Life Only Once. Stop Thinking and Just Make It Work.

2.26.2026

Boyolali, 25 Februari 2026 : "Langkah Pelan"

Langkah Pelan..

Sudah tahun 2026 ya... Dengan pekerjaanku sebagai seorang konsultan freelance yang bertugas menyusun dokumen dengan tebal ratusan halaman, berarti...sudah hampir sepuluh tahun aku hidup dalam ritme kerja yang cepat. Deadline datang seperti gelombang yang tidak pernah benar-benar surut. Satu selesai, satu lagi muncul. Ada target, ada ekspektasi, ada revisi, ada keputusan yang harus diambil dalam waktu singkat. Dalam prosesnya, aku belajar banyak hal. Aku belajar tangguh. Aku belajar menyelesaikan masalah. Aku belajar berdiri tegak ketika ekspektasi tidak terpenuhi, ketika rasa tidak puas muncul, ketika ada amarah yang harus ditelan, ketika merasa tidak diperlakukan adil tapi tetap harus profesional.

Semua itu membentukku....

Tapi diam-diam, intensitas itu juga mengikis sesuatu yang lebih halus: ketenanganku.

Dengan deadline bertumpuk, aku terbiasa hidup dalam mode siaga. Bahkan ketika hari terlihat biasa saja, pikiranku jarang benar-benar istirahat. Ada saja yang dipikirkan. Ada saja yang direncanakan. Ada saja yang harus dikuatirkan. Produktif, iya. Bertumbuh, iya. Overthingking? Pasti iya. Tapi stabil? Belum tentu.

Di satu titik, aku mulai bertanya pada diriku sendiri dengan jujur: kapan terakhir kali aku hidup tanpa tekanan konstan? Tanpa merasa dikejar waktu? Tanpa harus membuktikan sesuatu?

Dari pertanyaan itu lahir sebuah rencana yang sangat sederhana, hampir terasa sepele: tinggal di kota asing selama dua minggu atau satu bulan. Tidak secara khusus untuk jalan-jalan. Tidak untuk memperluas jaringan. Tidak untuk mengejar ambisi berikutnya. Hanya untuk hidup pelan..

Hidup pelan bagaimana? Maksudku..Contohnya seperti ini..Bangun pagi tanpa alarm yang bernada mendesak. Jalan kaki menyusuri jalan yang belum pernah kulalui. Sarapan sederhana yang sehat tanpa memikirkan setelah ini harus buka laptop. Pergi ke gym bukan untuk membentuk tubuh secara agresif, tapi untuk menggerakkan badan dengan tenang. Duduk di cafe beberapa jam hanya untuk membaca atau menulis tanpa target. Menonton film di malam hari tanpa merasa bersalah karena “harusnya” sedang produktif.

Aku menyebut rencana ini sebagai "langkah pelan".

Kenapa kota asing? Karena aku ingin ruang yang netral. Ruang yang tidak menyimpan memori tentang diriku sebagai pekerja yang harus cepat, harus kuat, harus bisa. Di kota yang tidak mengenalku, aku hanya seseorang yang sedang berjalan. Tidak ada reputasi. Tidak ada cerita lama. Tidak ada ekspektasi yang menggantung di udara.

Kupang muncul pertama kali dalam pikiranku. Bukan semata karena jauh. Bukan hanya karena lautnya luas dan langitnya terang. Kupang muncul karena aku punya memori masa lalu dengan kota itu yang cukup melekat. Ada bagian dari hidupku yang pernah beririsan dengannya. Ada jejak perasaan yang tertinggal di sana. Entah kenapa aku senang mengingat diriku dahulu sewaktu disini. Mungkin itulah sebabnya namanya muncul lebih dulu dibanding kota lain. Seolah-olah ada sesuatu yang belum selesai, atau mungkin justru sesuatu yang ingin kuingat kembali dengan versi diriku yang sekarang.

Setelah Kupang, pikiranku melayang ke langkah pelan di Labuan Bajo dengan bukit-bukitnya yang menghadap laut dan senja yang terkenal indah. Ke Ambon yang terasa lebih dalam, lebih hening, dengan energi timur yang khas. Ke Manado dengan lautnya yang biru jernih dan ritme kota yang tidak terlalu tergesa. Ke Bali bagian timur, yang lebih sepi dibanding pusat keramaian, dengan pantai-pantai yang tenang dan desa-desa yang masih sederhana. Ke Muntilan di sekitar Candi Borobudur yang dikelilingi Perbukitan Menoreh..Kota-kota itu seperti titik-titik di peta yang memanggil dengan cara yang berbeda, tapi menawarkan hal yang sama: ruang untuk melambat. 

Dan kalau langkah pelan itu ingin kucoba di luar negeri, ada dua kota yang langsung muncul di kepalaku: Danang dan Hoi An, Vietnam. Aku pernah ke sana, dan entah kenapa, dua kota itu meninggalkan rasa yang lembut di dalam ingatanku. Danang dengan pantainya yang panjang dan bersih, tempat orang-orang berjalan santai di pagi hari tanpa tergesa. Kota itu terasa modern tapi tidak berisik. Lautnya luas, jalannya rapi, dan ada ketenangan yang aneh ketika melihat ombak datang dan pergi. Oh.. bahkan aku selalu berjanji ke diriku akan kembali lagi ke kota ini untuk sekedar bersantai..

Lalu Hoi An. Kota kecil dengan sungai Thu Bồn yang mengalir pelan, lampion-lampion yang menyala hangat di malam hari, dan kehidupan yang terasa sederhana. Aku suka berjalan di tepi sungainya, melihat perahu lewat tanpa perlu ke mana-mana. Hoi An tidak membuatku merasa harus menjadi apa-apa. Ia hanya membiarkanku ada. Dan mungkin itu yang membuatku sangat menyukainya.

Ada satu kota lagi yang selalu terasa nyaman setiap kali kuingat: Istanbul. Kota yang berdiri di antara dua benua itu entah bagaimana selalu terasa pas. Suhu udaranya sering kali tepat—tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Langitnya luas, dan aku suka melihat burung-burung pencari ikan terbang rendah di atas air, terutama di sekitar selat dan pelabuhan. Ada ritme yang hidup di sana, tapi tidak menekan. Orang-orang berjalan, kapal berlalu-lalang, burung berputar di udara—semuanya bergerak, tapi tetap terasa tenang. Istanbul membuat siapa pun merasa bisa duduk diam dan hanya mengamati.

Aku bukan berniat traveling dengan itinerary padat. Tidak harus mengejar spot-spot populer. Justru aku ingin hari-hariku biasa saja. Pagi, siang, sore, malam. Rutinitas sederhana yang berulang. Jalan yang sama mungkin kulewati beberapa kali. Cafe yang sama mungkin kukunjungi lagi dan lagi. Karena tujuannya bukan eksplorasi luar, tapi penataan dalam.

Sebenarnya, kota hanyalah latar. Yang benar-benar ingin kuubah adalah tempo hidupku...

Selama ini aku hidup dalam kecepatan. Cepat berpikir, cepat merespons, cepat mengambil keputusan. Kecepatan itu membuatku efisien dan adaptif, tapi juga membuatku jarang benar-benar diam. Aku ingin tahu seperti apa rasanya hidup dengan ritme yang tidak selalu menuntut percepatan. Aku ingin tahu apakah aku bisa merasa cukup tanpa harus selalu mengejar capaian berikutnya.

Langkah pelan bukan bentuk menyerah pada ambisi. Aku tetap mencintai pekerjaanku. Aku tetap menghargai proses yang telah membawaku sampai di titik ini. Tapi mungkin setelah hampir sepuluh tahun berlari, tubuh dan batinku butuh fase berjalan. Bukan berhenti total, bukan menghilang, tapi memberi ruang untuk bernapas lebih panjang.

Mungkin di hari-hari awal aku akan merasa canggung. Ada kemungkinan aku gelisah karena tidak sedang mengejar apa-apa. Bisa jadi ada rasa kosong yang muncul ketika intensitas harian tiba-tiba turun. Tapi mungkin justru di situlah prosesnya. Belajar duduk dengan diri sendiri tanpa distraksi. Belajar menerima bahwa hidup tidak selalu harus dipacu.

Aku tidak sedang mencari kehidupan baru. Aku hanya ingin merasakan versi hidup yang lebih seimbang. Jika setelah dua minggu atau satu bulan aku kembali dengan tidur yang lebih teratur, pikiran yang lebih jernih, dan hati yang lebih ringan, itu sudah cukup. Tidak perlu perubahan dramatis. Tidak perlu deklarasi besar.

Dan jika rencana ini benar-benar terwujud, aku ingin menjadikannya seri tulisan di blog ini. Mungkin per hari. Akan kuceritakan detail aktivitasku. Pagi ke mana, jalan berapa lama, rutenya kemana, gym apa saja yang kulakukan, cafe mana yang kudatangi, aku makan apa, apa yang kurasakan saat duduk sendirian tanpa membuka laptop kerja. Bukan untuk pamer produktivitas versi baru. Bukan untuk membuktikan bahwa aku berhasil “healing”.

Tapi untuk diriku sendiri.

Sebagai catatan jujur. Sebagai review apakah aku benar-benar melakukannya. Apakah aku benar-benar bangun tanpa tergesa. Apakah aku benar-benar bisa duduk tanpa merasa bersalah. Tentu saja tidak harus sempurna. Bisa saja ada hari ketika aku tetap membuka email. Bisa saja ada sore ketika pikiranku kembali sibuk. Tidak apa-apa. Justru di situlah realitanya.

Langkah pelan bukan proyek kesempurnaan. Ia hanya percobaan kecil untuk hidup dengan tempo yang lebih manusiawi.