Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

10.25.2024

[1] Balada Eropa : Dari Rusia ke Eropa, Keputusan yang Berubah-Ubah!

Rangkaian cerita ini akan menceritakan perjalananku backpackeran ke Eropa (Barat) dari 21 Juni 2017 - 2 Juli 2027. Perjalananku ke Eropa bermula dari keinginan mengunjungi Rusia pada 2016. Bagaimana ceritanya? Apakah akhirnya aku berhasil mengunjungi Rusia, Rusia dan Eropa atau Eropa saja? Beginilah kisahku...

***

Solo, 8 Februari 2016

Masih bermimpi....


"Believe....believe...believe..."

Lantunan lagu Justin Bieber berkumandang merdu dari speaker HP-ku. Entah kenapa, aku selalu termotivasi ketika mendengar lagu berjudul "believe" ini. Karena bagi orang sepertiku - pemimpi - , kata "believe" atau percaya adalah salah satu pendorong/booster untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Karena tanpa kepercayaan kepada diri kita untuk mewujudkan mimpi tersebut, aku yakin, mimpi tersebut hanya akan menjadi angan-angan belaka sebelum tidur.

Aku masih ingat, ketika SMA mempunyai sebuah notebook yang berisi cerita-cerita perjalanan hidupku. Mulai dari kegagalan saat mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Makassar pada 2008 sampai akhirnya berhasil dapat medali di OSN Jakarta 2009, cerita saat aku berhasil masuk UGM, mendapatkan beasiswa kuliah, cerita tentang mimpi-mimpi ke luar negeri, dan lain-lain. Di dalam buku tersebut aku menuliskan nama beberapa negara yang sangat ingin sekali kukunjungi suatu saat nanti. Pada daftar tersebut, salah satunya tertulis nama RUSIA.

Kenapa RUSIA? Well, menurutku, RUSIA itu negara yang sangat eksotis, dingin, nun jauh di utara sana. Aku tertarik sekali ingin mengunjungi negara ini karena keanekaragaman budaya, sejarah perang dunia II maupun komunisme di masa lalu. Selain itu, berdasarkan searching-ku di internet, pembuatan visa Russia tidaklah sesulit visa USA/Schengen/Australia sehingga aku semakin optimis akan kesini. Selain itu lagi, nilai tukar rubel - mata uang Russia - sedang rendah (1 rubel sekitar Rp 178 di Februari 2016) sehingga aku tidak terlalu terkendala masalah perbedaan currency.

Aku merencanakan akan mengunjungi RUSSIA pada musim panas 2017, tepatnya bulan Juni-Juli, sewaktu libur Idul Fitri 2017. Untuk tiket kesana aku akan mengusahakan mencari tiket termurah menggunakan Turki Airlines KL-Moscow-KL (7 juta PP dengan transit di Istanbul, Turki). Kota yang ingin kukunjungi adalah Moscow (beserta kota-kota kecil di sekitarnya yang sering disebut Golden Triangle), St. Petersburg dan Murmanks (kota yang sudah hampir berada di Kutub Utara pada pesisir Laut Barents - mungkin aku bisa melihat Aurora Borealis). Rencana aku akan mengambil penerbangan yang transit di Turki-nya cukup lama supaya bisa jalan-jalan di Kota Istanbul juga. Untuk pemegang paspor WNI, pembuatan visa Turki cukup dengan VOA dan membayar 45 USD (2016).

Aku sadar, tanpa uang trip ini akan mustahil untuk dilaksanakan. Oleh karenanya, aku terus memotivasi diri untuk menabung. Trik menabungku adalah sebagai berikut. Aku mempunyai 2 ATM (1 Bank X, 1 Bank Y). Uang yang ada di ATM Bank X kugunakan untuk biaya hidup sehari-hari, sementara uang yang ada di ATM Bank Y kugunakan untuk menabung. Setiap ada pemasukan langsung aku tabung. Syukurlah sedikit demi sedikit, tabunganku mulai bertambah. Aku merencanakan dalam waktu dekat akan menonaktifkan ATM Bank Y supaya tidak tergoda untuk ambil-ambil uang.

Semua usaha ini... aku lakukan.. supaya mimpiku benar-benar terwujud! See you and always be optimistic!! 


UPDATE:
23 AGUSTUS 2016

I Got the Ticket!!!!! KL-Hanoi-Moscow-Hanoi-KL!

Oh my God, I still can't believe it.




Pada suatu malam yang biasa saja, tetiba Fredo, salah satu teman travelingku mengirimkan pesan via whatsapp. Memberi informasi tentang promo tiket ke Moscow (Rusia) via maskapai Vietnam Airlines beli lewat traveloka. Hanya 5 jutaan PP dari Kuala Lumpur (transit via Hanoi). Untuk penerbangan itu termasuk murah karena untuk tarif normal bisa sekitar 7-8 Juta PP dari Kuala Lumpur.

Aku bahkan masih tidak percaya sudah menekan tombol konfirmasi....

Dari sebuah impian sederhana, sekarang aku benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk tahun depan pergi kesana.

Spasiba, myself for doing this!! (Thank You)

Sementara perkembangan baru di tiket ini saja. Tiket Indonesia-Kuala Lumpur PP belum beli, nanti saja menunggu promo. Akan aku update jika ada perkembangan lagi. Jangan takut bermimpi !!


UPDATE : 
21 September 2016
Europe is to close!

Ketika pertama kali aku melihat peta negara Rusia untuk membuat rencana perjalanan, aku melihat negara yang begitu luas dan besar. 

"From east to west, Russia is 5,592 miles wide. The country has a total land mass of almost 6,600,000 square miles and spans two continents, Europe and Asia. It is the largest country in the world in terms of land area."


Pada perbatasan sebelah barat, aku melihat deretan negara Scandinavia seperti Norwegia, Finlandia dan negara-negara Eropa Timur seperti Estonia, Latvia, Belarus, serta Ukraina. Dari kota terakhir yang kukunjungi di Russia - St. Petersburg - negara-negara tersebut terlihat sangat dekat dan terjangkau. Aku mulai berpikir, kenapa tidak pergi kesana juga? Aku mulai mencari informasi negara-negara di Eropa Timur yang tidak membutuhkan visa bagi Warga Negara Indonesia. Aku menemukan nama negara Armenia dan Belarusia.

Aku mengusulkan kepada calon travelmate, bagaimana kalau kita sekalian mengunjungi Armenia? Sekilas aku melihat negara ini dari google, aku menjumpai negara yang sangat cantik dengan perbukitan dan kastilnya. Negara ini bahkan jarang terdengar namanya di Indonesia, mungkin malah banyak yang tidak tahu lokasinya dimana.

Kastil di Armenia (SUMBER : Disini)

Travelmate setuju, malah beranggapan kita bisa sekalian mengunjungi Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil indah. Aku mulai bersemangat! Eropa Timur? Oh, benarkah aku akan merencanakan kesana? Impian yang mungkin sudah kupendam bertahun-tahun. Aku seakan takut membayangkannya.

Aku mulai mencari-cari informasi negara di Eropa Timur yang memiliki kastil-kastil cantik, dan pandanganku tertuju ke Republik Ceko, tepatnya kota Prague. Beberapa orang yang berkeliling Eropa selalu memuji-muji Prague dengan keindahan arsitektur kotanya.

Aku mulai melihat peta Eropa lagi. Sekarang malah pikiranku berubah lagi. Eropa Barat terlihat terlalu dekat! Serta berdasarkan browsingku lebih lanjut, tiket pesawat murah antar kota di Eropa bertebaran. Aku menatap Italia, mengusulkan nama Roma dan Vatikan kepada travelmate. Alternatif adalah Perancis. Kami mempunyai waktu sangat singkat dengan begitu banyak rencana, klasik khas gaya jalan saya dengan travelmate saya ini.

Dia Setuju!!

Rencana rute : KL - Hanoi - Moscow - St. Petersburg - Riga (Latvia) - Prague (Rep. ceko), Roma (Italia) - Vatican - Moscow - Ho Chi Minh City - KL

PS: Riga (Latvia) kami kunjungi jika ada waktu transit yang memungkinkan dari penerbangan St. Petersburg (Russia) - Prague (Rep. Ceko)

Bagaimana mungkin ini? Aku telah berani memutuskan pergi ke salah satu negara yang sudah menjadi impianku sejak aku kecil. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin memang masih ada tembok visa yang menghadang, tapi aku cukup optimis.

Sekarang ini aku masih berjuang mengumpulkan uang saku dan persiapan untuk membuat visa. Semoga semuanya berjalan lancar. Terimakasih Tuhan!


UPDATE : 
2 November 2016
France is too hard to be missed!

Plan has changed.... AGAIN! 
Duh... Sebenarnya ini mau kemana?? wkwkwk...

Aku putuskan untuk melewatkan Republik Ceko dan memilih Prancis sebagai alternatif. Kenapa mendadak banget? Ya karena menurutku, Prancis itu terlalu sayang kalau dilewatkan! Ya inilah pikiranku, berubah-ubah terus setelah sebelumnya terpesona sama Eropa Timur! Wkwkk..

Gimana ceritanya aku bisa mengunjungi Colosseum, Menara Miring Pisa, dan Kota Vatican, tapi tidak sekalian ke Menara Eiffel, Museum Louvre, dan Katedral Notre Dame? Jaraknya dekat banget, dan tiket pesawat dari Paris ke Roma cuma sekitar 30 USD. Sayang banget kalau nggak sekalian. Nggak mungkin aku melewatkannya.

Aku pengen naik Menara Eiffel sampai ke puncaknya dan melihat kota Paris dari ketinggian. Tiketnya 17 euro. Aku juga ingin melihat langsung karya paling terkenal Leonardo da Vinci, Mona Lisa. Dan tentu saja, aku ingin duduk santai nongkrong di kafe outdoor khas Paris. Ahhh... excited!

Ini itinerary baruku!


UPDATE : 
21 Desember 2016
Jadwal Penerbangan Berubah....
Pada tanggal ini tiba-tiba aku mendapatkan email dari Traveloka, agen tempatku membeli tiket KL-Moscow-KL bahwa Vietnam Airlines melakukan perubahan jam penerbangan. Berdasarkan jadwal baru yang diberikan, terdapat perubahan jadwal penerbangan Hanoi-Moscow. Okelah ya cuma mundur 3 jam dari keberangkatan semula.

Perubahan jadwal penerbangan Hanoi-Moscow. Okelah ya cuma mundur 3 jam dari keberangkatan semula.

Perubahan jadwal penerbangan dari Ho Chi Minh City ke KL, ini juga okelah ya. Cuma mundur 10 menit.

Kedua perubahan penerbangan itu aku merasa tidak masalah dan menyetujuinya. Toh masih di hari yang sama, hanya jamnya maju dan mundur.


UPDATE : 
3 Januari 2017
Berubah Lagi? Mundur 2 hari??Wtf!
Sekitar 3 mingguan setelah aku menerima email perubahan pertama diatas, di 3 Januari 2017 aku menerima email perubahan lagi dari Traveloka yang kedua dengan rincian seperti ini:

Perubahan jadwal penerbangan dari Moscow landing di HANOI, bukan di HO CHI MINH CITY (seperti tiket awal), whatt?? Penerbangan yang awalnya tanggal 2 juli berubah jadi 4 juli??

Di perubahan penerbangan yang kedua ini aku udah mulai ilfeel.. lah bisa-bisanya mereka menunda penerbangan pulang selama 2 hari?? Like wtf! Emang mereka ga mikir kalau sampe kita ada acara gimana? Kita kudu kerja gimana?

Trus kok landingnya jadi di Hanoi (Vietnam Utara), padahal tiket awalnya landing di Ho Chi Minh City (Vietnam Selatan)?? Kedua kota itu jaraknya hampir 1000 km lo.

Jarak dari Hanoi (utara) ke Saigon/Ho Chi Minh City (selatan). Jauhhh... 
(SUMBER : Disini)

Dan dengan perubahan kedua ini tiket pulangku jadi aneh. Masak penerbangan segmen 1 dari Moscow-Hanoi di tanggal 4 juli 2017, tapi penerbangan lanjutannya segmen 2 dari Ho Chi Minh City ke KL di tanggal 3 juli 2017??

La kok penerbangan kedua malah waktunya mundur? wkwkwk... Dan gimana caraku terbang dari Hanoi ke Ho Chi Minh City??

Wah, gak bener..Udah mulai stress ni aku..


UPDATE : 
April - Awal Mei 2017
Memutuskan....

Sejak perubahan kedua itu, jujur saja… tujuan ke Rusia dengan tetap mempertahankan maskapai yang sama makin terasa kabur. Kalau harus diprosentase, mungkin keyakinanku tinggal sekitar 30% saja.

“Apa kita refund aja ya?”
Suatu hari Fredo nge-chat aku.

Pertanyaan itu sebenarnya sudah lama muter-muter di kepalaku, tapi aku belum berani menjawab. Refund itu kelihatannya gampang, tapi konsekuensinya nggak sesederhana itu. Gimana kalau direfund, lalu justru tiket pengganti ke Rusia jadi jauh lebih mahal? Atau malah nggak dapat tanggal yang pas? Aku masih menunggu. Beberapa hari. Berharap ada kejelasan. Berharap setidaknya perasaan galau ini mereda.

Tapi ternyata nggak..Yang ada justru pikiran makin liar!

Gimana kalau tiket ini berubah lagi di detik-detik terakhir sebelum berangkat?

Padahal saat itu aku masih kerja kantoran 9–5. Berangkat saja aku sudah harus ambil izin kerja 3 hari. Kalau pulangnya tiba-tiba ditunda lagi? Nggak kebayang harus jelasin apa ke kantor. Rasanya mimpi besar ini mulai berbenturan langsung dengan realita yang nggak bisa ditawar.

Beberapa hari aku galau. Benar-benar galau. Di satu sisi, Rusia adalah mimpi lamaku. Di sisi lain, aku capek dengan ketidakpastian.

Sampai akhirnya, di pertengahan Mei, setelah bolak-balik mikir, diskusi, dan overthinking sendirian… aku memutuskan sesuatu.

Oke.
EROPA saja.

Mari kita coba jalur yang lebih pasti. Kita buat Visa Schengen dulu. Kalau ini berhasil… aku akan refund semua tiketnya.


UPDATE:

17 Mei 2017

Ajukan Visa Schengen..

Bagian ini sebenarnya layak jadi cerita tersendiri, jadi aku tulis sebagai postingan terpisah. Bisa diklik di sini.

Singkatnya begini. Pada 17 Mei 2017, aku akhirnya mengajukan Visa Schengen melalui VFS Global Surabaya. Ini benar-benar perasaan campur aduk antara deg-degan, pasrah, dan berharap karena setelah semua dokumen dikumpulkan dan diserahkan, aku cuma bisa menunggu.

Ketika paspor dikembalikan, ketika visa ditempel, berarti disetujui. Ketika tidak ada visa ditempel, berarti ditolak. Kita tidak benar-benar tau sampai paspor di tangan kita dan membukanya sendiri.

Keesokan harinya, 18 Mei 2017, aku menerima email konfirmasi. Aplikasiku resmi dikirim ke RSO Netherlands di Kuala Lumpur. Sejak saat itu, tiap buka email rasanya jantung selalu ikut deg-degan. Setiap notifikasi masuk, aku berharap itu kabar baik.

Dan akhirnya…
pada 2 Juni 2017, paspor yang kutunggu itu datang!

Visa Schengen granted.
Masa berlaku 45 hari.

Yesss!

Perasaan lega yang luar biasa. Semua kegalauan, kebimbangan, dan ketidakpastian beberapa bulan terakhir seakan terbayar. Di titik ini, Eropa bukan lagi sekadar rencana di kepala. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang nyata, bisa disentuh, dan tinggal dihitung mundur harinya.

Satu pintu sudah terbuka.
Dan setelah itu… keputusan besar berikutnya pun tak bisa lagi ditunda.

Aku harus cari tiket kesana!


UPDATE : 
3 Juni 2017
Ajukan Refund....

Setelah resmi mengantongi Visa Schengen, akhirnya aku juga resmi mengambil keputusan yang sejak lama menggantung di kepala, yaitu...membatalkan perjalanan ke Rusia.

Keputusan ini bukan karena Rusia tiba-tiba kehilangan daya tariknya. Bukan. Rusia tetap ada di daftar mimpi terbesarku. Tapi saat itu aku harus realistis. Waktu liburku terbatas, dan danaku juga terbatas. Sementara Eropa… terlalu luas, terlalu menggoda, dan terlalu sayang kalau hanya disentuh sebentar sambil setengah-setengah karena harus membagi fokus dengan Rusia.

Aku sadar, memaksakan semuanya justru bisa membuat perjalanan ini kehilangan maknanya....

Dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit sedih—aku mulai menjalankan tahap pertama dari keputusan besar itu yaitu mengajukan refund tiket KL–Moscow–KL yang sebelumnya kubeli dengan Vietnam Airlines. Semoga saja dananya segera cair, untukku membeli tiket ke Eropa.


LANTAS, bagaimana RENCANA PERJALANANKU ke Eropa nanti?

Entahlah.. aku masih meraba-raba, membandingkan tiket pesawat dan tiket bus dari satu kota ke kota lain. Belum tau mau landing di negara mana, ke negara mana saja, dan pulang dari mana. Masih buta!


UPDATE : 
7 Juni 2017
Tiket Pulang

Sejak memutuskan aku akan ke Eropa, aku fokus di hunting tiket berangkat dan pulang kesana. Setelah berhari-hari galau masalah tiket yang belum dapat padahal keberangkatan udah 2 minggu lagi (semua tiket PP diatas 10 jutaan) tetiba aku secara tidak sengaja membaca komen salah satu member grup backpacker yg merekomendasikan menggunakan scoot utk penerbangan ke Eropa. Langsung aku buka dan memang harganya sangat miring. Untuk penerbangan dari Athena (Yunani) - singapura 'only 2.8 juta'Its cheaapI mean this is europe

Aku langsung chat mengabari calon travelmateku, Fredo, terkait tiket promo ini. Dalam kepalaku, ini kabar baik. Mungkin ini jawaban dari semua kegalauan soal tiket. Tapi balasan yang masuk justru membuatku terdiam.

“Luhhh… maaf banget… ternyata aku nggak bisa pergi Lebaran ini.
Aku udah ditegur dan diultimatum keluargaku.
Kalau aku tetap traveling pas libur Lebaran, namaku bakal dicoret dari KK.”

Hikz…

Aku bengong beberapa detik membaca chat WA itu.

Like… whaaaat?

Bukannya dia yang duluan mengide semua ini?? Bukannya kita sudah sama-sama mengurus dan mendapatkan visa Schengen?? Dan sekarang, di saat keberangkatan tinggal hitungan minggu, semuanya tiba-tiba dia batalkan begitu saja??

Tiba-tiba, kepalaku pening. Di kepala, rencana-rencana yang sebelumnya kususun berdua, mendadak harus kususun ulang sendirian. Perasaanku benar-benar jatuh. Kecewa, campur aduk, dan jujur saja… takut. Gimanapun juga, pengalaman traveling terjauhku selama ini baru sampai Beijing. Dan sekarang aku sedang merencanakan perjalanan ke Eropa, seorang diri.

Butuh beberapa saat bagiku untuk akhirnya bisa membalas chat Fredo.

"Wahhhh.... yaudah piye maneh.." kataku dengan setengah tidak niat membalas WA-nya.

Setelah mengirim pesan itu, aku terdiam. Bukan marah, lebih ke lelah. Tapi setelah beberapa menit, aku mulai mencoba melihatnya dari sisi lain. Pelan-pelan, aku bisa mengerti kenapa keluarganya mengultimatum dia seperti itu.

Lebaran tahun sebelumnya, 2016, kami memang sudah traveling bareng ke India dan Nepal. Itu berarti Fredo, yang muslim, sudah melewatkan satu momen penting untuk berkumpul dengan keluarga besarnya di hari raya. Momen yang datang setahun sekali, dan bagi banyak keluarga, nilainya tidak bisa digantikan dengan apa pun. Kalau tahun 2017 ini dia kembali tidak merayakan Lebaran bersama keluarganya, wajar jika mereka merasa kecewa. Wajar jika akhirnya ada batas yang ditarik.

Aku menarik napas panjang.

Oke…
aku mengerti.

Tidak semua keputusan harus dipaksakan. Tidak semua perjalanan harus dijalani bersama. Mungkin, kali ini, perjalananku memang ditakdirkan untuk ditempuh sendiri.

***

Setelah beberapa saat bengong dan menarik napas panjang, aku kembali menatap layar laptop. Tiket Scoot itu masih terbuka di depan mata. Tanpa rute pasti, tanpa travelmate, tapi dengan satu keputusan yang harus segera diambil.

Akhirnya, dengan perasaan yang belum sepenuhnya siap untuk kembali solo backpacker, aku menekan tombol beli.

Aku resmi membeli tiket Athena – Singapura seharga 2,8 juta lewat Airpaz. Meski rute perjalananku belum benar-benar terbentuk, satu hal sudah pasti saat itu:

aku akan pulang dari Yunani.

Yunani, I’m coming.


Yunani, I'm coming!.

Untuk tiket berangkat, aku masih belum dapat. Sempat muncul opsi Scoot juga, dengan rute Denpasar – Athena seharga sekitar 5 juta. Murah banget, sebenarnya. Tapi entah kenapa, setiap kali aku mencoba membelinya, pembayaranku selalu ditolak. Berkali-kali. Aku sempat heran, lalu pasrah. Mungkin memang belum takdirnya.

Pilihan lain yang tersisa saat itu hanya maskapai besar seperti Emirates, Turkish Airlines, Malaysia Airlines, dan Etihad. Semuanya ada… tapi harganya mahal banget. Jauh di atas budget yang sudah kutetapkan. Huhu.

Akhirnya aku hanya bisa membuat rencana sementara. Aku mulai mencari-cari tiket dari berbagai kota seperti Singapura, Kuala Lumpur, Denpasar, atau Surabaya, dengan tujuan Amsterdam. Belum ada yang benar-benar klik. Gpp.. aku masih punya waktu, nanti juga akan ketemu.



UPDATE : 
9 Juni 2017
Finnaly... KL-Paris!

Kurang lebih satu minggu setelah membatalkan tiket KL–Moscow–KL, dan setelah refund uangku sekitar 5 jutaan cair, aku kembali serius hunting tiket keberangkatan ke Eropa. Tiap hari yang kulakukan hanya bolak-balik buka website maskapai, bandingkan harga, dan menimbang-nimbang rute.

Akhirnya, setelah berbagai pertimbangan, aku memutuskan untuk membeli tiket KL – Paris dengan Turkish Airlines, seharga sekitar 5,5 jutaan.

Yeee…
Finally, lengkap juga!

Dengan tiket berangkat ini, gambaran perjalananku mulai terbentuk. Aku akan mendarat di Paris dan pulang dari Yunani. Setidaknya, kini sudah ada titik awal dan titik akhir.Bonusnya, penerbangan ini memberikan waktu transit di Istanbul dari pukul 05.15 sampai 15.30. Cukup panjang untuk keluar bandara dan sedikit eksplor kota. Yess!

Di titik ini, kepercayaan diriku untuk solo backpacking perlahan kembali naik. Aku sudah tidak terlalu memikirkan lagi soal sendirian atau ada travelmate. Yang penting sekarang cuma satu, mimpiku.

Aku sudah melangkah sejauh ini.
Visa sudah di tangan.
Tiket pulang dan tiket berangkat sudah ada.

Aku tidak mau berhenti hanya karena takut.

Entah sendirian atau bersama orang lain, perjalanan ini harus terwujud!


UPDATE : 
16 Juni 2017
Kenapa Hampa?

Beberapa hari setelah mengunci tiket KL–Paris di tangan, aku mulai meraba-raba rencana perjalananku selama di Eropa. Aku membuka peta, membandingkan jalur kereta dan bus murah, menghitung jarak antar kota, dan mencoba menyusun alur paling masuk akal dari Paris. Dengan berbagai pertimbangan, pilihan yang terasa paling aman saat itu adalah Paris – Rotterdam (Belanda). Belanda.. siapa sih yang ga ngiler menginjakkan kaki di negeri kincir angin ini? Aku menimbang beberapa mode trasnportasi. Jarak kedua kota itu memang ga terlalu jauh, ada kereta dan bus. Karena kereta masih lumayan mahal, aku mengambil opsi tiket bus.

Di tagihan "add to chart" tertulis 35 euro untuk tiket bus Paris - Rotterdam. Aku sudah yakin dan bersiap membayar. Tapi entah kenapa kok perasaanku datar saja? Mana gairah perjalanan seperti yang kurasakan setahun lalu sebelum ke India dan Nepal? Saat itu rasanya begitu menggebu. Sekarang ini, rasanya seperti aku harus menjalani sesuatu tanpa merasakan "excited" tentang itu. Aku sebenarnya bingung terhadap diriku sendiri, "apakah aku benar-benar menginginkan perjalanan ke eropa ini? Apa perasaanku begini karena aku akan pergi sendiri?"

Bukan maksudku sok berbeda atau merasa lebih hebat. Tapi aku memang menyadari satu hal tentang diriku sendiri. Aku selalu tertarik pada perjalanan yang tidak biasa. Tempat-tempat yang terasa asing. Yang jauh, sepi, dan jarang diceritakan. Tempat di mana aku bisa mengamati detail kehidupan sehari-hari, lalu membawanya pulang sebagai cerita.

Dan di situlah kebingunganku muncul.

Eropa Barat—seperti Perancis, Jerman, Belanda, Italia, Swiss—jelas menggoda. Siapa yang tidak ingin melihat kanal Amsterdam, Colosseum di Roma, atau pegunungan Alpen yang fotogenik itu? Semuanya indah. Semuanya ikonik. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku merasa… terlalu banyak yang sudah ke sana.

Bukan berarti aku meremehkan tempat-tempat itu. Bukan.
Aku hanya merasa, cerita tentang Eropa Barat sudah terlalu sering kudengar. Terlalu sering kulihat di layar ponsel orang lain. Sudut-sudutnya terasa familiar bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kaki di sana.

Aku mencari perasaan ini tentang suatu tempat...

Tempat yg dianggap unik, remote, jauh, tak terpikirkan utk dikunjungi, aku ingin membuat cerita bahwa semuanya SANGAT MUNGKIN dikunjungi.

Tempat yang membuatku berpikir,

“Oke… ini meningkatkan andrenalinku hanya dengan memikirkannya.”

Tidak harus semua, satu negara saja tidak apa-apa..

Dan di tengah kebingungan itu, tiba-tiba muncul satu suara kecil di dalam hati:
“Kenapa nggak ke Islandia saja?”

Aku langsung membuka situs pencarian tiket. Dan aku terdiam cukup lama, terdiam dengan perasaan excited....Harga tiket pesawat Paris – Reykjavik (Islandia) hanya sekitar ......900 ribu rupiah.

Islandia.

Negara yang selama ini selalu ada di kepalaku sebagai tempat yang jauh, mahal, dingin, dan tidak terjangkau. Negara yang hampir bersentuhan dengan Greenland, dekat dengan Kanada, dan terasa begitu utara. Negara yang bahkan tak pernah terpikirkan akan benar-benar kukunjungi.

Dan anehnya…di titik itu, gairah perjalanan yang sempat padam menyala kembali. Inilah yang kucari! Bukan sekadar berpindah kota, tapi perasaan melangkah ke sesuatu yang terasa mustahil—lalu membuktikan bahwa itu sangat mungkin. Dan sejak saat itu, aku tahu. Keputusanku bukan berubah-ubah, melainkan sedang menemukan kembali alasan kenapa aku suka bepergian.

Tanpa menunggu lama, aku langsung booking tiket tersebut...

“Dari Islandia, bagaimana kalau lanjut ke Faroe Islands?”

suara itu sempat kembali muncul di kepalaku. Kepulauan kecil di sebelah timur Islandia, terpencil dan berangin. Atau mungkin Lofoten Islands di utara Norwegia, gugusan pulau yang berbatasan langsung dengan Laut Norwegia dan Laut Barents?

Tapi kali ini aku menahan diri. Bukan karena tidak tertarik, melainkan karena harus realistis. Tiket ke tempat-tempat itu mahal—terutama jika dibeli terlalu dekat dengan tanggal keberangkatan. Aku tidak ingin kembali terjebak pada rencana yang terlalu ambisius.

Akhirnya aku memutuskan...
cukup satu saja—Islandia.

Bukan karena aku tidak ingin ke negara lain, justru sebaliknya. Islandia adalah pemantik. Negara yang kubutuhkan untuk menyalakan kembali gairah perjalananku sebelum melanjutkan ke negara-negara Eropa Barat lainnya.

Bagaimana aku nggak excited?? Islandia sendiri sudah terasa seperti laboratorium alam raksasa. Berdiri tepat di atas Mid-Atlantic Ridge, tempat dua lempeng benua—Amerika Utara dan Eurasia—saling menjauh dan memperlihatkan pemekaran kerak samudra yang tersingkap langsung di daratan. Sesuatu yang biasanya tersembunyi jauh di dasar laut.

Aku membayangkan berjalan di antara dua benua. Menyaksikan gletser, geyser, gunung api aktif, dan panas bumi yang mengepul dari dalam tanah. Di Islandia, es dan api benar-benar hidup berdampingan.

Membayangkannya saja sudah cukup membuat adrenalinku naik.

Dan setelah itu—setelah rasa takjub itu kutemukan—aku tahu aku masih akan melanjutkan perjalanan ke negara-negara Eropa Barat lainnya. Belanda, Italia, Yunani dan negara-negara lain tetap ada dalam rute. Hanya saja kini, aku akan melangkah ke sana dengan perasaan yang sudah kembali utuh.

Islandia bukan akhir.
Ia adalah awal yang kubutuhkan.


UPDATE : 
17 Juni 2017
Dari Reykjavik kemana?

Seperti bisa dilihat di peta, letak negara ini berada di tengah Samudra Atlantik. Artinya, masuk dan keluar dari negara ini hanya bisa dilakukan via pesawat. Tidak ada jalur darat, kereta lintas negara, apalagi bus malam murah seperti di daratan Eropa. Karena itulah, setelah memutuskan Islandia sebagai bagian dari rute perjalananku, aku sadar satu hal penting. Urusan tiket keluar dari Islandia tidak bisa ditunda-tunda. Ini bukan negara yang bisa ditinggal nanti saja dipikirkan. Semuanya harus jelas sejak awal supaya rencana perjalananku selanjutnya tidak berantakan.

Aku mulai browsing pelan-pelan, membuka peta dan situs pencarian tiket, membandingkan rute penerbangan dari Reykjavik ke beberapa kota di Eropa. Satu hal langsung kutepis dari awal, aku nggak mau balik ke Prancis lagi. Rasanya muter, dan kurang efisien. Aku ingin mendarat di kota yang bisa jadi titik lanjut perjalanan daratku ke negara berikutnya yaitu Amsterdam. Aku memang ingin mengunjungi kota ini.

Awalnya, aku mencoba mencari penerbangan langsung dari Reykjavik ke Amsterdam. Tapi setelah kulihat harganya, aku langsung mengernyit. Mahal. Jauh lebih mahal dibandingkan rute ke kota-kota lain di Eropa. Aku mulai mencari alternatif. Kota-kota di Eropa yang jaraknya relatif dekat dengan Amsterdam, yang akses kereta atau bus-nya gampang, dan tentunya masih masuk akal secara harga. Aku bandingkan beberapa opsi, buka peta lagi, tutup, lalu buka lagi.

Sampai akhirnya pilihanku jatuh ke Berlin, harga tiketnya 100 euro.

Berlin terasa paling pas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Amsterdam, jalur daratnya jelas, dan konektivitasnya bagus. Dari sana, aku bisa melanjutkan perjalanan dengan lebih fleksibel tanpa harus memutar terlalu jauh.

Setelah cukup yakin, aku pun membeli tiket Reykjavik – Berlin. Di titik itu, satu lagi potongan penting dari perjalanan ini akhirnya terkunci.




UPDATE : 
18 Juni 2017
Berlin ke Amsterdam

Setelah dari Berlin, tujuan berikutnya adalah Amsterdam, Belanda. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 577 kilometer. Kalau ditempuh dengan bus, biasanya memakan waktu sekitar 8 sampai 10 jam. Buatku, jarak segitu masih sangat masuk akal.

Aku sempat mempertimbangkan beberapa opsi transportasi lain seperti kereta dan pesawat, tapi akhirnya kembali ke pilihan paling rasional yaitu bus. Lebih hemat, jadwalnya fleksibel, dan rasanya lebih cocok dengan gaya backpacking. Lagipula, aku memang tidak sedang mengejar waktu.

Hari ini aku akhirnya memesan tiket bus FlixBus. Aku sengaja memilih keberangkatan pukul 10 pagi. Jujur saja, aku kurang suka perjalanan malam. Sulit tidur di kendaraan yang terus berjalan, dan rasanya tidak nyaman tiba di kota asing saat udara masih dingin dan hari belum benar-benar bangun. Mana check in penginapan baru bisa jam 2 siang kan, ahh malah ribet. Gpp aku bayar penginapan yang penting malam bisa tidur nyenyak.

Dengan berangkat pagi, harapannya aku bisa sampai di Amsterdam sore hari. Masih ada waktu untuk check-in hostel, mencari makan, atau sekadar duduk santai setelah perjalanan panjang. Dan tentu saja, aku bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan. Karena kadang perjalanan darat justru memberi pengalaman yang tidak bisa diberikan pesawat. Melihat kota demi kota berganti dari balik jendela, melintasi perbatasan negara tanpa ribet, dan merasakan perpindahan itu secara perlahan. Buatku, itu seperti bonus kecil dalam perjalanan jauh ini.




Hari ini juga...
Beli tiket pesawat Amsterdam - Roma naik Vueling Airlines

Entah kenapa, setelah rute Berlin ke Amsterdam beres, pikiranku langsung melayang ke Italia. Mungkin karena sejak dulu aku memang punya ikatan kecil dengan negara ini. Dulu, masa kecilku, aku adalah penggemar berat Juventus, dan otomatis juga mengidolakan timnas Italia di era Gianluigi Buffon. Bisa dibilang, ketertarikanku pada Italia sudah ada jauh sebelum rencana perjalanan ini benar-benar terbentuk.

Jadi dari Amsterdam, tanpa banyak ragu, aku memutuskan Italia akan jadi negara berikutnya. Aku langsung browsing tiket pesawat dari Amsterdam ke Roma. Nggak mau terlalu santai, karena aku sudah cukup kenyang dengan drama harga tiket yang bisa naik tiba-tiba kalau kelamaan mikir. Setelah membandingkan beberapa opsi, akhirnya aku menemukan yang paling masuk akal yaitu Vueling Airlines, maskapai low-cost asal Spanyol.

Murah, iya. Masuk budget. Tapi ya namanya juga tiket hemat, selalu ada “konsekuensi manisnya”.

Jam terbangnya… pagi banget. Jam 7. Wkwkwk

Artinya jelas. Aku harus bermalam di Bandara Amsterdam. Tidur di lantai dingin, beralas jaket, berselimut harapan dan doa, wkwk. Tapi ya mau gimana lagi. Demi hemat. Menginap di hostel hanya untuk beberapa jam rasanya sayang, belum lagi cari transport pagi-pagi buta ke bandara. Ribet.

Roma, tunggu aku.



UPDATE : 
19 Juni 2017
Beli tiket pesawat Roma - Santorini naik Vueling Airlines

Di titik ini aku mulai merasa rencana perjalananku sudah cukup padat. Terlalu banyak negara, terlalu banyak perpindahan, dan aku tidak ingin perjalanan ini berubah jadi sekadar mengejar daftar. Aku berhenti sebentar, membuka lagi semua tiket yang sudah kubeli, terutama tiket pulangku yang sudah jelas dari Yunani. Dari situ aku mengambil keputusan bahwa setelah Italia, aku akan langsung menuju negara terakhir, yaitu Yunani.

Sebetulnya, ketertarikanku pada Yunani sudah ada sejak lama. Cerita dewa-dewi, mitologi, reruntuhan kuno, dan laut birunya selalu terasa magis di kepalaku. Tapi aku juga tahu, aku tidak ingin langsung menuju Athena. Aku ingin mampir dulu ke satu tempat yang sejak lama terasa legendaris.

Santorini.

Aku mulai browsing tiket dari Roma ke Santorini, dengan ekspektasi harga yang mungkin mahal. Ternyata tidak. Masih masuk akal, dan tanpa terlalu banyak drama, aku langsung memutuskan untuk booking. Maskapainya lagi-lagi Vueling Airlines. Jam terbangnya tengah malam, dan pesawat mendarat di Santorini pukul 03.15 pagi. Artinya, aku harus kembali tidur di bandara. Ya namanya juga pesawat murah, wkwk. Capek dan ngantuk pasti, tapi rasanya tidak terlalu kupikirkan. Membayangkan bisa melihat sunset Santorini langsung dari tebingnya saja sudah cukup untuk menutup semua rasa lelah.



Beli tiket Ferry Santorini - Athena
Yunani, negara terakhir yang aku kunjungi di rangkaian petualangan Eropa kali ini, bentuk negaranya berupa kepulauan. Dan pulau pertama yang akan kusambangi adalah Santorini—si primadona Laut Aegea yang konon sunset-nya salah satu yang terbaik di eropa.


Berdasarkan rencana perjalananku, aku punya waktu 3 hari 2 malam untuk eksplor Santorini. Nah setelahnya aku harus menuju Athena, kota terakhir perjalananku untuk terbang kembali ke Indonesia. Transportasi dari Santorini ke Athena ada 2 macam cara yaitu pesawat dan kapal. Karena aku ingin mendapatkan pengalaman naik kapal di Yunani, aku ambil option ferry. 
 Hari ini, aku sekalian beli tiket ferry dari Santorini ke Atena. Hhh... satu persatu selesai....


Beli tiket masuk Museum Louvre

Masih di tanggal 19 Juni, aku sekalian juga membeli tiket masuk Museum Louvre secara online. Lagi-lagi, karena sedang mode planning on, sekalian saja dibereskan, sekalian keluar uang juga. Seperti rencanaku diatas, Perancis adalah negara pertama tempatku mendarat, dan aku punya waktu sekitar dua hari satu malam untuk mengeksplor Paris sebelum terbang ke Islandia. Tujuan beli tiket online duluan jelas. Biar nanti pas sudah di lokasi, aku nggak perlu repot-repot antre panjang. Tinggal tunjukkan e-ticket, masuk, dan selesai urusan.

Aku memang tipe yang suka museum, apalagi yang legendaris seperti Louvre. Bukan cuma karena Mona Lisa yang selalu jadi highlight, tapi juga karena arsitekturnya, koleksi seni Mesir Kuno, dan suasana museumnya yang katanya megah dan luas banget. Rasanya sayang kalau ke Paris tapi melewatkan tempat ini.

Semoga dengan beli tiket masuk Museum Louvre duluan, kedepannya nggak ada drama kehabisan tiket, nggak capek berdiri lama di antrean. Tinggal tap, masuk, lalu menikmati semua yang ada di dalamnya.


Hadeuhhh... Akhirnya sudah semua.. capek ngeluarin uang huhuhu...

Jadi, kesimpulan akhirnya, ruteku backpackeran ke Eropa nanti adalah seperti ini:


Rinciannya:
1. Surabaya - KL - Istanbul - Paris - Islandia naik pesawat
2. Islandia - Berlin (Jerman) naik pesawat
3. Berlin (Jerman) - Amsterdam (Belanda) naik bus
4. Amsterdam (Belanda) - Roma (Italia) naik pesawat
5. Roma (Italia) - Santorini (Yunani) naik pesawat
6. Santorini (Yunani) - Athena (Yunani) naik kapal


Part Selanjutnya : DISINI

0 comments:

Posting Komentar