Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

6.09.2026

[PART 13] Menggapai Himalaya : Menjelajah Jantung Kota Tua Kathmandu !

 Cerita ini merupakan bagian dari perjalananku backpacking ke India dan Nepal dari 29 Juni 2016 - 11 Juli 2016. Aku menjelajah mulai dari India Selatan (Kochi) - Mumbai - Jaipur - Agra - Gorakhpur - Lumbini (Nepal) - Nagarkot - Kathmandu. Part selanjutnya dari setiap cerita akan aku beri link di bagian bawah.

                                           Part Sebelumnya: DISINI 

Bermain bersama merpati di Kathmandu Durbar Square, dengan latar salah satu kuil yang masih dalam proses pemulihan pasca gempa Nepal 2015

Menjelang pukul lima pagi, setelah hampir semalaman berguncang di jalanan pegunungan Nepal yang rusak dan berliku, bus akhirnya memasuki Kathmandu. Aku langsung menoleh ke luar jendela. Langit masih gelap kebiruan, sementara lampu-lampu jalan masih menyala samar. Jalanan terlihat lengang, jauh berbeda dengan bayanganku tentang ibu kota Nepal yang selama ini hanya kulihat dari foto dan cerita para backpacker.

Beberapa menit kemudian bus memasuki kawasan Thamel. Inilah kawasan yang sejak awal menjadi tujuan kami. Hampir semua backpacker yang datang ke Kathmandu pasti mengenal nama ini. Thamel adalah jantung wisata Kathmandu, tempat berkumpulnya hotel murah, agen trekking, restoran, money changer, hingga toko perlengkapan pendakian Himalaya.

Bus berhenti dan kami segera turun sambil memanggul ransel masing-masing.

Meski tidak tidur hampir semalaman, entah kenapa aku justru tidak merasa mengantuk. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa kantuk itu kalah oleh rasa penasaran dan antusiasme. Ada kota baru yang menunggu untuk dieksplorasi. Ada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Udara pagi Kathmandu terasa jauh lebih dingin dibandingkan Lumbini. Aku langsung merapatkan jaket sambil berjalan menyusuri lorong-lorong Thamel yang masih sepi.

Suasananya terasa unik.

Deretan toko berjajar di kanan kiri jalan dengan pintu rolling door yang masih tertutup rapat. Beberapa papan nama hotel, restoran, money changer, dan toko perlengkapan gunung menggantung di atas jalan sempit yang hampir kosong. Sesekali terlihat satu dua orang berjalan kaki, sementara sebagian besar kota tampaknya masih tertidur.

Kami berjalan perlahan sambil mencari penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Saat itu GPS di ponsel belum secanggih sekarang dan internet juga tidak selalu tersedia. Jadi kami beberapa kali berhenti untuk mencocokkan alamat yang kami bawa dengan papan-papan nama yang ada di sepanjang jalan.

Akhirnya penginapan itu ditemukan.

Sayangnya ada satu masalah kecil.

Pintunya masih tertutup rapat.

Aku melihat jam tangan. Baru pukul lima pagi.

Tentu saja terlalu pagi untuk check-in.

Kami sempat mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Mau tidak mau kami akhirnya duduk di depan penginapan sambil menunggu pemiliknya bangun atau resepsionis mulai bekerja.

Dan justru saat itulah rasa kantuk mulai datang menyerang. Kepalaku terasa berat. Mataku mulai sulit terbuka. Setelah semalaman berjaga di dalam bus yang melaju di tepi jurang, tubuhku akhirnya mulai menagih istirahatnya.

Aku duduk bersandar di dinding sambil memperhatikan Thamel yang perlahan mulai terbangun dari tidurnya. Satu per satu toko mulai membuka rolling door. Seorang pria tua terlihat menyapu trotoar di depan tokonya. Dari kejauhan terdengar suara motor pertama pagi itu. Cahaya matahari perlahan mulai menyusup di antara bangunan-bangunan tua yang berdiri rapat di sepanjang jalan.

Aku menarik napas panjang.

Beberapa jam yang lalu aku masih berada di jalan pegunungan yang membuatku berpikir tentang kematian. Kini aku duduk di jantung Kathmandu, menunggu sebuah penginapan dibuka.

Begitulah perjalanan.

Kadang dalam satu malam saja, hidup bisa membawa kita dari rasa takut menuju rasa bahagia. Dan pagi itu, meski mataku nyaris tertutup karena kantuk, ada satu perasaan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah.

Aku akhirnya sampai di Kathmandu. Kota yang selama bertahun-tahun hanya menjadi titik kecil di peta dan daftar mimpi seorang mahasiswa yang gemar membaca buku-buku perjalanan. Aku benar-benar disini.

0 comments:

Posting Komentar