Rangkaian cerita ini akan menceritakan perjalananku backpackeran ke Eropa (Barat) dari 21 Juni 2017 - 2 Juli 2027. Perjalananku ke Eropa bermula dari keinginan mengunjungi Rusia pada 2016. Bagaimana ceritanya? Apakah akhirnya aku berhasil mengunjungi Rusia, Rusia dan Eropa atau Eropa saja? Beginilah kisahku...
***
Solo, 8 Februari 2016
Masih bermimpi....
Aku putuskan untuk melewatkan Republik Ceko dan memilih Prancis sebagai alternatif. Kenapa mendadak banget? Ya karena menurutku, Prancis itu terlalu sayang kalau dilewatkan! Ya inilah pikiranku, berubah-ubah terus setelah sebelumnya terpesona sama Eropa Timur! Wkwkk..
Gimana ceritanya aku bisa mengunjungi Colosseum, Menara Miring Pisa, dan Kota Vatican, tapi tidak sekalian ke Menara Eiffel, Museum Louvre, dan Katedral Notre Dame? Jaraknya dekat banget, dan tiket pesawat dari Paris ke Roma cuma sekitar 30 USD. Sayang banget kalau nggak sekalian. Nggak mungkin aku melewatkannya.
Aku pengen naik Menara Eiffel sampai ke puncaknya dan melihat kota Paris dari ketinggian. Tiketnya 17 euro. Aku juga ingin melihat langsung karya paling terkenal Leonardo da Vinci, Mona Lisa. Dan tentu saja, aku ingin duduk santai nongkrong di kafe outdoor khas Paris. Ahhh... excited!



Sejak perubahan kedua itu, jujur saja… tujuan ke Rusia dengan tetap mempertahankan maskapai yang sama makin terasa kabur. Kalau harus diprosentase, mungkin keyakinanku tinggal sekitar 30% saja.
“Apa kita refund aja ya?”
Suatu hari Fredo nge-chat aku.
Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama muter-muter di kepalaku, tapi aku belum berani menjawab. Refund itu kelihatannya gampang, tapi konsekuensinya nggak sesederhana itu. Gimana kalau direfund, lalu justru tiket pengganti ke Rusia jadi jauh lebih mahal? Atau malah nggak dapat tanggal yang pas? Aku masih menunggu. Beberapa hari. Berharap ada kejelasan. Berharap setidaknya perasaan galau ini mereda.
Tapi ternyata nggak..Yang ada justru pikiran makin liar!
Gimana kalau tiket ini berubah lagi di detik-detik terakhir sebelum berangkat?
Padahal saat itu aku masih kerja kantoran 9–5. Berangkat saja aku sudah harus ambil izin kerja 3 hari. Kalau pulangnya tiba-tiba ditunda lagi? Nggak kebayang harus jelasin apa ke kantor. Rasanya mimpi besar ini mulai berbenturan langsung dengan realita yang nggak bisa ditawar.
Beberapa hari aku galau. Benar-benar galau. Di satu sisi, Rusia adalah mimpi lamaku. Di sisi lain, aku capek dengan ketidakpastian.
Sampai akhirnya, di pertengahan Mei, setelah bolak-balik mikir, diskusi, dan overthinking sendirian… aku memutuskan sesuatu.
Oke.
EROPA saja.
Mari kita coba jalur yang lebih pasti. Kita buat Visa Schengen dulu. Kalau ini berhasil… aku akan refund semua tiketnya.
UPDATE:
17 Mei 2017
Ajukan Visa Schengen..
Bagian ini sebenarnya layak jadi cerita tersendiri, jadi aku tulis sebagai postingan terpisah. Bisa diklik di sini.
Singkatnya begini. Pada 17 Mei 2017, aku akhirnya mengajukan Visa Schengen melalui VFS Global Surabaya. Ini benar-benar perasaan campur aduk antara deg-degan, pasrah, dan berharap karena setelah semua dokumen dikumpulkan dan diserahkan, aku cuma bisa menunggu.
Ketika paspor dikembalikan, ketika visa ditempel, berarti disetujui. Ketika tidak ada visa ditempel, berarti ditolak. Kita tidak benar-benar tau sampai paspor di tangan kita dan membukanya sendiri.
Keesokan harinya, 18 Mei 2017, aku menerima email konfirmasi. Aplikasiku resmi dikirim ke RSO Netherlands di Kuala Lumpur. Sejak saat itu, tiap buka email rasanya jantung selalu ikut deg-degan. Setiap notifikasi masuk, aku berharap itu kabar baik.
Dan akhirnya…
pada 2 Juni 2017, paspor yang kutunggu itu datang!
Visa Schengen granted.
Masa berlaku 45 hari.

Yesss!
Perasaan lega yang luar biasa. Semua kegalauan, kebimbangan, dan ketidakpastian beberapa bulan terakhir seakan terbayar. Di titik ini, Eropa bukan lagi sekadar rencana di kepala. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang nyata, bisa disentuh, dan tinggal dihitung mundur harinya.
Satu pintu sudah terbuka.
Dan setelah itu… keputusan besar berikutnya pun tak bisa lagi ditunda.
Aku harus cari tiket kesana!
Setelah resmi mengantongi Visa Schengen, akhirnya aku juga resmi mengambil keputusan yang sejak lama menggantung di kepala, yaitu...membatalkan perjalanan ke Rusia.
Keputusan ini bukan karena Rusia tiba-tiba kehilangan daya tariknya. Bukan. Rusia tetap ada di daftar mimpi terbesarku. Tapi saat itu aku harus realistis. Waktu liburku terbatas, dan danaku juga terbatas. Sementara Eropa… terlalu luas, terlalu menggoda, dan terlalu sayang kalau hanya disentuh sebentar sambil setengah-setengah karena harus membagi fokus dengan Rusia.
Aku sadar, memaksakan semuanya justru bisa membuat perjalanan ini kehilangan maknanya....
Dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit sedih—aku mulai menjalankan tahap pertama dari keputusan besar itu yaitu mengajukan refund tiket KL–Moscow–KL yang sebelumnya kubeli dengan Vietnam Airlines. Semoga saja dananya segera cair, untukku membeli tiket ke Eropa.

“Luhhh… maaf banget… ternyata aku nggak bisa pergi Lebaran ini.
Aku udah ditegur dan diultimatum keluargaku.
Kalau aku tetap traveling pas libur Lebaran, namaku bakal dicoret dari KK.”
Hikz…
Aku bengong beberapa detik membaca chat WA itu.
Like… whaaaat?
Bukannya dia yang duluan mengide semua ini?? Bukannya kita sudah sama-sama mengurus dan mendapatkan visa Schengen?? Dan sekarang, di saat keberangkatan tinggal hitungan minggu, semuanya tiba-tiba dia batalkan begitu saja??
Tiba-tiba, kepalaku pening. Di kepala, rencana-rencana yang sebelumnya kususun berdua, mendadak harus kususun ulang sendirian. Perasaanku benar-benar jatuh. Kecewa, campur aduk, dan jujur saja… takut. Gimanapun juga, pengalaman traveling terjauhku selama ini baru sampai Beijing. Dan sekarang aku sedang merencanakan perjalanan ke Eropa, seorang diri.
Butuh beberapa saat bagiku untuk akhirnya bisa membalas chat Fredo.
"Wahhhh.... yaudah piye maneh.." kataku dengan setengah tidak niat membalas WA-nya.
Setelah mengirim pesan itu, aku terdiam. Bukan marah, lebih ke lelah. Tapi setelah beberapa menit, aku mulai mencoba melihatnya dari sisi lain. Pelan-pelan, aku bisa mengerti kenapa keluarganya mengultimatum dia seperti itu.
Lebaran tahun sebelumnya, 2016, kami memang sudah traveling bareng ke India dan Nepal. Itu berarti Fredo, yang muslim, sudah melewatkan satu momen penting untuk berkumpul dengan keluarga besarnya di hari raya. Momen yang datang setahun sekali, dan bagi banyak keluarga, nilainya tidak bisa digantikan dengan apa pun. Kalau tahun 2017 ini dia kembali tidak merayakan Lebaran bersama keluarganya, wajar jika mereka merasa kecewa. Wajar jika akhirnya ada batas yang ditarik.
Aku menarik napas panjang.
Oke…
aku mengerti.
Tidak semua keputusan harus dipaksakan. Tidak semua perjalanan harus dijalani bersama. Mungkin, kali ini, perjalananku memang ditakdirkan untuk ditempuh sendiri.
***
Setelah beberapa saat bengong dan menarik napas panjang, aku kembali menatap layar laptop. Tiket Scoot itu masih terbuka di depan mata. Tanpa rute pasti, tanpa travelmate, tapi dengan satu keputusan yang harus segera diambil.
Akhirnya, dengan perasaan yang belum sepenuhnya siap untuk kembali solo backpacker, aku menekan tombol beli.
Aku resmi membeli tiket Athena – Singapura seharga 2,8 juta lewat Airpaz. Meski rute perjalananku belum benar-benar terbentuk, satu hal sudah pasti saat itu:
aku akan pulang dari Yunani.
Yunani, I’m coming.
Untuk tiket berangkat, aku masih belum dapat. Sempat muncul opsi Scoot juga, dengan rute Denpasar – Athena seharga sekitar 5 juta. Murah banget, sebenarnya. Tapi entah kenapa, setiap kali aku mencoba membelinya, pembayaranku selalu ditolak. Berkali-kali. Aku sempat heran, lalu pasrah. Mungkin memang belum takdirnya.
Pilihan lain yang tersisa saat itu hanya maskapai besar seperti Emirates, Turkish Airlines, Malaysia Airlines, dan Etihad. Semuanya ada… tapi harganya mahal banget. Jauh di atas budget yang sudah kutetapkan. Huhu.
Akhirnya aku hanya bisa membuat rencana sementara. Aku mulai mencari-cari tiket dari berbagai kota seperti Singapura, Kuala Lumpur, Denpasar, atau Surabaya, dengan tujuan Amsterdam. Belum ada yang benar-benar klik. Gpp.. aku masih punya waktu, nanti juga akan ketemu.
Kurang lebih satu minggu setelah membatalkan tiket KL–Moscow–KL, dan setelah refund uangku sekitar 5 jutaan cair, aku kembali serius hunting tiket keberangkatan ke Eropa. Tiap hari yang kulakukan hanya bolak-balik buka website maskapai, bandingkan harga, dan menimbang-nimbang rute.
Akhirnya, setelah berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk membeli tiket KL – Paris dengan Turkish Airlines, seharga sekitar 5,5 jutaan.
Yeee…
Finally, lengkap juga!
Dengan tiket berangkat ini, gambaran perjalananku mulai terbentuk. Aku akan mendarat di Paris dan pulang dari Yunani. Setidaknya, kini sudah ada titik awal dan titik akhir.Bonusnya, penerbangan ini memberikan waktu transit di Istanbul dari pukul 05.15 sampai 15.30. Cukup panjang untuk keluar bandara dan sedikit eksplor kota. Yess!
Di titik ini, kepercayaan diriku untuk solo backpacking perlahan kembali naik. Aku sudah tidak terlalu memikirkan lagi soal sendirian atau ada travelmate. Yang penting sekarang cuma satu, mimpiku.
Aku sudah melangkah sejauh ini.
Visa sudah di tangan.
Tiket pulang dan tiket berangkat sudah ada.
Aku tidak mau berhenti hanya karena takut.
Entah sendirian atau bersama orang lain, perjalanan ini harus terwujud!
Beberapa hari setelah mengunci tiket KL–Paris di tangan, aku mulai meraba-raba rencana perjalananku selama di Eropa. Aku membuka peta, membandingkan jalur kereta dan bus murah, menghitung jarak antar kota, dan mencoba menyusun alur paling masuk akal dari Paris. Dengan berbagai pertimbangan, pilihan yang terasa paling aman saat itu adalah Paris – Rotterdam (Belanda). Belanda.. siapa sih yang ga ngiler menginjakkan kaki di negeri kincir angin ini? Aku menimbang beberapa mode trasnportasi. Jarak kedua kota itu memang ga terlalu jauh, ada kereta dan bus. Karena kereta masih lumayan mahal, aku mengambil opsi tiket bus.
Bukan maksudku sok berbeda atau merasa lebih hebat. Tapi aku memang menyadari satu hal tentang diriku sendiri. Aku selalu tertarik pada perjalanan yang tidak biasa. Tempat-tempat yang terasa asing. Yang jauh, sepi, dan jarang diceritakan. Tempat di mana aku bisa mengamati detail kehidupan sehari-hari, lalu membawanya pulang sebagai cerita.
Dan di situlah kebingunganku muncul.
Eropa Barat—seperti Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Swiss—jelas menggoda. Siapa yang tidak ingin melihat kanal Amsterdam, Colosseum di Roma, atau pegunungan Alpen yang fotogenik itu? Semuanya indah. Semuanya ikonik. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa… terlalu banyak yang sudah ke sana.
Bukan berarti aku meremehkan tempat-tempat itu. Bukan.
Aku hanya merasa, cerita tentang Eropa Barat sudah terlalu sering kudengar. Terlalu sering kulihat di layar ponsel orang lain. Sudut-sudutnya terasa familiar bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kaki di sana.
Aku mencari perasaan ini tentang suatu tempat...
Tempat yg dianggap unik, remote, jauh, tak terpikirkan utk dikunjungi, aku ingin membuat cerita bahwa semuanya SANGAT MUNGKIN dikunjungi.
Tempat yang membuatku berpikir,
“Oke… ini meningkatkan andrenalinku hanya dengan memikirkannya.”
Dan di tengah kebingungan itu, tiba-tiba muncul satu suara kecil di dalam hati:
“Kenapa nggak ke Islandia saja?”
Aku langsung membuka situs pencarian tiket. Dan aku terdiam cukup lama, terdiam dengan perasaan excited....Harga tiket pesawat Paris – Reykjavik (Islandia) hanya sekitar ......900 ribu rupiah.
Islandia.
Negara yang selama ini selalu ada di kepalaku sebagai tempat yang jauh, mahal, dingin, dan tidak terjangkau. Negara yang hampir bersentuhan dengan Greenland, dekat dengan Kanada, dan terasa begitu utara. Negara yang bahkan tak pernah terpikirkan akan benar-benar kukunjungi.
Dan anehnya…di titik itu, gairah perjalanan yang sempat padam menyala kembali. Inilah yang kucari! Bukan sekadar berpindah kota, tapi perasaan melangkah ke sesuatu yang terasa mustahil—lalu membuktikan bahwa itu sangat mungkin. Dan sejak saat itu, aku tahu. Keputusanku bukan berubah-ubah, melainkan sedang menemukan kembali alasan kenapa aku suka bepergian.
Tanpa menunggu lama, aku langsung booking tiket tersebut...
suara itu sempat kembali muncul di kepalaku. Kepulauan kecil di sebelah timur Islandia, terpencil dan berangin. Atau mungkin Lofoten Islands di utara Norwegia, gugusan pulau yang berbatasan langsung dengan Laut Norwegia dan Laut Barents?
Tapi kali ini aku menahan diri. Bukan karena tidak tertarik, melainkan karena harus realistis. Tiket ke tempat-tempat itu mahal—terutama jika dibeli terlalu dekat dengan tanggal keberangkatan. Aku tidak ingin kembali terjebak pada rencana yang terlalu ambisius.
Akhirnya aku memutuskan...
cukup satu saja—Islandia.
Bukan karena aku tidak ingin ke negara lain, justru sebaliknya. Islandia adalah pemantik. Negara yang kubutuhkan untuk menyalakan kembali gairah perjalananku sebelum melanjutkan ke negara-negara Eropa Barat lainnya.
Bagaimana aku nggak excited?? Islandia sendiri sudah terasa seperti laboratorium alam raksasa. Berdiri tepat di atas Mid-Atlantic Ridge, tempat dua lempeng benua—Amerika Utara dan Eurasia—saling menjauh dan memperlihatkan pemekaran kerak samudra yang tersingkap langsung di daratan. Sesuatu yang biasanya tersembunyi jauh di dasar laut.
Aku membayangkan berjalan di antara dua benua. Menyaksikan gletser, geyser, gunung api aktif, dan panas bumi yang mengepul dari dalam tanah. Di Islandia, es dan api benar-benar hidup berdampingan.
Membayangkannya saja sudah cukup membuat adrenalinku naik.
Dan setelah itu—setelah rasa takjub itu kutemukan—aku tahu aku masih akan melanjutkan perjalanan ke negara-negara Eropa Barat lainnya. Belanda, Italia, Yunani dan negara-negara lain tetap ada dalam rute. Hanya saja kini, aku akan melangkah ke sana dengan perasaan yang sudah kembali utuh.
Islandia bukan akhir.
Ia adalah awal yang kubutuhkan.
Seperti bisa dilihat di peta, letak negara ini berada di tengah Samudra Atlantik. Artinya, masuk dan keluar dari negara ini hanya bisa dilakukan via pesawat. Tidak ada jalur darat, kereta lintas negara, apalagi bus malam murah seperti di daratan Eropa. Karena itulah, setelah memutuskan Islandia sebagai bagian dari rute perjalananku, aku sadar satu hal penting. Urusan tiket keluar dari Islandia tidak bisa ditunda-tunda. Ini bukan negara yang bisa ditinggal nanti saja dipikirkan. Semuanya harus jelas sejak awal supaya rencana perjalananku selanjutnya tidak berantakan.
Aku mulai browsing pelan-pelan, membuka peta dan situs pencarian tiket, membandingkan rute penerbangan dari Reykjavik ke beberapa kota di Eropa. Satu hal langsung kutepis dari awal, aku nggak mau balik ke Prancis lagi. Rasanya muter, dan kurang efisien. Aku ingin mendarat di kota yang bisa jadi titik lanjut perjalanan daratku ke negara berikutnya yaitu Amsterdam. Aku memang ingin mengunjungi kota ini.
Awalnya, aku mencoba mencari penerbangan langsung dari Reykjavik ke Amsterdam. Tapi setelah kulihat harganya, aku langsung mengernyit. Mahal. Jauh lebih mahal dibandingkan rute ke kota-kota lain di Eropa. Aku mulai mencari alternatif. Kota-kota di Eropa yang jaraknya relatif dekat dengan Amsterdam, yang akses kereta atau bus-nya gampang, dan tentunya masih masuk akal secara harga. Aku bandingkan beberapa opsi, buka peta lagi, tutup, lalu buka lagi.
Sampai akhirnya pilihanku jatuh ke Berlin, harga tiketnya 100 euro.
Berlin terasa paling pas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Amsterdam, jalur daratnya jelas, dan konektivitasnya bagus. Dari sana, aku bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih fleksibel tanpa harus memutar terlalu jauh.
Setelah cukup yakin, aku pun membeli tiket Reykjavik – Berlin. Di titik itu, satu lagi potongan penting dari perjalanan ini akhirnya terkunci.
Entah kenapa, setelah rute Berlin ke Amsterdam beres, pikiranku langsung melayang ke Italia. Mungkin karena sejak dulu aku memang punya ikatan kecil dengan negara ini. Dulu, masa kecilku, aku adalah penggemar berat Juventus, dan otomatis juga mengidolakan timnas Italia di era Gianluigi Buffon. Bisa dibilang, ketertarikanku pada Italia sudah ada jauh sebelum rencana perjalanan ini benar-benar terbentuk.
Jadi dari Amsterdam, tanpa banyak ragu, aku memutuskan Italia akan jadi negara berikutnya. Aku langsung browsing tiket pesawat dari Amsterdam ke Roma. Nggak mau terlalu santai, karena aku sudah cukup kenyang dengan drama harga tiket yang bisa naik tiba-tiba kalau kelamaan mikir. Setelah membandingkan beberapa opsi, akhirnya aku menemukan yang paling masuk akal yaitu Vueling Airlines, maskapai low-cost asal Spanyol.
Murah, iya. Masuk budget. Tapi ya namanya juga tiket hemat, selalu ada “konsekuensi manisnya”.
Jam terbangnya… pagi banget. Jam 7. Wkwkwk
Artinya jelas. Aku harus bermalam di Bandara Amsterdam. Tidur di lantai dingin, beralas jaket, berselimut harapan dan doa, wkwk. Tapi ya mau gimana lagi. Demi hemat. Menginap di hostel hanya untuk beberapa jam rasanya sayang, belum lagi cari transport pagi-pagi buta ke bandara. Ribet.
Roma, tunggu aku.
Di titik ini aku mulai merasa rencana perjalananku sudah cukup padat. Terlalu banyak negara, terlalu banyak perpindahan, dan aku tidak ingin perjalanan ini berubah jadi sekadar mengejar daftar. Aku berhenti sebentar, membuka lagi semua tiket yang sudah kubeli, terutama tiket pulangku yang sudah jelas dari Yunani. Dari situ aku mengambil keputusan bahwa setelah Italia, aku akan langsung menuju negara terakhir, yaitu Yunani.
Sebetulnya, ketertarikanku pada Yunani sudah ada sejak lama. Cerita dewa-dewi, mitologi, reruntuhan kuno, dan laut birunya selalu terasa magis di kepalaku. Tapi aku juga tahu, aku tidak ingin langsung menuju Athena. Aku ingin mampir dulu ke satu tempat yang sejak lama terasa legendaris.
Santorini.
Aku mulai browsing tiket dari Roma ke Santorini, dengan ekspektasi harga yang mungkin mahal. Ternyata tidak. Masih masuk akal, dan tanpa terlalu banyak drama, aku langsung memutuskan untuk booking. Maskapainya lagi-lagi Vueling Airlines. Jam terbangnya tengah malam, dan pesawat mendarat di Santorini pukul 03.15 pagi. Artinya, aku harus kembali tidur di bandara. Ya namanya juga pesawat murah, wkwk. Capek dan ngantuk pasti, tapi rasanya tidak terlalu kupikirkan. Membayangkan bisa melihat sunset Santorini langsung dari tebingnya saja sudah cukup untuk menutup semua rasa lelah.
Masih di tanggal 19 Juni, aku sekalian juga membeli tiket masuk Museum Louvre secara online. Lagi-lagi, karena sedang mode planning on, sekalian saja dibereskan, sekalian keluar uang juga. Seperti rencanaku diatas, Perancis adalah negara pertama tempatku mendarat, dan aku punya waktu sekitar dua hari satu malam untuk mengeksplor Paris sebelum terbang ke Islandia. Tujuan beli tiket online duluan jelas. Biar nanti pas sudah di lokasi, aku nggak perlu repot-repot antre panjang. Tinggal tunjukkan e-ticket, masuk, dan selesai urusan.
Aku memang tipe yang suka museum, apalagi yang legendaris seperti Louvre. Bukan cuma karena Mona Lisa yang selalu jadi highlight, tapi juga karena arsitekturnya, koleksi seni Mesir Kuno, dan suasana museumnya yang katanya megah dan luas banget. Rasanya sayang kalau ke Paris tapi melewatkan tempat ini.
Semoga dengan beli tiket masuk Museum Louvre duluan, kedepannya nggak ada drama kehabisan tiket, nggak capek berdiri lama di antrean. Tinggal tap, masuk, lalu menikmati semua yang ada di dalamnya.
























0 comments:
Posting Komentar