolah kalau tidak rumit berarti tidak bernilai. Padahal semakin ditumpuk, semakin jauh kita dari esensinya.
Dulu orang merasa cukup kalau bisa makan, punya tempat berteduh, dan tidur nyenyak tanpa takut kelaparan. Itu sudah dianggap puncak dari hidup yang berhasil. Sekarang ukurannya bergeser jauh. Sukses harus punya rumah yang estetik, mobil yang bisa dipamerkan, tabungan yang terus bertambah, investasi berlapis, jam tangan mahal, hingga gaya hidup yang tampak mapan di media sosial. Padahal jika dipreteli satu-satu, ujungnya tetap sama. Manusia hanya ingin merasa aman. Aman dari kekurangan, aman dari penilaian orang lain, aman dari ketakutan tidak dianggap berhasil. Kita mengejar keamanan itu lewat simbol-simbol materi, padahal rasa aman sejati tidak pernah membutuhkan penonton.
Cinta pun bernasib sama. Kalau dibuat sederhana, cinta hanya soal dua hal, memberi dan diterima. Namun manusia jarang puas dengan kesederhanaan. Kita bungkus cinta dengan permainan perasaan, gengsi, taktik tarik-ulur, dan ekspektasi yang sering kali tidak realistis. Kita ingin pasangan yang paham tanpa perlu dijelaskan, setia tanpa salah, dan dewasa tanpa pernah goyah. Padahal cinta yang murni itu tidak rumit, cukup dua orang yang saling hadir, saling jujur, dan saling tumbuh bersama. Sisanya hanyalah ego yang ingin diakui, bukan kasih yang ingin dirasakan.
Begitu juga dengan kebahagiaan. Hampir semua orang mengaku hanya ingin bahagia, tapi entah kenapa kebahagiaan justru dijadikan proyek besar yang rumit. Kita berpikir bahagia harus dicapai lewat karier yang mapan, gaji besar, pasangan ideal, rumah impian, tubuh sempurna, dan gadget terbaru. Kita terus mengejar kebahagiaan seperti mengejar ujian yang tidak pernah selesai, karena selalu ada kata nanti di ujungnya. Nanti kalau sudah punya ini, nanti kalau sudah jadi itu. Padahal bahagia sebenarnya tidak pernah pergi. Ia hanya tertutup oleh lapisan keinginan yang tidak ada habisnya. Kadang bahagia sesederhana tubuh yang sehat, hati yang tenang, udara pagi, dan seseorang yang bisa diajak berbicara dengan jujur. Itu saja sudah cukup.
3. Dampaknya Jauh dari Kesederhanaan Alami
Karena terus terjebak dalam ilusi kompleksitas itu, manusia akhirnya tumbuh menjadi makhluk yang selalu merasa lelah tanpa benar-benar tahu sebabnya. Kita bangun pagi dengan pikiran penuh target, terburu-buru bekerja, mengejar pencapaian, lalu menutup hari dengan rasa capek yang aneh. Bukan karena fisik, tapi karena batin yang terus dikejar bayangan “kurang”. Kita hidup dalam rutinitas yang padat, namun sering merasa kosong. Dikelilingi banyak hal, tapi jarang benar-benar merasa cukup.
Manusia modern seperti kehilangan kemampuan paling dasar, yaitu menikmati. Makan bukan lagi soal memenuhi rasa lapar, tapi menjadi ajang untuk tampil menarik di mata orang lain. Liburan tidak lagi tentang istirahat, melainkan tentang pembuktian bahwa hidup kita seru dan patut dikagumi. Bahkan ketenangan batin kini berubah menjadi proyek panjang yang penuh metode, panduan, dan daftar langkah-langkah. Kita sibuk berusaha “healing”, tapi justru makin jauh dari rasa tenang yang kita cari.
Padahal hidup yang sederhana bukan berarti hidup yang miskin pengalaman. Justru di sana letak keutuhan. Hidup yang tahu kapan harus berhenti, kapan cukup, dan kapan membiarkan sesuatu berjalan tanpa perlu diatur. Semakin keras kita berusaha menciptakan kehidupan yang lebih baik, kadang kita malah makin jauh dari hidup itu sendiri. Kita lupa bagaimana rasanya duduk diam tanpa tergesa, makan dengan rasa syukur, atau menatap langit sore tanpa maksud apa pun. Mungkin di momen-momen sederhana seperti itulah kedamaian yang kita cari selama ini sebenarnya bersembunyi.
4. Cara Keluar dari Ilusi Itu
Keluar dari ilusi kompleksitas bukan berarti kita harus jadi anti-teknologi, pindah ke gunung, atau hidup minimalis ekstrem sambil makan umbi-umbian di hutan. Hidup di dunia modern tetap perlu keseimbangan. Kuncinya bukan menolak perkembangan, tapi menyadari kapan kita sudah terseret terlalu jauh.
Langkah pertama adalah menyadari bahwa tidak semua hal perlu dicari maknanya. Kadang sesuatu cukup dijalani tanpa harus didefinisikan. Tidak semua perasaan harus dimengerti, tidak semua momen harus punya pesan moral. Ada kalanya hidup hanya ingin dijalani, bukan dianalisa. Semakin kita berusaha memberi makna pada segalanya, semakin kita kehilangan makna itu sendiri.
Langkah berikutnya adalah belajar menghargai rutinitas kecil tanpa merasa harus selalu produktif. Tidak apa-apa kalau hari ini cuma makan enak, jalan sebentar, lalu tidur siang. Nilai hidup tidak ditentukan dari seberapa sibuk kita, tapi dari seberapa sadar kita hadir di setiap momen yang sederhana.
Kemudian, lepaskan kebiasaan membandingkan diri. Tidak ada gunanya menilai hidup sendiri dengan penggaris milik orang lain. Setiap orang punya ritme, waktu, dan musimnya masing-masing. Tidak semua yang terlihat lebih cepat berarti lebih bahagia. Kadang yang paling damai justru yang berjalan pelan tapi tahu arah pulang.
Dan yang terakhir, lakukan sesuatu karena memang ingin, bukan karena merasa seharusnya. Hidup yang dijalani dengan tekanan “seharusnya” akan terasa berat, seolah kita sedang hidup untuk orang lain. Tapi kalau dijalani dengan kesadaran “aku ingin”, rasanya jauh lebih ringan. Tidak ada yang salah dengan ingin sederhana. Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Keluar dari ilusi kompleksitas bukan soal menyingkir dari dunia, tapi menata ulang cara kita melihatnya. Dunia boleh sibuk, tapi kepala kita tidak harus ikut bising. Kadang cukup berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, lalu sadar bahwa ternyata hidup yang kita cari selama ini sudah ada di sini, di tengah hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh.
****
Penutup: Kembali ke Sederhana
Pada akhirnya, hidup memang tidak harus serumit yang kita bayangkan. Kadang kita hanya perlu berhenti sejenak untuk sadar bahwa semua yang kita kejar mungkin hanyalah bayangan dari pikiran sendiri. Kita ingin bahagia, tapi malah sibuk menciptakan definisi tentang bahagia. Kita ingin tenang, tapi justru menambah beban demi mencapainya. Padahal mungkin, hidup tidak menuntut sebanyak itu. Ia hanya ingin dijalani dengan sadar, dijaga dengan tulus, dan diterima apa adanya.
Tidak ada yang salah dengan ingin sukses, ingin dicintai, atau ingin sejahtera. Tapi semua itu akan terasa lebih ringan kalau kita tidak menganggapnya sebagai kewajiban moral untuk menjadi “spesial.” Tidak semua orang ditakdirkan jadi luar biasa, dan itu tidak apa-apa. Dunia tetap berjalan meski kita hanya jadi manusia biasa yang bangun pagi, minum kopi, bekerja secukupnya, lalu menikmati sore dengan tenang.
Hidup tidak perlu dimenangkan. Cukup dijalani.
****
Mindset Sederhana yang Bisa Kita Tiru
Kalau manusia sering tersesat dalam pikirannya sendiri, hewan hidup dengan cara yang jauh lebih sederhana dan selaras. Dari mereka, kita bisa belajar cara hidup yang lebih ringan, tanpa kehilangan makna.
Hidup di saat ini. Hewan tidak menyesali yang sudah lewat dan tidak khawatir pada yang belum datang. Mereka hadir sepenuhnya pada momen yang sedang dijalani. Kita pun bisa belajar menikmati saat ini tanpa harus mengaitkannya dengan masa lalu atau masa depan.
Dengarkan tubuhmu. Kalau lapar, makan. Kalau lelah, istirahat. Kalau butuh diam, berhenti sebentar. Manusia sering lupa bahwa tubuh juga punya bahasa sendiri, tapi kita sibuk menundanya demi target dan jadwal yang tak ada habisnya.
Berhenti membandingkan. Burung tidak iri pada singa, dan kucing tidak iri pada paus. Semua punya perannya masing-masing di alam. Begitu juga kita, tidak perlu meniru atau membandingkan hidup dengan orang lain.
Selaras dengan ritme alam. Tidur cukup, terkena cahaya matahari, dan bergerak secukupnya. Hidup yang mengikuti ritme alam terasa lebih damai daripada hidup yang terus dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme mesin.
Fokus pada hal yang esensial. Di luar kebutuhan dasar, banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu penting. Kesehatan, ketenangan, dan hubungan yang tulus sering kali sudah lebih dari cukup. Sisanya hanyalah aksesori yang mudah pudar.
****
Mungkin itulah jalan keluar paling sederhana dari segala kerumitan yang kita buat sendiri. Analoginya seperti cara hidup hewan. Tidak dalam arti liar atau primitif, tapi dalam arti hidup dengan apa adanya, tanpa drama yang diciptakan pikiran. Mereka tidak berusaha terlihat bahagia, tapi tetap hidup dengan damai. Dan mungkin, di situlah letak kebijaksanaan yang paling murni.
9.23.2025
Sadar Setiap Hari (SSH) 22: Beruntung Mengenal Dhamma
Kadang aku merenung, betapa beruntungnya aku bisa mengenal dhamma dalam hidupku. Perjalanan ini membuat caraku memandang diriku sendiri berubah banyak. Dulu, pikiranku sering jadi penentu bagaimana aku merasa tentang diriku. Pikiran random datang silih berganti—ada yang manis, tapi sering juga getir. Ada bisikan dalam kepala yang bilang aku tidak cukup, tidak sempurna, atau tidak berharga.
Sekarang, aku tahu bahwa semua itu hanyalah pikiran lewat. Mereka muncul, tapi aku tidak harus percaya. Aku bisa memilih untuk tersenyum, membiarkan mereka pergi, tanpa menjadikan mereka kebenaran tentang siapa diriku.
Aku menyadari satu hal: aku sudah berusaha sebaik mungkin dalam hidup ini. Aku tidak jahat, aku berusaha menjalani hidup dengan benar. Jadi mengapa harus terus-menerus membebani diri dengan tuduhan dari pikiran sendiri?
Dhamma mengajarkanku bahwa semuanya akan berlalu. Pikiran, perasaan, bahkan badai di dalam hati—semuanya tidak permanen. Mereka datang, lalu pergi. Kalau aku sabar menunggu, semuanya akan mereda dengan sendirinya.
Sejak mengenal dhamma, aku juga belajar melihat kebahagiaan dengan cara berbeda. Aku melihat kebahagiaan secukupnya, tidak berlebihan. Karena kebahagiaan itu juga akan berlalu. Kalau terlalu melekat, pada akhirnya justru bisa berubah menjadi penderitaan versi tersembunyi—sebab saat sumber kebahagiaan itu hilang, kita bisa gelisah, kecewa, bahkan putus asa. Dengan memahami hal ini, aku jadi tidak mudah terseret arus. Aku bisa menikmati kebahagiaan apa adanya, sambil tetap sadar bahwa semua ini sementara.
Seperti kata ajaran: “Sabbe saṅkhārā aniccā” — segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak kekal. Kesedihan, kegelisahan, rasa takut, bahkan kebahagiaan yang manis sekalipun, semuanya pun demikian.
Ada rasa lega yang besar ketika menyadari hal ini. Aku tidak lagi terjebak dalam drama pikiran sendiri. Aku belajar untuk hidup lebih ringan, lebih damai, dan lebih jujur dengan diriku.
Dan untuk itu, aku benar-benar bersyukur.
9.03.2025
[2] CHINA - TIBET 2025 : Persiapan yang Cukup Menguras Fisik, Mental dan Duit😅
Trip ini merupakan rangkaian perjalanan ke China-Tibet-Singapura-Malaysia yang aku lakukan dari 21 Maret 2025 - 15 April 2025. Part selanjutnya dari setiap postingan akan aku link di bagian paling bawah setiap cerita.
Part Sebelumnya : DISINI
23 Maret – 2 April 2025
Aku sempat membaca kalau pembelian tiket kereta cepat di China secara resmi baru dibuka H-14 sebelum tanggal keberangkatan. Tapi untungnya, lewat aplikasi Trip.com, kita bisa booking duluan hingga H-60. Sistemnya adalah kita bayar dulu, lalu Trip akan otomatis membelikan tiket itu saat penjualan resmi dibuka. Aman banget buat traveler yang nggak mau ribet-ribet hunting. Memang kalau dibandingkan dengan beli tiket di website KAI-nya China, di Trip.com ada selisih biaya layanan Rp 45.000/tiket/rute, ah tapi yasudahlah, nggak mau ribet kan. Akhirnya aku booking tiket-tiket kereta penting ini: 1)Kunming – Lijiang 2)Lijiang – Shangri-La 3)Shangri-La – Dali 4)Dali – Kunming 5)Chengdu – Huanglong Jiuzhai dan terakhir 6)Huanglong Jiuzhai – Chengdu
Huahhh... lega rasanya setelah semua pembelian tiket kereta selesai, setidaknya aku tahu spine dari itinerary ini udah terbentuk kuat! Yaah meskipun itu sistemnya masih pre-booking, tapi aku yakin kok bakal mendapatkan semua tiketnya! Next step!
Next, tiket pesawat kembali ke Indonesia!
Dari tiket kereta diatas, terlihat bahwa perjalanannku akan dimulai dari Kota Kunming dan berakhir di Kota Chengdu. Seperti udah kujelaskan diatas, aku sudah mempunyai tiket pesawat Kuala Lumpur - Kunming. Sebagai pelengkap, aku harus membeli juga tiket pesawat dari Chengdu kembali ke Asia Tenggara (Singapore, Malaysia, Indonesia), serta Indonesia ke Kuala Lumpur PP. Setelah pencarian yang cukup intens, aku memutuskan beli tiket Shenzhen Airlines dari Chengdu ke Kuala Lumpur, transit di Shenzhen. Harganya oke, waktunya pas, dan yang penting yaitu landing di KL, yang punya banyak opsi penerbangan murah ke Indonesia.
- Lokasi harus strategis—tengah kota, deket pusat keramaian traveler atau spot populer kayak kota tua, pasar malam, atau jalur backpacker. Biar gampang dicari, gampang cari makan dan suasana nggak sepi.
- Harga maksimal 250 ribu rupiah per malam—karena ini trip panjang dan nginepnya banyak malam, budget harus dikontrol banget.
- Toilet dan shower harus berdekatan. Bukan demi drama air panas, tapi demi satu hal yaitu.... cebok wkwkwk. Ya, aku butuh shower yang bisa ditarik ke WC, karena aku masih nggak nyaman cebok pakai tissue. Wkwkwk… kebutuhan dasar, tapi krusial.
Sekarang tinggal lanjut ke persiapan akhir yaitu booking aktivitas yang harus dirampungkan dari jauh-jauh hari. Traveling ke China kali ini benar-benar jadi proses persiapan paling panjang dan terdetail yang pernah kulakukan. Nggak seperti perjalanan-perjalananku sebelumnya yang kadang serba spontan dan "yaudah nanti beli aja di tempat", kali ini semua harus dirancang dengan teliti—dari rute, visa, tiket kereta, tiket pesawat, hotel, sampai itinerary harian. Untuk booking aktivitas harian ini, lagi-lagi aku mempercayakan ke trip.com karena disitu sudah banyak paket yang disediakan.
Berdasar itinerary yang udah aku susun sebelumnya, salah dua kota yang akan kukunjungi adalah Lijiang dan Jiuzhaigao. Berdasar browsingku, salah satu tempat di Lijiang yang wajib banget dikunjungi itu adalah Yulong Snow Mountain; sementara untuk Jiuzhaigao adalah Taman Nasional Jiuazhaigao.
Yulong Snow Mountain
Aku benar-benar mempelajari seluk beluk Yulong Snow Mountain sebelum eksekusi, karena ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata utama di Lijiang, yang berarti bakalan rame banget nantinya. Berikut poin-poin penting yang aku pelajari tentang Yulong Snow Mountain:
1. Jadi titik-titik pemandangan di Yulong Snow Mountain itu bisa diakses dengan beberapa kereta gantung yang ada didalam taman. Ada beberapa cableway (kereta gantung) dengan ketinggian dan tujuan yang berbeda. Yang paling populer dan tinggi adalah:
a. Glacier Park Cableway
Mengangkut pengunjung dari sekitar 3.356 m hingga 4.506 m di atas permukaan laut,
Setelah turunnya, tersedia jalur kayu yang mengarah ke observation deck di 4.680 m, tempat pengunjung bisa melihat gletser Baishui No.1 dan puncak Yulong yang megah,
Pemandangannya mencakup lanskap gletser yang spektakuler, formasi es, dan puncak-puncak yang sering tertutup salju, sangat dramatis bagi foto dan penggemar alam tinggi .
b. Yak Meadow Cableway
Berangkat dari ketinggian sekitar 3.600–3.700 m, berkisar antara 3.600 m ke 4.000 m atau mencapai 3.650–3.700 m
Pemandangannya berupa padang alpine yang luas, dihiasi yak yang merumput, dan latar belakang puncak bersalju; sangat cocok untuk pengalaman tenang dan pemandangan lembah luas
Terkesan lebih santai dibanding Glacier Park, dengan jalur terbuka dan suasana meditatif
2. Tiket masuk kawasan Yulong Snow Mountain itu terpisah dari tiket cableway. Jadi kita harus beli dua tiket: satu untuk kawasan, satu lagi untuk cable car-nya. Biasanya juga ada tambahan biaya shuttle bus wajib, karena kendaraan umum/pengunjung tidak boleh masuk langsung ke area cable car.
Untuk tiket masuk kawasan Yulong Snow Mountain, nanti bisa dibayarkan ditempat saja. Biasanya sudah ada petugas yang nyamperin kita bahkan saat masih di mobil di gerbang masuk, dan bisa dibayarkan dengan Alipay. Biaya 100 RMB/orang.
3. Di atas, ada oksigen tipis, jadi banyak orang beli tabung oksigen kecil sebelum naik cable car. Ini penting apalagi kalau badan lagi kurang fit.
Oksigen bisa dibeli di Kota Lijiang sebelum berangkat, harganya sekitar 15-20 Yuan pertabung portable.
4. Cuaca dan suhu bisa sangat dingin, bahkan saat musim semi, jadi jaket tebal dan sarung tangan wajib hukumnya.
5. View di atas luar biasa: pemandangan salju, pegunungan, dan langit biru jernih yang benar-benar bikin takjub. Nggak heran kalau tempat ini sering disebut “Swiss-nya China”.
6. Lijiang Impression Show (Impression Lijiang Performance)
-
Ini adalah pertunjukan budaya raksasa karya sutradara terkenal Zhang Yimou (yang juga menggarap pembukaan Olimpiade Beijing 2008).
-
Pertunjukan dilakukan di open-air theater dengan latar belakang megah puncak Yulong Snow Mountain. Jadi, bukan sekadar panggung biasa, tapi alam yang jadi latarnya.
-
Lebih dari 500 penampil (kebanyakan adalah penduduk lokal dari suku minoritas Naxi, Yi, dan Bai) menampilkan tarian, nyanyian, dan ritual tradisional yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di dataran tinggi Yunnan.
-
Durasi sekitar 1 jam, dan biasanya dipentaskan beberapa kali dalam sehari (pagi/siang).
-
Suasananya sangat epik dan monumental: musik menggema di udara tipis pegunungan, penari-penari berpakaian tradisional bergerak serempak, dengan Yulong Snow Mountain menjulang di belakang. Banyak yang bilang ini pengalaman yang bikin merinding.
7. Blue Moon Valley
-
Terletak di kaki Yulong Snow Mountain, dekat Gletser Baishui.
-
Disebut “Blue Moon Valley” karena aliran airnya berwarna biru toska terang dan bentuk lembahnya menyerupai bulan sabit jika dilihat dari atas.
-
Pemandangannya mirip danau-danau Alpen: air jernih dengan pantulan pegunungan salju, dikelilingi hutan pinus dan padang rumput.
-
Tempat ini sangat populer untuk jalan santai dan fotografi, apalagi kalau cuaca cerah.
-
Kadang disebut juga sebagai “Little Jiuzhaigou” karena warna air dan suasananya mirip dengan Taman Nasional Jiuzhaigao, tapi versi mini.
Setelah yakin ngerti sistemnya, barulah aku akan lanjut ke proses booking tiketnya secara online, supaya saat tiba di Lijiang, aku tinggal tunjuk bukti booking dan langsung berangkat.
OK, 7 poin itulah yang kusimpulkan dari Yulong Snow Mountain. Awalnya tentu saja aku ingin bisa mengunjungi semua tempat itu dalam 1 hari. Tapi setelah browsing lebih dalam, ternyata itu tidak memungkinkan karena jarak antar tempat wisata cukup berjauhan, dan tentu saja jangan melupakan kata "antri" ketika masuk tempat wisata di China. Penduduknya mereka sendiri aja udah lebih dari 1 miliar, dan mereka juga hobi berwisata. Jadi bisa disimpulkan sendiri wkwkwk....
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, aku mengambil paket Glacier Cable Way + Electronic Car ke Blue Moon dan Lijiang Impression Show dari Trip.Com. Biayanya sekitar 750rb rupiah. Cableway lainnya? Pengeeen... tapi berdasar browsingku, ga memungkinkan untuk mengunjungi itu semua dalam 1 hari, jadi aku mengambil yang paling utama aja. Semoga pilihan paling tepat.
-
Tiket masuk wajib dibeli secara online. Saat ini tidak ada penjualan tiket on the spot di loket taman, jadi semua pengunjung harus reservasi lewat platform resmi atau mitra penjual tiket.
-
Salah satu platform yang umum dipakai wisatawan asing adalah Trip.com, tapi penjualannya baru dibuka sekitar 7 hari sebelum tanggal kunjungan. Jadi, kalau kamu browsing jauh hari sebelumnya, kemungkinan tiketnya memang belum tersedia -- OK karena Jiuzhaigao adalah kota terakhir yang kukunjungi, dimana itu masih 2 bulan kedepan maka aku belum bisa booking tiket masuknya. Aku cuma memberikan reminder di HP-ku untuk segera booking seminggu sebelum kedatanganku kesana.
-
Kuota pengunjung per hari dibatasi ketat (demi konservasi taman), sehingga booking cepat begitu penjualan dibuka sangat disarankan, apalagi di musim liburan atau golden week.
-
Sistem tiket biasanya sudah termasuk akses shuttle bus dalam taman (karena kendaraan pribadi dilarang masuk), jadi kamu akan berganti dari pintu utama ke bus internal yang berhenti di spot-spot utama. Harga tiket masuk + shuttle bus sekitar 600ribuan.
9.02.2025
[1] CHINA - TIBET 2025 : Kenapa China dan Tibet??
Pertengahan Tahun 2024
Sepanjang tahun 2024, entah kenapa banyak konten reels maupun tiktok tentang wisata China yang membanjiri FYP-ku. Awalnya aku cuma scroll-scroll iseng, tapi kok lama-lama jadi sering banget muncul video yang menunjukkan tempat-tempat yang nggak realistis. Ada tangga kabut Pegunungan Tianmen yang seolah menuju langit, padang hijau Harbin yang membentang sampai menyentuh awan, pegunungan Avatar Zhangjiajie yang seperti dunia fantasi melayang, perbukitan warna-warni Danxia bak kanvas raksasa bumi, ditambah Kota Chongqing yang modern dengan gedung-gedung tinggi tapi terasa masih di lantai dasar, kereta cepat yang melesat hampir di semua rute, dan jalan aspal mulus yang membelah perbukitan curam membuat lanskap Tiongkok seperti kumpulan dunia berbeda yang disatukan dalam satu negeri.
Perasaanku waktu nonton tentu aja terkagum-kagum.
"Lho, ini beneran ada di dunia nyata? Dan itu… di China?!"
Serius, vibe-nya tuh nggak main-main. Seperti setting film, seperti dunia fantasi, tapi ini... nyata!
Dari situ muncul rasa penasaran. "Aku harus lihat sendiri nih. Bener nggak sih seindah itu? Se-tidak nyata itu pemandangannya?"
Dan karena aku tipe orang yang nggak bisa puas cuma dengan nonton, akhirnya aku memutuskan China resmi menjadi tempat yang kukunjungi tahun 2025 ini. Dan karena aku suka tujuan antimainstream, aku memutuskan untuk menambahkan juga Mongolia ke dalam perjalanan ini. Btw, ini memang hal yang kulakukan tiap tahun, tepatnya saat libur panjang Idul Fitri, yaitu traveling ke tempat yang jauh dan akhir-akhir ini cenderung 'antimainstream'. Setelah tahun 2023 mengunjungi Asia Tengah (Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Uzbekistan), 2024 mengunjungi Rusia dan Oman, 2025 ini aku siap membuat pengalaman baru di China dan Mongolia!
Kenapa harus pas Idul Fitri? Karena di saat itu hampir semua kantor pemerintahan dan instansi tutup total, sehingga pekerjaan freelance-ku yang banyak berhubungan dengan dinas juga otomatis jeda. Nggak ada klien yang ngejar-ngejar, nggak ada deadline mendesak. Itu lah waktu paling ideal buatku benar-benar lepas, pergi jauh, dan mengejar perjalanan panjang tanpa rasa bersalah meninggalkan kerjaan.
Kemana saja?
Sejak memutuskan China adalah tujuan travelingku tahun 2025, selanjutnya aku pun mulai serius mencari tahu tentang kota-kota mana aja yang harus kukunjungi. Dan aku harus mulai dari kota mana? Mendapat inspirasi dari konten-konten tiktok dan reels itu, minatku memang cenderung ke wisata alam dengan pemandangan dramatis, budaya lokal yang kental, dan sejarah. Jadi aku butuh destinasi yang bukan cuma cantik di kamera, tapi juga punya cerita dan nuansa unik yang bisa diceritakan.
Beberapa minggu setelahnya, di sela-sela pekerjaan yang menumpuk, aku sempatkan untuk mencari jawaban atas pertanyaanku diatas. Aku mulai dari nonton reels dan tiktok, baca blog perjalanan, sampai buka-buka Google Maps buat cek tempat-tempat paling indah yang ada di China. Dari sekian banyak tempat, aku memutuskan ada 3 destinasi utama yang kupilih:
Rencana rute awalku..
Video demi video memperlihatkan keindahan Yunnan yang benar-benar luar biasa! Ada Kota Tua Lijiang dengan atap-atap kayunya yang rapi dan sungai kecil yang mengalir di antara rumah-rumah tradisional. Pegunungan bersalju di Yulong Snow Mountain yang berdiri megah di bawah langit biru. Desa kuno Shuhe yang terasa damai, Danau Erhai yang tenang, sawah bertingkat di Yuanyang yang katanya setara dengan Banaue di Filipina, dan jalan setapak di Shangri-La yang seperti di dunia fiksi. Belum lagi pertunjukan megah Lijiang Show yang dipentaskan dengan latar langsung Yulong Snow Mountain, serta fenomena alam Blue Moon di Lijiang yang membuat suasana kota tua ini makin terasa magis—seakan Yunnan benar-benar diciptakan untuk menggabungkan realitas dengan dongeng. Dan vibe-nya beda banget dari tempat-tempat China yang biasanya muncul di media. Di Yunnan, aku merasa seperti menemukan sisi lain China—yang lebih tenang, lebih hijau, lebih etnik, dan penuh budaya lokal dari suku-sukunya.
Sejak itu, jujur aja… aku mulai “selingkuh” dari tujuan awal perjalananku. Zhangjiajie yang tadinya jadi bintang utama perlahan mulai tenggelam di bayang-bayang Yunnan. Kota-kota di provinsi itu seperti Lijiang, Dali, Shangri-La, benar-benar membuatku sulit mengubah pikiran lagi. Kota tuanya bukan sekadar estetik buat foto-foto, tapi hidup dengan budaya lokal. Lanskapnya bukan cuma pemandangan, tapi kombinasi antara danau, pegunungan salju, padang rumput, dan desa-desa etnik yang seolah berhenti di waktu. Bahkan, jalan darat dari Lijiang ke Shangri-La itu katanya salah satu rute tercantik di China barat daya.
Disini aku mencoba berpikir logis. Waktu travelingku (yang disesuaikan dengan liburan idul fitri yang bisa molor-molor dikit) dan ketahananku supaya tidak terlalu bosan di jalan, adalah 2-3 minggu. Dan dengan durasi segitu, aku tahu harus memilih. Kenapa harus memilih? Karena jarak dari kota-kota di Yunnan dengan Zhangjiajie, Shaolin Temple dan Beijing itu jauhnya bukan main. Kalau kupaksa semua harus dikunjungi, selain sangat melelahkan di jalan, biaya transportasinya juga tidak sedikit.
Jadi ya gitu, Yunnan bukan cuma pilihan terbaik, tapi juga yang paling manusiawi buat aku saat ini. Pemandangannya indah, budayanya kaya, aksesnya gampang, dan suhunya bersahabat.
11 Desember 2024..
Booking Tiket....
Perasaanku campur aduk waktu itu. Antara lega dan excited. Karena rasanya beda ya, antara wacana dan eksekusi. Setelah sekian lama cuma liatin Kota Tua Lijiang, Kota Tua Dali di TikTok, baca-baca pengalaman orang ke Shangri-La, baca-baca pengalaman orang di grup backpacker, sekarang aku sudah mempunyai tiketnya kesana!
Tibet terlalu menggoda....
Aku melihat ulang blog-ku ini...
Berdasarkan browsingku di situs mereka, untuk tujuan Tibet, pilihannya ada beberapa variasi.
- Ada yang 3 hari, cuma eksplor Lhasa dan sekitarnya—kuil-kuil utama, Potala Palace, dan pasar lokal.
- Lalu ada 5 hari buat yang mau mulai nyicip daerah luar Lhasa sampai EBC.
- Terus lanjut ke 7 hari, 8 hari, 9 hari—semakin panjang, semakin liar rutenya., termasuk EBC dan beberapa danau.
Setelah berhari-hari browsing, buka tab demi tab, baca review dan bandingkan itinerary, akhirnya aku memberanikan diri mengisi form enquiry di Asia Odyssey Travel—agen tour yang setelah kuulik, ternyata memang salah satu yang terbesar dan paling kredibel di China buat perjalanan ke Tibet.
Awalnya deg-degan juga. Ini bukan booking hostel biasa atau tiket kereta, tapi masuk ke wilayah “serius” yaitu daftar tur resmi. Dalam dua hari, aku dapat balasan email dari seorang agen bernama Mr. Wang, dan dari situlah awal mula segala percakapan dimulai. Mr. Wang menjelaskan semuanya dengan cukup detail dan sabar. Dia jelasin soal itinerary hari demi hari, dokumen yang dibutuhkan, jenis akomodasi, hingga rute perjalanan menuju Everest Base Camp. Tapi yang bikin aku makin mantap adalah ketika dia bilang:
Tiba-tiba semuanya terasa nyata. Aku bukan lagi sekadar traveler yang mengintip Tibet dari layar ponsel, tapi bakal benar-benar menjelajahi atap dunia. Dari Lhasa sampai EBC. Dari kereta panjang yang menembus dataran tinggi, sampai biara-biara sunyi yang berdiri anggun di bawah langit biru. Tibet bukan lagi mimpi. Dia sekarang jadi tujuanku!
Ini dia, andrenalinku mulai naik! Inilah yang kuharapkan sebelum mulai suatu perjalanan. Setelah obrolan panjang dengan Mr. Wang, aku segera melakukan pendaftaran resmi. Aku mengirimkan scan paspor dan membayar DP tahap pertama—tanda bahwa aku benar-benar serius menapaki jalan ke Tibet. Dari sekian banyak tanggal keberangkatan, aku memilih yang paling pas dengan rencana perjalanan panjangku yaitu 2–8 April.
Beberapa hari aku browsing—mantengin peta, buka aplikasi flight search, cek harga, dan ngebandingin rute. Aku cari kota yang masih dalam jangkauan harga pesawat dari Lhasa; harga tiket kembali ke Singapura/Malaysia/Indonesia juga realistis; dan tentu saja… kota itu punya daya tarik untuk dijelajahi.
Aku sempat berpikir ingin landing di Kota Zhangjiajie, untuk lanjut eksplor Pegunungan Tianmen, sesuai rencana awalku kenapa aku ingin banget mengunjungi China. Namun ternyata.. tiket pesawat sekali berangkat dari Lhasa ke Zhangjiajie hampir 3 juta per-orang. Menurutku masih cukup mahal... Aku mencari alternatif lain. Setelah browsing beberapa hari, zoom in dan zoom out google maps, akhirnya aku dapat 3 kandidat kota yaitu Chengdu, Chongqing, dan kembali ke Kunming.
Dan dari semua itu, dengan segala pertimbangan dan rasa penasaran, aku memilih....Chengdu. Alasannya simpel. Harga tiket dari Lhasa ke Chengdu masih masuk akal (ada di kisaran 1,8 jt - 2,5 jt sekali jalan); dari Chengdu ke Jakarta/KL/Singapura juga banyak pilihan maskapai dan tanggal fleksibel; dan yang paling penting di Chengdu ada pusat
Jadi, setelah dari dataran tinggi Tibet, aku akan “turun gunung” ke Chengdu—mungkin untuk leyeh-leyeh, ngelus panda, atau sekadar menenangkan hati setelah petualangan luar biasa dari atap dunia. Awalnya aku pikir, "Udah lah, di Chengdu cukup 2 harian aja, santai-santai sebelum pulang ke Indonesia." Rencanaku simpel. Jalan-jalan di kota, makan hotpot, ngelus panda, leyeh-leyeh di hostel yang proper. Setelah petualangan Tibet, rasanya memang butuh istirahat.
Menimbang semua energi yang akan terkuras setelah pulang dari Tibet, plus perjalanan darat yang lumayan menguras fisik ke Jiuzhaigou, aku akhirnya memutuskan untuk menambahkan 4 hari ekstra setelah tanggal 8 April. Karena ya, kalau mau menikmati Taman Nasional Jiuzhaigou dengan layak—tanpa terburu-buru, tanpa ngos-ngosan, tanpa badan ngilu—aku butuh waktu.
Dan akhirnya, kerangka itinerary perjalananku terbentuk:
23 Maret – 2 April 2025









.jpg)











